
Ada yang mau follow-followan sama aku nggak?
pasti aku follback kok🤗
HAPPY READING.....
Bulan menatap jalanan dengan gelisah, sambil meremas-reman rok sekolahnya. Hari ini adalah hari pengumuman hasil tes seleksi olimpiade. Kemarin dikarenakan Bulan tidak melihat jadwal dia melepaskan tes seleksi fisika begitu saja. Karena tes seleksi fisika dan matematika dilaksanakan di jam yang sama.
Sungguh kesialan yang tidak disengaja. Bukannya Bulan menyesel telah mengikuti matematika atau karena dia tidak padai dalam bidang matematika. Bulan hanya merasa lebih tertantang jika dia mengikuti olimliade fisika yang menurutnya lebih banyak berpikir kritis.
“Lo kenapa lan” Tanya Bintang lembut.
“Gue takut nggak lulus tes matematika. Lo tau sendiri kan matematika dan fisika itu pelajaran favorit gue” jelas Bulan.
“Lo bisa ikut tes semuanya kan lan?”
“Masalahnya kemarin itu matematika sama fisika tesnya barengan dan gue nggak tau. Awas aja kalau gue nggak lulus mau pindah sekolah gue” Ucap Bulan merajuk.
Bintang terkekeh, “Lo mah pasti lulus lan entah itu urutan pertama atau terakhir, yakin gue kalau lo bakalan lulus”
“Tapi gue nggak tenang banget bin”
Bintang mencupit pipi Bulan menggunakan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya tengah menyetir, “Lo pasti bisa lan”
Sesampainya disekolah, Bulan dan Bintang berhenti di lorong tengah. Melihat kerumunan siswa-siswi UFOST di depan papan mading. Mereka tengah mencari nama mereka di lembaran pengumuman seleksi tes olimpiade.
Keringat Bulan sudah membanjiri pelipisnya, entah kenapa dia sangat gelisah denga hasil pengumuman itu.
“Tunggu disini bentar biar gue yang lihat pengumumannya”
Bulan menagngguk. Sedangkan Bintang, cowok itu tengah berjalan seperti model menuju papan mading membuat para siswi kehilangan fokusnya.
“Hai ladies! Bisa minggir sebentar nggak” sapa Bintang kepada para fansnya.
Seketika Bulan ingin mengumpati Bintang. Cowok itu selalu menggunakan ketenarannya untuk hal-hal kecil.
Seperti sekarang contohnya. Bahkan para siswi yang awalnya tengah berdesak-desakan langsung memundurkan langkahnya dan memberi jalan untuk Bintang lewat.
Bintang terkunci didepan lembaran hasil tes olimpiade matematika, detik berikutnya cowo itu tersenyum lalu berbalik pergi.
“Makasih ya girls” ucap Bintang sambil mengedipkan matanya ke salah satu siswi.
“Ya Allah jantung gue” ucap cewe itu spontan.
Bintang segera meninggalkan kerumunan tadi. Mendekati Bulan yang masih gelisah.
“Santai aja lo nomor urut pertama tes matematika dengan nilai sempurna”
Bulan membulatkan matanya sempurna lalu memeluk Bintang secara refleks “Yess…lo pasti urutan kedua kan? Sumpah gue seneng banget Bin. Karena, kita bakalan jadi partner olimpiade” girang Bulan.
“Gue urutan ketiga” ucap Bintang cepat.
__ADS_1
Bulan mengerutkan dahinya, “Masa sih? Terus yang kedua siapa?”
“Fathur”
Bintang melepaskan pelukannya, membenarkan seragamnya yang berantakan begitu juga Bulan. Mereka berjalan bersama menuju kelas melewati lorong yang cukup panjang.
"Lo gak papa?" tanya Bulan.
"Santai aja, mungkin si nomor dua lagi hoki."
Bulan tahu. Cowok itu pasti sedang kecewa dengan hasil tesnya meskipun dia lulus tapi dengan nomor urut ketiga pasti dia sangat kecewa.
pernah semasa sekolah dasar, Bintang yang biasanya mendapat peringkat dua karena peringkat satu selalu diisi oleh Bulan. Saat itu Bintang mendapatkan peringkat ketiga dengan selisih lima poin dari si peringjat kedua, saat itu juga Bintang sangat tidam karuan bahkan sampai membakar buku pelajaran miliknya.
Saat mereka melewati kelas Vani, cewe itu dengan girangnya berjalan kea rah Bulan dan Bintang.
“Hai!! Gue tadi udah lihat pengumumannya selamat ya” Vani menyalami Bulan dan Bintang.
“Makasih van” ucap Bintang.
Vani menatap Bulan, “Oh ya lan, nanti kekantin bareng ya” ajak Vani akhir-kahir ini mereka sering pergi kekantin bersama.
“Oke, gue ajak Dina ya”
“Okee”
“Kita ke kelas dulu ya Van” ucap Bintang sebelum akhirnya mereka naik kelantai atas menuju kelasnya dan Bulan.
Bulan memundurkan langkahnya, membiarkan Tiyo yang hendak keluar kelas.
“Iya lah kita kan mau belajar” jawab Bintang.
“Lo nggak lihat pengumuman apa? Yang lulus tes seleksi olimpiade disuruh ke lab biologi sekarang, mau ada pengarahan.”
“Oh ya? kalau gitu makasih Tiyo” ucap Bulan.
Tiyo mengangguk, setelah itu cowo itu pergi begitu saja.
“Lo mau kemana?” tanya Bintang kepada Tiyo cowo itu memang selalu kelaur masuk kelas sesuka hatinya.
“Gue mau ke lab biologi lah. Gini-gini gue lulus tes ekonomi tau”
“Kita kan anak ipa” sahut Bulan, heran dengan ucapan Tiyo.
Tiyo berbalik menatap Bulan dan Bintang. “Gini-gini gue dapat nilai dengan nomor urut dua terbanyak”
“Lo kayanya emang salah server deh”
“Iya, deh kayanya. Katanya abang gue, gue ini seharusnya downloadnya lewat App Store tapi gue ngeyel lewat Play Store"
Baru beberapa langkah Bulan dan Bintang melangkahkan kakinya, Rosan dan Dodo berjalan melewati mereka.
__ADS_1
“Kalian juga lulus seleksi olimpiade?” tanya Bulan.
“Nggak kita mau ke KM” jawab Rosan.
“Kamar mandi?”
“Bukan. Kantin Mas Her" jelas Rosan.
"Kita duluan ya” ucap Dodo berlalu bersama Rosan mendahuli Bulan dan Bintang.
*****
Di lab biologi sudah ada para siswa-siswi yang berhasil lolos tes olimpiade. Pak Salim selaku kepala sekolah tengah berdiri didepan sambil memberi ucapan selamat dan arahan.
“Sekali lagi saya ucapkan terimaksih kepada anak-anak yang berhasil lolos tes olimpiade. Pertama-tama mengenai bimbingan khusu untuk peserta olimpiade. Bimbingan khusus ini akan diadakan tiga minggu sekali sesuai jadwal yang telah ditentukan setelah pulang sekolah. Bapak harap kalian bisa akrab dengan teman team se-olimpiade kalian.” Jelas pak Salim.
“Maaf pak bimbingan khusunya itu dimulai kapan ya?” tanya Bintang.
“Bimbingan khusus dimulai besok. Jadwal akan di share ke kalian semua setelah jadi. bapak harap kalian segera membuat grup via daring. Dikarenakan sekolah kita yang selalu bersaing ketat dengan SATURNUS maka kali ini pelaksanaan bimbingan khusus akan dilaksanakan satu bulan penuh sebelum har olimpaiade tiba.”
Setelah mengatakan itu pak Salaim membubarkan siswa-siswinya untuk segera kembali ke kelas masing-masing. Para siswa terlihat berdesak desakan termasuk Bintang cowo itu sudah berhasil keluar dari dalam lab biologi, meninggalkan Bulan yang masih duduk disana. Menunggu para siswa itu selesai berdesak-desakan.
“Lo?..cewe di perpus itu kan?” tanya Fathur yang baru saja akan keluar lab.
“Iya”
“Bukunya gimana?”
Bulan terdiam. Dia lupa telah menjajikan memberikan buku matematikanya kepada Fathur. “Duhh..sorry gue lupa”
Fathur tersenyum, “Gapapa maklum sih gue kan orang asing. Kalau lo inget berarti gue cukup penting dong buat lo” goda Fathur.
“Hahaha…iya juga sih” ucap Bulan tertawa garing.
“Ehh..kita satu tim kan?”
“Iya, gue pikir lo bakalan milih fisika”
Fathur mengangguk, memang awalnya dia sangat yain ingin ikut tes fisika, “ Setelah gue pikir-pikir gue lebih milih matematika. Bay the way gue nggak nyangka lo dapat nilai paling banyak”
“Gue juga nggak nyangka sih”
“Gue duluan ya, semoga kita jadi partner yang baik” ucap Fathur sebelum berlalu keluar dari dalam lab.
Lagi-lagi Bulan tertegun dengan sikap Fathur dan lagi sepertinya Bulan pernah bertemu dengan dia. Tapi dimana?
Ketika tengah mengingat-ngingat apakah Bulan pernah bertemu dengan Fathur dia dikejutkan dengan ponsel di saku roknya yang bergetar beberpa kali.
From kontak no name
Ini gue, Fathur.
__ADS_1
Bukunya besok jangan lupa ya*!