
HAPPY READING....
Namanya juga suka sama seseorang kalau nggak diterima ya ditolak.
GRUP SEJARAH
Bulan : Jadi ini power point-nya siapa yang buat? Tinggal copas-copas doang kok.
Dina : Gue ga jago bikin power point😅
Dodo : Gue jago kok bikin power point
Bintang : Halah power point hasil unduhan gratis aja sok iye lo do!
Bintang : Sini gue buatain aja
Dodo : Dih sok tau lo, gue beli yang premium ya.
Bulan : Yaudah sih terserah siapa yang bikin yang penting besok bisa dibuat presentasi.
Dodo : Gue aja yang bikin.
Bintang : Gue aja do!
Dina : Kalian pada kenapa sih? Rajin banget.
Dodo : Lo nggak jago ngedit gituan Bin.
Bintang : Yaudah gue yang ngeprint aja.
Dodo : Serah deh.
Bintang melempar ponselnya ke sembarang arah, entah kenapa setelah jeadian Dodo dengan terang-terangan mengatakan jika ia mau bersaing dan menjadi rivalnya ia semakin tidak menyukai Dodo.
“Sialan, perasaan gue jadi campur adik gini sih”
Mars berdiri di ambang pintu kamar Bintang, dia menatap sang kaka dengan pandangan menyedihkan. “Lo kenapa sih kak?”
Bintang menatap adiknya berbinar, dia langsung menyuruh Mars untuk duduk di sampingnya, “Kebetulan lo ada disini, gue mau tanya sesuatu”
“Tanya apa? Satu pertanyaan lima puluh ribu!”
“Nggak seru amat sih lo, tiap hari juga lo gue bantuin ngerjain tugas”
Mars mengehela napasnya, “Yudah sih, kalau gitu besok gue ajak jalan-jalan naik mobil lo, ya?”
“Gampang itu mah” ucap Bintang sambil menjentikkan jarinya.
Mars mendekati sang kakak dia dengan santainya sudah rebahan dikasur Bintang, “Mau tanya apa sih bang? Biasanya juga gue yang selalu tanya-tanya sam lo”
“Jadi gini, gue akhir-akhir ini itu ngerasai hal yang aneh. Pokoknya campur aduk banget.” Bintang memulai sesi curhatnya.
“Lo udah ada rasa sama kak Bulan “ tebak Mars.
__ADS_1
Bintang langsung mengerutkan dahinya, menatap Mars yang tampak bodo amat dengan kakaknya.
“Kayaknya bener deh, lo emang udah suka sama kak Bulan” ujar Mars.
“Emang ciri-ciri orang jatuh cinta itu gimana?” tanya Bintang.
“Lo kalau ketemu sama orang yang lo cintai jantung lo akan berdebar debar dan diperut itu rasanya kayak ada kupu-kupu terbangnya, jangannkan ngelihat wajahnya secara langsung, ada orang nyebut namanya aja lo pasti negerasain itu”
“Kalau gue nggak ngerasain itu?”
“Coba lo pejamkan mata lalu bayangin orang yang lo sukai, pasti muncul deh.
Bintang segera memejamkan matanya menuruti perintah sang adik.
Cukup lama iya memjamkan matanya samapai dahinya berkerut.
“Udah ketemu?” tanya Mars, pasalnya kakanya sudah cukup lama menutup mata.
“Kok dibayangan gue yang mucul mbak-mbak yang jualan di kantin sih”
Mars langsung meledakkan tawanya, sedangakn Bintang mengerucutkan bibirnya kesal dengan Mars.
“Gini aja deh, lo paling nggak suka kalu orang yang lo suka itu deket sama cowo lain”
“Nah..kalau itu gue ngerasain” kata Bintang.
“Yudah berarti lo suka”
“Tapi kita temen” Bintang mengatakan itu dengan tatapan kosong.
“Emang nggak boleh suka sama temen? Ada yang ngelarang?”
“Nggak juga sih. Jadi—“
“Nanti kalau bulan nggak suka gue gimana? Kalau dia ngejauhin gue? Kalau dia benci sama gue?”
Mars mendudukkan badannya, dia menghelanapasnya cukup lama, “Itu mah udah resiko. Namanya juga suka sama seseorang kalau nggak diterima ya ditolak”
“Masalahnya sekarang gue ada saingannya nanti kalau gue nggak gercep kan ketikung”
“Lo mah udah ketikung dari dulu kayanya” ucap Mara sambil mengeluarkan smirk kecilnya.
“Kok bisa?” kaget Bintang.
“Kak Bulan kayanya udah mulai tertarik sama gue. Buktinya sekamarin lo nggak video callan sama kak bulan kan?”
“Akhir-akhir ini gue sama dia emang jarang video call lebih enak ketemu langsung soalnya”
“Ciihh..bilang aja kalau kak Bulan nggak mau video call sama lo soalnya akhir-akhir ini dia video callan sama gue”
Bintang segera mengangkat sandalnya untuk memukulkan kepantatnya Mars namun sebelum itu cowok itu sudah terlalu gesit ia berlari terlebih dahulu.
“Sorry bang, lo kalah cepet kali ini"
teriak Mars yang sudah dilantai bawah.
“Sialan tu anak”
*****
Rianti yang tengah menonton TV melihat anak sulungnya yang baru saja turun dari kamarnya, setelah pulang dari rumah Bulan anak sulungnya kini tampak lecek dan acak-acakan. “Mau kemana bin?” tanya Rianti.
“Mau kedepan beli Bakso, Bintang lagi kepingin makan bakso” jawab Bintang.
“Kamu lagi ngidam bin?” goda pak Wawan—Papa Bintang yang tengah menonton TV bersama mamanya dan juga Mars.
__ADS_1
“Jayus pah! Gak lucu” jawab Bintang dengan datarnya.
pak Wawan mengerutkan keningnya, “Kenapa si sih Bintang?” Tanya pak Wawan kepada Rianti dan Mars yang tengah sibuk dengan ponselnya.
Mars menghentikan permainan di ponselnya, “Dia jatuh cinta sama sahabatnya sendiri. Lagi Bimbang dia”
Rianti mengembangkan senyumnya, ternyata itu yang membuat anaknya jadi kucel seperti ini. ‘Anak itu lagi galau ternyata, galunya karena Bulan? Ah pasti lucu sekali jika oma tahu’ bantin Rianti karena, selama ini yang ia tahu Bintang hanya lunya satu teman cewe yaitu Bulan.
Bintang langsung menghentikan langkahnya ketika melihat Bulan yang tengah memakan bakso ditempat itu. Saat Bintang akan berbalik tatapan mata mereka bertemu. Bulan langsung tersenyum dan menyuruh Bintang makan bersama.
Setelah itu Bintang dengan gugupnya duduk di samping Bulan.
“Mang, baksonya tambah satu ya gak pakai sayur sambalnya satu sendok aja” Ucap Bulan kepada mang Asep, langganan bakso Bulan dan Bintang.
Entah kenapa jantung Bintang berdebar-debar ketika Bulan memesankan bakso untuknya terlebih ia sangat tahu akan kesukaan dan kebiasaannya, “Lo tahu banget tentang kebiasaan gue ya"
Bulan menjatuhkan sendoknya, menatap Bintang dengan dahi berkerut. “Lo aneh deh. Gue kan emang udah biasa gitu sama lo”
Deg. Benar juga sih mereka berdua memang saling mengenal satu sama lain jadi, hal seperti ini memang sudha bukan hal yang tidak lazim. Kenapa Bintang jadi beperan gini sih.
Bintang semakin gugup, ia memegangi dadanya rasanya sangat berdebar-debar, bahkan ia sempat mengeser bokongnya sedikit menjauhi Bulan.
“Lo kenapa sih bin? Nggak nyaman sama gue?” tanya Bulan.
“Ga—nggak gitu, cuma mau geser aja sih” alasan yang sangat tidak masuk akal, Bintang.
“Aneh lo”
“Bin!” Bulan menepuk pundak Bintang.
“Kenapa?”
"Dodo ngechat gue terus. Gue kaya ngasih harapan ga sih sebenarnya sama dia? Soalnya akhir –akhir ini gue lumayan deket sama dia”
Bintang meletakkan mangkok baksonya, nafsu makannya sudah hilang sekarang. “Bilang aja lo nggak suka. Tu bocah juga ngerti!”
Bulan berpikir sejenak, menimang-nimang saran dari Bintang, "Apa nggak terlalu nyakitin dia?"
"Ya itu kan konsekuensinya dia udah suka sama lo berarti udah siap di tolak dong!" sewot Bintang.
Bulan mengangguk membenarkan ucapan Bintang, "Rasanya jatuh cinta gimana sih bin?" tanya Bulan tiba-tiba.
Bintang langsung terdiam. Dia menatap Bulan yang tengah menunggu jawabannya, "Gak tau, gue belum pernah jatuh cinta"
"Apa gue coba sama Dodo aja ya?"
"Lo sebenarnya suka nggak sih sama Dodo!?" kini suara Bintang sudah naik satu oktaf.
Bulan mnggeleng pelan, "Tapi bisa aja kan gue sukanya setelah pacaran sama dia. Lagian Dodo juga bekum nembak gue"
"Tau ah! udah di kasih saran juga" Bintang langsung berdiri. "mang ini uangnya saya taruh meja sekalian sama punya Bulan" ucao Bintang. Dia pergi begitu saja, meninggalkan Bulan yang masih menikmati baksonya.
Bulan bahkan tidak menghentikan Bintang pergi. Hal ini membuat Bintang semakin menghentak hentakkan langkahnya. Pokoknya dia sedang ngambek sama Bulan.
"Bin!" panggil Bulan.
Bintang langsung menghentikan langkahnya, dia tersenyum lebar. Pasti Bulan ingin meminta maaf kepada Bintang. Bintang merubah eksperinya menjadi datar, dia berblik untuk menatap Bulan.
"Kenapa?" tanya Bintang.
"Makasih udah di bayarin baksonya!"
Sekarang Bintang benar-benae sangat kesal. Dia likir Bulan akan memintamaaf kepadanya atau mengatakan hal-hal senang untuk menghiburnya.
"IYA SAMA-SAMA" ucap Bintang ngegas. Dia mempercepat langkahnya lalumenutup gerbang rumahnya dengan kasar.
__ADS_1