Sebatas Teman Tanpa Kepastian

Sebatas Teman Tanpa Kepastian
BOSAN (3)


__ADS_3

Bulan terbangun dari tidurnya karena, suara kegaduhan teman-teman sekelasnya bahkan ia yang masih menggunakan earphone pun merasa kebisingan. Ia sangat terkejut ketika melihat Dodo yang tengah mengerjakan soal fisika didepannya.


Secara tidak sengaja tatapan mata Bulan bertemu dengan Dodo yang sepertinya juga terkejut melihat Bulan terbangun.


“Gue ganggu ya lan?” tanya Dodo merasa tidak enak.


Bulan segera mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya, mengerjap-ngerjakpan matanya sambil menatap Dodo yang ada didepannya, “Ha?..en--enggak kok nggak ganggu”


“Tapi sekarang lo jadi kebangun”


Bulan melepas earphonenya karena sudah terlalu lama dan telinganya agak sakit sekarang, “Gue kebangun gara-gara kelasnya jadi rame”


“Iya sih tadi si Clara teriak-teriak karena nggak bisa ngerjain tugas fisika”


Bulan sedikit terkejut pasalnya ia sangat tahu bahwa Clara itu bukan tipe cewe yang rajin, meskipun ia jarang bersosialisasi dengan temannya namun Bulan cukup memperhatikan teman sekelasnya. “Oh ya? tumben dia rajin lo juga biasanya ogah-ogahan ngerjain tugas”


Dodo nampak lesu, sejujurnya dia juga tidak mau mengerjakan tugas fisika ini namun, karena semua siswa pintar hari ini sedang sakit dan yang satunya lagi ngambek jadi seisi kelas hanya bisa pasrah mengerjakan tugas sebisa mereka. “Mau gimana lagi Bintang lagi gak mood ngerjain tugas, si Rusi lagi sakit, Rendi ada acara osis”


Bulan hanya mengangguk, ia melihat bangku disamping kirinya, kosong. “Bintang kemana Do?”


“Noh, dia lagi tiduran di belakang kelas” tunjuk Dodo dengan dagunya.


Bulan melihat ke Belakang dan benar saja Bintang tengah tertidur disana. Tunggu. Ada yang aneh disini, Bulan mengedarkan pandandangnya menyelur, aneh kenapa teman-temannya jadi rajin semua, “Semua orang pada rajin semua ya? Aneh banget. Habis dapat siraman rohani ya?”


“Lo belum tahu ya? hari ini pak Tono minta tugas fisika dikumpulin sepulang sekolah”


Bulan terkejut, ia segera membuka buku fisikanya dan segera mengecek ponselnya.” Tugas yang mana sih? Di grup ga ada” panik Bulan, dengan cepat meraih buku tulis Dodo yang ada dihadapannya.


Setelah membaca soal itu Bulan tersenyum dan menghela napas lega, “Ini soal yang tadi pagi kan?”


“Iya”


Bulan mengembalikan buku Dodo ketempat semula,“ Yang ini cara lo salah seharusnya pakek cara yang ini” Bulan menunjukkan buku catatan fisikanya yang berisi rumus-rumus.


“Lo udah selesai lan?”


“Udah dari tadi sih”


Dodo tidak terkejut mendegar hal itu, selama ini Bulan selalu menapatkan peringkat satu di kelas dan mendapatkan pararel satu seangkatan juga jadi, ia tidak heran.


“KALI INI AJA LAN TOLONGIN GUE, BIARIN GUE MENYALIN SEMUA TUGAS FISIKA LO! KALI INI AJA YA, GUE UDAH CARI JAWABANNYA DI GOOGLE TAPI GAADA DI GOOGLE SEMUA DAN OTAK GUE INI UDAH NGGAK SANGGUP MENGAHAPI SEMUA ANGKA DAN PENALARAN INI” teriak Dodo mendramatiskan suasana, memohon kepada Bulan sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.


“Kalau lo nyalin semua jawaban gue, artinya gue memperbodoh diri lo dan lo juga memperbodoh diri sendiri”


Dodo nampak kecwa mendengar perkataan Bulan, “Ahhh..gue kenapa sih lo kan cewe pinter”


“Sebelumnya kita nggak pernah sedekat ini sampe gue ngobrol panjang sama lo kan?” Kali ini Bulan tersenyum sambil menatap Dodo untuk pertama kalinya.


Dodo cukup terkejut, disenyumi Bulan seperti itu membuat ginjalnya tersentil.


“Iya, maaf gue lancang” Dodo menudukkan kepalanya merasa malu dengan tingkahnya sendiri.


“Jadi, biar gue bantu lo ngerjain semua tugas fisika hari ini, biar lo nggak memperbodoh otak lo dan gue juga nggak memperbodoh lo” entah kenapa setelah berbicara dengan Dodo Bulan tidak merasa canggung seperti dengan yang lainnya lagi pula untuk sekarang ia hanya ingin menambah eman saja.


“Serius lan, gue sih mau bangettt!”


Bulan mengangguk, lalu mempersilahkan Dodo untuk duduk dibangku sebelah kirinya.


"Eittt, tunggu. Sebelumnya kita nggak pernah sedekat ini kan sampai lo ngajarin gue" kini giliran Dodo yang membalik ucapan Bulan.


"Iya juga sih, lo kayaknya baik polos gitu makanya gue mau bantuin lo"


Dodo hanya mengangguk-ngangguk saja, dikelas ini memang Dodo yang paling banyak dekat dengan cewe melebihi Bintang bahkan bedanya Dodo memang baik jadi banyak cewe yang sekat dengannya untuk sekedar bertanya seputar tugas. Sedangkan Bintang dekat dengan cewe karena dia populer.


“Ini cara lo salah, seharusnya pakek rumus yang ini. Terus yang ini sicari dulu pakek rumus yang udah kita pelajarin kemarin. Nah habis itu hanti ketumu. Tinnggal masukin aja sih”


Dodo mengangguk, ia mulai paham dan segera menulis apa yang di ajarkan Bulan tadi.


Dina yang kebetulan lewat disamping bangkunya berhenti sejenak menatap Dodo yang tengah mengerjakan soalnya, “Lo kok udah dapat jawabanya sih do, kasih tau caranya dong!”


“Ini Bulan yang ngajarin”


“Demi apa?” kaget Dina.


“Demi nenek gue yang udah hampir sepulu tahun menjanda”

__ADS_1


Dina melirik Bulan sejenak yang juga tengah menatapnya, “Mau gue ajarin?” tawar Bulan.


Dina langsung mengangguk dan segera mengambil buku tulis dan tempat pensilnya.


“Gue duduk dimana nih?”


“Duduk di depan gue sini, biar enak ngejelasinnya”


“Oh, sip-sip”


Saat sedang serius-seriusnya Bulan menerangakan rumus dan cara-cara yang efektif untuk mengerjakan soal, tiba-tiba Tiyo datang dengan rempongnya.


“Do, lo kok nggak ngajak gue sih. Curang lo ambil start duluan, jahat banget sih lo”


“Diem lo, udah langsung ikut gabung sini” ajak Dodo.


"Gapapa nih lan" tanya Tiyo.


"Gapapa kok"


“Gue juga mu dong” ucap beberapa anak yang memang sedari tadi memperhatikan Dina dan Dodo yang tengah diajarkan oleh Bulan, ia ingin gabung tapi merasa malu karena tadi sudah mengata-ngatai Bulan.


“Yaudah gabung aja sini”


“Tapi kok jadi banyak gini ya, yang ikut” jika sebanyak ini Bulan akan kesusahan menjelaskan materi.


“Gimana kalau lo, neranginya di depan aja. Pakek papan tulis biar enak” saran Dina


“Boleh juga tuh”


“Yaudah” akhirnya Bulan menurut saja. Ia mulai menerangkan semua materi fisika di depan.


Setelah selesai menerangkan pelajaran fisika hari ini dan juga beberapa soal sulit, semua teman-temannya banyak berterima kasih dengan Bulan. Beberap juga ada yang memujinya terutama anak-anak cewek ada beberapa yang meminta maaf kepada Bulan karena selama ini penilaiannya tentang Bulan salah.


Ternyata Bulan cukup baik hati tapi, ia tidak terlalu pinter bersosialisasi. Terlepas dari itu semua ada juga yang masih menatap Bulan dengan iri dan kebencian.


Bulan kembali ke tempat duduknya, membereskan buku-bukunya yang tidak teratur dan memasukkan kedalam tas.


“Hai, lan” sapa Dina yang sudah duduk dibangku seblah kirinya.


Dina tersenyum memandang Bulan, jika dilihat dari dekat bengini wajah Bulan memang sangat cantik jadi, ia tidak heran sih jika Bintang hanya setia sama satu sahabat cewenya—ini


“Jangan kikuk dong lan, gue nggak mau menerkam lo kok” Dina tertawa melihat wajah Bulan yang mulai terlihat tak santai, ‘Oh ya..sebelumnya gue minta maaf karena, gue sempet kepo sama lo dulu”


Bulan mengingat-ngingat sebnatar, sekarang ia ingat Dina sempat kepo sama hubungannya dan Bintang. “Gapapa sih, banyak juga yang tanya gue entang itu. Tapi, Bintang sih selama ini yang jawab semuannya"


Dina mengigit bibirnya, mulutnya sangat gatal ingin bertanya lagi dengan Bulan. Mulut keponya ini memang tidak bisa berhenti jika ada sesuatu yang sangat ia ingin ketahui. “Tapi gue lihat, hubunganlo sama Bintang agak aneh akhir-akhir ini, nggak kayak biasanya”


Bulan membelakkan matanya, kenapa bayak orang yang menaynya kan itu sih hari ini. Memang kenapa jika hubungan dia dan Bintang sedang tidak baik?!


Dina segera menyadari perubahan ekspresi Bulan, sepertinya sangat sulit mendekati Bulan. Ia sebagai seorang cewe saja sulit bagaiman Bintang yang seorang cowo begitu mudahnya menjadi sahabatnya?


“Ah..mulut gue emang nggak bisa diajak kompromi lan, sorry ya. lo pasti nggak nyaman banget”


Bulan tertawa kecil, cewe didepannya ini memang sangat blak-blakan. “Gapapa kok, nggak heran juga sih lo taya gitu”


Dina menatap Bulan, lagi. Ia mengengkaram erat lututnya sambil menunduk. Jujur ia sangat ingin menjadi teman Bulan tapi, sepertinya akan sulit. Dina terus menunduk menatap kedua lututnya.


Bulan yang sudah selesai memasukkan bukunya kedalam tas melihat Dina yang tertunduk. Tidak biasanya cewe ini menjadi pendiam seperti ini. “Lo kenapa din?”


Dina mendongakkan kepalanya, haruskah ia mengatakan ini sekarang, “Lo mau jadi teman gue nggak? Gue janji kok nggak bakal berisik. Gue juga akan berusaha menahan kekepoan gue. Gue nggak mau plorotin lo juga, gue tau lo anak orang kaya. Sumpah gue nggak bakal neko-neko kok sama lo” ucap Dina pada akhirnya.


Bulan terdiam. Ini sudah kedua kalinya ada orang yang mengajaknya berteman, pertama Vani dan kedua Dina. Setelah menimang-nimang akhirnya Bulan memutuskan jawabannya. Mungkin benar kata Bintang ia harus mencoba mencari teman baru.


“Iya gue mau”


Dina tersenyum girang, mengengam kedua tangan Bulan sambil melopat-lompat. “lo serius kan lan?”


Bulan hanya mengangguk, setelah itu Dina berlari memutari kelas sambil sesekali berteriak “GUE UDAH BISA JADI TEMANNYA BULAN” kalimat itu bebrapa kali diucapkan oleh Dina setelah itu ia kembali duduk disamping kiri Bulan.


Dina terus mengembangkan senyumnya, ia juga beberapa kali meminta foto berdua berasama Bulan tak hanya itu ia juga meminta nomor ponsel milik Bulan, meminta alamat rumah Bulan, menanyai apa yang ia suka dan apa yang ia tidak suka. Sungguh Dina mendadak heboh sendiri.


Saat sedang asik-asiknya menanyai apa makanan favorit Bulan tiba-tiba Dina berhenti, ia menatap Bulan.


Entah kenapa setelah ini Bulan bisa menebak bahwa Dina akan menanyai atau memintan sesuatu kepadanya.

__ADS_1


“Kenapa din?, ngomong aja. Jangan lihatin gue kayak gitu


Dina menyengir, dia tahu Bulan cukup peka dengan keadaan sekitar namun, ia selalu diam saja. “gue boleh duduk disini nggak?”


“Lo kan udah duduk disini sekarang”


“Bukan gitu maksud gue, gue boleh duduk satu bangku sama lo?” ucap Dina takut-takut.


Bulan terdiam cukup lama, ia terus memandangi Dina, bahkan ia tidak berkedip sekalipun. Ia tidak tahu harus menjawab apa, tawaran Dina cukup mengiurkan lagipula hubungan Bintang dan Bulan juga cukup tidak baik sekarang. Tapi, jika Bulan membiarkan Dina duduk satu bangku dengannya Bulan takut Bintang akan salah paham dan lebih marah dengannya.


Spertinya Dina juga tengah menanti-nanti jawaban Bulan, terlihat dari matanya yang sangat berharap.


“Gini aja deh, lo tanya Bintang mau nggak dia pindah tempat duduk kalau dia mau lo boleh kok duduk disini”


“Yes!” teriak Dina bersemangat, setelah itu ia segera berdiri dan mencari keberadaan Bintang namun, sebelum Dina melangkahkan kakinya tiba-tiba Bintang sudah berada sisampingnya. Dari raut wajahnya Bulan bisa menebak bahwa Bintang baru saja bangun tidur.


“Ngapain lo dibangku gue?” tanya bintang yang masih setengah sadar, tapi terlihat dari tatapan matanya sepertinya dia tidak menyukai keberadaan Dina disini.


“Gue boleh duduk satu bangku sama Bulan nggak?” tanya Dina to the poin, dia benar-benar bersemangat kali ini.


Bulan langsung memalingkan wajahnya ketika Bintang menatapnya, kenapa seperti ini sih. Dia jadi serba salah jadinya. Tadi tatapan Bintang benar-benar mengerikan, ini pertama kalinya Bulan ditatap seperti ini.


“Yaudah” setelah mengatakan itu Bintang langsung mengambil tasnya dan duduk disamping Dodo yang bangkunya kosong.


“Makasih ya Bintang” Girang Dina yang hanya diangguki oleh Bintang.


Setelah itu Dina dan Bulan mengobrol panjang lebar meskipun sebelum itu Bulan sempat cangung dan pendiam namun, Dina dengan riangnya selalu membuat Bulan menjadi lebih terbuka dengannya.


Bulan melihat jam dipergelangan tangannya kurang satu jam pelajaran lagi pulang dan tugas fisika juga dikumpulkan. Ia tahu Bintang belum mengerjakan tugasnya itu maka dari itu Bulan berinisiatif meminjamkan buku fisikanya agar disalan Bintang.


“Lo mau kemana lan” tanya Dina saat melihat Bulan berdiri sambil membawa buku tulis fisikanya.


“Gue tinggal bentar ya” Ucap Bulan tanpa menjawab pertanyaan dari Dina.


Bulan mendekati meja Bintang disana Bintang sedang asik mengobrol dengan Dodo sepertinya mereka tengah membahas tentang game.


“Bin” panggil Bulan dengan suara lirih.


Bintang langsung menoleh, ketika menatap Bulan Bintang mengerutan dahinya, “Ada apa lan?”


Bulan langung menyodorkan buku tugas fiskanya, “Lo belum ngerjain tugas fisika kan? Hari ini dikumpulan”


Bagaimanapun Bulan tetap perhatian dengan Bintang. Entahlah dia sudah terbiasa melaukan hal-hal seperti ini dan Bintang juga tidak membantah.


Bintang menrima buku itu, lalu tersenyum sekilas, “Iya makasih. Gue salin dulu ya”


“Iya, kalu gitu gue balik dulu” ucap Bulan kikuk, entah kenapa ia jadi canggung berbicara dengan Bulan sekarang.


“Oke”


*****


Jam pelajaran telah berakhir, semua seperti biasa langsung berdesak-desakan keluar kelas. Entah kenapa mereka selalu seperti itu padahal tidak ada manfaatnya menurut Bulan.


Bulan sengaja terduduk sejenak menunggu kelas sepi sehingga ia tidak perlu berdesak-desakan dengan temananya yang lain.


“Lo nggak pulang lan” tanya Dina yang sudah siap untuk pulang kerumah.


“Nanti aja nungguin kelas sepi”


“Gue duluan ya kalu gitu, jangan lupa nanti vc sama gue ya, masih banyak yang mau gue ceritain soalnya”


“Oke, hati-hati din”


“Yoi”


Setelah cukup sepi Bulan segera meraih tasnya, ia melihat kearah bangku Bintang. Kosong. Sepertinya ia sudah menunggunya di parkiran. Bulan pun segera mempercepat langkahnya, ia tidak mau membuat Bintang menunggu.


Di sana Bintang sudah bersender disamping mobilnya sambil memainkan ponselnya.


“Sorry lo nunggu lama ya?” Tanya Bulan yang terlihat ngos-ngosan.


“Nggak kok”


“Ada yang mau gue omgin bin” kata Bulan.

__ADS_1


“Masuk mobil dulu, kita omongin dirumah”


__ADS_2