Sebatas Teman Tanpa Kepastian

Sebatas Teman Tanpa Kepastian
TURKI (1)


__ADS_3

HAPPY READING.....


“Bin, bangun!” teriak Bulan berkacak pingang dideepan kasur Bintang.


“Hmm” sahut Bintang perlahan menutup matanya kembali.


Bulan langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Bintang, dia merangkak ke kasur Bintang lalu menyeret Bintang yang masih tidur hingga ke kamar mandi. Dia menidurkan Bintang ke dalam bath tub lalu menyalakan keran air.


Hawa dingin langsung menyelimuti tubuh Bintang, ia tersadar seketika. “Kenapa gue ada di sini?” Bintang menengok kesamping, Bulan masih berdiri disana mengerucutkan bibirnya.


“Lo tuh ya, kemarin gue kan udah telfon lo suruh siap-siap, gue juga udah bilang kalau kita bakal ada penerbangan jam empat pagi”


Bintang mengucek-ngucek matanya, demi apapun ia masih sangat ngantuk, “Emang ini jam berapa?” Tanya Bintang.


Bulan membuka ponselnya memperlihatkan jam di ponselnya tepat didepan wajah Bintang, “Nih..udah hampur jam setangah empat” Bulan menyimpan ponselnya ke sakunya, “Gue tau lo pasti molor dan dandan lo itu lama banget, makanya gue kesini”


Bintang menghela napasnya, ia hampir lupa tentang ajakan sahabatnya ini.


“Tapi gak gini juga sih lan, gue kan jadi kedinginan”


“Gue juga udah bangunun lo hampir lima belas menit udah teriak-teraik kayak ngebangunin orang sahur” kesal Bulan, lalu berjalan keluar dari kamar mandi Bintang.


Bintang membuka pintu kamar mandinya, ia melihat sekeliling kamarnya disana Bulan tengah duduk disofa kamar sambil memainkan ponslenya.


“Lan” ucap Bintang yang hanya memperlihatkan kepalanya saja dari balik pintu kamar mandi.


“Kenapa?” tanya Bulan cuek.


“Tolong ambilin handuk dong!” mohon Bintang dengan wajah sok cute nya.


Bulan berdiri, mengambil handuk dilemari Bintang juga bebrapa baju ganti milik Bintang, “cMCepetan dandan dipesawat aja, gue tunggu dibawah”


“iMIya—iya, bawel banget sih”


*****


Ketika turun Bintang langsung disuguhi pemandangan Bulan dan Mars yang tengah berduaan di ruang tamu rumah Bintang. Tunggu. Kenapa mereka duduknya deket banget? Bintang mempercepat langkahnya, aura kemarahan juga mucul dari tubuhnya. Mars yang menyadari itu segere mengeser duduknya.


“Kenapa Mars?” tanya Bulan, beberapa detik setelah Mars mengeser duduknya.


“Tadi lihat genderuwo kak, serem banget” kata Mars bergidik ngeri menatap sang kakak.


Bulan menoleh ke belakang melihat Bintang yang tengah berjalan kemari.


Bintang langsung mngubah mimic mukanya, tersenyum secerah matahari kepada Bulan. “Yuk berangkat” ajak Bintang.

__ADS_1


Bulan mengangguk segera berdiri dan mengambil tas slempangnya, “Kita duluan ya Mars” Bulan mengacak-ngacak rambut Mars gemas.


Dengan cepat Bintang langsung menepis tangan Bulan dan menonyor kepala Mars menjauh dari Bulan. Bintang melakukan itu semata-mata karena ia tidak mau Bulan terlalu dekat dengan adiknya, pokoknya Bulan hanya miliknya titik.


Bulan menarik tangnnya yang masih digenggam oleh Bintang, “Lo kenapa deh bin?”


“Jangan deket-deket sama Mars!” ingat Bintang.


“Lah..kenapa Mars kan udah gue anggap adek sendiri dan Mars juga udah nganggep gue kakak” setelah mengetakan itu Bulan mendekati Mars dan merangkul pundak Mars. Awalnya Mars cukup terkejut namun, setelah itu ia melebarkan senyumnya menatap kaknya dengan senyum mengejek.


“Tau ah..yuk berangkat udah mau jam empat!”


Bintang berjalan cepat mendahului Bulan yang tengah berusaha menyusul langkah kaki Bintang. Cowok ini terkadang memang aneh perilakunya.


“Kak Bulan jangan lupa ya” teriak Mars saat Bulan sudah hampir diambang pintu rumah Bintang.


Bulan hanya mengangguk lalu memberikan jempolnya kea rah Mars tanpa menegok ke belakang, Bintang sudah tidak ada di halaman rumahnya, berarti cowok itu sudah berada di mobil.


Pak Amir langsung membukakan pintu untuk Bulan, meskipun Bulan sudah ada Bintang untuk mengantar jemputnya ke sekolah tapi, pak Amir tetap menjadi sopir pribadi Bulan.


Bulan melihat Bintang yang tengah tertidur lagi, sepertinya cowok ini sedang ngambek. Bulan hanya tersenyum kecil lalu fokus ke depan melihat jalanan yang masih cukup sepi.


“Langung ke Bandara ya pak!”


“Siap non”


Pak Amir tampak berpikir sejenak, ia melirik Bulan dari spion depan, “Maksud non Bulan bandara pribadi kan?”


Bulan tersenyum lalu mengangguk, pak Amir semakin menambah laju mobilnya ia tidak mau nonanya terlambat.


******


Bintang terbangun ketika dia dan Bulan sudah berada dipesawat, dia melihat kursi yang didudukinya juga beberapa fasilitas yang ada di depan matanya sekaang.


‘Penerbangan kelas satu?’ pikir nya.


Bulan menutup majalahnya, menatap Bintang yang masih dengan wajah bantalnya ditambah kebingunga yang tertera diwajahnya. “udah bangun?”


“Iya”


“Jangan lupa sarapan” ingat Bulan lalu melanjtkan aktifitasnya membaca majalah.


"Yang mindahin gue siapa?" tanya Bintang keheranan, tidak mungkin kan jika Bulan yang memindahkannya.


"Gue suruh orang angkat lo tadi"

__ADS_1


Binang mengangguk, kemudian menatap makanan didepannya yang sepertinya menggiurkan. Sekarang Bintang kenyang, ia sedikit membenarkan duduknya sepertinya ia terlalu banyak makan. Namun detik berikutnya matanya melebar lalu berdiri, dia syok.


Bulan mengentikan aktifitasnya.


Melihat Bintang yang berdiri Bulan secara refleks juga iku berdiri. Bulan menyentuh pundak Bintang, menyadarkannya. “Lo kenapa bin?”


Bintang menoleh kea rah Bulan secara perlanan, “Gue lupa, gue belum beres-beres gue ga bawa apa-apa kecuali dompet”


Bulang langsung menghela napasnya sambil memutar matanaya, ia piker ini sesuatu yang sangat penting. Bulan mendudukan bokongnya lagi ke kursi, melanjutkan aktifitas membacanya, mengabaikan Bulan yang masih berdiri.


Bintang langsung gelisah manatanya melirik kesana kemari memutar otaknya, kenapa dia sangat ceroboh?, dia duduk lagi. Bulan mengabaikannya, ini memang kecerobohannya sih, seharusnya ia tidak streaming girls band red velvet sampai malam.


“Gausah gelisah gitu, koper lo udah gue siapin kok sama barang-barang lo yang penting. Untuk surat izin ke sekolah oma udah urus semuanya” Bulan menutup majalahnya, menatap Bintang sambil tersenyum.


Bintang mencubit kedua pipi Bulan dengan gemas, “Lepasin binnn, sakit woiii!” Bulan berontak tapi cowok disampingnya ini semakin mencubit pipinya dengan gemas.


“Biar tau rasa lo, tau nggak gue tadi udah kaya orang syok berat nggak ke baying pokoknya kalau gue pergi ke luar negeri Cuma bawa dompet sama handpone doing”


Bulan brhasil melepaskan pipinya dari Bintang, lalu membenarkan bajunya yang sedikit berantakan. “Salah sendiri lo teledor, jam karet!” ucap Bulan sambil menjulurkan lidahnya.


Bintang ingin mencubit kedua pipinya lagi tapi, kali ini Bulan lebih cepat menghindar darinya. Pandangan mata Bintang langsung terkunci oleh pesawat yang sangat sepi.


“Lo kenapa Bin?”


“Kok sepi sih lan?”


“Kan ini pakek jet pribadi”


“Terus kenapa waktu itu kita gak pakek jet pribadi?”


“Kan waktu itu kita kabur dari rumah, gara-gara lo bosen terus temen-temen basket lo pada pamer waktu mereka liburan”


“Gitu ya”


Bulan hanya mengangguk, merebahkan kepalanya disenderan kursi pesawat, “Gue mau tidur perjalanannya masih lama.


“Emang kita nanti tiba disana jam berapa?”


“Besok pagi, paling sekitar jam enam samapi jam tujuh”


“Lo kenapa mau keturki sih?”


“Ada masalah di Turki”


“Kenapa emang?”

__ADS_1


“Nanti aja gue cerita, gue mau tidur dulu. Lo kalau mu apa-apa tinggal penset tombol biru nanti ada orang yang ngelayanin”


Bintang tahu ini bukan masalah yang kecil setelah hampir sepuluh tahun lebih bahkan Bulan pun tidak pernah kembali ke negara kelahirannya bahkan setatusnya pun sudah menjadi WNI sekarang. Bahkan ketika mamanya kangen mamanya yang selalu datang menemui Bulan. Lalu kenapa Bulan pergi ke Turki? Bukan kah ia tidak memiliki kerabat disana?


__ADS_2