Sebatas Teman Tanpa Kepastian

Sebatas Teman Tanpa Kepastian
TENTANG TRAUMA (2)


__ADS_3

HAPPY READING....


Sampai saat ini hanya kamu yang bisa menenangkan traumaku dan membuatku hidup kembali


Bintang menjatuhkan tubuhnya diatas kasur ia sangat kecapean karena mnegantar mamanya shopping di Mall seharian. Bintang tidak mengerti pola fikir ibu-ibu jaman sekarang betah sekali berdiam diri di Mall padahal yang dibeli hanya itu-itu saja.


Bulan bangun dari pingsannya kepalanya sangat pusing. Perasaanya sangat kacau rasa bersalah ini tidak akan pernah hilang dari dirinya dan akan selalu menghantuinya. Dia teringat tadi Bulan pingsan diruang studio musik pasti Bintang yang membopongya kemari.


Bulan berniat turun kebawah untuk meminta izin omanya ia ingin bertemu dengan Bintang sekaligus berterima kasih. Sekarang hanya Bintang yang bisa menenagkan dirinya.


Bulan yang sedang turun tangga langsung dihampiri oleh oma dengan raut wajah gelisah.


“Kamu sudah siuman Bulan? Mau kemana? Sudah minum obat? Masih pusing? Oma sudah bilang kan jangan terlalu dipikirkan, sekarang kamu lebih baik istirahat” Tanya oma hawatir.


“Bulan mau ketemu Bintang oma, please!” mohon Bulan.


Oma sangat tahu bahwa cucunya ini akan selalu begini jika ia teringat aka traumanya hanya Bintang satu-satunya orang yang bisa menenangkanya.


”Yaudah hati-hati, tadi oma beli cake tolong titip berikan ke mamanya Bintang ya”


Bulan hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan rumah. Tidak Butuh waktu yang lama untuk Bulan sampai dirumanya Bintang karena rumah mereka sejajar.


Saat Bulan memasuki halaman rumah Bintang ia langsung disambut dengan ceria oleh Rianti-- mama Bintang yang sudah menganggapnya seperti anak kandung sendiri. Karena Bulan sudah mengenal Rianti dari awal pertama kali ia pindah kesini oleh karena itu ia sudah menggap Rianti sebagai ibunya sendiri.


“Sore tante Rianti, Bintangnya ada dirumah?” tanya Bulan dengan ramah.


Riantiyang sedang menyiram bunga langsung menghampiri Bulan dengan sumringahnya menjatuhkan selang yang sedang digunakannya untuk menyiram bunga.


“Ehh..ada Bulan cantik, ada kok Bintang ada dikamar, kamu kok tambah cantik aja sih Bulan. Tante jadi pingin karungin kamu biar jadi adeknya Bintang” memang sejak dulu Rianti ingin punya anak perempuan jadi, dia sudah menganggap Bulan seperti anak kandung sendiri sejak Bulan pertama kali main kerumah Bintang.


Ia ingat waktu itu Rianti sedang mengandung Mars. Rianti sangat berharap bahwa anak yang dikandungnya adalah perempuan, ia sering memberikan pakaian dan mainan untuk Bulan bahkan tiap sore Rianti menyuruh Bulan untuk mandi dirumahnya biar dia bisa mendadani Bulan dan itu terjadi hampi setiap hari terkadang Bulan merasa menjadi bonekanya Rianti karena Rianti sering mendandaninya yang aneh-aneh.

__ADS_1


Sayangnya bukan anak perempuan yang Rianti dapat melinkan anak laki-laki yaitu Mars, jika di lihat-lihat wajah Mars itu cantik mungkin karena keinginan Rianti yang muluk-muluk jadinya wajah Mars cantik tapi dengan kelamin laki-laki.


Bulan hanya tersenyum simpul, Rianti memang selalu begitu kepadanya” Bintang keatas dulu ya tente, sama ini ada kue dari oma”


“ Iya, bilangin ke oma makaih ya nanti”


“Iya tante, Bulan duluan ya” pamit Bulan lalu melangkah pergi ke kamar Bintang. Meninggalkan Rianti yang masih berkutat dengan bunga-bunganya.


Bulan memasuki kamar Bintang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu ini memang sudah kebiasaanya.


“BIBINNNN!!!” teriaknya tepat disamping telinga Bintang yang sedang tertidur pulas.


Ini adalah kebiasaan mereka berdua keluar masuk kamar satu-sama lain tanpa mengetuk pintu. Mukin karena sudah terbiasa.


Bintang terkejut bukan main ditambah lagi sekarang Bulan ada dihadapannya semakin membutnya terkejut “Kok lo ada disini? Lo udah sembuh?” tanyanya.


“Lo seneng kalau gue pingsan terus?” Bulan cemberut.


mendengar pernyataan Bintang, ia hendak berbalik badan dan pulang namun Bintang mengengam tanganya.


“Gue butuh lo Bintang” keluh Bulan ini memang kebiasaanya.


“Wani piro?"


“PS 4 cukup?”


“Gue mau album”


“Album foto?”


“Bukan gue mau albumnya blackpink yang terbaru dan-“

__ADS_1


“Oke gue beliin semua yang berhubungan sama blackpink atau apalah itu” potong bulan cepat jujur ia rada rishi jika Bintang membahas tentang ahal-hal yang berbau korea.


“Oke. Sekarang gue harus apa?”


“Buat gue lupa sama trauma gue!”


“Kalau nglupain itu sulit Bulan tapi, mungkin gue bisa bantu asalkan besok waktu ulangan fisika gue contekin” tawar Bintang.


“Beres. Yang penting buat gue lupa sama itu untuk saat ini aja”


Sesuai negosiasi Bintang mengajak Bulan ke sebuah bukit yang tidak jauh dari rumah mereka. Mereka berdua pergi menggunakan sepeda karena Bintang hawatir dengan kondisi Bulan yang baru saja siuman ia membonceng Bulan dengan posisi Bulan didepan ala-ala drama korea.


Bulan dan Bintang menikmati sore hari berdua dengan duduk duduk santi melihat pemandangan alam yang masih asri ini membuat Bulan sedikit lupa tentang traumanya.


“Lo tau bin, tuhan itu mempertemukan kita bukan tenpa alasan tuhan sudah mengatur sekenario ini dari zaman azali. Sejak ada lo, gue berubah gue nggak pernah pingsan setiap hari lagi karena trauma masa lalu dan gue mulai menemukan senyum gue kembali. Gue sangat berterimakasih sama tuhan karena sudah mempertemukan gue dengan malikat seperti lo”


“Lo tau, kalau lo itu sahabat cewe gue satu-satunya?” Bulan mengganguk menjawab pertanyaan Bintang.


“Dan lo adalah orang kedua yang harus gue lindungi setelah mama gue” ucap Bintang sambil memeluk Bulan.


Sejenak Bulan benar-benar lupa akan kejadian masa lalu kini Bintanglah tempatnya berbagi cerita setelah kedua orang tuanya mimilih karier mereka dan menitipkan Bulan dengan omanya.


“Terkadang gue takut, jika suatu hari kita harus berpisah karena satu hal. Siapa yang akan menghibur gue Bintang?” Tanya Bulan sendu.


“Gue janji nggak akan ninggalin lo!”


“Jangan janji kalau lo nggak bisa nepatin omongan lo sendiri!” cibir Bulan.


“Iya gue nggak janji gue akan berusaha ada disisi lo terus”


“Nah gitu dong! Sekarang peluk gue!” pinta Bulan seperti anak kecil.

__ADS_1


Mereka menikmati sore hari ini ditemani cahaya senja yang menghangatkan juga pelukan keduanya yang menengkan.


Buat apa punya pacar kalau sahabat lo lebih siap siaga daripada pacar lo sendiri.


__ADS_2