Sebatas Teman Tanpa Kepastian

Sebatas Teman Tanpa Kepastian
DEMI KAMU


__ADS_3

HAPPY READING......



Sekali-kali aku juga mau berjuang buat kamu. Meskipun aku tahu cara ini adalah cara yang paling kamu benci.


******


Bulan memasuki rumah. Langkahnya semakin memelan ketika dia mendengerkan seseorang yang tengah berbincang-bincang diruang keluarga rumahnya.


Bulan mngerutkan dahinya ketika melihat Rianti tengah serius membahas sesuatu dengan omanya.


'*kita harus merenovasi kamar yang disini'


'benar, kamarnya terlalu sempit'


'Tuti! tolong berikan ke mang Udin untuk persiapan renovasi kamarnya'


'Tapi, kamar ini sudah sangat luar bahkan melebihi luas kamar neng Bulan'


'Disini nyonya rumahnya saya atau kamu sih*'


Bulan mendekat. Dia sempat melihat peta renovasi kamar rumah ini. Bahkan Rianti dan oma tidak menyadari keberadaanya.


"Siapa Aerglo?" tanya Bulan ketika melihat kamar yang dinamai Aerglo disana.


"Tentu saja kamar calon anaknya Bulan dan Bintang," jawab Rianti semangat.


Bulan mengerutkan dahinya sejak kapan dia punya anak dengan Bintang?


"Kamar anak aku sama Bintang?" tanya Bulan lagi.


Oma dan Rianti langsung tersadar dan segera menyembunyikan kertas tatanan renovasi rumah. Setelah itu mereka tersenyum canggung melihat Bulan.


"Bulan sini deh," Rianti menyuruh Bulan duduk di seofa sebelahnya.


Bulan menagngguk lalau duduk disana dengan tenang.


Rianti menatap oma sebentar sebelum berbicara lalu diangguki oleh oma.


"Sini dong cantik! Agak geseran biar deket sama tante."


lagi-lagi Bulan menuruti Rianti.


"Kenapa sih tante?" tanya Bulan tidak sabaran.


Rianti membelai rambut Bulan, menatapnya dengan tatapan lebut seperti seorang ibu kepada anak kandungnya sendiri.


"Tante sudah tahu tentang hubungan kamu sama Bintang-"


"Kita temen tan," jeda Bulan cepat.


"Dengerin tante dulu, jangan dipotong!"


Lagi. Bulan menagngguk malas berdebat dengan Rianti yang tak kalah cerewet dengan omanya.


"Kalian itu memang sahabat tapi nggak ada salahnya kan kalian mencoba hubungan yang kebih serius. Lagipula keluarga kita juga sudah sangat dekat ya kan oma," ucap Rianti meminta dukungan ke oma.


"Benar lan. Nggak ada yang tahu kedepannya seperti apa, nggak ada salahnya dicoba dulu," kompor oma mendukung Rianti.


Bulan menatap kedua wanita dedepannya ini secara bergantian. Bagaiman mereka bisa tahu tentang hubungannya dengan Bintang yang memang hampir menuju jenjang yang lebih serius lagi.


Ah..Sepertinya Bulan tahu siapa yang memberi tahu mereka berdua hingga seperti ini.


"Bulan sayang sama Bintang sebagai sahabat tante." ucap Bulan lirih, membuat Rianti dan oma kehilangan senyum cerianya.

__ADS_1


"Bulan ke atas dulu ya," pamit Bulan meninggalkan mereka ng masih terdiam setelah pernyataan Bulan barusan.


"Pokoknya Bulan dan Bintang harus bersatu." ucap oma berapi-api.


"Betul. Bahkan galaksi sudah menyetujui hubungan mereka maka kita juga harus membantu sedikit agar mereka bisa bersama."


"Benar! Hidup Bulan dan Bintang!"


******


Bulan melemparkan almaternya secara asal diatas kasur, melepas semua kain yang menempel di tubuhnya. Bulan meraih kimono dilemari pakaiananya. Dia hanya ingin berendam di air dingin sekarang karena, pikirannya sudah cukup panas berkutatat dengan masalah olimliade ditambah lagi hal mngejutkan yang dilakukan oleh Rianti dan omanya.


Benar-benar ibu dan nenek satu itu selalu bisa saja membuat acara yang liluar nalar manusia.


Bulan bergegas menuju kamar mandi. Dia menyalakan keran air dingin untuk memgisi bathtub lalu menambahkan bubble bath. Sungguh surgawi sekali.


"Udah lama nggak berendam gini. Kapan sih hidup gue bisa sedamai ini?"


Cukup lama Bulan berendam. Bahkan sekarang tangannya sudah mengkerut.


"Bulann!"


"Iya tante, masuk aja Bulan lagi mandi."


Bulan keluar dari kamar mandi dengan baju santainya. Dia melihat Rianti yang tengah melihat foto-foto Bulan dengan Bintang.


"Kalian ngegemesin ya," ucap Rianti sambil melihat foto-foto itu.


"Tante bisa aja."


"Tante mau ngomong sama Bulan," ujar Tante Rianti lalu duduk di sofa kecil di sudut kamar Bulan.


Bulan menagngguk kecil lalu duduk di samping Rianti.


"Manggilnya kok tante sih, padahal tante pingin dipanggil mama lo sama kamu," rajuk Rianti.


"Bulan udah teribiasa manggil tante, udah terbiasa. Sulit ngegangtinya."


Rianti tersenyum kecut mendengar jawaban Bulan, selalu seperti itu. Gadis itu tidak pernah mau memanggilnya mama.


"Tente cuma mau ngomong ini?" tanya Bulan.


"Bukan. Tante mau ngebahas masalah kamu sama Bintang."


Bulan menghela napas lelah, ia pikir masalah tadi sudah selesai.


"Kita cuma temen tan--"


"Tante udah tahu kalau Bintang suka sama kamu," potong Rianti.


Bulan melotot. Sudah pastu ini ulah Mars. Bocah nakal itu selalu saja ember. Benar-benar bermulut wanita.


"Tapi Bulan nggak suka sama Bintang." alibi Bulan, entahlah, dia masih bingung sampai sekarang dengan perasaannya sendiri. Terlalu sering bersama Bintang terkadang membuatnya tidak bisa membedakan rasa suka sesama sahabat atau lawan jenis.


"Tante cuma mau ngomong ini, kamu pikir baik-baik apakah kamu yakin sama perasaan kamu sekarang. Jangan sampai menyesal Bulan," ucap Rianti lembut.


Bulan menatap Rianti. Tidak tahu harus berkata apa. Dia memang sering merasakan gejolak aneh ketika bersama Bintang tetapi, Bulan tidak pernah mengambil pusing hal itu.


"Kalau gitu tante pulang dulu ya. Kamu pasti mau belajar kan?"


"Ahh..it-itu iya tante." kata Bulan sedikit canggung.


Setelah Rianti keluar, Bulan belum beranjak dari sofa masih termenung dengan ucapan Rianti juga beberaoa orang yang selalu mempertanyakan perasaannya dengan Bintang.


"ARKKKHHHH," teriak Bulan frustasi.

__ADS_1


"Kenapa sih semua orang pingn banget gue jadian sama Bintang. Emang mereka bakalan puas gitu kalau gue pacaran sama dia?"


Bulan menggeleng dengan cepat, "Enggak!! Yang ada gue dibakar hidup-hidup sama fans fanatiknya Bintang."


Mata Bulan langsung tertuju pada jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul delapan malam pasti pengumuman tentang siapa yang lolos tes seleksi olimpiade matematika sudah diumumkan.


Bulan segera menacari ponselnya, dia segera membuka grup khusus olimpiade dan benar saja profesor Harris sudah mengumumkan siapa yang akan mewakili sekolah untuk olimpiade.


Profesor Harris :


Selamat malam semuanya. Semoga masih tetap semanvat belajarnya. Sesuai hasil tes kalian sore tadi yang akan mewakili olimpiade adalah Bintang dengan skor 88 sedangkan di urutan ke dua ada Fathur 85 dan Bulan 80. Yang tidak lolos jangan bersedih dan tetap semangat belajar karena masih ada kesemoatan lomba lainnya.


Bulan tersenyum lega menerima hasil tes tersebut. Ini benar-benar sangat sesuai dengan keinginannya.


"Pasti Bintang seneng banget."


Bulan segera membuka roomchatnya dengan Bintang karena cowo itu sedari tadi memspam chat Bulan.


Bitang : Lannn


Bintang : Bulan


Bintang : Bulan Syahara yang cantik syalalalal!!!!


Bintang : Lo udah lihat hasil tes?!


Bintang : Sumpah gue kaget banget!


Bintang : Gue seneng banget anjirr.


Bintang : Fenomena langka ini mah, perlu dicatat di perpustakaan sekolah.


Bintang : Gue nggak mimpi kan ya? Aneh banget soalnya.


Bintang : Eitt.. tunggu bentar deh, lo tumben prinkat terakhir?


Bintang : Lan?!


Bintang : Bodo amat gue spam chat.


Bintang : Bulan.


Bintang : Ini bukan karena ulah lo sendiri kan?


Bintang : Ini karena usaha gue kan lan?


Bintang : Kalau bener. Sumpah lo gak lucu lan!


 


Bulan : Gue emang lagi down waktu itu. Lo tau sendiri kan gue nggak bisa ngefokusin ke satu hal kalau fokus gue masih ke hal lain.


Bulan : \*Bay the way\* selamat ya. Akhirnya keinginan lo tercapai.



Bulan : Jangan lupa belajar. Lo kan biasanya belajarnya pas waktu ujian aja.


 


Bulan memghela napas panjang lalu menutup roomchatnya dengan Bintang. Melemparkan ponselnya begitu saja.


Semua yang dikatakan Bulan adalah kebohongan. Ini adalah rencananya supaya Bintang bisa ikut olimpiade matematika.


Hari itu ketika Bulan sudah selesai mengerjakan soal ujian dia menghapus dua jawaban terakhirnya. Semuanya ini dia lakukan agar Bintang bisa mewujudkan mimpinya.

__ADS_1


__ADS_2