
HAPPY READING.....
Bagaiman aku bisa tenang jika luka yang kemarin belum mengering lalu ditambah dengan luka baru lagi.
Sejak kejadian kemarin Bintang belum bertemu lagi dengan Bulan, entah berapa lama lagi gadis itu akan menjaga jarak dengannya.
Bintang mengambil ponselnya yang sempat bergetar beberapa kali, menampilkan bebrapa notif pesan. Ada beberapa dari Rosa, Dodo, Tiyo, dan juga Vani, entah kenapa bintang membuka roomchat-nya dengan Vani.
Vani : Hai Bin, gue denger lo udah ga masuk sekolah dua hari ya? lo sakit?
Vani : Gue denger Bulan juga nggak masuk sekolah, kalian sakit barengan?
Vani : Kalau lo nggak sibuk tolong di balas ya.
Bintang : Gue baik kok, lagi liburan aja sama Bulan.
Baru beberapa detik ponsel Bintang kembali bergetar, disana terdapat notif pesan dari Vani.
Vani : Gue pikir kalian sakit barengan.
Vani : Bodohnya gue cemas banget sama lo.
Vani : Hahaha gue kenapa sih😂
Bintang : Duhh meleleh gue dicemasin sama bidadari
Vani : Apaan sih bin_-
Bintang : Beneran deh, lo cantik banget sumpah. Kayak Bidadari
Vani : Mabok kendaraan ya lo?
Bintang : Iya nih gue mabok.
Bintang : mabok karena nggak dapet perhatian dari lo.
Vani : Dasar playboy gadungan lo!
Bintang : Tau ah, Vani gak asik.
Bintang : Lo mau nitip oleh oleh apa mumpung gue lagi baik ini.
Vani :Terserah yang penting mahal.
Bintang : Dihh matre banget lo!
Bintang menutup roomchat-nya saat bel kamar hotel nya berbunyi, Bintang segera berdiri dan membuka pintu. Ia pikir yang akan mucul dari balik pintu adalah Bulan tapi, itu bukan Bulan melainkan Fiona.
“Ada apa?” tanya Bintang dengan raut wajah yang sangat menjukkan bahwa dia tidak menyukai keberadaan Fiona disini.
“No- nona Bulan”
“Apa apa? kenapa sama Bulan?” sekarang Bintang yang dibuat panik dengan ucapan Fiona. Karena Fiona tak kunjung menjawab Bintang segera berlari menuju kamar hotel Bulan.
Disana Bulan tengah terduduk dilantai sambil menatap kosong pemandangan dibalik jendela kaca. Bintang berjalan mendekati gadis itu di lihatnya Bulan yang melamun disana tapi, air mata gadis itu masih saja mengalir dengan derasnya. Bulan menangis tanpa suara.
“Lan”
Bulan menoleh ke arah sumber suara dia menatap Bintang dengar datar, lalu memalingkan wajahnya.
Bintang mendekat kea rah Bulan dia berjongkok disamping Bulan, gadis ini benar-benar terlihat kacau.
Bintang menghapus setiap air mata Bulan yang terus menetes, manatap gadis itu dengan iba. “Jangan kayak gini lan, air mata lo bikin gue sakit”
“Kenapa lo begitu peduli sama gue?” tanya Bulan namun, gadis itu ttidka bergeming sama sekali.
“Lo kan sahabat gue” ucap Bintang sambil ngelus-ngelus kepala Bulan.
Bulan mengentikan tangan Bintang yang tengah mengelus-ngelus kepalanya, dia menatap Bintang dengan tatapan datarnya, lagi.
__ADS_1
“Lan”
“Gue harus gimana bin?”
“Gue yakin kalau mama tau, pasti mama bakalan minta cerai ke papa”
“Tapi gue nggak mau mereka cerai” kini tangis Bulan semakin menggema di kamar hotek itu.
Clara yang awalnya hanya menunggu didepan kamar hotel masuk dengan tergopoh-gopoh, “Nona Bulan!”
Tubuh Bulan semakin bergetar diiringi isak tangis Bulan yang samakin mengecil, “Dia udah berapa lama kayak gini?” tanya Bintang kepada Fiona.
“Sejak dua hari yang lalu”
“Lo udah kasih dia obat?”
“Saya tidak tau obatnya yang mana”
Bintang segera membuka isi koper Bulan, mencari kotak obat milik Bulan. Ia sangat berharap bahwa Bulan membawa obat yang sangat dibutuhkan jika keadaan Bulan sudah seperti ini.
Setelah cukup lama membongkar seisi koper Bulan akhirnya Bintang menemukan obat itu.
Bintang segera mengambil satu butir obat dari wadah itu, lalau menyuruh Fiona mengambilkan segelas air.
Bintang menyenderakan tubuh Bulan ke dadanya, sekarang Bintang bisa merasakan getaran tubuh Bulan. Bahakn sekarang napas gadis ini tersengal-sengal.
“Minum dulu obatnya lan”
Dengan lemas Bulan segera membuka mulutnya dan meminum obat itu, secara perlahan tubuh Bulan berhenti bergetar lalu gadis itu tertidur pulas dipangkuan Bintang. Bintang segera membaringkan Bulan kekasurnya lalu menyelimutinya.
Fiona yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu hanya terdiam, dia tidak menyangkan nonanya yang sangat ceria sekejp berubah semenyedihkan ini.
“Sebenarnya apa yang terjadi ketika nona dan kamu pergi kemarin?”
Bintang duduk di pinggir kasur Bulan, dia menghela napasnya cukup lama. Melihat Fiona yang tengah menantikan jawabannya.
“Lo sebenarnya siapanya Bulan sih?”
“Saya, bisa dibilang asistennya nona Bulan. Sedari kecil saya yang selalu menemani nona kemanapun dia pergi”
Bintang menyingkirkan anak rambut Bulan yang menutupi wajahnya, jika dilihat seperti ini gadis ini seperti putri tidur, “Lalu dimana kamu saat kejadian di danau itu terjadi?”
Fiona cukup terkejut, bahkan Bintang juga mengetahui kejadian itu. Sepertinya Bintang benar benar sangat dekat dengan Bulan.
“Saat itu, nona meminta saya untuk tidak mengikuti acara bermainnya dengan teman temannya, dia tidak mau terganggu dengan kehadiran saya” Fiona menjeda ucapannya, mengingat kejadian itu selalu membuat Fiona merasa bersalah. “Saya tidak tahu kalau akibat kejadian itu nona akan semenderita ini, bahkan nona tidak perpamitan dengan saya saat memutuskan tinggal di Indonesia”
“Dia memang sudah cukup banyak menderita. Luka yang kemarin belum kering tapi, dia sudah mendapatkan luka baru lagi”
Fiona membelakkan matanya, lututnya bergetar hingga ia terjatuh ke lantai. “Nona kenapa nona harus menderita seperti ini,” ucap Fiona ditengah isaknya. “Memangnya apa yang terjadi hingga nona seperti itu lagi?”
Fiona menurut, dia berdiri dan duduk di kursi kecil yang berada di samping tempat tidur Bulan. “Jadi kenapa nona seperti ini?”
“Lo pasti udah tau kan alasan Bulan ke sini?”
Fiona mengangguk dia sangat tau, karena semua informasi yang Bulan tahu hampir semua Fiona yang memberitahunya. Karena itu ia ditugaskan oleh Tina—mamanya untuk menjadi asistennya Bulan seperti dulu.
“Papa Bulan selingkuh, dan sepertinya dia sangat terpukul dengan hal ini”
Fiona terdiam, kenapa disaat nonanya seperti ini dia selalu tida ada bersamanya seharusnya kemarin saat Bulan memintanya tinggal di hotel dia tidak menurut seharusnya dia yang bersama Bulan bukan Bintang.
“Bulan takut kalau mamanya tahu, pasti mamanya meminta cerai dari papanya”
Fiona sangat mengenal mama Bulan, sudah pasti dia akan meminta cerai sekalipun papanya Bulan adalah orang yang dicintainya, dia akan tetap meminta carai.
Lagi-lagi Bintang menatap Bulan masih tertidur pulas, melihat kantung matanya yang sudah seperti panda. Sepertinya gadis ini tidak tidur semalaman. “Kali ini gue nggk bisa bantu lagi, ini udah urusan keluarga soalnya”
Fiona terdiam. Dia berpikir apakah ada cara lain agar masalah ini cepat terselesaikan dan tidak menyakiti nonanya lagi. “Masih ada satu cara!”
Bintang menoleh ke arah Fiona, “Cara apa?”
“Ikut gue sekarang, mumpung nona masih pingsan”
“Terus Bulan ditinggal sendiri?”
“Saya bisa minta tolong Jerry buat jaga jaga kalau nona sudah bangun”
“Mau kemana sih?” tanya Bintang penasaran.
“Udah ikut aja!”
*****
Taksi yang dinaiki Bintang dan Fiona berhenti di depan apartemen yang cukup mewah. Bakan ketika mau memasuki apartemen itu ia harus melewati pengercekan cukup lama. Beruntung merek berdua melewati sesi pengecekan dengan lancar.
“Ini apartemen siapa?” tanya Bintang saat mereka baru saja memasuk kawasan apartemen itu.
“Ini apartemen mamanya Bulan”
Bintang langsung mengentikan langkahnya, dia ingat sedari kecil Bulan selalu memintanya untuk menghindari apa apun yang berhubungan dengan orang taunya bahkan ketika mamanya mengunjunginya ke Indonesia Bulan dan Bintang berpura-pura tidak mengnela sati sama lain.
“Lo udah gila ya? lo mau gue ngomong ke mamanya Bulan kalau suaminya selingkuh dan memohon agar dia nggak menceraikan suaminya supaya Bulan bisa tenang gitu?” tebak Bintang.
“Iya. ini satu-satunya cara” kukuh Fiona.
“Nggak lo udah gila. Yang ada gue di usir duluan sebelum ngomong satu kecap pun”
__ADS_1
“Kita belum coba” Fiona masih kukuh dengan kelutusannga.
“Bodoamat. Gue mau pulang”
“Emang lo tahu jalanan sini?”
“Sopir taksi kan pinter sekarang tau semua tempat”
“Menurut lo kalau Bulan nggak ngasih tahu pun, nyonya nggak akan memaksa Bulan untuk bicara? Mau berapa lama disembunyikan pun mereka bakal tahu cepat atau lambat”
Bintang menghentikan langkahnya. Dia mengepalkan kedua tangannya lalu berbaik menatap Fiona dengan raut kebencian. Dasar licik.
“Yuadah ayo!”
Sebelum kesini Fiona sudah memberitahu Tina kalau dia akan datang bersama Bintang. Karena ada informasi penting yang harus ia samapaikan kepada mamanya Bulan.
Fiona hanya berharap bahwa kalini nyonyanya akan mengerti situasi yang di alami Bulan.
Didepan pintu masuk aparteman Marissa—mama Bulan, Tina sudah berdiri disana menunggu kehadiran Bintang dan Fiona.
“Lo harus jaga sikap kalau ngomong sama mamanya Bulan” bisik Fiona sebelum ia menghampiri mamanya.
Bintang memperlambat langkahnya, dia sebenarnya juga penasaran alasan apa yang sedari dulu membuatnya harus menghindari kedua orang tau Bulan. Sepertinya kali ini dia akan segera mengethuinya.
“Silahkan masuk!” ucap Tina mempersilahkan Bintang masuk.
Bintang melirik kearah Fiona yang masih berdiri di samping mamanya, “Gue nggak ikut, lo harus jelasin sendiri. Sepertinya lo sekarang lebih megenal Bulan daripada gue” ucap Fiona mengeti tatapan Bintang.
Bintang melotot ke arah Fiona, entah kenapa sekarang ia gemetar. Gerogi karena ingin bertemu dengan mama Bulan.
Bintang melangkahkan kakinya dengan pelan memasuki aparteman itu, disana sudah ada seorang wanita yang tengah duduk di sofa sembari membaca majalah fasion. Wanita itu benar-benar elegen dilihat dari cara duduknya dan cara membacanya yang sangat anggun, dan juga rambutnya yang ditata tapi.
Marissa menutup majalahnya, dia menatap Bintang yang juga tengah menatapnya. Raut wajah Marissa benar-benar dingin dan datar sepeti Bulan namun, seketika wajah itu itu berubah ketika Bintang menyapanya.
“Selamat siang tante”
Marissa langsung berlari kecil menghampiri Bintang, dia mencubit pipi Bintang dengan gemas. “Kamu pasti Bintang kan? Ayo duduk!”
Bintang hanya menurut, ia pikir Marissa akan seperti wanita elegan pada umumnya tapi kenapa sekarang perilakunya tidak jauh berbeda dengan oma?
“Senang bertemu dengan kamu Bintang, akhirnya saya bisa bertemu dengan satu satunya teman yang anak saya punya ini”
Bintang juga tersenyum lega, ternyata Marissa sangat ramah. “Saya juga senang bertemu dengan tente”
Marissa menyesap tehnya sebentar, “Di minum tehnya”
Bintang menoleh ke meja disanternyata ada satu cangkir the untuknya juga beberapa makanan ringan, sepertinya hal ini sudah dipersiapkan sebegitu matang.
“Iya terima kasih tante”
Marissa meletakkan cangkir tehnya, dilihatnya Bintang dengan senyum sumringahnya, “Sebenarnya ada apa kamu datang kesini sendirian?”
“Sebenarnya ini ada hubungannya dengan Bulan dan juga misi yang tante suruh untuk menyelidiki papa Bulan”
Marissa mengernyitkan dahinya, raut wajahnya berubah serius. “kenapa dengan suami saya?”
“Suami anda selingkuh” ucap Bintang pelan tapi Marissa masih mendengar jelas apa yang Bintang ucapkan.
“Apa kamu serius?” tanya Marissa.
Bintang mengangguk, “Persis seperti dugaan anda" Bintang menjeda ucapannya sejanak mengumlulkan sisa sia keberaniannya, "Disini saya memohon agar anda tidak menceraikan suami anda.”
“Kamu berani sekali ya!” Kini nada suara Marissa sedikit meninggi.
Seketika tubuh Bintang bergetar, keringat dingin memenuhi keningnya. “Bulan kalut karena hal itu, dia tidak mau anda bercerai dengan suami anda”
Marissa memijat pangkal hidungnya, meredakan rasa pusingnya yang tiba-tiba datang. “Bagimana bisa?”
“Bulan sama terkejutnya dengan anda. Dia takut memberi tahukan hal ini kepada anda. Itu kenapa Bulan selalu mengelur-ngulur waktu yang anda berikan. Saya takut jika anda cerai dengan suami anda Bulan akan semakin terpukul.”
“Gadis itu masih saja sepeti dulu. Lemah.”
“Bahkan luka yang kemarin belum sembuh sepenuhnya, apa tante mau Bulan terluka untuk kedua kalinya?”
Marissa mengeluarkan air matanya bergitu saja.
Membuat Bintang bingung seketika, tidak tahu apa yang harus dia lakukan. “Tante jangan nagis gini!”
“Menurut kamu apa tente tega melihat Bulan seperti itu? Dia anak tante satu satunya bagaimana tante tega melihat Bulan seperti itu?” ucap Marissa sembari menangis.
“Lalu kenapa anda merelakan Bulan tinggal di Indonesia? sendirian bersama neneknya?”
Seketika Marissa berhenti menangis, dia menatap Bintang sambil menyeka sisa-sia air matanya.
“Maaf jika saya lancang tante” Bintang jadi merasa tidak enak sekarang, dia sepertinya sudah terlalu jauh untuk mengetehui semuanya.
Marissa memutar-mutar cincinnya beberapa kali, setelah itu dia menatap sendu kearah foto Bulan yang ada di salah satu meja di apartemen.
“Itu mamang salah saya. Saya sudah kehilangan gadis kecil periang saya, saya bukan ibu yang baik untuk Bulan. Sekarang kamu tanya kenapa saya merelakan Bulan tinggal di Indonesia?”
“Maaf atas kelancangan saya”
“Kamu pikir saya mau?” Marissa mengusap air matanya. “ Waktu itu situasinya sangat kacau. Semua berita dan surat kabar banyak membicarakan tentang skandal Bulan yang hampir tenggelam dan Melan yang meninggal ditempat. Semua berita menyudutkan Bulan bahkan keluarga Schueller juga terkena dampaknya. Hingga kami terpaksa menutup semua berita itu dan mengasingkan Bulan ke Indonesia itu juga tidak terlepas dari keputusan Bulan sendiri”
“Kalau tente benar-benar menyayangi Bulan. Tolong lupakan saja kejadian ini dan biarkan Bulan pulang ke Indonesia dengan tenang”
__ADS_1
setelah percakapan itu Bintang memutuskan untuk berpamitan dengan Marissa. Hanya ini yang dia bisa lakukan untuk Bulan. Sisanya ada tingan Marissa.