
HAPPY READING.....
Arjuna Bintang Yudhistira
*****
Lo belum terlalu kenal sama dia. Jadi, kalau lo mau jadi rival gue ngaca dulu deh!
Jamkos. Jam dimana sudah seperti surga tersendiri bagi para siswa yang ditinggal oleh gurunya. Sudah gurunya tidak ada, tidak diberi tugas pula. Sungguh nikmat yang hakiki bagi kelas yang dipimpin oleh ketua kelas bernama Tiyo.
Mungkin bagi sebagian murid 'tanpa beban', jamkos ini dimanfaatkan oleh mereka untuk rebahan, main, bergosip atau melakukan hal membahagiakan lainnya. Namun, berbeda dengan siswa olimpiade. Seperti Bulan dan Bintang contohnya mereka berdua tengah belajar materi yang dikirim oleh professor haris di bangku paling pojok kelas.
Tidak perlu dijelaskan. Pasti kalian pernah merasakan bagaimana tempat duduk menjadi acak-acakan saat jamkos melanda.
Tidak hanya Bulan dan Bintang saja. Bahkan si cerewet Dina pun mendadak khusyuk dengan soal-soal bahasa Inggris. Ya, cewek itu berhasil lulus seleksi olimpiade bahasa Inggris. Yang lebih mengejutkan lagi siswa paling bobrok sekelas juga lulus seleksi kelas olimpiade ekonomi. Kalian pasti sudah tau siapa siswa bobrok itu.
Sekarang Bulan tengah menerangkan materi yang tidak dimengerti oleh Bintang. Namun, iba-tiba Tiyo datang dengan muka masamnya.
“Lannn,” rengek Tiyo mendekati Bulan.
Bulan dan Bintang menatap Tiyo, tidak biasanya cowo penceria itu berubah menjadi sok imut. Pasti ada maunya.
“Kenapa yo?” tanya Bulan kepada Tiyo.
“Bantuin gue. Gue nggak paham sama materi ini.” Tiyo menyodorkan ponselnya yang berisi pdf materi ekonomi.
Bulan membaca sekilas materi itu, dia menyerahkan ponselnya kembali kepada Tiyo. “Sorry. Gue juga nggak begitu paham ada banyak kata-kata baru disitu. Kita kan dapat lintas minat ekonomi saat kelas sepuluh.”
“Yahhh.” kini Tiyo benar-benar sudah pasrah.
“Tapi-“
Bulan menggantung kalimatnya ia mengeluarkan Sesuatu dari dalam tasnya. Itu adalah sebuah buku ekonomi pemberian dari tantenya entahlah tantenya itu ketika liburan tidak pernah absen membelikannya buku. Bulan menyodorkan buku itu kepada Tiyo.
“Mungkin buku ini bisa membantu”
Tiyo segera menyambar buku itu, “Wow. Lo emang bener-bener kutu buku ternyata. Gue pinjam dulu ya”
“Ambil aja,” ucap Bulan tanpa beban.
“Serius nih?"
“Iya. Emang sengaja mau gue kasih buat lo.”
"Tumben" heran Tiyo.
"Kemarin gue baru dapat pencerahan buat ngasih buku-buku yang nggak kepakek buat disumbangin" jelas Bulan.
“Ohhh..makasih Bulan cantik. Gue belajar dulu ya!” pamit Tiyo.
Bulan hanya tersenyum kecil menjawab pertanyaan Tiyo. Kini fokusnya kembali ke Bintang.
“Udah puas ngobrolnya sama Tiyo,” sindir Bintang.
“Dih..lo cemburu gitu?”
Bintang memutar bola matnya malas. “Bukan cemburu, malas aja tuh anak ganggu. Nggak ada akhlak emang!”
Bulan terkekeh lalu mengacak-acak rambut Bintang gemas, “Tapi, lo udah paham kan sama materinya?”
“Udah kok. Gue nggak setolol Tiyo.”
__ADS_1
“Dia nggak setolol itu bin. Buktinya dia lulus seleksi kelas olimpiade ekonomi.”
“Intinya masih pinter gue daripada dia.” Bintang masih tidak mau mengalah dengan ucapannya.
“Yudah iya. Sebahagia lo aja deh!”
Dua jam pelajaran sudah mereka lewati namun, belum ada guru yang masuk sekedar menginformasikan tugas untuk mereka atau hendak mengajar mereka belum ada. Bahkan para siswa sudah mulai bosan dengan aktivitasnya.
“Nonton Film yuk!” beo Rosan ditengah pandemi kebosanan.
“Nonton Film horror” sahut Dina yang baru saja selesai berkutat dengan soal-soal bahasa inggrisnya.
“Boleh juga tuh”
“Yuk nonton rame-rame di layar proyektor*”
“Ngawur! Nati kalau ketahuan kepsek gue yang kena” ucap Tiyo memperingkatkan.
“*Gapapa kali yo, sekali-kali. Kelas sebeleh kemarin juga gitu. Nggak diapa-apain tuh”
“Bener yo.”
“Yaudah deh terserah, kalau mau nonton horor yang serem sekalian”
Setelah Tiyo mengatakan itu banyak siswa yang sedang mencari-cari film hororo terbaru juga terseram.
“Gue udah nemun nih, nonton ini aja yuk” ucap Kiya memperlihatkan poster juga sisnopsis film horror tersebut yang di setujui oleh para siwa. Cewe itu selain doyan K-POP juga pecandu film horror terutama thiriller. Dan juga satu-satunya cewe yang paling gercep mendapatkan link bajakan film-film terbaru.
“Ada yang bawa laptop gak?” teriak Kiya.
“Ada, gue bawa” ucap Dina, membawa laptop tersebut ke meja guru dan segera mencolokkan kekabel penghubung layar proyektor.
Cukup lama kedua cowo itu mengotak-ngataik laptop didepan, eantah apa yang mereka kerjakan.
“WI-FI sekolah lemot parah” jawab Kiya.
“Ada yang rela nyalain hospot buat nonton film sekelas nggak?” teriak Bintang didepan kelas.
Giliran sudah seperti ini semua siswa menggeleng berjamaah, kecuali Bulan yang sedari tadi nampak bodo amat dengan kegiatan teman-temannya tersebt, karena dia paling benci menonton film horror.
“Gak da yang mau nih?” tanya Dina lagi.
“Ayo dong yang kuotanya banyak. Buat kebahagiaan sekelas ini”
“Tau tuh. Kita doain masuk surga deh”
“Wahai human. Ayo siapa yang mau rela hospotin buat nonton film horror.”
Bulan menghela nepasnya, membuka ponselnya dan menyalakan hospot disana. Setelah itu dia mengkode Bintang, menyuruhnya untuk segera tersmbung k hospotnya.
Bintang tahu kata sandi hospot Bulan karena cowok itu sendiri yang membuat kata sandinya. Bintang terkadang memang selalu iseng menyalakan hospot milik Bulan jika pektannya tengah limit.
“Udah mulai tuh” ucap Dodo. Yang entah sejak kapan sudah duduk dibelakang disamping tempat duduk Bulan.
“Siapa yang ngasih hospot”
“Bulan” ucap Bintang. Lalu beranjak menuju tempat duduk Bulan. Bintang tahu cewe itu pasti sekarang tengah memasang earphone sambil memainkan ponselnya.
“Din, kali ini aja gue pingin duduk sama Bulan” mohon Bintang kepada Dina.
Dina menggguk mengerti maksud Bintang, Dia segera berdiri dan mencari tempat duduk yang kosong.
“Lo ngapain kesini sih bin” kata Dodo tidak suka Bintang duduk disamping Bulan.
__ADS_1
“Lo sendiri ngapain duduk disinii?. Lo kan satu bangku sama gue” alih-alih ,enjawab Bintang malah bertanya balik ke Dodo.
“Suka-suka gue dong”
“Yaudah sama”
“Lo berdua bisa diem nggak sih” tegur Tiyo saat Film baru saja diputar.
“Jangan diputar dulu, kayanya ada yang kurang nih” sela Amanda.
“Iya nih. Kayak ada yang terlewatkan gitu.”
“Cemilan bukan sih?” sahut Dina.
“Betul itu. Gue mau beli cemilan bentar. Filmnya matiin dulu”
“Nitip buat sekelas sekalian baru gue matiin filmnya” kata Tiyo, mewakili teman-temannya.
“Oke. Tapi, uangnya diganti ” kata Amanda lalu beranjak keluar bersama Clara.
“Siap deh. Nanti pakek uang khas ya.”
Ucapan Tiyo barusan langsung diacungi seisi kelas. Dasar siswa-siswi yang doyan dibayarin.
Setelah cukup lama dikantin keluar dari kelas akhirnya Amanda dan Clara tiba. Dengan membawa satu kresek merah besar yang berisika jajajan khas kantin juga beberpa minuman dingin.
Setelah keributan berbagi jajan. Akhirnya filmpun segera diputar dengan suasanya yang senyap. Sepertinya seisi keas tengah enikmati menonton film tersebut. Kecual Bulan yang sedari tadi fokus dengan ponsel dan musik din earphonenya.
“Lann”
“Hmm” cewek itu bahkan tidak berani sekedar mengangkat kepalanya ke depan.
“Tangan kiri lo nganggur kan?” tanya Bintang.
Bulan mengangkat kepalanya menatap Bintang sekejap, “Iya.”
“Siniin!” kata Bintang. Menunjuk tangan Bulan dengan matanya.
“Buat apa?”
“Udah siniin!”
Akhirnya Bulan menyerahkan tangan kirinya diatas paha Bintang. Kemudian cowo itu menggenggam tangan Bulan sambil mengusap punggung tangan Bulan dengan lembut.
“Jangan takut ya”
Perhatian kecil itu tentu saja membuat Bulan seperti mendapatkan suntikan vitamin.
“Makasih Bin”
“Udah sana tidu. Kencengin sura earphonenya biar lo nggak keganggu sama suara-suara aneh dari filmnya”
Bintang sangat mengenal Bulan. Dulu saat usia mereka masih kanak-kanak., Bulan sering mengalamai gejala susah tidur, dengan berbagai cara Bintang melakukan banyak hal. Seperti membacakannya cerita atau mengelus-ngelus kepala atau punggung tangan Bulan dan akhirnya ia menemukn cara yang efektif tersebut.
Bahkan sekarang Bulan sudah tertidur dengan pulasnya sambil bersandar dipundah Bintang.
Hal itu tentu saja membuat fokus Dodo yang awalnya untu film menjadi bubar hanya karena melihat Buln yang tertidur pulas dipundah Bintang.
“Modus banget sih lo bin” sindir Dodo tidak suka.
“Lo belum terlalu kenal sama dia do. Jadi, kalau lo mau jadi rival gue ngaca dulu deh!”
Perkataan Bintang tersebut tentu saja membuat Dodo tertohok. Mamang benar dia tidak begitu mengenal Bulan namun, bagaimanapunnjuga dia tidak akan mengalah begitu saja meskipun rivalnya kali ini sangatlah berat.
__ADS_1