
HAPPY READING...
Hari ini, besok, dan kapanpun itu aku masih berutung satu satunya Bintang dihidup kamu--Bintang
Dia Bulan, entah kenapa waktu kecil gue pingin banget sahabatan sama Bulan yang kebetulan memang tetangga gue. Dia anak tunggal, pewaris satu-satunya L’Oreal , siapa sih yang nggak kenal sama perusahaan kosmetik ini, semua orang juga tau. Jujur, menurut gue dia adalah orang yang paling beruntung didunia ini.
Mungkin jika lo berteman sama seorang Bulan Syahara Schueller lo harus siap jaga hati dan juga perasaan karena, bisa saja lo jatuh cinta sama cewek yang satu ini. Tapi, itu nggak berlaku buat gue, mungkin karena rasa sayang gue ke Bulan lebih besar dibandingkan rasa ingin memiliki dia seutuhnya. Untuk saat ini hanya itu yang gue rasain ke Bulan dan untuk kedepannya gue nggak tau, mungkin bisa saja berubah atau mungkin juga perasan ini akan tetap sama sampai ajal menjemput kita berdua.
Kebanyakan pertemanan antara cewe dan cowo itu pasti ujung-ujungnya jadi cinta kayak di novel dan beberapa film tapi, perahabatan gue dan Bulan itu beda sangat abstrak tidak bisa dijelaskan dan sedikit rumit yang jelas dari dulukita itu lengket banget kayak perangko sama kertas. Awalnya gue takut jika gue harus berteman sama bulan gue nggak siap jika suatu hari anti gue tiba-tiba suka sama dia namun, seperti biasa gue selalu berusaha menepis rayuan setan itu.
Dia sedikit tomboy luarnya aja sih, mungkin jika lo kenal dia lebih dalam dia itu sebenarnya feminim abis. Bulan sengaja menutupi kecantikanya misalnya dia dengan sengaja nggak pernah dandan bahkan waktu gue kekamrnya gue nggak sengaja cuma nemuin bedak bayi merek jhonson ajib memang padahal kelurganya punya segudang make up jika Bulan mau memakainya.
Dan cewek yang dihadapan gue sekarang ini adalah Bulan. Sahabat cewek pertama gue.
__ADS_1
Dia penyuka anak-anak, suka bermain musik, juga baik hati, dan kebiasaan Bulan adalah selalu mengkuncir kuda rambutnya bahkan gue ngagak pernah tau kalau rambutnya terurai itu kayak apa, bisa dibilang Bulan itu cukup tercukupi dalam hal materinya bahkan lebih, dia juga punya otak yang top char, dan paras yang cantik. Sayangnya, kejadian dimasa lalu membuatnya hanya percaya sama satu orang teman yaitu, gue seorang Arjuna Bintang Yudhistira.
Bulan memang tinggal bersama neneknya sejak dia pindah ke Indonesia sedangkan orang tuanya menetap di Prancis . Terkadang gue nggak habis pikir sama tuh om om ralat maksudya oma oma, setiap pagi Bulan selalu disuruh menjadi pemandu senamnya padahal di Semarang ini masih banyak pemandu senam yang jauh lebih handal daripada Bulan. Selain itu dia juga punya studio musik sendiri di rumah neneknya yang gue nggak habis pikir kanapa Bulan nggak pernah menunjukan bakat bermain musiknya ke orang-orang, menurut gue dia terlalu menutup diri bahakan jika ada cowo maupun cewe yang berusaha mendekati Bulan justru Bulan dengan sengaja menghindarinya.
“Bulan?!”
“Iya”
“Lo nggak pernah berencana punya teman lain gitu selain Gue?” bukan apa-apa Bintang bertanya demikian ia hanya ingin tahu apakah truma Bulan masih begitu mendominasi kehidupanya.
“SAKAREPMU WAE LAH!”
“Kumaha maneh”
Dan ini adalah hal yang paling gue suka ketika harus berdebat dengan Bulan gue akan mengunkan bahasa Jawa sedangkan Bulan akan mengunakan bahasa Sunda andalannya dan setelah itu kami akan tertawa riang bersama mmungkin bagi orang lain itu adalah hal yang garing sedangkan menurut gue hal itu justru membuat gue dan Bulan semkin dekat. Sampai detik ini juga gue nggak pernah tahu apa alasan Bulan hanya mau berteman sama gue, bahkan setiap kali gue bertanya Bulan dengan sengaja mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Terkadang rasa pesimis gue datang rasa dimana gue takut kalau suatu hari gue nggak bisa menepati janji gue ke Bulan gue juga takut kalau sutu hari gue bakalan ninggalin Bulan dan berpaling ke-sahabat gue yang baru terlebih lagi gue ini tipikal cowok yang gampang bosan.
“Lan, jangan gitu dong gue dikacangin. Gue jadi iri sama tuh novel”
Bulan menghela nafas panjang dan menutup novelnya, ditatapnya Bintang dengan wajah datarnya “Sekarang lo mau gue gimana?” tanya Bulan.
“Ya jangan kacangin gue kali, ngobrol kek apa kek”
“Lo tau kan gue itu sayang sama lo, tapi jangan manja-manja banget kenapa sih Binn, dikacangin aja marah. Gue diemin seminggu tau rasa lo!!!” ucap Bulan kesal sendiri.
Lo tau sendiri kan gue ini emang manjannya naudzubilah kalau sama Bulan, gue gemes aja gitu pingin karungin terus bawa pulang. Pokoknya kalau lo ketemu spesies kayang Bulan lo harus cepet-cepet karungin sayangnya gue nggak bisa karungin dia karena, omanya bisa-bisa bakar gue hidup-hidup.
Gue tau, gue memang bukan sahabat yang baik buat Bulan tapi gue juga nggak habis pikir sama Bulan diantara jutaan manusia di muka bumi ini kenapa harus gue satu-satunya manusia yang harus dipercaya buat jadi sahabatnya. Menurut gue bukan Bulan yang beruntung bisa temenan sama gue melaikan gue yang beruntung bisa jadi temenya Bulan karena gue akan diperlakukan sesepesial mungkin oleh seorang Bulan Syahara.
Dia Bulan, orang yang akan selalu menyempurnakan cahaya Bintang.
__ADS_1