
HAPPY READING.....
Mungkin kamu masih terkejut akan pernyataan baru itu. Tapi Bulan kali ini aku benar benar menyukaimu.
Sepulang sekolah Bulan dan juga Bintang tentunya. Mereka beranjak dari kelas ke lab biologi. Hari ini akan menjadi hari pertama mereka berlajar dikelas khusus olimpiade matematika.
Bintang menatap tajam ke arah seorang cowok yang tengah sibuk dengan game diponselnya. Dia adalah cowok yang membuat Bintang harus menempati urutan ke tiga seleksi kemarin, padahal selama ini Bintang selalu mendapatkan nomor dua setelah Bulan.
Bintang mencoba mendekati cowok itu dengan senyum ramahnya. Dia penasaran cowo seperti apa yang telah merebut posisi nomor dua miliknya.
'Bagimana bisa cowok yang tengah bermain game dengan khusyuknya itu merebut posisi nomor duanya'
“Heii bro, kenalin gue Bintang” ucap Bintang memperkenalkan diri. Berperilaku sok akrab padahal aslinya dia sangat membenci cowok perebut twmpat miliknya.
Fathur mempause gamenya, ia menatap Bintang dengan wajah datar. “Fathur”
Bintang mengenal cowok itu sekarang. Dia adalah cowok dengan gelar 'good boy' juga salah satu cowok tertampan disekolah ini. Fathur memang tidak sepopuler Bintang tetapi tetap saja banyak cewek yang mengaguminya.
“Gak yangka lo dapat urutan nomor dua” kagum Bintang. Padahal sejujurnya Bintang sangat gedeg dengan cowo yang telah merebut tempatnya itu.
“Sama. Gue kira Bintang yang bakalan dapat nomor dua” ucap Bulan yang sudah duduk didepan Fathur.
“Gue juga nggak nyangka. Mungkin lagi hoki” kata Fathur lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas karena sebentar lagi kelas khusus akan dimulai.
Bulan mengeluarkan buku matematika dari dalam tasnya lalu memberikannya ke Fathur.
“Ini. Mumpung gue ingat, gue kasih sekarang”
Mata Fathur berbinar menatap buku itu, “Wahh..makasih ya—“
Bintang menyaksikan interaksi itu secara live di kelas khusu olimpiade matematika. Kebenciannya terhadap Fathur semakin bertambah. Bagimana bisa cowok ini juga dekat dengan Bulan-nya? benar benar tidak bisa dibiarkan.
“Bulan” sahut Bulan.
“Ahh iya..Bulan”
“Kapan-kapan gue traktir lo deh”
“Gak usah. Gue ikhlas kok” tolak Bulan.
“Ga—“
“Dia gak mau thur! jangan dipaksa” ucap Bintang memperingkatkan Fathur.
“Yaudah”
Bintang segera mengambil tempat duduk disamping Bulan, cowok itu mengeser tempat duduknya lebih dekat. “Lo kenal Fathur?”
__ADS_1
Bulan menggelang, “Gue cuma pernah ketemu beberapa kali”
“Terus lo kasih dia buku?”
Bulan mengangguk mengiyakan.
“Lo nggak sedekat itu sama dia tapi lo kasih dia buku yang mahal itu?” tanya Bintang tidak percaya. Sahabatnya ini benar-benar sudah banyak berubah.
“Gue lihat dia rajin belajar dan waktu lihat buku gue dia tertari banget. Jadi, gue kasih. Gue nggak mau hanya karena dia gak punya buku terus dia jadi nggak semangat belajar”
Bintang memundurkan tempat duduknya sepertinya semula, menatap Bulan dengan tatapan yang takjub.
“Sekalian aja lo sumbangin buku kayak gitu ke satu sekolah biar banyak anak-anak yang lebih semangat belajar”
Bulan terdiam sejenak ucapan Bintang ada benarnya juga. Selama ini baik tantenya maupun mamanya selalu mebelikan buku-buku mahal itu dengan dua buku yang sama katanya jika buku satunya hilang atau robek masih ada cadangannya.
“Selamat sore anak-anak,” sapa seorang laki-laki paruh baya dengan buku-buku tebal ditangannya.
“Selamat sore,” timpal Bulan dan kedua temannya.
“Perkenalkan saya profesor Harris, mentor kelas khusus olimpiade matematika. Saya yang akan membimbing kalian selama sebulan kedepan. Ada yang ditanyakan?”
Mereka bertiga serempat menggelangkan kepala mereka bersama-sama.
“Baiklah. Kalau tidak ada yang ditanyakan, saya akan memberikan soal tes seleksi sama persis seperti kemarin, untuk mengetes apakah kalian masih megingatnya apa tidak.”
Bulan segera mengeluarkan bolpoinnya, bergegas mengerjakan soal yang sudah ada dimejanya. Tiba-tiba Bulan merebut bolpoin itu secara paksa, membuat Bulan menatapnya emosi.
“Pinjam, stok bolpoin gue udah habis,” ucap Bintang dengan santainya, lalu fokus mengerjakan.
Bulan menghela napas, lalu mengeluarkan bolpinya yang lain, dengan cekatan Bulan segera menjawab sepuluh soal yang ada dilembaran tersebut.
Waktu sudah berjalans elama tiga puluh menit namun, Bulan seudah selesai mengerjakan soal-soal tersebut. Bulan tersenyum menatap hasil pekerjaanya di lembaran kertas tersebut lalu, mengeceknya kembali apakah ada yang salah atau ttidak.
“Oke, waktu kalian habis. Silahkan dikumpulkan ke depan” kata professor Harris.
Karena malas Bulan menitipkan kertas jawabnnya kepada Bintang yang hendak mengumpulkan jawaban.
“Oii. Titip!” ucap Fathur memberikan lembar jawabannya kepada Bintang.
“Oke” Bintang mengambil lembar jawaban itu dan melihat sekilas ia penasaran dengan jawaban Fathur yang sudah membuatnya mendapat peringakat ke tiga.
“Jangan nyontek!” tegur Fathur.
“Gak sudi” ucap Bintang lalu berjalan mengumpulkan lembar jawaban tersebut ke depan.
Setelah lima belas menit akhirnya professor Harris menyelesaikan hasil koreksinya. Ia lalu berdiri megumumkan hasil jawaban tadi.
__ADS_1
“Masih sama seperti sebelumnya, Bulan Syahara mendapatkan nilai yang paling sempurna” kata Professor Harris lalu, memberikan lembar jawaban ke pada Bulan.
“Sisanya kalian berdua mendapat nilai sembilan puluh lima”
‘Akhirnya nilai gue meningkat. Meskipun gitu kenapa nilai gue harus sama kayak Fathur sih. Selama ini kan dia selalu pararel tiga. Benar-benar gak bisa dibiarin'
“Saya rasa pertemuan hari ini cukup disini saja karena sudah hampir magrib. Nanti materi untuk besok saya share di grup, kalian pelajari dulu ya” setelah mengatakan itu professor Hariss keluar dari kelas.
Bulan segera memasukkan alat tulisnya kedalam tas berniat untuk pulang, begitu juga dengan Bintang.
“Kita berdua duluan ya” pamit Bulan kepada Fathur.
“Rumor kalian berdua pacaran itu bener ya?” tanya Fathur.
Bulan mendecis, kenapa semua orang yang bertemu dengannya selalu mengatakan itu.
Bintang menenteng tasnya lalu meraih tangan Bulan, “Belom masih proses. Doain aja.” Ucap Bintang tanpa beban.
Sedangkan Bulan melototi cowok itu, sambil mencubit kecil perutnya. Membuat Bintang meringgis.
“Kita duluan ya Thur” pamit Bulan yang diangguki oleh Fathur.
Sesampainya di parkiran Bintang melepaskan genggaman tangan Bulan dari tangannya. Bintang tidak masuk ke dalam mobil dia justru bersender tempat di depan pintu mobil.
Bulan menarik tangan Bintang namun, cowok itu tetp kukuh di tempatnya,“Udah sore bin!”
“Jawab dulu pertanyaan gue.”
Bulan melipat kedua tangannya menatap Bintang. “ Pertanyaan yang mana?”
“Yang waktu di kamar lo.”
Bulan ingat itu, dia pikir Bintang hanya main-main dengan pernyataannya.
“Kali ini gue nggak main-main lan, lo tau gue kan?”
“Kasih gue waktu lagi”
Bintang mendecis, “Berapa lama lagi? Ini udah seminggu lebih”
Bulan tahu Bintang paling tidak sabaran dan paling benci menunggu. “Gue perlu waktu buat mantepin perasaan gue sendiri.”
"Mungkin kamu masih terkejut akan pernyataan baru itu. Tapi Bulan kali ini aku benar benar menyukaimu." kata Bintang. Bahkan cowok itu merubah kalimatnya lo-gue menjadi aku-kamu.
Bulan mendorong tubuh Bintang kesamping, lalu cewek itu segera masuk kedalam mobil. Sejak kejadian di Turki dia memang sudah merasa aneh terhadap perasaan kepada Bintang. Namun, dia pikir mungkin ini hanya perasaan sayang antar sesama sahabat.
Ya, seharusnya begitu. Lagipula persahabatan mereka sudah sejauh ini. Untuk berubah ke jenjang yang lebih dari sahabat, Bulan belum terpikirkan sama sekali.
__ADS_1