Sebatas Teman Tanpa Kepastian

Sebatas Teman Tanpa Kepastian
NOMOR DUA b


__ADS_3

HAPPY READING.....


Bulan termenung di meja belajarnya. Dia sedari tadi menatap kearah kumpulan kosong soal-soal olimpiade matematika miliknya tanpa mengerjakan satu soal pun. Padahal besok adalah hari tes seleksi olimpiade dilaksanakan.


Bulan masih terngiang-ngiang dengan ucapan Bintang. Memang benar, selama ini selagi ada Bulan, Bintang selalu mendapatkan nomor dua bahkan sekalipun Bintang tidak pernah bergeser dari tempatnya.


‘*Gue pingin ikut ilompiade kali ini’


‘gue ingin menang’


‘Gue mau kerja di microsoft’


‘gue capek jadi nomor dua terus*'


Kalimat itu terus berdengung ditelinga Bulan. Membuat Bulan tidak tahu harus melalukakan apa. Lagipula jika Bintang selalu mendapatkan peringkat kedua, bukan salahnya kan?


Lagi-lagi Bulan mencoba menepis pikiran kotor itu. Sudah tiga hari penuh Bintang tidak selalu mengahabiskan waktu istirahatnya untuk belajar, juga sekarang Bulan dan Bintang jarang bertemu karena paasti cowok itu tengah sibuk belajar. Bahkan Bulan yang terkenal gila belajar tidak segila seperti Bintang sekarang.


Bulan jadi teringat beberapa hari yang lalu saat ia menemai Bintang belajar di kelas.


*Flashback on…


Bel istirahat berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar satu persatu menuju kantin. Meninggalkan Bulan dan Bintang yang tengah sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Bintang yang sibuk dengan soal-soal matematika dan Bulan yang sibuk menatap Bintang.


Cukup lama Bulan menatap Bintang. Akhirnya cewek itu datang mengahampiri Bintang.


“Makan dulu gih!” ucap Bulan menyodorkan kotak bekal kepada Bintang.


“Nanti aja,” tolak Bintang menghiraukan Bulan.


“Perlu gue suapain?” Kini cewek itu sudah membuka kotak bekal melik Bintang dan hendak menyendokkan sesuap nasi ke Bintang.


Bintang meletakkan bolpinnya, lalu memindahkan kotak bekal yang ada didepan Bulan ke depannya. “Gue bisa makan sendiri.”


Bulan tersenyum penuh kemenangan, dia sengaja membawa bekal hari ini karena, dia tahu bahwa Bintang akan merelakan waktu istirahatnya dan lebih memilih berkutat dengan soal matematika.


“Bin.”


“Hmm?”


“Jangan terlalu dipikirin masalah olimpiadenya,” mohon Bulan.


Bintang menyelesaikan menggunyah sisa nasinya lalu menelannya, kali ini dia menatap Bulan dengan intens.


“Gak bisa lan. Olimpiade kali ini penting banget buat gue.”


“Iya gue tahu. Tapi, jangan sampai lupa makan juga” ingat Bulan.


“Saingannya berat lan.”


“Karena lo dapat peringkat ketiga?”


“Gue nggak masalah sama si Fathur dia masih bisa gue jamah tapi, kalau saingan gue itu lo. Gue nggak tahu harus nyerah sebelum berjuang atau tetap berjuang.”


Bulan terdiam seketika. Dia menatap Bintang dengan tatapan tidak percaya. Jadi, dia sendiri yang menjadi masalah untuk Bintang.


Bulan megedipkan kelopak matanya beberapa kali, masih tidak percaya dengan ucapan Bintang. "Perlu gue nggak usah ikut tes?"


"Nggak usah. Gue malah kelihatan cupu banget nanti."


"Yaudah. Semangat belajarnya!"


"Oke."

__ADS_1


flashback off*.


Bulan menutup bukunya dengan kasar. Dia sudah tidak ada minat sama sekali untuk belajar. Jika Bulan tetap mamaksa untuk belajar yabg ada dia akan mencorek-coret asal buku yang dibacabya.


Bulan merebahkan tubuhnya di atas kasur, meraih ponselnya diatas nakas. Bulan mencari kontak Bintang disanana. Biasaya ketika malam dia banyak menghabiskan waktunya untuk melakukan free call dengan Bintang. Padahal rumah mereka berdekatan.


Cukup lama telpon berdering. Akhirnya telpon itu tersambung juga.


"Kenapa lan?" tanya Bintang diseberang sana.


"Lo masih sibuk belajar ya?" ucap Bulan hati-hati.


"Enggak gue baru aja selesai belajar."


"Ohh...Udah mau tidur nih?"


"Enggak, baru rebahan di kasur aja. Ada apa sih sebenarnya lan? Kayak nggak biasanya aja" kata Bintang merasa ada yang anah dengan Bulan.


Sialan memang. Bintang selalu dengan mudah menebak dirinya.


"Gak papa kok. Gue cuma kangen aja sama lo." bohong Bulan.


"Serius nih. Udah kangen sama gue. Udah siap juga buat ngasih jawaban ke gue belum?"


Deg. Bulan teremakan dengan omongannya sendiri. Sekarang dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Lan!"


"i--iya?"


"Lo itu nggak pinter bohong."


"Iya. Maaf."


Cowok itu selalu mengerti Bulan melebihi mamanya sendiri.


"Santai aja lan. Setelah dipikir-pikir gue udah nggak butuh piagam itu. Nggak kerja di microfost juga nggak masalah. Lagian kalau gue ikut olimpiade kum tentu menang kan." jelas Bintang di sebrang sana.


"Lo udah yakin sama keputsan ini?"


"Yakin kok. Udah ya, udah malam. Sana tidur! good night cantik"


"Iya. Good night too!"


Saluran telpon itu dimatikan secara sepihak.


Bulan segara meletakkan ponselnya diatas nakas lalu mamatikan lampu kamarnya. Dia sedikit lega tentang pekataan Bintang barusan, meskipun masih ada saja yang mengganjal di hatinya namun, Bulan tidak mau memusingkan itu lagi. Dia hanya ingin tidur karena besok akan ada tes dan dia belum belajar sama sekali.


*****


Dodo melihat mobil Bintang memasuki parkiran. Dia sengaja menunggu Bulan turun dari mobil. Hitung-hitung modus ke gebetan. Setelah direstui oleh oma, entah kenapa Dodo semakin gencar dan terang-terangan melakukan aksinya.


"Pagi Bulan!" sapa Dodo saat Bulan baru saja turun dari mobil.


"Pagi do!"


"Hari ini denger-denger ada seleksi olimpiade lagi ya?" tanya Dodo ke Bulan.


"Iya. Kenapa?"


Dodo mengeluarkan sebatang coklat dari saku celananya, lalu memberikannya ke Bulan.


"Buat lo. Semangat ya tes nya!" Dodo menyemangati Bulan.

__ADS_1


"Makasih." Bulan menerima coklat pemberian dari Dodo. Sebenarnya dia enggan menerima coklat ini tapi, dia ridak ingin mengecewakan Dodo.


"Wahh coklat dari siapa nih," ucap Bintang menggambil coklat itu lalu memakannya.


"Kok lo main ambil coklat orang sih." ucap Bingang tidak suka.


"Bulan aja nggak marah, ya kan lan?" tanya Bintang sambil merangkul pundak Bulan.


Sedangkan Bulan gadis itu tidak tahu harus menjawab apa, dia meninggalkan mereka berdua begitu saja di parkiran. Karena Bulan tahu bahwa dua cowok sinting didepannya ini tengah terang-terangan memperebutkannya.


******


Bulan berjalan sendirian menuju kelas khusus olimpiade matematika. Sepulang sekolah tadi, dia sudah tidak melihat Bintang ditempatnya, alhasil dia berjalan sendiri ke sana.


Bulan masuk kedalam kelas. Di dalam sana sudah ada Fathur dan Bintang yang tengah fokus mengejakan soal-soal latihan.


Bulan mengambil tempat duduk dibelakang mereka berdua. Entah kenapa dia masih merasa canggung karena kejadian tiga hari yang lalu.


masih ada lima belas menit lagi sebelum tes dimulai tapi, Bulan sama sekali tidak ada niatan untuk belajar.


"Lan!" lirih Fathur mwmnaggil Bulan.


"Kenapa?"


"Sorry. Kemarin gue kebawa suasana." kata Fathur meminta maaf.


"Iya. Santai aja." Bulan berusaha menanggapi Fathur dengan senyumnya.


"Nih buat lo," ucap Fathur sambil menyodorkan sekotak susu coklat kepada Bulan.


"Makasih thur,"


"Sama-sama." Fathur lalu mengahap kedapan, kembali fokus dengan soal matematika.


Tentu saja Binang mendengar semunya. Bahkan hal barusan membuatnya tidak fokus dengan soal-soal matematika.


Tak lama setelah itu professor Harris datang dengan beberapa lembar soal matematika ditangannya.


"Selamat sore anak-anak. Langsung saja kita mulai tes sore hari ini. Tolong jawab dengan sejujurnya." Ucap professor Harris lalu membagikan soal matematika ke mereka bertiga.


"Kalian boleh mengerjakan mulai dari sekarang. Seperti biasan waktu kalian hanya satu jam."


Mereka bertiga mengangguk sebagai jawaban lalu mngerjakan soal matematika dengan teliti.


Sudah empat puluh menit lamanya waktu berlalu. Mereka bertiga masih mengerjakan soal kecuali Bulan yang sejak lima menit yang lalu sibuk memandangi kertas jawabnnya. Bukan karena Bulan mendadak bodoh atau dia tidak tahu caranya, melainkan dia tiba-tiba teringat dengan cita-cita Bintang yang ingin kerja di microsoft.


Bulan tahu itu karena, sejak kecil Bintang selalu suka mengotak-atik komputer bahkan ponselnya saja selalu meminta keluaran yang terbaru lalu menguji cobanya.


"Waktu kalian tersisa sepuluh menit." ingat profesor Harris.


Setelah professor Harris memperingatkan waktunya. Bintang dan Fathur segera mengumpulkan jawabannya kedepan secara bersamaan padahal waktu masih terisasa sepuluh menit. Sepertinya mereka berdua benar-benar bertekad ingin ikut olimpiade.


Profesor Harris menatap Bulan yang melamun sedari tadi. "Bulan belum selesai?" tanya profesor Harris yang membuat Bulan berhenti melamun.


"Sudah. Tinggal dikumpulkan."


Bulan berdiri. Lalu mengumpulkan lembar jawabnnya kedepan yang diterima profesor Harris dengan senang hati karena Bulan selama ini telah menjadi murid kesayangannya.


"Kamu sudah yakin?" tanya profesor Harris saat Bulan hendak kembali ketempat duduknya.


"Sangat yakin." ucal Bulan mantap.


Setelah menerima lembar jawaban terakhir, professor Harris mengakhiri kelas hari ini dan memberitahu bahwa pengumuman siapa yang ikut olimpiade akan diumumkan nanti malam di grup WhatsApps kelas.

__ADS_1


__ADS_2