
HAPYY READING....
kamu yang cemburu, kamu yang memperumit masalah, dan kamu juga yang menciptakan masalah itu.
semua mata memandang mobil porsche 718 yang baru saja tiba di halaman sekolah. Sudah hampir seminggu mobil beserta pemiliknya itu tidak nampak di sekolah, membuat banyak orang bertanya-tanya. Pasalnya Bulan dan Bintang sudah cukup menjadi pasangan ter absurd se-sekolah dan sekarang mereka menghilang berdua selama seminggu.
Liburan yang cukup panjang akhirnya dilalui oleh Bulan dan Bintang. Mereka berdua telah kembali ke Indonesia dan sekarang mereka juga sudah sekolah kembali.
Namun, sepertinya kedangan mereka juga cukup menggemparkan karena mereka sudah satu minggu tidak terlihat dan kembali sekolah memawa koper yang cukup besar.
Bahkan Bulan cukup kuwalahan membawa koper itu.
“Sini gue bantuin” ucap Bintang yangkjni sudahmenambil alih koper ditangan Bulan.
Ketika mereka baru saja tiba deadpan kelas Tiyo sudah menghadang mereka didepan pintu, “lo berdua ingat sekolah juga ternyata, gimana honeymoonnya selama seminggu, enak?”
Bintang langsung menonyor kepala Tiyo, lalu mendorong Tiyo ke dalam kelas.
“Sakit bin!” protes Tiyo.
“Salah sendiri ngehalangin jalan orang”
Tiyo tidak mengubris ucapan Bintang, sekarang fokusnya tertuju kepada koper besar yang dibawa oleh Bintang.
“Lo bawa koper ke sekolah?” tanya Tiyo heran.
“Iya, itu isinya oleh-oleh dari aku sama Bintang, buat sekelas sama guru-guru. Tiyo, nanti minta tolong anterin oleh-olehnya ke ruang guru ya” ucap Bulan sambil tersenyum.
“Siapp terima kasih Bulan”, tadi adalah senyum pertama yang diberikan Tiyo untuk Bulan. Bahkan Tiyo hampir di buat mabuk kepayang karena senyuman Bulan.
“APA? OLEH-OLEH” heboh Dina yang kebetulan baru saja tiba dan sempat mendegar kata oleh-oleh.
“Iya” jawab Bulan menanggapi Dina.
“yMYang dikoper itu” tunjuk Dina ke arah koper disebelah tempat duduk Bintang.
Kini Bulan hanya mengguk sebagai jawaban.
“Asyik ini! Makasih Bulan”
“Itu dari Bintang juga kok”
Dina mengguk lalu mengucapkan terima kasih kepada Bintang.
Jam pelajaran ke empat sudah selesai dan sekarang adalah waktunya berbagi oleh-oleh. Ketika Guru baru saja keluar, Dina langsung berlari menuju tempat duduk Bintang, dia ingin antri paling pertama dalam pambagian oleh-oleh.
“Mana oleh-olehnya!” tagih Dina sudah tidak sabar.
“Sabar kenapa sih!”
Bintang segera membuka koper itu, setelah koper terbuka sempurna Bintang pergi menjauh. Lalu berteriak, “WOYY YANG MAUH OLEH-OLEH KHAS TURKI ADA DI BANGKU GUE”
Setelah mengatakan itu. Semua teman sekelas mereka segara berlari menuju tempat duduk Bintang. Benar-benar sudah seperti pemmbagian sembako gratis.
Bulan menggeleng-gelengkan kepalan dia berjalan mendekati Bintang yang tengah duduk selonjoran di depan papan tulis, “Lo jahat banget bin!”
“Ha? Gue kanapa?”
“Kasihan Dina, terjepit kayakna dia”
“Hahaha..gue lupa kalau itu cewe pendek banget”
Dina memang termasuk cewe pendek dikelas ini tapi, suara gadis itu benar-benar cetar bahkan frekuensinya melebihi tinggi badannya.
“Akhirnya gue bisa keluar dari kerumunan masa” Dina menghampiri Bulan dan Bintang yang tengah duduk bedua disana, sepertinya Dina adalah orang yang pertama kali kwluar dari kerumunan itu.
“Gimana lo suka nggak sama oleh-olehnya?” Tanya Bulan penasaran.
“Suka banget. Apalagi cicin boybeyi ini gue demen banget mak gue pasti juka suka kalau sama piring cantik ini. Makasih ya lan”
“Iya, sama sama”
Setelah Dina, Tiyo juga berhasil keluar dari kerumunan yang berjumlah lebih dari tiga puluh siswa itu, “bin, lan..maksih ya oleh-ilehnya apalagi karpetnya bagus ini. Bisa gue bikin cosplay jadi Aladdin”
“Iya, tinggal cari Jasminenya aja” sahut Rosan yang juga baru saja keluar dari kerumunan masa.
“Itu mah gampang, adek kelas gue kedipin juga pada mau dia” jawab Tiyo percaya diri.
“Terselah lo deh, gue iyain aja biar lo seneng" ucap Bintang lalu berjalan keluar dari kelas.
“Ga asik banget sih lo bin”
Setelah itu satu persatu dari kerumunan tadi mulai keluar dan akhirnya kerumunan tadi sudah selesai. Bulanpun memutuskan untuk kembali ke tempat duduknya.
Bulan melihat jam tangannya, lima menit lagi pelajaran akan segera dimulai tapi, sekrang dia merasa haus dan dia lupa tidak membawa air minum.
Karena tidak ada harapan dan mau kekantin pun waktunya sudah mepet Bulan menghela napasnya dan duduk dengan lesu.
__ADS_1
“Nih minum!” ucap Dodo sambil menyodorkan minuman ke Bulan.
“Ga usah makasih do” tolak Bulan.
"Jangan sungkan, lo kayanya haus gitu”
Bulan masih terdiam, tidak tahu harus menolak atau tidak.
“Terima aja lan, ga usah sungkan!” desak Dodo.
“Iya makasih do”
“Gue yang seharusnya ngucapin itu, makasih oleh-olehnya, banyak benget lagi”
“Iya sama sama”
“Gue balik ke tempat duduk gue dulu ya”
"Iya"
Tanpa mereka sadari sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan interaksi mereka berdua. Dengan napas memburu cowo itu segera melangkahkan kakinya duduk disamping tempat duduk Bulan yang kosong, karean memang sedari tadi Dina tengah pergi ke kamar mandi dan belum kembali.
“Kenapa bin?”
“Salah gue duduk disini? Yang tadi aja boleh” sewot Bintang.
“Bukan gitu, lo kayanya tergesa-gesa gitu jadi gue pikir ada hal penting yang mau diomongin sama gue” jelas Bulan.
“Lo suka banget ya sama Dodo?”
“Ha?”
“Jawab aja lan”
“Kenapa gue harus suka sama Dodo?”
“Buktinya lo kemarin voideo callan sama kemarin, terus sekarang lo dikasih minuman. Lo dulu nggak gini lan”
“Bukannya lo ya yang minta gue buat terbuka dan menrima orang baru dihidup gue?”
“Tapi kenapa harus Dodo?”
“Gue nggak nerima Dodo aja kok, gue menrima semuanya. Dina, Tiyo, Vani, Rosan. Bahkan temen-temen sekelas juga”
Bintang hanya menatap wajah Bulan tanpa berkedip, dia mengunci tatapannya cukup lama, samapai Dina mengusirnya karena dia duduk ditempat duduknya dan jam pelajaran ke lima akan segera dimulai.
Bel Pulang sekolah sudah berbunyi sekitar limabelas menit yang lalu, kini Bintang sudah berada diparkiran mobil. Bintang tengah menunggu Bulan yang tiba-tiba ada acara diskusi dadakan dengan teman sekelompoknya.
Bintang keluar dari mobilnya karena bosan, dari arah kejauhan dia melihat Vani yang juga tengah melihat ke arahnya, secara spontan Bintang melambaikan tangannya dan Vanipun berjalan ke arahnya.
“Kak Bintang!!!” teriak Iva yang entah darimana sudah berada di samping Bintang.
Bintang terpelonjak kaget melihat Iva yang tengah tersenyum genit ke arahnya, “haii!!”
“Aku lihat dari snapgram kakak habis liburan dari Turki ya?” tanya Iva malu-malu.
“Iya nih, kenapa? Mau oleh-oleh?” tawar Bintang.
“Boleh nih kak?”
“Kenapa nggak?”
Bintang mengambil tasnya yang berisikan oleh-oleh untuk cewe-cewe gemas seperti Iva ini. Kemarin saat pergi berbelanja bersama Bulan dia daim diam membeli banyak gelang yang sengaja ia belikan untuk para fansnya.
“Ini, spesial buat lo” Bintang memakaikan gelang itu ke Iva. Sontak perlakuan itu membuat Iva jadi salah tingkah.
“Makasih ya kak” ucap Iva kegirangan.
“Iya sama-sama. Ada lagi?”
“Ha?”
“Udah kan? Lo kan udah gue kasih oleh-oleh”
“Ah..iya. aku pulang dulu ya pasti supir aku udah nungguin”
"Hati-hati ya, Iva” ucap Bintang sambil melambaikan tangannya ke Iva.
“Anak orang lo baperin aja terus, bin!!” ucap Vani yang sedari tadi menyaksikan interaksi Iva dan Bintang dari arah kejauhan.
“Jalan lo di slomotion ya?” Tanya Bintang yang merasa jalan Vani sengaja diperlambat padahal jarak mereka tadi tidak terlalu jauh.
“Nggak gitu, lo kayanya asik bener sama adek kelas taid jadi, gue pantau aja dulu”
“Fans gue di amah”
“Terserah lo deh!”
__ADS_1
“Mana oleh-oleh mahal gue!” tagih Vani.
“Bentar” Bintang mengeluarkan paper bag dari bagasi mobil yang memang dia khususkan untuk Vani.
“Punya gue kayanya beda ya sama punya fans fans lo itu”
“Beda lah, lo kan temen gue”
“Serius, cuma temen nih” goda Vani sambil menyenggol lengan Bintang.
“Jangan minta diserius sekarang kenapa?”
“Dih..dih.. tau ah gue mau pulang dulu”
“Sana pulang”
“Yaudah” setelah mengatakan itu Vani berbalik dan pulang.
Dari arah kejauhan Bulan berlari kecil menuju tempat parkir. Bintag tersenyum akhirnya gadis yang ia tunggu datang juga. “Gausah lari!” ingat Bintang.
“Yuk pulang!” ajak Bulan. Dia langsung membuka pintu mobil dan masuk begitu saja. Bintang pun juga langsung masuk kedalam mobilnya.
“Jangan lupa sabuk pengamannya”
Bulan segera memakai sabuk pengamannya dan menyalakan AC dengan suhu lumayan besar.
“Lo lagi kegerahan?” tanya Bintang yang kini tengah fokus menyetir.
“Iya tadi sempet lari takutnya lo nunggu kelamaan, habisnya si Dodo sama Tiyo cerewe banget nggak kelar-kelar deh!”
“Dodo lagi! Lama lama gedeg gue ngedengernya” entah kenapa Bintang jadi tidak suka dengan Dodo.
Bulan mengernyitkan dahinya, “Kan gue emang satu kelompok sama dia” Jeda Bulan menyeka keringatnya, “ "Tadi gue lihat Vani kayanya lagi ngobrol sama lo deh. Lo kasih oleh-oleh di paper bag kan?”
“Iya kenapa emang?”
“Ga papa kok, gue kan cuma nanya”
“Kenapa? lo cemburu?”
Bulan menggelengkan kepalanya, “Semuanya cewe yang deket sama lo juga lo kasih oleh-oleh kenapa gue harus cemburu?”
“Tapi Vani beda” entah kenapa Bintang tiba tiba mengatakan itu. Padahal sebenarnya dia menganggap Vani seperti cewe cewe yang selalu mengelilinginya.
“Oh ya?“
baru kali ini Bulan mendengar ada cewe berbeda di mata Bintang. Setau Bulan, Bintang adalah cowo yang sangat anti dengan cewe tapi sok playboy.
“Dia cantik banget sih”
Sempat hening beberapa saat setelah Bintang mengatakan itu, entah kenapa rasanya mereka berdua kehabisan topik.
“Bin!” ucap Bulan, mecah keheningan.
“Hmm?”
“Siniin deh tangan lo” pinta Bulan.
“Gue lagi nyetir lan!”
“Yang satunya, tangan kiri lo kan nganggur” ucap Bulan. Setelah itu Bintang memberikan tangan Kirinya ke Bulan. Bulan menyambur tangan kiri Bintang lalu memakasikan cincin dari bahan permata boybeyi.
“Kenapa cincin?”
“Gapapa, biar samaan sama gue” Bulan menunjukkan kelima jarinya kirinya dan dijari manisnya ada cincin yang sama seperti milik Bintang, “biar kembaran”.
Bintang menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Bulan, dia memegang jari Bulan dan mensejajarkan jarinya dengan Bulan. “Ntar dikira kita ke Turki nikah terus honeymoon, kaya yang Tiyo bilang tadi pagi”
Bulan tertawa renyah, tidak biasanya Bintang mendengarkan rumor seperti itu. “Biarin aja, lo pasti udah tahu kan rumor yang mereka bilang kalau kita itu tunangan dan lain lain”
“Iya, keterluan emang yang nyebarin rumor,” Bintang melihat cincin di jari manisnya, “cicinya cantik, cocok juga kalau buat cewe atau cowo”
“Bagus deh kalau lo suka”
“Dodo juga lo kasih?” tanya Bintang tiba-tiba membahas Dodo.
Bulan menautkan kedua alsisnya, “Kenapa gue harus ngasih Dodo? Kan nanti nggak jadi couple sama lo”
“Lo emang polos atau pura-pura nggak tau sih lan?!” Bintang merebahkan tubuhnya ke kursi mobil.
Bulan menatap Bintang yang terlihat letih, “Gue tau kok Bin, bahkan sebelum lo temenan sama Dodo gue juga udah tau. Cuma gue biasa aja.” Kini Bulan dan Bintang saling bertatapan. “Bener ya kata lo, memang seharusnya sahabatan itu lebih baik”
setelah mengatakan itu Bulan turun dari mobil yang memang sedari sudah samapai di depan rumahnya, hanya saja mereka mengobrol sebenatar.
Bintang menatap punggung Bulan yang kini sudah mulai menghilang, digantikan dengan pagar besar rumah Bulan.
Bintang memukul keras setirnya, dia juga tidak tau apa yang sebenarnya sedang terjadi, rasanya sungguh sangat berapi-api dan menyiksa.
__ADS_1