
HAPPY READING...
Sesampainnya di Ankara ibu kota Turki, Bulan langsung mendarat di bandara milik keluarga pribadinya. Bulan baru tahu bahwa keluarganya juga mempunyai bandara pribadi di Turki. Ketika turun dari pesawat Bulan dikejutkan oleh asisten pribadi mamanya yang tengah menunggunya, bahkan Bulan sudah sedikit lupa dengan wajah wanita itu.
“Nona Bulan” sapa Tina—asisten pribadi mama Bulan. Tina memiringkan kepalanya tiga puluh derajat menatap Bintang yang masih mengagumi pemandangan disini.
“Itu siapa nona?”
Bulan terlihat gugup, ia mencengkeram erat jaketnya. Bulan menghela napas lelah mungkin sudah saat dia memperkenalkan Bintang, “Itu teman saya” setelah mwngatakan itu Bulan berjalan meninggalkan Tina yang masih mengamati Bintang.
“Temannya nona Bulan?” tanya Tina dingin kepada Bintang.
Bintang menoleh ke depan, menatap Tina dengan raut wajah cerianya, ia langsung menyalami Tina dengan santainya, “Halo tante saya Bintang, senang berkenalan dengan tante, tante pasti mamanya Bulan kan?”
Tina langsung melepas tangannya dari Bintang, “Saya bukan mamanya, saya asisten mamanya Bulan,” setelah mengatakan itu Tina pergi mengikuti Bulan yang sudah cukup jauh didepan.
Bintang menatap tangan kosongnya. sombong sekali wanita tua itu berani menolak pesona Bintang yang diatas rata-rata ini.
Bintang berlari kecil mengikuti Bulan yang sudah terlihat cukup jauh dari pandangannya.
“Lannn…tungguin!” teriak Bintang.
Bulan menghentikan langkahnya, menoleh ke arah suara Bintang, “Cepetan waktu kita nggak banyak”
*****
Bulan sengaja memilih tinggal dihotel, ia tidak mau satu apartemen dengan mamanya. Bukan apa-apa hanya saja ia belum siap membawa Bintang ke hadapan mamanya karena Bulan sangat tau apa yang ada di kepala mamanya itu.
Bulan membuka pintu kamarnya, disana Tina berdiri dengan senyum yang hanya ditunjukkan oleh tuannya saja. Tanpa basa basi Bulan langsung mempersilahkan Tina masuk, sepertinya mamanya menyuruhnya untuk menemuinya lagi.
“Ada hal penting apa?” tanya Bulan to the poin.
Tina tersenyum, menatap Bulan dengan lembut. “Nona masih saja seperti dulu, tidak berubah sama sekali.”
Bulan memutar bola matanya, ia tidak suka berbasa basi dengan Tina, “Intinya aja, atau kamu keluar?!” kali ini perkataanya Bulan sudah sangat dingin.
Tina langsung berpindah tempat duduk disamping Bulan, dia masih menatap Bulan dengan senyum lembutnya. Dan Bulan sangat membenci senyum itu.
“Nona, apa nona marah dengan saya dan nyonya?”
“Atas dasar apa saya harus marah?” Bulan balik bertanya.
“Lalu kenapa nyonya tidak memanggil saya bibi seperti dulu?”
“Dulu?” Bulan memincingkan sebelah matanya, “Apa sekarang masih terlihat seperti dulu? Sepertinya kamu memang membuang waktu saya. Silahkan keluar!”
“Tunggu nona!, ada informasi dari nyonya”
“Informasi apa? Sampai sekarang mama belum memberi informasi apapun. Sebenarnya tujuan mama itu apa? apa mama hanya ingin melihat Bintang? Dan soal menyelidiki papa itu hanya sekedar umpan saja?” Bulan sudah terlanjur kesal dengan mamanya yang tidak memberikan informasi secara detail.
“Mohon tenangkan emosi anda nona, anda sudah terlalu berlebihan. Nyonya tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali. Ini tentang papa anda”
“Mama juga bilang begitu beberapa hari yang lalu, memangnya papa kenapa?”
“Apa anda tidak heran dengan bandara keluarga anda di Turki”
Bulan langsung menatap Tina, dia memang menduga hal ini aneh pasalnya papanya sangat jarang pergi ke Turki. Karena, perusahaan cabang disini sedikit dan sudah dikelola oleh anak buah papanya, kecuali papanya mempunyai bisnis lain di negara ini.
“Ini memang aneh tapi, bisa jadi papa punya perusahaan lain”
“Kenapa nona masih tidak paham, kalaupun ada bisnis lain nyonya pati tahu tentang masalah itu. Hak milik perusahaan masih atas nama nyonya dan keluarga Schueller apa anda lupa?”
“Lalu?” Bulan benar benar sudah tidak mengeti lagi.
__ADS_1
“Nyonya mencurigai tuan berselingkuh”
Bulan langsung terdiam, papanya berselingkuh?lelucon apa lagi ini? Ini sangat tidak mungkin bahkan papanya terlihat sangat mencintai mamanya demi apa pun, atau sekarang mamanya berubah menjadi wanita overprotectif setelah Bulan memutuskan untuk tinggal di Indonesia?
“Apa kamu bercanda? Papa saya tidak mungkin seperti itu!”
“Beberapa minggu yang lalu nyonya menemukan transferan uang yang dikirim tuan ke sorang wanita. Setelah diselidiki wanita itu tinggal di Turki”
“Kenapa mama minta Bulan terjun langsung? Apa anak buahnya kurang? Kenapa tidak menyewa detektif swasta?”
“Soal itu, hanya nyonya yang bisa menjawab pertanyaan nona”
“Saya tidak bisa lama-lama di Turki” Bulan mempertegas ucapannya. Ini bukan kebohongan dia memang tidak bisa lam-lama di Turki.
“Saya tahu nona, nyonya sudah menunggu kedatangan anda. Saya harap anda segera menemui nyonya karena lebih cepat anda menemui nyonya lebih baik”
Bulan masih terdiam, dia tidak bergeming sedikitpun menatap lurus cermin yang memperlihatkan bayangnnya.
“Oh ya, satu lagi nona, Fio akan kembali menjadi asisten pribadi nona selama disini. Nyonya juga memberikan supir pribadi khusus untuk anda. Kalau begitu saya permisi nona”
Bulan menunduk menatap lututnya sembari mencengkeram erat kedua tangannya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarganya ketika Bulan berada di Indonesia, kenapa banyak perubahan disini.
“Kenapa kalian masih berdiri di luar! Masuk!” Teriak Bulan dari dalam kama hotel.
Seketika pintu kamar hotel terbuka. Manampakkan seorang gadis yang usianya kira-kira dua tahun lebih tua dari Bulan juga seorang laki-laki setengah baya. Bulan tahu, mereka adalah orang-orang yang dikirim mamanya untuk membantunya juga memata-matainya.
“Nona Bulan, apa nona lupa dengan saya?”
Bulan menoleh ke sumber suara itu. Bulan menatap gadis itu cukup lama, dia adalah Fiona. Anak dari Tina, Bulan tidak akan pernah lupa dengan Fiona karena, sejak kecil mereka tumbuh bersama bahkan seperti Tina, Fiona juga menjadi orang kepercayaannya dan asistennya selama di Prancis.
“Bagaimana saya bisa lupa dengan kamu” Bulan merentangkan kedua tangnnya, yang disambut hangat oleh Fiona
“Kenapa nona pergi begitu lama?, kenapa nona tidak mengabari saya?, apa nona sudah tidak membutuhkan saya lagi?, saya ini asistennya nona kemanapun nona pergi saya harus selalu di samping nona”
“Ada beberapa hal yang membuat saya tidak bisa tinggal disini lagi” jelas Bulan.
Fiona tersenyum getir. Dia tahu semuanya, dia tahu persis semua kejadian yang dialami nonanya hari itu seharusnya ia menemani Bulan tapi, Bulan mengancamnya dengan alsan dia butuh kebebasan untuk bermain bersama teman-temannya.
“Nona saya mohon izinkan saya bersama nona lagi. Tidak bisakah kita seperti dulu nona?!” mohon Fiona, kini dia sudah berlutut dihadapan Bulan.
Bulan meraih kedua bahu Fiona, membantunya berdiri dan menyuruhnya duduk disampingnya, “Bukannya kamu sudah menjadi asisten saya?”
Fiona tertegun, bukan ini yang ia maksudkan. “Saya memang sudah menjadi asisten nona tapi, bukan kaarena kehendak nyonya. Saya ingin menjadi asisten nona karena keinginan nona sendiri”
Bulan tersenyum kecil, bagaimanapun Fiona adalah orang yang sangat setia dengannya. “Sudah jangan menangis, kamu boleh menjadi asisten saya lagi”
Tangis Fiona semakin menjadi, dia memeluk Bulan dengan eratnya. Pemandangan itu tidak terlepas dari seorang laki-laki sebaya yang sedari tadi melihat kejadian itu.
“Fiona, anda menyakiti nona Bulan,” ucap laki-laki setengah baya itu. Menurut informasi dari Tina tadi laki-laki itu bernama Jerry.
Fiona langsung melepas pelukannya, kini tangisnya sudah mereda, “Benarkah nona?”
“Sudahlah lupakan.” Bulan melihat laki-laki setengah baya itu, “Saya tahu kamu suruhan mama saya, kamu boleh kembali dulu. Tugas kamu hanaya menjadi supir pribadi saya selama disini bukan?”
Laki-laki itu menunduk, “Baik nona, saya permisi”
“Kenapa nona menyuruhnya pergi”
“Dia hanya menjadi mata-mata disini dan saya tidak suka dimata-matai”
*****
Bintang merebahkan tubuhnya di sofa sedari tadi ia hanya selonjoran di sofa ini sambil menatap pemandangan kota yang terpampang di jendela kaca kamarnya. Ia hanya menatap itu sedari tadi, Bulan bahkan belum mengunjunginya. Dia merasa bosan.
__ADS_1
“Kenapa liburan kali ini seperti ini” teriak Bintang. “Gue bosen, Bulan kenapa sih! Gue kan nggak mungkin jalan-jalan sendiri disini. Bisa-bisa gue diculik karena kegantengan gue ini”
Bintang mengambil sandal santainya, ia sangat haus. Disini memang disedikan makanan ringan, persis seperti dirumah Bulan.
“Gue kekamar Bulan apa ya?” tanya Bintang kepada dirinya sendiri.
Setelah menimang-nimang akhirnya Bintang memutuskan untuk pergi kekamar Bulan, jarak kamar mereka tidak jauh karena kamar mereka bersebalahan memudahkan mereka untuk saling berkomunikasi.
Bintang sudah mengetuk pintu itu beberapa kali namun, yang keluar bukanlah Bulan melainkan sosok gadis yang belum pernah Bintang temui sebelumnya.
Bintang mengernyitkan dahinya, menatap gadi itu dari atas sampai bawah. “Who are you?”
“I am Fiona, nice too meet you, Bintang?” Dari cerita yang Fiona dengar dari Bulan tadi, sepertinya cowok ini adalah sahabat yang dimaksud Bulan.
“You know me?”
Gadis itu tersenyum lalu mempersilahkan Bintang masuk. Bintang duduk di sofa besar yang ada di kamar hotel itu, ia menatap seluruh ruangan kamar Bulan sedari tadi yang ia lihat hanya gadis ini yang selalu memperhatika setiap gerak-geriknya. Hal itu tentu saja membuat Bintang merinding.
“Lo kenapa sih?” kesal Bintag. Sedari tadi ia sangat tidak nyaman ditatap seperti ini.
“Sebenarnya apa tujuan kamu menjadi sahabat nona Bulan?” Tanya Fiona tiba-tiba.
Bintang mengaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, jika di tanya seperti ini dia juga tidak tahu kenapa waktu kecil ia sangat terobsesi menjadi temannya Bulan. Menurut Bintang, Bulan itu gadis yang unik dan selalu terlihat tenang tapi, didalam ketenangan itu Bintang tahu ada sesuatu yang membuatnya terluka.
“Gu-gue juga ga- gak tahu sih, memang perlu alasan ya buat jadi sahabt seseorang?” jawab Bintang terbata bata.
Fiona masih menatap Bintang dengan wajah datar dan menyebalkann menurt Bintang, “Anda it—“
“Fiona!” teriak Bulan yang baru saja keluar dari kamar mandi, bahkan saat ini Bulan masih mengenakan jubah mandinya.
Fiona langsung berdiri dan tertunduk, “Maaf nona saya salah, saya sudah mempelakukan teman nona dengan tidak nayaman”
Bulan memijat pangkal hidungnya meredakan rasa pusing dikepalanya, “Lain kali jangan seperti itu dengan teman-teman saya”
“Baik nona” Fiona ragu-ragu mengangkat kepalanya menatap Bulan yang hanya menggenakan jubah handuk, “Sebaiknya nona ganti baju terlebih dahulu” saran Fiona.
Bulan mengangguk, berjalan mendekati kopernya untuk mengambil baju ganti. Namun, langkah Fiona lebih cepat dari Bulan. Fiona segera meraih koper itu dan memepersipakan semua keperluan Bulan, “Biar saya saja nona, ini sudah tugas saya”
Bulan mengehela napasnya, jika sudah seperti ini Fiona sangat menyebalkan. Bulan menoleh ke arah Bintang yang juga tengah melihatnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Bulan hanya tersenyum untuk membalas tatapan Bintang.
“Lo mandi dulu gih, nanti gue mau ajak lo ke suatu tempat” suruh Bulan.
Bintang mengerucutkan bibirnya, sebenarnya ia punya banyak pertanyaan untuk Bulan. Tapi, temannya itu sepertinya sedang tidak mau menjelaskan apa-apa.
“Iya, gue baik dulu”
Sebelum pergi Bintang masih menatap Bulan seperti tadi seolah olah mengancam Bulan untuk menjelaskan semua yang terjadi di sini.
“Bajunya sudah saya siapkan nona”
“Iya terima kasih”
“Tapi nona, apakah nona yakin nyonya dan tuan akan setuju tentang tentang Bintang?”
“Setuju tidak setuju kali ini bahkan grandma sekalipun, saya tidak akan membiarkan siapa pun membuat Bintang menjauh dari saya”
Fiona sempat tertegun dengan ucapan Bulan. Baru kali ini nonanya itu berani menentang grandma, orang yang sangat disegani di keluaraga Schueller. Sepertinya Bintang adalah orang yang sangat di sayangi oleh nonayna.
Kali ini Fiona akan mendukung keputusan Bulan ia tidak mau nonanya terluka seperti dulu lagi.
hai!!!!...
Maaf kemarin nggak sempat update karena lagi ujan online😂
__ADS_1
semoga masih suka sama cerita aku❤