Sebatas Teman Tanpa Kepastian

Sebatas Teman Tanpa Kepastian
HARMONISNYA PERSAHABATAN


__ADS_3

HAPPY READING.....


Jangan heran sama kita


Karena kita adalah dua spesies berbada yang diciptakan untuk saling melengkapi


Bintang tengah menyisir rambutnya dengan telaten ia memang tipikal cowo yang suka dandan. Saat sedang asik-asiknya menyisir dering telefon diatas meja belajar membuat konsentrasinya hilang.


“Siapa lagi yang telfon, nggak tau apa titisannya arjuna lagi dandan!” gerutnya. Bintang menekan tombol hijau dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya masih sibuk menyisir rambut.


“Bin gue didepan rumah lo sekarang, lima menit nggak muncul gue tinggal!” seru Bulan disebrang sana.


Bintang yang tenggah sibuk menyisir rambutnya menghela nafas berat “ Santai aja kali, nego sepuluh menit nggak bisa?” tawar Bintang, kebiasaannya suka nawar waktu terus.


“Nggak ada penawaran sarapan lo udah gue siapin dan PR Matematika lo udah beres!” sambungan telefon dimatikan secara sepihak oleh Bulan.


‘Dasar gembul!’ batin Bintang.


Begitulah kehidupan remaja mereka, penuh dengan simbiosis mutualisme. Bukan. Disini Bintang tidak ada niat sama sekali untuk merugikan Bulan, ini hanyalah poin plus karena Bulan suka gabut dengan pekerjaan rumah. Toh..Bintang adalah sahabat satu-satunya yang ia punya jadnggak salah kan biak sama sahabat sendiri?


Sesuai negosiasi Bintang muncul lima menit kemudian, dengan dasi yang belum terpakai serta sepatu yang masih ditentengnya ditambah kaos putih yang dikenalanya. “Selamat pagiii gembulku sayang!” sapa Bintang langung nyelonong masuk mobil.


‘Astagfirulah’ kaget Bulan.


pandangannya langsung tertuju pada penampilan Bintang yang masih menggunakan kaos putih dengan celanan panjang khas sekolahan mereka. “Ini semua gara-gara lo yang nyusahin gue, jadinya gue pakai seragam sama sepatu di mobil” ucap Bintang seolah mengeti tatapan Bulan.


“Bukanya tadi jam lima gue udah terlfon lo?” tanya Bulan tak mau disalahkan.


“Gue tidur lagi, habisnya kemarin gue streaming girlband Blackpink sampai jam satu” jawab Bintang tak berdosa.


Sekarang Bulan ingat sepertinya Bintang sudah terpengaruh firus K-popnya si Kiya yang gila korea itu.


“Lo itu cowo tapi dandannya ngalah-ngalahin cewe!” Bulan gemas sendiri dengan sahabatnya ini.


“ Gue kan suka merawat diri” cengir Bintang yang diberi tatapan tak terbaca oleh Bulan.


Bulan hanya diam saja, pandangannya lurus kedepan melihat pemandangan jalan raja yang sedikit lenggang. Sekarang dia sedang mode merajuk dengan Bintang.


“Bulan nggak marah kan sama Bintang?” tanya Bintang saat mereka sedang berjalan di koridor sekolah. Melihat perilaku bulan yang sejak tadi diam saja membuatnya was-was jika Bulan marah denganya.


“Menurut lo?” sisnis Bulan.

__ADS_1


“Ya, maaf lan. Manusia itu kan nggak ada yang sempurna. Lo tau kan akhir-akhir ini gue lagi demam girlsband korea. Lo juga tau kan gue kalau udah suka sama sesuatu kayak ap-“


Belum sampai Bintang melanjutkan kalimatnya Bulan sudah terlebih dahulu turun dari mobil, karena memang sedari tadi mereka sudah tiba disekolah.


“Lannn…tunggu bentar dong!” regek Bintang seperti bocah. Perlu kalian ketahu Bintang hanya akan melakukan ini di hadapan Bulan saja. Jika tidak imagenya sebagai cowok sempurna disekolahan ini akan luntur begitu saja.


Mulut Bintang rasanya sudah kesal mengoceh sedari tadi. Disepanjang koridor menuju kelas bahkan sekalipun Bulan sama sekali tidak memandangnya.


Gilanya sekarang Bintang berlutut dihadapan Bulan tepat di depan kelas mereka. “Maafin gue ya lan” ucap Bintang dengan lembut dan tulus berharap sahabatnya ini tidak marah.


Bulan merasa canggung dan tidak enak sekarang. Bahkan semua mata sekarang memandang ke arahnya.


“Nggak kok, lain kali kalau udah dibangunin jangan tidur lagi ya” kata Bulan lalu mencondongkan tubuhnya sedikit mendekati Bintang “Jangan malu-maluin!” ucap Bulan menusuk yang hanya didengar oleh Bintang, setelah itu Bulan melangkahkan kakinya kedalam kelas.


Bintang segera berdiri lalu menyusul Bulan di dalam kelas. Disana Bulan sudah duduk dengan anteng sembari mengecek buku PR-nya.


“Lan..gue laper! Lo nggak lupa bekal gue kan?”


“Iya iya.. ini bekal dari oma katanya mumpung gurunya belum datang disuruh makan sekarang!” kata Bulan menyodorkan sekotak bekal makanan tak lupa dengan sebotol air mineral.


“Bilangin, makasih oma sayang. Dari Bintang”


Entah kebetulan atau apa tapi mereka berdua selalu satu kelas sejak kelas sepuluh dan selalu duduk bersama. Banyak orang yang awalnya mengira bahwa Bulan dan Bintang itu bersaudara karena setiap berangkat sekolah mereka selalu diantar jemput berdua layaknya seorang adik-kakak.


Ada pula yang mengisukan bahwa mereka beruda perpacaran bahkan ada juga yang mengatakan bahwa mereka sudah bertunangan makanya selalu diantar jemput berdua, dasar netijen.


Sebenarnya ini bukan keinginan mereka berdua melainkan keinginan omanya Bulan yang disetujui oleh kedua orang tuanya Bintang. Sejak kelas 1 SMP oma memutuskan agar mereka berdua berangkat bersama-sama dan itu masih belaku sampai saat ini.


Saat Bulan sedang serius membaca materi hari ini dia dikejutkan dengan kehadiran Dina yang tiba-tiba memegang bahunya.


Spertinya ia ingin berbicara dengan Bulan nanum Bulan tidak merespon sama sekali. Setelah cukup lama terdiam akhirnya Dina bersura.


“Lan, lo itu sebenarnya siapanya Bintang sih setiap hari kok berangkat sekolah bersama dengan mobil yang sama pula sopirnya juga sama” kepo Dina, Bulan sanggat tahu bahwa Dina ini tipe spesies yang sangat kepo.


“Teman dari kecil” jawab bulan singkat, jujur ia risih ditanyai seprti ini.


“Kok bisa berangkat sekolah berdua terus? Jangan-jangan gosip lo dan Bintang yang udah tunangan itu beneran ya, makanya lo berangkat berdua terus?” tanya Dina lagi.


“Itu hoax, gue sama Bintang kebetulan tetanggaan jadi selalu berangkat sekolah barengan” jelas Bulan sebernarnya ia sangat risih dengan tipe spesies kepo seperti Dina.


“Gue nggak percaya, gue itu tau lo itu selalu berangkat sekolahan barengan, duduk sebangku, kemana-mana berdua, nggak mungkin kan kalau cuma sahabatan dan gue nggak percaya diantara persahabatan cewek dan cowok itu nggak ada perasaan apa-apa” ucap Dina ngegas.

__ADS_1


“Kalau lo nggak percaya yaudah kali, toh kenyatanya kita berdua cuma temenan” jawab Bulan yang masih dengan sabarnya.


“Terus kenapa lo cuma mau temenan sama Bintang bahkan lo sejujurnya risihkan gue kepoin kaya gini?” tanya Dina masih dengan keponya.


“Karena gu- gue, Gue cuma percaya sama Bintang aja dan-“


“Dan itu bukan urusan lo!” sahut Bintang yang sudah selesai menghabiskan bekalnya. Merasa jengkel dengan mereka berdua Dina pun pergi meninggalkan dua spesies absur ini.


“Lo nggak apa-apa?” ucap Bintang hawatir.


“Nggak apa-apa kok, santai aja” kata Bulan disertai senyum kecil. Sejujurnya Bintang sangat tahu bahwa sahabatnya yang satu ini sanggat risih dengan pertayaan seperti tadi. Belum lagi keadaan mental Bulan sedikit terganggu sejak SMA ini.


Bulan menidurkan kepalanya diatas meja sepertinya karena hari ini jamkos membuat Bulan sangat mager. Dengan isengnya Bintag mencolek pundak Bulan “Ada apa sih Bin?” tanya Bulan malas.


“Jangan mager dong!”


“Bulan, bu Asih datang!!”


“Gembul”


“Sweetynya oma” goda Bintang yang tidak direspon samasekali oleh Bulan.


“Jangan panggil gue gembul!” akhirnya Bulan mau mangangkat kepalanya.


“Ya kan nama lo Bulan, bulan kan bulet kayak gembul” candan Bintang.


“Nyebelin!”


“Senyum dong Bulan” Bulan tersenyum masam.


“Yang ikhlas lagi dong” Bulan mengulangi senyumnya dengan ikhlas. “udah kan?”


“Gitu dong, sweetynya oma” ucap Bintang dengan nada yang dibuat-buat seperti omanya Bulan.


“Sekali lagi lo bilang gitu jangan harap nilai ulangan biologi lo bagus!” ancam Bulan yang membuat Bintang mati kutu, hari ini memang ada ulangan bologi karena Bintang tidak suka pelajaran kesehatan maka ia meminta tolong Bulan.


“Jangan marah dong lan, gue cuma bercanda!” mohon Bintang.


“Gue juga bercanda” ucap bulan disertai senyum jahinya.


Begitulah persahabatan antara Bulan dan Bintang, lalu agaiman dengan persahabatan kalian?

__ADS_1


__ADS_2