
krak. krak. krak... suara Koko disangkarnya. seolah-olah burung itu merajuk sama majikannya. Ririn sekilas melirik kearah sangkar Koko, demikian nama panggilan burung piaraannya. Bukan sekali dua kali Ririn mengalami rasa suntuk. Ada jengkelan itu bikin hatinya sendu, acara pulang sekolah dia disambut omelan bunda.
Beruntung Ririn masih punya teman curhat. Topik pembicaraan mereka sangat bervariasi mengenai dunia lukis dan ingin mengadakan pameran di Jakarta.
Bunda memang tidak akan rela melihat anak gadisnya selalu terlihat kurang semangat dalam belajar. Pelan-pelan bunda mengetuk pintu kamar putrinya, mbok Ipah berusaha menyapa majikannya.
" Non Ririn. Keluar nyonya, " sapa mbok Ipah pelan.
" Saya hanya memastikan saja. Tadi saya lihat masih di kamarnya. Nanti kalau Ririn pulang, suruh temui saya. Jangan sampai lupa."
Mbok Ipah kelihatan agak gugup, beruntung nyonya Mika tidak melihat reaksinya. Tak berapa lama Ririn muncul dengan senyuman seraya lempar pandangan. Sewaktu bundanya menuju taman. Kiranya taman merupakan tempat favorit keluarganya. Ririn juga merasa kangen untuk melihat sepupunya, tepatnya duduk di sofa sambil memetik gitar bawakan lagu terindah. Selama ini, Ririn baru bisa menyadari apa saja hendak dia perjuangkan. Selain ingin merajuk sama mbok Ipah agar tidak membocorkan atas hubungannya sama cowok idamannya.
" Non.... pasti mikirnya macem-macem. buat apa mikirnya terlalu jauh."
" Saya tidak mau dengar lagi. Sekali saja mbok Ipah lakukan kesalahan dan bicara sama bunda."
" Tapi... non?"
" Masih ada keberatan. oke... aku bilang sama bunda. Mbok Ipah nggak betah di rumah ini, begitu....!"
"Maaf dech non....?"
Ririn cepat bergegas. Sedikitpun tidak hiraukan rasa kebingungan mbok Ipah. Saat ini dalam benaknya bisa lepas dari anjuran orangtua, supaya dapat menggunakan waktu belajarnya dengan baik.
Jam berdentang tujuh kali.
pagi baru saja memamerkan wajahnya. Ririn barusan dengar panggilan bundanya ajak sarapan pagi. Di ruang tengah pak Handoko sedang meneliti handphone, ada acara meeting untuk pagi ini. Bunda selalu teli-
ti dalam menyiapkan tas dan map.
"Ma... apa tidak kau suruh
si Ririn buat bantu....?" kata Handoko penuh selidik.
"Tidak juga Pa...?"
"Kita mustinya punya tanggung jawab moral. Mungkin segalanya akan cepat mengalami perubahan tanpa kau sadari. Bukan malahan ada unsur pembiaran...."
"Saya tidak suka.., kalau papa selalu menyalahkan saya.
Buktinya.... Ririn tetap masuk kuliah. Lagi pula nilai akademisnya layak diacungi jempol."
Sekeras apapun Handoko
menyanggah tudingan miring
perihal dua putrinya. Elyana punya peluang atas perhatian kedua orangtuanya. Semisalnya Elyana mengambil study di Jakarta, kampus ternama berpredikat A.
Lekas-lekas Ririn banting pena kesayangannya, semestinya dia suka atas kabar itu. Walaupun hatinya masih berdebar buat buka sepucuk surat bersampul biru langit. sontak jantung berdetak keras, bertalu-talu. Tak kuasa jarinya meraih sepucuk surat, kiranya ditaruh dalam laci meja.
Ririn tak habis pikir kenapa Bundanya selalu memihak sama Elyana. Semua kebutuhan Elyana terpenuhi baik besar kecil. Ririn masih termangu, sebelum pintu kamar diketuk bundanya.
"Rin... ayo sarapan. Ayah sudah menunggu lama."
Ririn nampak kebingungan, tergesa-gesa buka pintu sambil tersipu-sipu.
"Tunggu sebentar, Bun..."
"Iya, tapi lekas turun!"
"Duh, Bunda ini... Bisa tunggu sebentarkan?"
****
Gerimis sepagian sirami punggung bumi, Aldy masih bermalas-malas untuk berangkat kuliah. Ia masih teringat kondisi mobilnya di bengkel. Ingin minta pertolongan sama Andre untuk jemput. Niatnya diurungkan ketika mang Uge melintas depan kamarnya. Lelaki paruh baya itu bergegas sewaktu dipanggil majikannya.
"Jalan kok lurus saja, Mang Uge," tegur Gana.
"Tidak....."
"Terus... apa masalahnya?" sanggah pak Gana.
"Ya...."
"Kau ini! Kalo ditanya jadi muter-muter. Sekarang bersihkan halaman sana!"
Mang Uge bergegas, tanpa menghiraukan majikannya. Sambil bersiul-siul lelaki itu terus menggunting ranting. Lewat kaca jendela Aldy lihat kelakuan pembantunya. Aldy berniat mengejutkan mang Uge. lemparannya hampir mengenai bahunya, meleset. Ketiga kalinya lemparan Aldy tepat sasaran. Mang Uge meloncat sehari-jadinya. Pohon apa saja jadi sasaran pukulan gunting rumput.
Secara sembunyi Aldy coba memanggil mang Uge dengan suara lantang. Sambil merapikan pohon yang tak sengaja diacak-acak, sebelum majikannya memarahi.
"Si Aden...."
"Kerjanya beres semua....?" seloroh Aldi. "Tadi... mama pesen.....?"
Tambah kikuk saja mang Uge dapat teguran. tentu dengan cekatan dia segera merubah sikap dan pribadinya. Pelan-pelan Aldy memohon sama pembantunya untuk kerja sama dalam segala hal. Termasuk salah satunya urusan asmara. Menurut pandangan mama, kau juga ingin melihat anaknya bisa tertawa.
"Masih kelihatan bingung ya."
__ADS_1
"Ndak toh, den."
"Aku mau minta tolong, dikit
itupun harus tanpa tahu sama
orang lain...."
Mang Uge tambah bingung. Harus jawab apa? atas pertanyaan majikannya. Pembantu ya musti menuruti permintaannya. Tanpa berikan
bantahan sedikitpun, tertunduk lugas menerima status sosial. Sebaliknya Aldy tersenyum tipis.
"Pinjam sepeda..."
"Tapi...." Mang Uge tercenung. "Saya takut...."
"Mang Uge, Santai saja. Aku pasti bisa pakainya. Asal bisa sampai di kampus."
"Apa tidak salah denger, den...?"
"Semua akan jalan baik-baik saja. Sudah siapkan! Ngak pakai lama ya....!" gertak Aldy.
Semula Aldy ada rasa kikuk waktu mengayuh. Mang Uge senyum tipis dan berikan jempol atas usaha anak majikannya. Sudah terbayang nantinya sambutan dari temen-temen di kampus. Sepanjang perjalan ke kampus Aldy belum pernah seceria ini. Melintas jalan pasar Godean, penjual burung dara sibuk menawarkan dagangan. Belum lagi disebelah penjual sepeda onthel berbagai merk. Jarak 12 km menuju kampus sudah pasti menguras keringat.
"Aku bisa seperti mereka..." pikir Aldy.
"Awas.... bung!"
Suara itu melengking serupa di
dekat telinganya. Belum sempat Aldy menoleh, mobil baleno melintas pas lubang air. Sret.... air kecoklatan mengenai celana. Paniklah Aldy. Bagaimana mungkin dia ke kampus dengan pakaian sekotor ini. Bayangan pertama sambutan gadis-gadis dengan dendam. Dengan hati cemas Aldy bergegas cari swalayan terdekat. Ia pilih baju asal saja, baru hendak menarik handuk. Tangan dari rak berbeda ikutan menarik. Sedikit kesal begitu lihat siapa pelakunya.
"Aku lebih dulu yang memilih...!" sergah Aldy.
"Kau....!?"
"Heran ya..."
Mimiknya membuat gemes dibuatnya, sebenarnya Aldy menumpahkan segala kekesalannya. Hari ini dia memang mendapatkan kesialan untuk melewati hari ini dengan kebaikan.
"Terus apa untungnya aku...'
"Ngak perlu banyak tanya. Ini handuk pilihanku. Kau boleh pilih lainnya, asalkan handuk ini jadi milikku."
"Susah ya buat menafsirkan pikiran orang lain.
"Siapa..."
Berat hati menerima kenyataan, bahwa kesalahan memilih handuk adalah dirinya. Selalu ingin Menang sendiri dalam segala hal.
"Kau boleh lakukan apa saja, untuk kali ini aku mohon urungkan..."
"Baiklah"
"Jangan ingkar jadi."
"Semua akan berjalan dengan normal..."
Keduanya saling adu argumen, pastinya si cewek itu akan pertahankan. Aldy hanya bisa pasrah handuknya dirampas paksa. Beruntung ada seorang pelayan cekatan menawarkan jasa. Sepintas ia melirik dan sedikitpun tidak memberikan respon positif. Ia menuju ruang ganti, terkejut lihat jam dipergelangannya menunjukkan
pukul 9 wib. Artinya dia harus lebih awal sampai di kampus. Tidak disadari gadis itu berlalu tanpa menoleh kearah cowok ganteng. Seraya giginya menggeretak menahan amarah, tangan terkepal siap meninju kearah kaca rias.
Tuh cewek bikin kesel, gerutu Aldy. Kalau saja dia bukan gadis cantik. Dipastikan dia buat nangis sejadi-jadinya, biar tahu rasa. Wit... kenapa? Aldy berupaya singkirkan pikirkan pada sang dewi. Membuncah saja sebutan itu untuk pujaan para cowok sekeren dia. Baju sedikit digulung bagian lengan, cukup memukau so pasti.
"Lumayan..."
Heit... Aldy menoleh lemparkan senyum tipis. Jam kuliah nyaris menyambar pikirannya, dikayuhnya sepeda onthel semangat 45. Kali ini pemandangan jalan Kajoran ramai andong, becak, pejalan kaki. Wajar mereka cerah, sambut kehidupan penuh tantangan. Artinya ekonomi di kota kecil mengalami kenaikan income dari segi pendapatan.
Sepagi ini, pedagang masih menghiasi sepanjang jalan. Hubungan penjual dan pembeli seolah memiliki ikatan batin. Kejadian langka mengisi ruang batin Aldy. Kiranya dia mulai menikmati isi kota Istimewa. Puluhan kilo meter siap ditempuh dilain waktu. Berkali-kali keringan di seka. Persis di depan pintu gerbang kampus, tempat di mana Aldy menurut ilmu kejenjang lebih tinggi. So pasti ayahnya bangga lihat dari balik jendela mobil terparkir tidak jauh dari kampus. Agar nantinya dinasti pengusaha diteruskan oleh putra kesayangan beliau.
Sayup-sayup suara riuh di depan mading. Mahasiswi saling berebutan baca pengumuman luar biasa. Karena mana mungkin mereka rela berebutan buat memperoleh informasi ringan. Angin mengajak Aldy buat menyaksikan keriuhan. Menyadari ada sepasang mata mengawasi langkah gontai Aldy persis di depan mading. Dua bola mata itu menusuk dan menggelitik batinnya. Cepet banget kasih isyarat sama temannya.
'Hai...."
"Kau ini bikin kita terkejut."
"Sebentar..."
Mereka mundur serta berpaling kearah cowok bertampang keren abis. Heran.... kenapa hari ini kaum Hawa jadi malu-malu mengagumi ketampanan serta intelektual muda. Sosok kharismatik mampu meluluhkan hati gadis-gadis bilamana bertatapan.
"Keren..." Lusi bentangkan dua tangan, "dan kalian boleh dengan jelas sosok gagah. Perhatikan bajunya lusuh, keringatnyq belum turun, kau kipas dia supaya hilangkan rasa lelah."
"Makasih..." seloroh Aldy datar. "Trus, apa mau kalian. Jadi ada rasa kepuasan jatuhkan aku."
"Salah satunya."
"Lusi...!"
__ADS_1
"Kasihan tuh. Mukanya itu bikin gemes buat apa...?" seloroh Lusi pancing emosi.
Serempak mereka saling melonjak dan dorong tubuh Aldy keras. Andai saja dia bisa memutar waktu, kilas balik untuk kembali dengan kondisi lebih baik. Diolok-olok tanpa alasan jelas, anehnya dia sukar balas gurauan murahan.
"Tunggu dulu. Anak konglongmerat, tentunya punya punya segudang kelebihan. Pagi ini dia punya apa kawan, nyali. Berani tanggung malu di depan kita."
"Maaf, aku musti buru-buru."
"Alasan saja..."
"Trus apalagi?!"
Nada bicara Aldy sedikit lebih tinggi menimpali perlakuan Lusi. Sampai serendah ini perlakuan orang setampan Aldy. Dia sebenarnya ini melakukan pembalasan atas sikapnya.
"Bilang saja kalau..,"
"Apa salahnya, terima kekalah...."
"Sekarang aku sadar, orang paling bertanggung-jawab kau. Menuduh orang lain melakukan kesalahan tanpa menunjukkan kebenarannya."
"Jadi semua sudah selesai. by...." tinggi-tinggi Aldy lambaikan tangan. "Aku ada kelas hari ini...."
Kedengerannya klise, dasar cowok pasti memiliki tujuan tertentu, Rinto bisa ikutan mencegat di pintu gerbang kampus. Tega mendorong kuat, rival bebuyutan demi mendapatkan perhatian dari seorang dara Juliet.
Di kelas Aldy masih terkesima sama dosen pertama klas hari ini. Belum tergantikan aroma bajunya biarpun disemprot satu botol parfum. Gurauan Lusi, bikin Aldy mengurungkan niat untuk mencari tahu. Semisalnya Aldy mengetahui tahu pembicaraan dua rekannya.
"Tuh kan ngelamun lagi."
Aldy sedikit tersentak, apa dunia ini terlalu sempit. Ketika mata tertuju sama dosen killer. Buat menyapa dengan tutur sapa secara pribadi. Dia coba menarik kembali langkahnya.
"okey aku bisa menerima kondisi apapun. Aku tanya siapa yang menempelkan tulisan di mading....."
"Sepenuhnya ada seseorang sengaja menaruh tulisan itu."
"Sabarlah."
"Sibuk...!"
"Lumayan kawan."
Timbul rasa penasaran itu timbul di benaknya. Siapa sebenarnya dosennya pagi ini. Lusi, Lulu, Hardi, ketiganya sering bikin galau menjadi beban hidup. Atau serupa ancaman ketika dia menemukan sosok angun berdiri disana. Semua mata tertuju tanda kebiruan menyapa ujung hatinya. Lulu melempar sepucuk surat. Dia tahu kebenaran dari calon dosennya. Pantaslah Aldy hanya baca kertas itu, sebuah nama tak asing lagi dari ingatannya.
"Selamat pagi semuanya..."
Sapaan pada umumnya dosen buka perkuliahan, namun kali ini benar-benar menarik cara pembawaannya. Aldy belum sadar kalo dihadapannya kali ini gadis jelita. Serempak menyambut penuh semangat belajar, tak sengaja ibu dosen sudah di belakang Lusi.
"Buruan...."
"Apaan aih. Aku belum siapkan semuanya. Bukunya kelupaan di rumah, abis perginya buru-buru."
"Kayaknya nggak ada waktu..."
"Kamu kesulitan dalam mata kuliah saya?" sergah dosen cantik. "Saya mengerti kenapa... ada yang salah dengan penampilan saya."
"Sedikit..."
"Saya berharap kamu mau menerima argumen orang lain...!"
Huh...! Aldy ingin banting wajahnya ke lantai, supaya bidadari itu sadar dihadapannya ada yang menanti. Siap diajak mengarungi kehidupan selayak sejoli memadu kasih.
Apa artinya jikalau Ririn telaah kebelakang. Ia enggan mengulik masa terindah bersama kakak tercinta. Nun
jauh di sana di negeri orang, usanglah harapan bisa menumpahkan kepekaan sama
nyokapnya. Lulu sambut langkah Ririn dari karidor kampus.
"Engkau...."
"Ya... lagi-lagi harus terima perlakuan tidak adil ini."
"Hilangkan prasangka buruk sama orang lain. Kau mustinya bisa ambil hikmahnya. Setiap ensiden tentu ada pembelajaran di dalamnya."
"Jujur... ya boleh kan aku cerita sedikit. Trus, kau dapat menjawab dengan detail."
"Wit..."
"Bentar Rin...?"
"Pulang atau kita makan di kantin. Ya, sekedar ngobrol soal pengganti di kampus."
"Apa jawabanku kurang tepat. Terus kau ingin mencecarmu ribuan pertanyaan tidak masuk akal. Okey... aku ikutan ke kantin. Gratis makannya..."
Ririn kali ini sulit menolak ajakan Lulu buat makan di kantin. Ah, kantin kosong melompong. Tidak seorang pun duduk di sana. Sontak langkah Ririn terhenti persis di bangku samping kulkas. Alasan pertama orang dalam ingatannya tentu kakak tersanjung. Kepribadian lembut cenderung tegas bilamana menentukan sikap. Bahwasanya Ririn alasan pertama surat lain sudah masuk ke dekan.
"Sudahlah....!"
"Iya... Lulu."
__ADS_1
"Aku traktir. Tinggal pesan apa saja. Ya, nantinya aku bisa curhat apa saja sama kamu."
"Terima kasih," sahutnya.