
Pongahnya lelaki itu berdiri tegap, sorot matanya seolah hendak melucuti pemilik rumah mewah itu. Gaya murahan banget mirip orang kehabisan modal. Serumpun bambu malas menolehkan lambainya, demikian isarat kadang menyergapnya. Bahkan dia boleh jadi menaruh nilai ribuan kemarahan.
Dua kalinya, lelaki itu pencet bel di
sisi tembok berdampingan sama handel. Sekali tangan sudah terkepal siap menunjukkan pada sasaran. Suara berisik sampai masuk ke dapur. Perempuan berkebaya nyaris loncat setinggi setengah kagetnya. Siapa pun tidak pernah menyangka ada sekumpulan anak-anak muda siap menjalankan perintah majikannya. Sekali tangan kanan terangkat di atas kepala.
'Bos....'
Riyan sedikit saja tidak menaruhkan simpatik sama orang-orang di sekelilingnya. Berdiam diri. Cuek. Jemarinya mencengkram kuat prah baju Jeko. Leher terangkat oleh kuatnya krah. Dia sulit nafas, tangan terus menggapai. Sekali dorong, Jeko terhuyung ke belakang. Air mukanya langsung berubah pucat. Sinar ketakutan bercampur cemas.
"Kalian ke sini tentu tahu tujuan kita. Jek, jangan belagak pilon gitu. Sudah sana mundur."
"Duh, si bos gimana kita juga belum tahu urusannya."
Lagi-lagi dengan pongahnya Riyan pamerkan uang. Jaminan hasil kerja buat anak buahnya. Jeko nyengir kuda mundur menahan sakit dibagian perut. Lalu dia dipaksa bangkit sama Joko. Sambil berbisik di telinga kanan Jeko. Di kibaskan rambut kuncir setengah panjang. Berdiri untuk terima perintah selanjutnya, Riyan malas buat dengarkan gerutuan dua anak buahnya.
"Ya asalkan ada imbalannya cukup menjanjikan bos. Lagi pula..."
'Kalian ini kalo urusan duit pasti otaknya jadi cermelang. Jelasnya misi kita kali ini harus berhasil."
"Kerja..."
"Urusanmu pasti makan dan uang.'
Kijeko pasti akan segera menolaknya bila tidak ada imbalannya. Dia langsung balik badan, buru-buru merajuknya. Kalo saja keduanya berani nolak, ibarat makan buah simalakama. Joko tentu akan mati-matian buat bujuk karibnya agar menuruti saja permohonan bahkan cenderung perintah keras.
__ADS_1
"Paya... kalian ini lelaki atau.... Habis saya nggak gampang cari kata penggantinya, cepat atau lama si bengal itu sudah di caffe. Ingat, aku enggak mau semua kejadian ini akan banyak merugikan baik kelompok atau pribadi."
Riyan masih kasih perintah sama dua orang anak buahnya. Patuh saja ke duanya langsung ambil motor trail. Suaranya bisa pecahkan kendangan telinga. Dengan dua tangan Riyan tutup, hindari suara motor meraung-raung. Dan hilang di ujung jalan sana. Mobil Riyan mengiring dari belakang. Sepanjang jalan Menulis sampai pasar Godean meliuk-liuk. Pengguna jalan lainnya terus menyingkir ke sisi jalan, hindari dari benturan.
Persis di jalan Pirak pemotor berhenti, sedang menanti kedatangan mobil dari arah utara. Ketegangan mulai terjadi saat menanti mangsanya. Setelah melihat ciri-ciri orang dalam incaran segera melakukan aksi pengejaran.
'Kali ini kita tidak akan salah. Kau perhatikan, jangan sampai salah orang."
"Sejak kapan kau berpikiran waras? Langsung sikat!"
"Tunggu dulu. Belum juga lewat, kita liat dari dekat. Jadi penasaran seberapa sih seleranya bos kita?"
Joko kalau bergaya, sok jago. Ingin cari perhatian bila melakukan kerjaan yang bikin ketar-ketir.
"Ngoceh terus. Kapan nih? Enggak sabaran ngeliat tampangnya."
Ririn melakukan mobil perlahan-lahan, ia masih ingat atas kondisi ibunya berada dalam perawatan dokter keluarga. Hatinya makin dilarutkan oleh kesedihan, walau dirinya mulai dilimpahkan segala bidang usaha. Ada satu hal buat hatinya riang jika lihat wajah ganteng di sisi dasboad mobil, foto Aldy dalam bingkai mungil.
"Maafkan aku sayang, telah bikin hatimu jadi lebih gaduh,"
Demikian kata terakhir Ririn ucapan di halaman kampus. Dia terus kibaskan rambut panjangnya, sekilas Aldy lambaikan tangan lepaskan keberangkatan pacarnya.
Sontak lamunan Ririn buyar. Begitu dia melirik kearah dua sisi spion mobil. Dua pengendara motor meliuk-liuk di sisi mobil. Ririn makin merasa terpojok. Di jalanan lurus mobil Ririn berhasil dipepet. Sekali tekuk pemotor menghadang persis di depan mobil. Derit ban menjerit keras diatas aspal, tubuh gadis itu jadi lebih gemetaran. Sesalnya sulit ditafsirkan ketika Aldy menawarkan diri. Jelas ketakutan itu mulai dirasakan demikian kuatnya. Ririn tidak bisa kendalikan mobil, stir di banting ke kiri buat hindari nabrak andong. brak...mobil sudah terperosot ke selokan dalam hitungan detik. Tubuh pengendara mobil nyaris terpental keluar, pintu mobil terbuka. Tapi pengendara masih gunakan sabuk pengaman, benturan itu cukup kuat bikin tubuh ke stir.
Setengah jam lalu Aldy punya firasat, takkan sampai hati lihat kekasihnya jalan sendirian. Entah sudah berapa kali rekannya berikan isyarat. Si doski makin tidak keruan daya pikir alam bawah sadar.
__ADS_1
"Cekatan sikit dong..." seru Nilson.
"Iya, bawel banget!"
Aldy makin panik, dengar seruan Nilson. Cowok kribo kondang memiliki ketelitian tinggi. Sekali begitu sifat itu sering diabaikan oleh teman-temannya. Di tepuk kuat pundak Aldy. Ia hanya menoleh baca tatapan Nilson. Bahwa ucapannya tidak mengandung unsur pembohongan. Cengkraman jarinya makin kuat, Aldy kibaskan dan sadar.
"Tunggu apalagi susul Ririn. Dia pasti sedang meminta pertolongan."
Tanpa pikir panjang Aldy ambil sepeda motor di area parkiran. Sejadi-jadinya dia mengendarai motor melaju ke jalur yang di lalui Ririn. Selap-selip diantara pengguna jalan lainnya.
Dalam waktu 20 menit kemudian Aldy mendapati kerumunan orang. Warga segera berikan pertolongan seadanya, melihat korban masih di posisi belakang stir. Aldy berusaha memastikan menerobor ke sisi mobil dan melihat tubuh seorang perempuan tergeletak tak berdaya.
"Ririn... kau tidak apa-apa?" pekik Aldy.
Melihat kondisi Ririn cukup mencemaskan akibat benturan, Aldy pesan taksi online meluncur poliklinik terdekat. Setelah Ririn mendapatkan perawatan secara insentif. Bilamana dirasakan cukup, Aldy langsung pesan salah bengkel buat narik mobil Ririn.
Hati-hati di usap keningnya. Ada debaran di jantungnya, ia tak habis pikir siapa yang tega melakukan semua ini. Setidaknya mulai hari ini ia harus menjaga Ririn dari teror di keluarganya.
"Bagaimana keadaannya dokter...?" tanya Aldy. " Apakah kondisinya akan baik-baik saja."
"Anda keluarganya..."
"Bener."
"Untuk saat ini kondisinya baik-baik saja. Jadi anda tidak perlu terlalu cemas. Tapi untuk sekarang belum boleh diajak bicara dulu. Sebab masih shok."
__ADS_1
"Terima kasih dokter. Atas perawatannya."
Aldy hanya bisa termangu-mangu di teras poliklinik.