SEBENING AIR MATAMU

SEBENING AIR MATAMU
Sepucuk surat


__ADS_3

Warna pelangi hiasi di sisi


jendela kamar, Riyan seolah banyak kehilangan akal buat merayu pacarnya, dia butuh bantuan orang terdekatnya. Rekannya akan siap kasih bantuan.


Sekeras apapun sosok lelaki tampan, tentu ada sisi kelemahannya. Keteguhannya begitu tak tertandingi oleh kekuatan jawara silat. Kegigihan seorang lelaki kadang merupakan bumerang. Pribadi urakan jelas-jelas semakin menjadi-jadi. Akibat hatinya bertepuk sebelah tangan, ia rela lakukan apa saja asalkan maksud dan tujuannya terlaksana.


Hampir berminggu-minggu Riyan jatuh sakit. Ia hanya bisa terbaring dengan postur tubuhnya mulai menciut, kerut pipinya terlihat nyata. Ibu Shanry berulang kali memberikan nasehat kelak anaknya berlapang dada. Bukan berlarut-larut. Keterpurukan membuat seseorang akan banyak kehilangan energi positif. Pihak keluarga nampak kelelahan hadapi penderitaan batinnya.


"Kenapa kita harus disudutkan dengan keadaan seperti ini?"


Shanry hanya bisa termangu-mangu jikalau kejadian itu tidak menimpa putranya. Doa dan tangis pilu selalu dipanjatkan dikala malam. Hening. Sunyi.


Sore ini, seperti tempo hari hanya sebatas kesunyian. Tidak ada keceriaan itu, tidak ada suara gitar dari kamar Riyan. Cuma dentuman kecil, ketukan pena di meja belajar. Entah berapa banyak kertas itu berserakkan. Wajah lusuhnya. Sulit bagi sorang ibu harus menerima kenyataan pahit. Kepada siapa Riyan menetapkan hatinya.


Kring...kring. Tak tahu berapa kali telpon menjerit-jerit di kamar. Shanry tergopoh-gopoh angkat telpon. Ada secerca harapan di raut muka Riyan. Dengan hati-hati diambil handphone di pangkuan Riyan.


"Mama boleh angkat..."


Suara Shanry hampir tak terdengar, tidak kuasa saksikan kesedihan terpancar dari dua bola matanya. Riyan mengangguk. Layaknya batang lehernya tak kuasa menahan beban pikiran di muka bumi ini. Sedang dia sekarang masih menghirup udara, apa mungkin semudah itu terhindar dari derita.


"Halo..." Shanry angkat bicara. "Ya, halo..."


Shanry melirik kearah Riyan, wajahnya datar. Ah, kasihan benar. Jikalau bisa diraihnya demi kesembuhan Riyan, beliau akan berupaya sekuat tenaga. Agar nantinya bisa ter bebaskan dari segala belenggu. Lima menit. Suara di ujung telpon belum kasih jawaban. Sayup-sayup terdengar sindiran pendek.


"Halo... saya bicara dengan siapa ya?" pinta Shanry.


"Oh... maaf tante. Menunggu lama. Saya hanya ingin menanyakan soal Riyan." sambung suara di ujung telpon.


Riyan dengar pembicaraan mamanya. Rasanya tidak asing lagi suara gadis itu. Gelora batinnya seolah dapat energi baru. Rasa lesu ditubuh kembali pulih, aneh tenaga hampir terkuras. Tersisalah dia dalam ketidak berdayaan.


"Ya, saya bicara dengan siapa ya?"


"Tante... masih ingatkan? Rika, tante." sapa gadis itu diujung telpon. "Apa kabarnya tante? Tentu semuanya baik-baik saja."


Mendadak lidah Shanry kelu, ada sesuatu menariknya ke dalam. Sentakan keras telah hantam biduk keluarganya. Terutama waktu lihat kondisi putranya. Dengan nada berat Shanry berujar gamang.


"Ya... kami baik-baik saja. Trus, kamu bagaimana kuliahnya."


"Syukurlah tante. Kuliahnya masuk seperti biasa. Kami sempat heran belakang ini Riyan tidak terlihat di kampus."


"Tante bingung harus bicara apa, kami sebenarnya berusaha ..."


"Maksud tante..."


"Sebenar tidaklah pantas tante ceritakan sama kamu..."


"Baik tante... salam dari teman buat Riyan."


"Ya, nanti di sampaikan."


"Pagi tante..."


"Pagi juga, kembali salam buat semuanya."


Sambungan telpon terputus. Shanry layaknya terhenyak dari lamunan. Kini yang dihadapinya Riyan, ia mencoba menjelaskan sama putranya. Agar jangan terlalu merisaukan, apalagi terus larut dalam kepahitan.


"Tuh, kan mama selalu bikin aku penasaran. Jujur telpon dari siapa?" godong Riyan ingin tahu, "Setiap kali, atau sering mama bikin kepala aku jadi mau pecah. Baru kemaren mama lupa sama janjinya. Ingin merubah tatanan di rumah kita."


"Mama sekali ini harus minta maaf, tidak bisa memenuhi permintaan kamu."


'Cobalah..."


"Kamu ..."


Shanry tarik nafas panjang, darimana dia musti menerima keadaan terburuk sekalipun. Kiranya Riyan sukar move on sama gadis lain. Di alam bawah sadarnya cuma Ririn.


Sampai terkejut Asty begitu lihat mobil di parkiran. Warna putih tentu milik sahabatnya, sudah satu bulan lebih sosok tampan itu tidak hadir diantara mereka. Cepat-cepat pandangan matanya tertuju sama batang pohon beringin. Ada tulisan dua nama terpatri di batang beringin putih.


Ada ribuan pasang mata coba nikmati kerindangannya, tempat di mana mereka baca buku dan kajian waktu dikelas libur mata kuliah. Tempat ini sepi, jarang terdengar gurauan Riyan. Mereka seakan rindu saat ada acara kebersamaan, kenangan manis itu nyaris menyita pikirannya. Mana ada gadis secantik Asty mau bersabar menunggu kehadiran Riyan. Nantinya menaburkan benih-benih asmara fatamorgana.


Ya, andai saja Riyan ada. So pasti kondisinya tidak seburuk ini. Asty seolah banyak kehilangan memory bersama Riyan. Sepenggal kisah manis pernah keduanya lewati bersama.


Kata paling menyenangkan ialah lihat orang kehilangan. Sifat jarang dipertontonkan kepada khalayak di ujung sana ada sekumpulan anak-anak muda. Gaya modis nan menandakan mereka juga menaruh empati tentang lingkungan. Riuhnya penonton berikan eplous setelah pestaskan sebuah lagu. Sayang, Asty hanya bisa terpaku dalam kesendirian. Dia kesini untuk cari ketenangan. Karena hidup ini bagaikan dua sisi mata uang. Selalu berpasangan tanpa ada dinding pemisahnya.


Ternyata ada sepasang mata terus mengawasinya. Ada serupa keheranan muncul, sengaja atau tidak. Riko, cowok culun berkaca mata. Mana bisa dia punya tujuan pasti, apalagi mau bantu Asty.


"Sendirian..."


Yap, suara itu sentakkan lamunan Asty. Males rasanya buat kasih jawaban. Buat menoleh kearah datangnya suara, berat leher jenjang gadis itu. Cuek, nggak ada gunanya.


"Lihat saja sendiri..." Asti segan balikkan badan. "Trus... apa urusanmu? Kau mau bikin hidupku hancur. Lalu kau bisa katakan ini adalah sikap yang keliru?"


"Bukan..." suara Riko runtuh.

__ADS_1


"Lalu... kau...!"


"Sabar."


"Nah, kau lagi bikin orang jengkel saja. Urus saja kau sendiri...!"


Kemarahan Asty memuncak ketika lihat siapa lelaki yang berdiri dihadapannya. Kepolosan itu membuat Asty menurunkan luapan emosi. Setumpuk buku dalam gendongan tangan jatuh berhamburan. Asty tidak mau peduli. Riko kemari buku-buku tebal kerangkulan tangannya.


"Maaf..."


"Buat apa minta maaf."


"Kamu bisa kan...?"


Kepolosan Riko memukau siapa saja. Tidak juga Asty. Dia boleh jadi masih punya empati jangan sekali-kali merendahkan orang lain. Berat hati dikabulkan permohonan atas dasar ketulusan.


"Aku dengar minggu depan ada acara bazar."


"Mau ikutan..." tuduh Asty cepat. "Boleh. Asal kan kau lekas pergi dari hadapanku.... ngerti!"


Pontang-panting Riko lari hindari lemparan krikil. Sesekali lemparan itu mengenai tubuhnya. Sedang Asty menahan tawa sehabis perlakukan temannya. sikap kurang pantas itu mustinya jangan ditimpakan sama Riko.


Belum juga reda rasa salah, di depan kantin dua gadis menarik dengan kasar krahnya. Dua pasang mata itu seolah ingin mengulitinya. Serupa buat lelucon baru, saling dorong halangi Riko ke kantin.


"Teman-teman kumpul. Kita hari ini kedatangan sang kutu buku. Jadi....?"


Sorak sorai pecah, riuh rendah tawa mereka. Riko pasrah diperlakukan kurang sopan di depan umum. Dia tidak mampu balas kekesalannya. Melihat kondisinya yang lemah sering dimanfaatkan temannya.


"Ya, kita harus Riko kasih wejangan. Atau... setidaknya kalian ada pertimbangan lain?"


Anton paling suka berkelakar, guyonan. Hanya ingin mencairkan ketegangan di kelas. Tahu sendiri sikap anti pati oleh keputusan gang motor Anton. Buntutnya hanya bikir keributan di kampus.


"Riko siap belum tuh?" sela yang lain. "Ayo, tunjukkan kebolehanmu. Ingat jangan bikin malu, kau boleh pesan apa saja. Aku traktir."


"Asyik..." sahut lainnya.


"Kapan di mulainya?"


"Nen... kau ini sabar dikit dong. Lihat cara pembawaannya gemes ngeliatnya."


Anton estimasi stund up. Riko tarik nafas dan berujar siap mengocok perut. Gaya penuturan kata banyak mengandung makna. kurang lebih isinya:


" Lupa itu hal biasa buat manusia. Di sinilah temen-temen memaknai arti ketelitian sewaktu pengambilan keputusan. Tapi...?" pandang Riko ke penonton.


"Duh, kalian ini. Jangan dipotong dulu bicara."


'Gemes gue..."


'Sabar dong..."


Riko angkat tangan, mata kembali jatuh ke sosok cantik. Siapa sih nggak punya perasaan serupa angin mamiri bermain di mukanya. Halus sapu ke sisi.


"Riko...!"


Walau sedikit terbata-bata Riko lanjutkan:


"Anehnya, kita semua lupa. Eiiit, hampir lupa lagi tuh. Ya, kalo punya pujaan hati, jangan sekali ditinggal. Akibatnya aku jadi punya gacoan dong."


"Hu...." sorak penonton.


Sedari tadi Asty masih juga tercenung, wajahnya digelayuti kegusaran. Anton pastinya langsung pasang body buat melindungi pacar temennya.


"Ada yang kau pikirkan ya."


"Anton..."


"Maaf gue sudah bikin lo kaget."


Asty tertegun lagi. Wajahnya agar mencair ketika berdiri dihadapannya rekan Riyan. Tentu dia bisa dapatkan informasi lebih banyak lagi tentang Riyan.


"Aku paham benar gimana perasaanmu. Tapi apa mungkin kau terus berlarut-larut dengan kedukaan. ya, semisalnya kau cari tahu keberadaannya."


"Baiklah. Kau punya alamatnya?"


"Nanti aku tanyakan ke bagian TU."


"Ah, tidak perlu. Biar kucari sendiri..."


Riko turun dari panggung, dia hampiri Anton menagih janji. Penjaga kantin mulai sibuk menyiapkan makanan. Lahap bukan maen Riko santap hidangan di atas meja. Buku tebal-tebal ditaruh di atas meja.


Riko terlena sama makanan segitu banyak buat dia. Apa mungkin bisa dihabiskan?


"Pelan-pelan bro... masih ada waktu buat makan."

__ADS_1


"Sip dech." Riko acungkan jempol.


Sembari bersandar Riko ke sisi tembok, suara musik bikin dia jadi merem melek. Matanya semakin bertambah berat saja. Kondisi seperti itu mudah dimanfaatkan orang lain. Asty hati-hati deketin Riko dengan harapan dapat alamat tinggal Riyan.


'Gimana masalah ibu Karti. Kau bandingkan sama masakan di kost. Gratis pula."


"Iya juga sih. Tiap hari aja begini..."


"Maunya. Oya, aku mau tanya soal Riyan. Kau pasti tahulah rumahnya. Ko tolonglah. Serius."


Riko garuk-garuk kepala biar tidak gatal. Artinya dia musti bertanggung jawab atas rahasia di simpannya. hati-hati Riko keluarkan sepucuk diselipan buku tebal.


'Aku dapet ini..."


"Dari siapa? Kau dapat..."


"Makasih atas bantuannya, semoga kau sehat-sehat," Asty lari ke kelas.


Dua rekan ikut lari kecil ke kelas. Pastinya Asty sembunyi di tempat Riyan menyendiri. Ye... betul juga sangkaan Rika waktu sampai di lokasi. Wilda sempat ragu ketika lihat tempat itu sepi-sepi saja.


"Periksa dulu. Karena kita belum tahu dimana keberadaannya."


"Ngak ada Rika... kalo kurang percaya periksa sendiri. Baru ngomong nggak ada. Tadi aku lihat dia lari ke arah sini."


Seisi ruangan jadi sasaran buat sembunyi. Di ujung karidor kampus Asty lusuh bersandar pada tiang. Kali ini hatinya benar-benar tercabik-cabik. Tumpahan emosinya ke rimbunan bunga. Keharuman bunga melati terasa mengusap punggung hidung bangirnya. Helaan nafasnya kembali melunak dan keras. Matanya malas buat baca tiap kata. Tentu ada saja yang tersakiti.


Dear,


Aku tahu kesalahan itu ada padaku, kau jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. Melalui tulisanku ini, kau tentu paham sama kondisi dikeluargaku...


Asty takkan kuasa menahan deraian air mata. yeah, hatinya terhenyak setinggi gapai tangan. Penuh rasa iba. Hingga detik ini belum lihat cowok itu. Apalagi mau menjatuhkan pilihan, baca surat sampul biru. Jari-jari bagaikan uratnya dilolosi. Hilang kegigihan pernah keduanya pupuk. Kini pupus termakan perselingkuhan. Siapa pula tidak terombang-ambing oleh kegusaran. Suara rintih pilu terdengar ke sisi bilik bambu.


Rika tepuk bahu Wilda. Refleks Wilda menoleh dan memastikan suara itu berasal dari balik bilik bambu.


"Coba denger dulu. Hentikan langkahmu. Aku yakin dia ada di sana."


"Sttus... kau berisik banget. nanti ketahuan."


"Buat pake ngumpet segala."


"Kan kasihan sama Asty. Dia sudah pertahan hubungan baik. Lalu semudah ini ingin hancurkan seluruh impiannya. Apakah ini bisa dikata fair."


"Ini demi kebaikan keduanya."


"Apa kau kira kelakuan kita bisa di terima sama mereka. Kan belum tentu bermanfaat."


"Ya, aku cuma punya alasan. Kalo saja itu ..."


"Inilah akibatnya?"


'Kita kan sudah lama bersahabat. Gara-gara cowok. Trus ada perpecahan diantara kita."


"Sama sekali tidak!"


Asty masih terpaku dalam luka hati. Wajah tersaput mega mendung. Ia layaknya menemukan dua persimpangan. Pertama ia harus menenangkan pikiran ibunya. kedua, masih memiliki urusan pribadi. Sementara jalinan kasihnya sama Riyan perlu dipertanyakan. Kegagalan itu menjadikan buah bibir temennya.


Baru juga hatinya tenang, di rumah ibunya jarang mengeluh. Kebahagiaan mulai tercipta. Maka keadaan di rumah adalah tolok ukur. Bahwa kehidupan diluar jauh lebih menyiksa.


"Tuh...!"


Rika menunjuk kesalah satu sisi ruangan. Kebiasaan buruk gadis kalo di mabuk cinta. Semestinya dia ada satu pandangan.


"Sekarang kau hanya berdiam diri. Membiarkan temen kita terbawa keganjilan."


"Jelas tidak dong...?"


"Ya, kita tunggu apalagi. Ajak bicara... kasih solusinya. Baru bisa dikatakan temen sejati."


"Salut ngedengernya."


Keduanya sambangi Asty. Rika menepuk bahunya, harapan pertama dapat sambutan hangat.


"Dari mana kalian tahu..."


"Ah, tidak penting. Kulihat di kantin kau murung."


"Tidak apa-apa kok!"


"Jangan begitu Asty. Kau masih anggap kami temanmu kan? Ayo lah, ceritakan saja. Apa baiknya di simpan sendiri."


"Nih, kau baca sendiri...!" Asty sodorkan selembar kertas. " Dan tidak pernah berpikir terlalu jauh."


Rika baru baca di alinea pertama. Kata-katanya sangat menyayat hati. Tertegun sesaat kearah Asty. Minta izin untuk menjelaskan atau lebih detailnya, mencarikan jalan keluar untuk pertemukan Riyan.

__ADS_1


..


__ADS_2