SEBENING AIR MATAMU

SEBENING AIR MATAMU
Liontin bermata biru


__ADS_3

Sehabis acara bazar dalam beberapa waktu lalu, banyak berdatangan apresiasi dari berbagai kalangan. Panitia penyelenggara beberapa kali hubungi via telpon tidak dapat jawaban. Mulai dari masyarakat bawah juga ikutan ambil bagian. Dalam bentuk karangan bunga. Mike sempat menahan kesal akibat Ririn menghilang tidak tahu rimbanya. Setiap dia melakukan perjalanan jauh pasti beri kabar, Rika juga ikutan protes sok ingin ngatur dari tata letak piagam di ruang kerja dosen.


Sembari bersandar Rika lihat Mike mencak-mencak seolah ingin menumpahkan kekesalannya. Sikapnya tidak punya pilihan buat menolaknya seruan Mike. Agar meletakkan sertifikat pada tempat yang pantas.


"Kau kan mustinya bisa bedakan. Karena tujuan kita jelas ingin angkat masyarakat. Baik segi ekonomi dan mental mereka bisa tercapai."


Rika mematung saja, tetap cantik dengarkan pituah kakak kelas. Sulit buat kasih bantahan, apalagi cetuskan ide cemerlang. Ia menurut saja apa kata Mike cara mendekor ruangan. Keringat bercucuran juga tidak punya arti apa-apa. Wilda nampak dari ke jauhan senyum-senyum aneh. Bahkan anak satu ini sering menampilkan rasa iseng bila lihat temannya menata ulang ruangan. Di pintu Wilda sambil melebarkan dua tangannya.


"Kau pikir Jogja luas, singkirkan tanganmu..." terjang Asty.


Cepat pula longgarkan tangan. Diturunkan persilahkan tuan putri lewat. Asty langsung ambil posisi buat kasih perintah. Wilda berlagak pilon berupaya alihkan perhatian.


"Di suruh tuh cekatan. Bukan begitu caranya harus menyingkir kemasan lainnya. Coba saja kau pikir, kita harus bisa mengolah data dan sikap pada masyarakat."


"Urusan gampang. Temui saja kepala desanya minta izin untuk tinggal di sana." Asty punya usulan. "Bila perlu kita nikah sama anak pak lurah. Itu kedengarannya menantang untuk dijalani."


Mike sama sekali tidak setuju atas keputusan dua temannya. Dalam setahun mendatang mereka akan melaksanakan KKN di salah satu kampung. Penentuan lokasinya belum final, lagi pula pihak kampus jatuh di bulan juni. Pemilihan kelompok juga banyak menyita waktu. Perincian pertama Mike tidak ingin kelompoknya mampu menjalankan program menyeluruh.


"Ya nanti kutanyakan sama Ririn. Dia pasti ada usulan mengenai langkah selanjutnya."


"Kau masih menaruh kepercayaan?"


"Bener tuh," potong Wilda. "Jangan lah kita kehilangan Ririn ngak asyik. Trus siapa mau tanggung, Asty. Buat urus..."


"Jaga ucapanmu! Wilda dibenaknya makan melulu. Jadi sulit pikirkan orang lain, sebaiknya kau pasang kertas itu di mading."


Wilda salting waktu lihat sosok keren, dia mundur selangkah. Dua bibir seolah engan di katubkan. Tiga bulan terakhir sempat libur di rumah. Perangainya sangat terkenal di kalangan mahasiswa. Dengar langkah kakinya mereka yang duduk bergerombol cepat kasih jalan buat sang primadona lewat.


"Sibuk."


Mereka saling pandang seolah tak percaya lihat kedatangan Riyan. Kebiasaan buruk kacaukan semua rencana. Di raihnya kertas. Manggut entah apa maksudnya, Mike cepat berikan reaksi pedas. Tidak suka diperlakukan kasar. Masuk tanpa permisi, udah gitu pake dorong tubuh Wilda sampai terhuyung ke sisi kerosi.


"Kau...."


"Masa kalian lupa?"


"Di pikir...."


"Ya siapa tahu...?"


Mike hadang langkahnya, ajak bicara di luar ruangan. Tiga rekannya juga masih saling pandang. Dengan nada ketus Mike menuntun pakai perintah keras. Sebenarnya Mike tak sampai hati buat menjatuhkan martabat rekannya dengan sikap kurang terpuji. Keras dorong tubuh tegap agar jauh dari gosip murahan.


"Mau bikin ulah lagi. Lihat kedepan sana, orang seusiamu perlu pertolongan lain. Coba sebutkan alasan utamanya."


"Mike," panggil Riyan.


Puih.... gaya senyum lugas, masih kayak dulu. Di garis pipinya terlihat ada rahasia tersembunyi. Rika beri kode agar urungkan banyak tanya.


Perbedaan mendasar sorot matanya kosong. Depresi akibat cintanya bertepuk sebelah tangan. Jalinan kasih pada Ririn harus kandas di tengah jalan, kedua ia tidak mau menduakan.


"Duduklah...! Cerita sedikitlah?"


Riyan ambil duduk berhadapan Wilda, kegugupan terlihat di wajahnya. Sebenarnya Riyan ingin cerita, keburu diambil alih Wilda. Seisi kampus pasti meyakinkan atas ulasan Wilda. Coba aja di depannya setumpuk buku tebal. Dasar kutu buku. Pantaslah kaca mata minus, gaya jalan kurang imbang. Namun bilamana kasih wejangan sungguh memukau. Bahkan temen-temennya menaruh perhatian khusus.


"Mustinya kita bertanya kabar, dong Asty."


"Ah... sok tahu. Buktinya Riyan enjoy. Kau sendiri gimana ada usulan."


Riyan diam seribu bahasa, wajahnya kembali kaku. Buntutnya pasti bikin keonaran lagi. Kendatipun Riyan mulai santai. Tidak arogan waktu di mintak usulan mengenai KKN disalah satu kampung Kedunggalih. Mike merasa percuma saja mau kasih bantahan. Sebelumnya Riyan ingin gabung sama group Mike. Ada perselihan diantara mereka, usaha mencelakai Aldy sempat diketahui oleh keluarganya. Atas dasar tudingan miring dari dua sahabatnya, orang suruhannya sebagai penindak. Hampir kehilangan nyawa, peristiwa itu di daerah Wirobrajan.


"Sebaiknya kamu ikut yang lain saja. Aku bukan halangi niat baikmu. Tapi ini atas usulan Ririn susah dicabut keputusannya."


"Cobalah untuk dipertimbangkan kembali dong...?" Riyan mohon. "Karena aku butuh gabung di kelompok kalian. Mike, jangan tuduh aku berbuat macam-macam. Niatku tulus tidak ada unsur jahat. Apalagi ingin mencelakai orang lain."


"Omong kosong! Kau lebih memikirkan ego."

__ADS_1


"Percayalah..."


Mike tertawa lepas. Dengarkan penjelasan Riyan malahan cenderung bela diri. Enggan akui kesalahan yang telah diperbuatnya.


Riyan jalan keluar dari ruang kerja dosen. Hatinya luka oleh goresan kata-kata Mike. Melangkah gonta di karidor kampus, munafik jika tidak mau akui. Naga tetap hendak melilitkan ekornya, bentuk pemarah Riyan tersulut oleh ajakan dua anak buahnya. Mereka harus merasakan kepedihan yang dilakukan Mike dan kawan-kawannya. Riyan melayangkan tinjunya kesebatang pohon, sakit tentunya, dendam mulai berkobar-kobar ingin meledakkan isi dadanya.


Di ke jauhan dua pasang mata terus mengawasi gerak-gerik Riyan. Sehari sebelumnya masih dalam pengawasan keponakannya, disebabkan kesehatan mental Riyan belum bisa dikatakan normal. Kadang gejolak lain saling bermunculan. Terutama saat disodorkan oleh permasalahan baru. So pasti orang akan berbuat diluar kontrol, otak bawah sadar.


"Kasihan lihat si bos...." celetuk Joko.


Dua anak buah Riyan pastinya khawatir. Apalagi mereka juga masih bergantung sama Riyan. Maklumlah anak rantau, sedikit saja lambat kiriman, siap-siap kelaparan.


"Ayo kita ke sana!"


"Tunggu dulu..."


"Apalagi. Kau pasti...?"


Kulitnya saja kuning, demikian Joko suka cari perumpamaaan. Dia juga butuh kerjaan buat nyambung hidupnya. Sangat disayangkan kalau Riyan tidak memanfaatkan jasanya. Buktinya sekali melambaikan tangan keduanya berlarian menghampiri.


"Ketahuan juga. Ayo segera ke sana....!"


Berlagak malas keduanya jalan kearah karidor. Selepas setor muka, Joko tak mau ketinggalan cepat menyapa. Kijeko berdiam diri. Wajar kalau dia merasa bersalah, tempo hari untuk menjalankan suruhan alami kegagalan. Beruntung Kijeko tidak tertangkap alias melarikan diri.


"Kalian ini gimana, kucari sampai keliling tak ada. Bikin pusing saja."


"Maaf tadi...?"


"Heran aku, selalu punya alasan untuk menghindariku. Berapa uang sudah kalian terima? Sementara cara kerjanya hanya main-main."


Joko sebenarnya ingin sampaikan pesan dari ibunya Riyan. Agar putranya jangan terlibat perkelahian lagi, tentu hal terburuk mungkin saja terulang kembali. Joko hanya bisa mundur beberapa langkah, sebelum moncong tinju Riyan siap bersarang di perutnya.


"Sabar dulu, sebelum orang lain menuduh kita berbuat tak pantas."


Riyan tertawa keras. Seakan ingin cari perhatian mahasiswa lainnya, keseruan itu sangat dinantinya. Intinya dia cari keributan dan sensasi.


"Hayo.... bubar! Ingat, kejadian ini bukan tontonan. Silahkan kalian boleh kembali ke tempat masing-masing."


Satu demi satu mundur menjauh, mereka masih pula penasaran atas sikap Riyan belakangan sering menunjukkan ekspresi tidak sewajarnya. Joko bisa menarik nafas lega, coba kalau aksi brutal Riyan sampai diketahui pihak kampus. Pastinya keduanya akan stop pemasukkan, mana pelunasan sks belum sepenuhnya dibayarkan. Joko benar-benar disudutkan sama masalah pribadinya, dia juga telah berihktiar cari beasiswa. Hasilnya untuk waktu mendesak sulit. Maka pilihan kedua sengaja diambilnya.


"Gimana kondisinya...? Kau ini selalu salah dalam masalah melulu. Brapa kali kubilang tarik saja....!"


"Bisa kau lihat sendiri."


"Tenangkan... baru kita ajak pulang."


"Okey..."


Luapan emosi Riyan sedikit mereda, walaupun tadi sulit terbendung. Kini boleh bernafas lega, temen-temen sering menyudutkan dirinya setiap ada keributan di kelas atau di lapangan basket. Sepanjang jalan Mirotakampus Riyan masih bersandar di jok belakang. Joko duduk disampingnya sambil mengawasi reaksi Riyan. Dia tidak ingin kejadian kecil bakal terulang kembali. Untuk mencairkan suasana Sesekali Joko berkelakar.


"Coba cari gantinya, ya daripada di gantung ngak jelas. Trus masih harus bertahan dengan kondisi sebenernya. Salah atau benar nih?"


"Bener banget dong..." Kijeko nimpali.


"Urusan orang jangan suka ikut campur."


"Aku sebatas kasih saran."


"Sekarang kita pulang,"


Pusing tujuh keliling lihat Riyan meremas rambutnya. Sambil teriak-teriak menahan sakit kian menyiksa. Pelan-pelan Joko narik tangannya, mendorong ke taksi online. Wajahnya kelihat pucat. Tenaganya semula kuat berangsur melemah dan terlelap.


***


Nyonya shanry berkali-kali telpon Joko tidak dapat jawaban. Seisi rumah makin tambah bingung ketika ada taksi di depan pintu pagar. Mang Dul buru-buru buka pintu pagar, sedangkan mbok Ijah kaget begitu lihat ke dalam mobil.

__ADS_1


"Hei, Ijah ada apa...?'


'Ini juga mau bantu-bantu. Kau sendiri mirip orang linglung."


Mbok Ijah bantah ucapan mang Dul. Bahwa dirinya sedikitpun tidak mau ambil peduli, rasa empati sirna ditelan bumi. Belakangan Riyan suka marah-marah tanpa sebab, kalo minta sesuatu harus lekas dipenuhi, itulah sederetan kenangan pahit. Atau landasan lain sebabkan Riyan kurang nyambung bila diajak bicara.


Dari atas balkon nyonya Shanry nampak resah, dan terburu-buru. Begitu mendapati Riyan sudah limbung pikirannya. Perempuan itu penuh rasa keibuan belai kepala Riyan lembut. Pancaran kasih sayang terlihat, tak tertahan linang air mata jatuh basahi pipinya.


"Ayo... lekas bawa ke dalam. Mbok tolong masak air. Sebentar juga dia akan siuman."


"Apa tidak sebaiknya panggil dokter Fika...."


"Saya yakin Riyan mengalami depresi berat."


Lekas nyonya Shanry ke ruang tengah ingin menelpon dr. Fika. Ketegangan makin meningkat jikalau dilihat tubuh Riyan kejang. Jarinya terus mencekeram kuat bahu mang Dul. Lelaki itu berusaha meronta untuk menepis kekuatan pada lengannya.


"Cepat.... sakit!"?


Mbok Ijah berusaha lepaskan tangan Riyan di bahu mang Dul. Usahanya tidak berhasil tenaganya sampai terkuras, keringat bercucuran basahi keningnya.


Mike panik dengar Riyan bikin keributan di halaman kampus. Gadis sebenarnya menaruh simpati sama sikap cowok yang punya kepedulian kuat sama rekan-rekannya. Dia segera cari tahu apa penyebab Riyan, temperamennya makin labil. Semenjak Riyan naksir sama cewek kalem, semua usahanya dipupus oleh keangkuhan. Rika juga agak menaruh keheranan waktu lihat Mike menuduhnya, Riyan jadi patah hati, putus cinta...


"Kita mustinya menaruh empati. Lihat kembali seberapa perlu kita sampai benci, apalagi hukum dipergaulan."


"Ngak..."


"Siapa bilang? Kalo kau terlalu berburuk sangka. Ada baiknya kita langsung cari tahu. Kurasa ini jauh lebih baik, daripada kita terus saling menyalahkan."


Rika tak percaya sama ucapan Mike. Tentu mereka pasti punya hubungan batin. Secara tak sengaja sudut mata menangkap kilauan kalung yang dikenakan Mike, selain modelnya terbaru, lilitan bentuk malano yang pernah dia lihat di rumah tantenya.


Uih, terlanjut lihat keanehan di sinar liontin merah delima, ia berusarha menelisik rahasia keluarga Mike. Cepat pula Mike merasa risih diperhatikan sama Rika. Bukan kekuatan magis melainkan kedekatan pribadi terus terbina. Apa mungkin Mike terlahir dari keluarga yang sama, atau keduanya kakak adik. Pantaslah Riyan bila lihat mata tajam Mike beralih ke satu sisi.


"Jadi ke rumahnya..."


"Aku belum tahu rumahnya...."


"Cari tahu dong?"


"Bisa diam ngak sih...!"


Bibir Rika dijentik pake jari. Agar ditutup rapat-rapat. Sebelum disuruh diem pasti mencerucau, mirip burung siap berkicau lagi.


"Aku pokoknya ngak mau terlalu jauh, aku harus pulang..."


Mike lari kecil ke halaman dan pergi gunakan motor matic. Rika tahu persis dan bagaimana pun dia harus mampu menempatkan diri. Ia tidak ingin lihat Mike makin hancur hatinya. Ia biarkan Mike berlalu dengan harapan kecilnya, belum tentu orang lain akan menghiraukan kesehatannya.


Secara diam-diam Rika lekas pulang setelah berikan penjelasan sama rekan-rekannya.


"Kalian boleh pulang. Semuanya akan baik-baik saja."


"Janji..."


Rika masih berupaya meyakinkan mereka, biar suatu hari tidak ada saling menyalahkan.


Baru juga dr. Fika buka pintu mobil, Mike berlarian hampiri mamanya. Air mukanya layaknya dibanjiri ke pedihan. Mana mungkin Mike mau cerita isi hatinya. Sekalipun sama mamanya supaya diberikan arah dan pertimbangan.


"Hey... kamu ini ada apa Mike? Mama tidak pernah kamu sampai sesedih ini, ayo ceritakan saja."


Mike langsung sembunyikan ekspresi kesal bercampur marah. Kalau saja orang disekelilingnya tahu, apakah mungkin mereka bisa menuntaskan permasalahan. Justru sebaliknya mereka akan menambah masalah baru.


"Mama masih ingat kan...?"


Dr. Fika hela nafas. Ada serupa hal disembunyikan rahasia darinya, aneh bila kelakuan Mike secepat ini mudah dipengaruhi sama orang lain.


"Susah ya..."

__ADS_1


"Lagi-lagi mama sulit menjawabnya."


__ADS_2