SEBENING AIR MATAMU

SEBENING AIR MATAMU
KepangkuanMu


__ADS_3

Lukisan itu masih tergantung di sudut sana. Sedikit saja tidak akan menarik perhatian siapa pun. Termasuk rasa cinta. Bayangan mamanya Kadang menyergap pikiran Ririn, sebagai anak belum bisa bahagiakan mereka. Naluri sebagai putri sering disia-siakan, semua perhatian tercurah pada kakaknya. Oleh karena itu Elyana selalu mendapatkan tempat tersendiri di mata mamanya. Berbanding terbalik jika menjumpai kondisi Ririn jauh tertantang bangkitkan ekonomi keluarga. Sebagian dari jerih payahnya kadang disepelekan, buntutnya banyak penagihan di kantor. Neraca pembiayaan atas produksi meningkat, disebabkan oleh faktor interen kantor. Sadar benar penilaian Sonya mengenai jalan hidupnya.


Minggu pagi, cuaca di kota ini cukup menjanjikan. Ada secerca kehangatan dari sosok lelaki tampan. Tapi apa mungkin dia harus menerimanya. benar saja dugaannya. Belum juga sepenuhnya buka jendela. Angin tipis-tipis belai lembut diujung pipinya.


Sentuhan biasa, dua minggu kiranya sudah cukup baik kenal sama bocah bertubuh tegap namun cenderung montok, seukuran anak seusia Putra. Rupanya banyak teman cowoknya selalu bertandang sekedar ajak main bola di halaman rumah Sonya.


"Putra main yuk. Cuacanya mendukung sebelum turun hujan...." ajak salah satu temannya. "Kau ini paling suka di rumah. Memang ngak bosen duduk dan main sendiri?"


Setenang karang sekali pun dihempat ombak berulang-ulang. Dia tetap pada pendiriannya, duduk pada sebongkah batu. Andri berupaya keras buat dapatkan kesempatan main bareng, di pinggang tetselip bola plastik. Tiga temannya sudah tidak sabar buat ajak dia ajak main bola. Tentunya acara pagi ini tentu makin menarik. sorot matanya masih tajam enggan berpaling ke jendela yang menghadap taman. Tidak berapa lama Putra mau buka mulut juga. Habis dia tidak sabar buat dengar ucapan empat kawannya.


Berdiri tegak.Putra, satu demi satu temannya di pandangi secara seksama. Sebenarnya ada segelintir kangen untuk main bareng mereka. Putra paling tidak kuasa menahan emosinya kalau sudah menyinggung martabatnya. Ada baiknya dia lekas menerima maksud baik empat temannya mengajak adu ketangkasan main bola..


"Cepetan..." rajuk Billy. "Kapan dong kita mainnya Bil. Ini kapan bisa di mulai. Sudah jam.berapa....?"


Si gendut makin senang memainkan peranan. Tentunya banyak juga alasannya Putra menolak buat main bareng. Dony dengar ada keributan kecil di luar. Sebagai seorang ayah tentunya punya kepekaan untuk berikan perlindungan. Kerjaannya langsung ditinggal begitu saja sewaktu anaknya butuh perhatian dan bimbingan dalam pergaulan.


"He... ada temennya kok malah ngambek gitu. Ganteng, kamu harus bisa main bareng. Tuh mereka paling rajin ke mari. Putra denger ayah. Kamu.harus hargai mereka sudah rela korban waktu ajak kamu main. Terus apa alasannya?"


Putra diam seribu basa, dua bibir mungilnya layaknya terkunci rapat. Sudah begitu kuncinya hilang pula, ribet urusannya.


"Ayolah Put...." desak si gendut.


Dua lainnya cuma lihat saja. Tidak punya ide untuk merajuk Putra. Kalau punya keinginan buat menolak setiap kali diajak main bola. Biasanya Putra paling suka bilamana di ajak main bola. Doni jadi sedikit terheran-heran lihat perkembangan Putra belakangan ini.


"Kita sudah lama lho nunggu."


"Kamu ada masalah apa sama mereka. Coba kamu bisa jelaskan sama ayah. Putra ayolah.... jangan suka bikin ayah tambah bingung."


"Siapa suruh ke sini!" jawab si Putra.


"Jangan gitu dong, kamu harus bersikap bersahabat sama semua orang. Ayah tidak suka sama prilakumu."


Tertunduk lekat wajah Putra ke rerumputan. Air mata mulai mengembang ada kesedihan. Belum pernah ayahnya berikan nasehat keras. Memang ada baiknya sebagai orangtua musti berbuat bijaksana dalam mengambil sikap. Berat hati putra menurut atas perintah ayahnya. Bangga Doni melepas anaknya bermain bareng. Ia kembali bergegas ke ruang kerjanya.


Kebiasaan Doni masih seperti dulu, ia yakin atas perilaku anaknya makin membaik?


Oleh karena itu Sonya berupaya mengenalkan Dony beranak satu, selain putranya memiliki kedekatan lebih insten. Saling menopang kasih sayang keduanya.


"Putra mau, ayah jangan pernah larang tante Sonya. Dia sudah berbuat baik sama kita."


Dony tersenyum lihat Putra selalu banggakan perempuan berparas ayu. Jikalau mau sedikit melunak dalam mengambil sikap. Terutama waktu dia ajak jalan-jalan Putra ke taman rekreasi. Manis pembawaan ketika Putra membutuhkan sosok seorang ibu. Setelah sekian tahun dia sudah kehilangan jati diri.seorang istri.


"Ayah tetap janji penuhi semuanya. Asalkan Putra tidak. Berbuat kesalahan lagi. Seumpama nanti tante Sonya ke sini. Bilang saja kita ada keperluan.'


Bocah kecil itu tampak lebih lucu daripada sikap anak sebayanya. Sedang Dony cukup bangga melihat putra mau kenal sama orang lain. Itu artinya dia juga punya peluang mendekati Sonya. Penuh kasih sayang Dony merajuk putra agar mengajak Sonya bertandang ke rumah mereka. Putra terlihat curiga sama perilaku ayahnya. Tapi itu semata-mata prasangka saja.


"Kenapa ayah tidak coba....?" seloroh Putra datar.


Dony sampai terkejut lihat tabiat anaknya mudah di atur sama orang lain. Sekali pun sudah mendapatkan nasehat Putra selalu ingin melawan sama ucapan ayahnya. Pikir Dony anaknya saat ini sudah menemukan orang yang.cocok sama jalan pikirannya. Benar saja perlakuan Sonya terhadap anak kecil itu lumayan akrab. Bagaimana tidak Putra jam tujuh pagi kakinya sudah bertengkar di tangga sisi rumah.


"Apanya?"

__ADS_1


"Kemaren Putra lihat tante Sonya cari-cari ayah. Apa itu bukannya ....?"


"Kamu ini tahunya apa...?"


Putra dapatkan teguran keras ayahnya, dia kelihatan merajuk. Sedianya Putra ingin langsung pertemukan keduanya di taman. Tentu prasangka baik itu mendapatkan sambutan dari ayahnya. Dony kali ini benar-benar menyadari kebutuhan kasih sayang dari seorang ibu mustinya mendapatkan perhatian lebih daripada teman sebayanya. Sukar Putra harus menempatkan di tengah-tengah teman sepermainannya. Bulian pedas terus berkembang liar.


"Ayah selalu berkata begitu..."


"Ini demi kebaikan kita? Coba.saja perhatikan Tante Sonya, itu orangnya baik. Terus dia kurang suka sama lukisan."


'Siapa bilang? buktinya kemaren Putra main ada sebuah lukisan. Kalo tidak salah lukisan perempuan...."


Dony tertawa, sedikit disembunyikan takut Putra tahu kalau dia belum tentu di respon. Cepat Dony ajak anak ke galery lukis. Cara lama buat merayu Putra melukis. Kegiatan itulah sering keduanya melukis, semenjak kepergian istrinya. Dony jauh lebih sering merenungkan ketika dirinya merasa sendiri


Putra akan meloloskan diri dari kejaran ayahnya. Langkah mungilnya cepat meluncur ke taman.


"Ayah selalu bohong sama Putra. Buktinya kemarin janjinya mau ke moll. Malahan diajak ke taman." berat suara Putra.


Setelah berkata berat pada ayahnya. Putra hilang bagaikan tertelan di bumi. Ia akan lari ke tempat yang selalu bikin hatinya tenang. Satu lokasi penuh rerimbun pohon. Dua sisinya terdapat pohon rindang, Putra akan selalu bersimpuh. Hatinya demikian luruh dengan kehendak Tuhan, bahwa hidupnya berliku oleh nestapa.


Suara langkah Putra sudah berhamburan, ada serupa kepedihan menggelayuti pelupuk mata demikian sembab menahan amarah bergejolak dalam dada. Baru juga Dony ingin berikan penjelasan, Putra sudah lari ke rumah Sonya. Setengah langkahnya terhenti begitu mau susul ayunan kaki putranya.


Pikirnya, pasti Putra lari ke rumah Sonya. Di sanalah tempat mengaduh, mungkin Putra beranggapan perempuan itu bisa gantikan posisi ibunya. Rupa-rupanya Putra memiliki penilai atas.sikap Sonya. Selalu bersikap lembut segala tutur katanya.


"Tidak biasanya kamu sepanik ini?" suara pelan Sonya. "Aku bisa rasakan, sudah kamu tak usah sungkan untuk menjelaskan."


Dony tertegun. Mata terlihat aneh waktu bertemu gadis berparas ayu. Entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdekup kencang. Atau dia mulai berani membayangkan hal yang terlintas dalam benaknya. Semacam benih-benih cinta menyergap langkahnya.


"Tidak ada... dari tadi aku duduk di teras. Kalau ada aku sampaikan ke kamu..."


"Apa maksudmu?" tanya Dony terdengar gamang. "Saya sebelumnya tidak memiliki prasangka buruk terhadapmu. Namun berjalannya waktu, justru kau coba kenangan manis kami."


Semula Sonya menatap Dony dengan segala harapan, agar nantinya dia bisa bersanding sama lelaki bertubuh mantap. Kiranya itu hanya sebatas angan-angan. Jikalau dia cukup berdiam diri. Sedangkan Elyana kelihatan mulai ada rasa sama Dony. Peluang sekecil apapun pasti banyak menimbulkan keresahan diantara keduanya.


"Buat apa menutup diri. Kasihan Putra...?" suara Sonya lirih.


Kiranya apa mungkin Dony akan membalas cintaku, pikir Sonya. Demikian perempuan bila sudah menetapkan pikiran dan nalurinya. Tanpa memikirkan buah hatinya, Dony sudah lama ingin menjadikan hidup Putra jadi lebih bahagia. Tak sengaja Dony menatap Sonya, seolah berikan sinyal khusus bagi keluarga kecilnya kelak.


"Trus sekarang kau mau cari ke mana?"


"Entahlah, aku juga bingung harus cari kemana! Tempat di mana dia sering main tidak ada..."


"Coba hubungi salah seorang temannya. Ya, siapa di antara mereka bisa kasih informasi."


"Terima kasih sarannya."


"Sama-sama."


Berdebar-debar Dony sewaktu hubungi teman Putra. Di balik kecemasan, ada serupa.bayangan wajah istrinya. Sekian lama Miranti pergi untuk selama-lama, Putra tentu sebagai pelipur lara. Entah di mana keberadaan anak itu. Ia mau.berkata jujur, bahwa selama ini Dony berupaya melindungi anaknya dari segala macam bahaya. Di tepuk bahu lelaki itu, Sonya sebenarnya tidak mau menimbulkan pelbagai beban hidup Dony.


"Ayo, lekas! Tunggu apalagi kita harus bisa menemukan Putra dalam kondisi sulit. Lekaslah! Kamu tidak boleh leha-leha..."

__ADS_1


"Siapa bilang?"


"Kadang kita mudah melupakan sesuatu."


Dony curiga. Apa mungkin semua dugaan itu menjadi satu jawaban. Terlihat bagaimana Putra mudahnya menolak ajakan ayah pergi tamasya. Dia jauh lebih menyukai bermain di luar rumah, selepas sekolah saja Putra akan berlarian memamerkan hasil ulangan harian pada tante Elyana.


"Kamu benar."


"Lalu apa musti engkau pertimbangkan kembali, sedangkan kejadiannya di belakang hari. Meski ingin mengulang masa itu..."


"Terima kasih atas bantuannya...."


"Ya."


"Siapa pun akan merasakan hal sama? Ayo, tunggu apalagi. Sambil jalan kita jemput ke rumahku. Siapa tahu Putra lagi asyik main. Dia benar-benar anaknya lucu...." bujuk Sonya.


"Baiklah!"


"Engkau selalu bikin gara-gara. Inilah akibatnya ketika menelantarkan. Cepat..."


Kali ini Dony makin panik dengar penjelasan Sonya. Bahwa dirinya telah melakukan kesalahan, sebelum tuntutan lebih berat jatuh pundaknya. Dia tidak perdulikan panggilan Sonya. Persis di garasi Dony bawa mobil untuk melakukan pencarian. Sonya berusaha menghalangi laju mobil sewaktu keluar dari garasi. Mata Dony nanar merasa tidak suka diperlakukan tidak logis.


"Aku ikut cari Putra. Saya merasa bersalah bilamana...."


"Berapa kali saya harus katakan. Sekarang kurang tepat untuk kita perdebatkan...."


"Tunggu! Saya belum selesai bicara."


"Kurasa tak ada gunanya!?" sanggah Dony.


Mobil jeep warna hitam meraung, menandakan kemarahan si majikan. Sebelumnya Dony tidak pernah sepanjang ini? Buat meluruskan jalan pikirannya karena dikacaukn oleh hilangnya Putra. Mendadak mobil terhenti persis dihadapan gadis berparas tirus.


Oya, demikian adanya sikap perempuan, pandai senyum sambil sembunyikan perasaan hati. Sepintas ia melirik ke wajah pria yang lama melayang. Artinya dia belum sepenuhnya singkirkan bayangan almarhum istrinya. Miranti telah menorehkan jalan hidup Dony sebagai seniman lukis. Bisa mengangkat posisinya dan dikenal oleh kalangan kolektor lukis tanah air. Sewaktu matanya jatuh dipangkuannya, Sonya terhelak ketika melirik wajah tampan itu musti mewujudkan impian Miranti. Makanya dia masih pula bersusah hati lihat Sonya mendekati Putra dengan tujuan aneh-aneh.


Tiga puluh menit mengitari perkampungan dan tempat yang dirasakan perlu disambangi rumah teman anaknya. Hasilnya tetap saja nihil tak satu pun mereka berikan berita sesuai dengan harapan. Barulah, kesadaran itu kembali muncul di pelupuk mata. tempat paling favorit dikunjung dikala keduanya sering menuangkan sentakkan keluhan.


"Lho kenapa kita belok ke sini...?"


Dony tidak cepat sahut ucapan Sonya yang kelihatan masih nungguin balasan. Semula matanya nanar sontak berubah ada binar kehidupan. Lanangan butiran kristal jatuh di punggung tangan Sonya. Hati-hati pula dia melupakan segala sepak terjangnya di masa lalu.


'


"Filling saja.'


"Tidak punya alasan lainnya. Karena bukan saja kamu akan merasa dirugikan oleh orang disekitarmu...." Sonya mulai menebar kebencian.


Baru hatinya tenang ketika melihat sisi jalan, dan biasa Putra duduk termenung di kerosi panjang depan galery. Mobil jeep berhenti mendadak dari kejauhan, hal yang ditakutkan Putra akan lari hindari kejaran ayahnya. Dia sudah segan dikasih sayang oleh kepuraan dari ayahnya. Tentunya dengan rasa sehati-harian Dony mengendap-endap untuk mencapai kerosi panjang. Di belakangnya Sonya menguntit berharap bisa menyergap tubuh montok dari balik rerimbunan bunga.


"Maafkan ayah sudah bikin kamu kecewa."


Uh, kagetnya. Dony sulit kendalikan mobilnya. Perlintasan memang lengang, tapi dari sudut berlawanan ada sebuah mini bus melaju dengan kecepatan tinggi. Dalam hitungan detik mobil yang dikendarai Dony limbung untuk menghindari tabrakan. Sonya hanya bisa pasrah waktu mata melihat kondisi kurang menguntungkan. Kuat-kuat tangan Sonya mecengkram paha Dony. Cara dia hilangkan rasa takut.

__ADS_1


Mobil sulit dikendalikan dan akhirnya terjadilah benturan keras tak terhindarkan. Menabrak sebatang pohon yang berada di pinggir jalan. Benturan keras itu mengakibatkan pengemudinya terkulai lemas. Berapa orang warga cepat berikan pertolongan pertama ke rumah sakit terdekat. Tidak berapa lama mobil ambulance datang bawa korban. Tampak dikejauhan dua pasang mata terus mengawasi penuh sesama.


__ADS_2