SEBENING AIR MATAMU

SEBENING AIR MATAMU
Permata


__ADS_3

Kelahiran Bulan sangatlah dinantikan oleh dua keluarga. Mereka berlomba buat menyenangkan perasaan sang ibu. Salah satu persyaratan jarang dilupakan, pemberian among-among ketika usia kandungan 7 bulan. Yakni hari kebahagiaan itu jarang pula kecantikan oleh acara-acara lainnya. Semisalkan Ririn punya impian terindah dalam keluarganya, sekalipun ada satu sentuhan sulit diterima oleh akal sehat. Dia mulai dilanda kepanikan teramat dalam.


Hari penantian membuat Ririn masih pula dilanda keraguan. Ada kecenderungan sempat menimbulkan titik balik di biduk rumah tangganya. Entah, ada jutaan impian. Salah satunya, dia punya rancangan memiliki rumah pribadi. Bukan semata-mata ingin mencari kebahagiaan sendiri. Justru berbalik haluan Ririn mulai menaruh rasa curiga sama calon adik iparnya. Kesal melihat segala gerak-geriknya selalu menjadi bahan perbincangan di meja makan.


Satu ketika Ririn merasa dirinya tidak melakukan kesalahan atas permintaan mertuanya. Dia musti bisa menjaga kandungannya dengan menjaga pola makan. Di usia kandungan tiga bulan Ririn sudah merasakan mabuk sama semua jenis makanan.


"Ingat sama usia kandunganmu, segala sesuatunya harus dipikirkan lebih awal. Mama bisa memahaminya, sebagai ibu muda tentunya banyak tantangan. Sekarang tinggal bagaimana kamu bisa menyesiasati."


Uh, uiha... suara hati Ririn. Alangkah menyenangkan ketika dia sedang dapatkan kesulitan dikasih wejangan panjang. Bahagia terpancar lewat tatapannya. Semula ibunya sangat benci bilang lihat Ririn masih termangu-mangu di teras untuk menunggu kedatangan suaminya.


"Apa hari ini kamu tidak punya kegiatan? Memang ada baiknya kamu bisa menjaga kondisi kandunganmu...." kata Linda.


"Belum. Saya masih menunggu jawaban dokter. Hari ini harus kontrol atau tidak?" jawab Ririn mengalihkan pembicara.


"Mama sebenarnya kurang yakin, dan perlu kamu ketahui si Aldy akan pulang lambat."


"Ya, Ririn lihat dulu waktunya. Karena Mas Aldy masih sibuk di kantor."


Ibu Linda sebenarnya sedikit kecewa atas sikap menantunya. Jikalau diperhatikan Aldy sering pulang kerja terlambat sampai rumah. Maka mulailah timbul kecurigaan Linda makin menjadi-jadi, sewaktu dia minta bantuan untuk belikan cincin permata.


"Mama heran saja, kamu sudah diperlakukan kayak gini masih berlapang dada. Kali ini mama masih bisa menahan diri."


Ririn terkejut dengar langsung ucapan mamanya. Semenjak hari pernikahan justru mamanya penuh antusias buat sambut tamu. Senyuman mamanya seolah membius Ririn dan Aldy sebagai pengantin baru. Baru juga berjalan lima bulan saja perangai Linda menunjukkan sikap kurang pantas diperlihatkan sama menantunya. Untuk mengalihkan pembicaraan Ririn kembali ruang kerjanya. Dua karyawannya menunggu penuh kesabaran, begitu selesai Linda seakan-akan menindas atas keputusannya.


"Aduh....."


Ririn merintih-rintih menahan sakit dibagian perutnya. Padahal dia masih rutin vitamin dan obat anjuran dokter pribadi. Untuk jadwal kunjungan hari ini saja masih ditangguhkan. Alasan itu diambil Linda seberapa putrinya diperhatikan oleh suaminya. Ada rasa welas dengar rintihan Ririn di kerosi. Kedua tangannya seolah ingin cengkram lebih keras lagi bertujuan alihkan rasa sakit. Nyeri melilit bagian perut bawah. pandangan matanya serasa berputar-putar.


"Ririn...."


Demi Tuhan, perempuan itu kenapa perlakukan putrinya macam tetangga jauh puluhan meter jarak antar rumah. Di raihnya tubuh ramping tapi berisi. Agak berat menopang tubuhnya, kesadaran Ririn sedikit menurun.


"Mama bilang apa, tapi sekali lagi perilakumu aneh. Ingin pinter."


"Saya tidak pernah berkata-kata kita kasar sama mas Aldy."


"Mama boleh dong kasih sanggahan, sebab Aldy juga manusia pada umumnya. Tentunya juga memiliki kekurangan disana-sini."


Di halaman samping mang Uge masih ngurusi kebersihan. Sementara mbok Ipah masih pula sibu masak untuk hari sambut kedatangan Aldy.


"Hey....kau ini selalu bikin ribut saja."


Begitu mang Uge muncul dari balik jendela dapur. Di kedua tangan bawa pohong ketela dan entok. Kebiasaan buruk mang Uge kerap cari perhatian majikannya. Macam orang kedinginan cara mangsa, mengendap-endap dekap perempuan itu. Bukan sekali ini, Mang Uge kalo sudah punya iseng majikannya jadi ikutan ketawa-tawa.


"Kau ini selalu ingin berbuat jahil. Apa tidak ada lagi kerjaan di luar sana. Lihat tuh, halaman samping rumput masih rimbun dan daun kering bertebaran."


Lagaknya lucu bener, dahi di kerutkan. Mimik muka serupa orang habis makan rujak asam. mbok Ipah bukan kasihan lihat kelakuan lelaki satu ini. Dia lekas-lekas ambil gayung berisi air. Bru.... basahlah bagian mukanya.


"Ini baru bisa kau rasakan. Sukanya bikin orang seisi rumah jadi kalang kabut, beruntung non Ririn jauh di ruang tengah. Kalo tidak kulempar gayung biar tahu keras kepalamu, ya!" mbok Ipah meluapkan kemarahnnya.


"Tunggu dulu?"

__ADS_1


Mang Uge rasanya ada kehendak lain, agar usahanya tidaklah berbuntut panjang. Dia akan kena hukuman, cerdiklah mang Uge sembunyikan apa saja yang terjadi di rumah ini. Mbok Ipah pastinya ada rencana ungkap misteri dengan sengaja disembunyikan oleh mang Uge.


"Tidak! Berapa kali musti dijelaskan atau kai benar-benar rasakan...."


Nyonya Linda dengar dari ruang tengah, ada keributan di dapur. Langkah cepat bikin Ririn ngilu lihat gerak kaki ibunya. Baru mau melarang agar tidak usah ikut campur urusan sama dua pembantunya. Sebab keduanya kerap cekcok tanpa alasan pasti, masalah sepele saja bikin seisi rumah rusak babak belur. Artinya luka luruh hatinya.


"Sabar.... dulu?" buru-buru dua lengan hadang. "Kubilang kau tidak usah berdusta. Karena kebohongan akan terbongkat dengan.sendirinya. Percaya atau tidak kau....'


"Dasar perempuan. Selalu ingin menang sendiri dalam segala hal. sulitnya menerka keadaan kelakuan kekanakanmu. Ya, buktinya sekarang kau ingin menang sendiri."


"Siapa yang anter non Ririn?"


"Nah, inilah sikapku kurang baik! Terus dengan mudah kau menuduhku berbuat tak pantas."


"Tidak juga. Kau pasti mudah menuduh orang lain telah mencelakaimu....! Kedengarannya kau suka menyepelekan ucapanku."


Nyonya Linda hanya geleng-geleng kepala lihat ekspresi Mang Uge senyum penuh selubung kebencian. Dia cepat sekali merubah mimik mukanya. Tentu ada suara lebih lantamh buat kasih wejangan.


"Duh, kalo bertemu pasti perselisihan. Apa sih bikin kalian berdebat tanpa alasan?"


Sebenci apa pun Linda pada Ririn, tentu ada alasan lain perlu dia pertimbangkan masak-masak sebelum melakukan kesalahan lebih besar lagi. Terutama jikalau mau menilik kebelakang lagi Ririn masih pertimbangkan atas nasib kakaknya di luar pulau jawa. Setidaknya dia berkirim kabar mengenai kemampuannya mengolah ekonomi keluarganya. Tidak berapa lama Linda sudah bawa tas, tentu isinya perhiasan.


"Mama mau pergi ke mana? Kelihatan terburu-buru mungkin mang Uge bisa carikan taksi....?"


"Tidak perlu mama biasa di jemput. Oh ya tolong kamu berikan mereka nasehat baik-baik."


"Tentu Ririn perhatikan," jawab Ririn.


Selepas mamanya pergi ke salah satu arisan. Biasalah ibu-ibu bila sedang kumpul bareng ada saja perbincangan ringan. Terbayangkan oleh Ririn betapa mamanya masih mati-matian bela kakaknya. Lalu dia hanya pasrah menerima kenyataan pahit. Dua pembantu sedikit saja tidak berani mendekati. Takutlah terkena damprat lebih berat lagi.


"Tidak baik curiga sama mama sendiri."


Ririn sadar benar dan jantung nyaris mau lepas dengar teguran mbok Ipah sudah di dekatnya. Dia cepet pasang muka asem kearah mbok Ipah. Kadang perempuan paruh baya itu lekas berkabar sama rekan-rekan di komplek. Jadi runyam urusannya. Demikian alasan Ririn kurang suka diperhatikan sampai urusan orang lain.


"Maaf...."


"Saya berapa kali, mboh Pak tidak perlu berprilaku kurang pantas. Terus buat apa masih berdiri di situ! Sudah kerja sana di dapur pasti banyak kegiatan musti di selesaikan....!' panjang lebar Ririn berikan perintah.


Seneng mbok Ipah masih juga termangu-mangu sambil perhatikan gerak-gerak majikannya. Dia sebenernya tidak ambil peduli sama kondisi di rumah, tapi rasa ingin tahu jauh lebih besar. Sewaktu tahu nyonya Linda makin terpojok atas kelakuan suaminya. Mbok Ipah kelihatan menaruh kecurigaan. Anehnya, Ririn mulai menangkap sinyal aneh dari cara pembantunya menegur. Biar pun merasa terusik sama kelakuannya. Ririn makin penasaran siapa saja penumpang di mobil itu.


"Baik saya selesaikan dulu...."


Perempuan itu melangkah gontai, ada sejumlah perdebatan dalam batinnya. Makin hari dia serupa disudutkan oleh permasalah mamanya. Hampir sejumlah omset perusahaan terpakai tanpa diketahui oleh f papanya. Dia lekas pergi ke kamar dan menumpahkan kepedihan hatinya. Tepat pukul


Ririn harus bersabar menanti kedatangan Aldy sebagai pelindung dalam hidupnya. Kiranya harapan itu benar terwujud nyata, bagaimana tidak Ririn bisa dengar suara deru mesin mobil milik suaminya.


Dengan susah payah Aldy ingin bahagiakan istrinya dengan pesta kecil. Sebatas mengundang rekan kerja di kantornya. Sayangnya ada salah seorang ingin mencelakainya. Sikap arogan mitra bisnis ingin meraih kesuksesan dengan cara-cara licik. Kendati pun istrinya sudah berulang kali berikan nasehat. Sayangnya ucapan itu dianggap angin lalu.


"Mas Aldy harus menimbang kembali. Bukan malahan ingin menunjukkan sikap ego. Tanpa memperdulikan orang lain....."


Sebenar apa pun perkara itu, bagi Aldy bukan hal harus dipikirkan.Berpikiran lebih luas lagi, istri harus mendapatkan penganyoman. Bukan sebaliknya dia akan memojokkan semua tudingan miring tentang keluarga kecilnya kelak.

__ADS_1


"Apa kau pikir aku hanya menghamburkan uang semata. Sama sekali tidak, lagi mama.juga bisa menerima alasan saya. Jadi kamu tidak perlu mencemaskan diri terlampau jauh."


Sekejap Ririn mukanya kembali sayu. Sewaktu sambut kedatangan suami tercinta. Lekas-lekas disembunyikan raut muka nan tak menyenangkan. Sebagai istri saat suami tiba di rumah sambutlah dengan senyum bahagia. Tanda bakti perempuan jaranglah digantikan oleh sangkaan atau cemburu. Tentu mengutarakan bahwa janji semata bukanlah jaminan. Untuk kesekian kalinya mamanya berikan peringatan. Ririn sudah menetapkan pokok pikirannya.


"Bagaimana hasilnya say....?"


Tiga langkah Aldy menuju ke meja makan. Hatinya makinlah berdebar-debar. Dua hari lalu kiranya dia telah berani bentak Ririn dengan nada tinggi. Ada genangan bening butiran itu jatuh di punggung lengannya. Kepiluan itu mulai menyembulkan seribu tanda tanya setinggi bukit Mberjo.


"Seperti yang kita harapkan. Dokternya Siska menyatakan kondisi kandunganku baik-baik. Namun ada hal yang akan disampaikan dalam dua pekan mendatang."


"Syukurlah, saya senang mendengarnya. Selain kita mampu memantau kesehatanmu."


Ungkapan Aldy masih bisa menyejukkan hati. Apakah nanti masih relevan dengan seiringnya waktu. Karena usia Ririn pasti menggerus kecantikannya. Mungkin untk saat ini belum ada kecurigaan. Kalau di luaran sana suaminya baik-baik saja. Sebagaimana suami rekan-rekannya selalu berperilaku romantis sama pasangannya.


Kesibukan Aldy menjadikan Ririn ikutan alihkan pandangan miring. Nyaris seharian dia dibuat jengkel menanti kedatangan suami tercinta. Ada gelombang dingin terus menerjanng batinnya. Dia sulit sekali ungkapkan isi hati. Bagaimana tidak, kecurigaan makin menjadi-jadi sewaktu rekannya juga melihat Aldy jalan bareng sama seseorang.


Cerita pagi itu, Ririn mulai menyesuaikan kondisi di rumah mertua. Permohonan yang sering bikin otaknya jungkir balik. Semula akan kedengeran biasa saja. Lagi pula buat apa dia musti menceritakan sama suaminya. Sedapat mungkin Ririn menyimpan kecemasan atau sejenis perlawanan batin. Lelehan air bening seharusnya jangan sampai tumpah ke pipi nan tirus.


"Kamu bisa menuruti permintaan mama kan?"


Perkataan Aldy sebenarnya menusuk, sebagai suami mustinya bisa menenangkan hati istrinya. Bukan menjadikan istri untuk menunjukkan kewibawaan.


"Mama bisa kasih saya masukan."


"Senang saya dengarnya, artinya kita bisa berdampingan sama mama."


"Mas Aldy tidak perlu mengkhawatirkan segala sesuatunya. Saya punya keyakinan sekali pun masih dalam taraf penjajakan." kata Ririn.


Mudahnya Ririn menenangkan suaminya dalam situasi tidak menentu dalam batinnya. Bahwa mereka adil dalam menentukan keputusan. Di antara Ririn masih diperbolehkan berkunjung ke rumah ibunya. Apakah sikap itu masih saja dibantahkan? Tidak! Aldy terus menaruh rasa curiga, mertuanya banyak mendatangkan kerugian bagi perusahaan.


"Apa kamu pagi ini ada rencana lain?" sergah Aldy. "Saya bisa sedikit merasa memakluminya, Iya kamu bisa minta di antar siapa.... gitu?"


"Kamu tidak punya perhatian sama sekali ya. Cobalah kau bisa bayangkan aku saat ini butuh pendampingan. Justru kamu lebih suka atas kesibukkan kantor."


Keduanya saling berhadapan, Ririn tertunduk seolah tak sanggup menatap mata suaminya. Ada segumpalan kesalahan tertuju padanya. Bukan dia dihari bahagia itu akan memberikan permata.


"Saya paham akan hal itu. Tetapi kau tidak boleh egois. Hanya memandang sudut pikiran keliru." kata Aldy datar.


"Semudah itu....?"


"Sayang kamu sekali lagi jangan punya pandang berbeda. Terus kita akan berdebat tanpa alasan jelas."


Kembali hati perempuan itu terkonyahkan. Kehalusan hati Ririn kadang digeruskan oleh ketidak pastikan ucapan Aldy. Setiap harinya terus-menerus mengurusi perusahaan. Tidak ada bedanya dia menjerumuskan keluarga pada pilihan tersulit.


"Iya, tapi saya hanya butuh perhatian."


"Omong kosong apalagi...?"


"Kamu terlalu mudah dipengaruhi pemikiran buruk oleh orang disekitarmu. Akibatnya kamu tidak mau memikirkan secara jernih."


"Kurasa wajar. Alasan itu cukup masuk akal. Sementara mas Aldy sibu di kantor. Akibatnya kurang paham sama keadaan di rumah."

__ADS_1


"Tunggu... buat apa kita terus berdebat. Tanpa ada penyelesaian cuma buang waktu."


Kiranya Aldy takkan sanggup melawan perkataan si istri. Ada sejumlah tuntutan tersirat wajahnya. Berseri-seri. Nanti sore Aldy ingin mewujudkan impian istrinya.


__ADS_2