SEBENING AIR MATAMU

SEBENING AIR MATAMU
Janjiku


__ADS_3

Jam 9 malam.


Penghuni rumah bernuansa joglo akan duduk di serambi sekadar menikmati udara malam. Ada denting gitar iring syair lagu kerinduan. Kedengarannya merdu Rika masih asyik bersenandung. Lukiskan suasana hati, ia baru saja dapat kabar Riyan.


Ada luapan suka cita, biarpun secuil, bagi Rika perkembangan Riyan terlihat membaik. Karena itulah Rika ingin mengetahui secara langsung melalui tantenya. Terakhir kalinya dia sambangi rumah Riyan masih terlihat sepi. Dia malas buat bicara panjang mengenai apapun.


"Kamu bisa ceritakan sama tante..? Tak perlu sungkan, karena kamu dari bagian keluarga tante."


Rika bisa tersenyum, kelihatan jelas senyumannya disaput lampu temaram. Om Hero masih asyik memetik gitar. Lagu yang dibawakan berirama sendu. Biar pun begitu dokter Fika biasa lepaskan kepenatan setelah menjalani rutinitas di rumah sakit. Belum juga tergantikan ketika lihat suaminya tetap sabar mendampinginya sampai detik ini. Malahan Rika mau ambil contoh buat hari-hari selanjutnya. Rika hanya bisa senyum datar buat tanggapi permintaan ibunya. Sampai kapan pun dia harus berpikir keras.


"Belum ada rencana...?"


"Sinilah gabung. Ya hitung-hitung buang rasa jenuh di rumah saja. Kau perlu terapi bila tidak ada perasaan apa pun," kata dokter Fika.


Sih tantenya kalau sudah berikan wejangan sama Rika, panjangnya mungkin melebihi jalanan. Ada sikap ingin tahunya lumayan kuat, terutama lihat perangai Rika dalam dua minggu terakhir kesannya dingin. Alasan pertama dokter Fika ingin sampaikan ketika Devanka menanyakan soal anaknya. Apakah status kuliahnya mengalami kendala? Buat berterus terang Rika tidak mau, setiap dapat kesulitan sebesar apapun akan dihadapinya.


"Iya.... nanti Rika merusak suasana jadinya. Biar semua akan menjadi indah..."


Dokter Fika bukan tipe orang ingin sok mengatur jalan hidupnya. Melainkan ingin hidupkan kembali hubungan sempat renggang beberapa waktu lamanya. Beliau tahu persis hubungan manis itu, sampai kapan pun dia ingat! Rika kaget bukan kepalang waktu tantenya tahu tentang jalinan kasih di antara keduanya.


"Kan tak pantas anak gadis selalu duduk menyendiri. Coba kalau ada setan lewat, kan sayang cantik-cantik di godain sama...."


"Tuh, tante mulai dech....?"


"Misalnya saya bisa kasih solusi. Asalkan kamu mau curahkan isi hatimu. Lagi pula apa sih enaknya duduk seorang diri? Ya, memang enak sendiri, ada saja kita bayangkan jauh lebih indah..."


Rika memposisikan duduk ke sisi taman, di luar pendopo yang diselingi oleh lampu-lampu teplok menempel setiap tiangnya. Ada empat lampu teplok menempel cukuplah untuk menerangi pendopo. Pengisi acara malam ini om Hero pandai memetik gitar bawakan lagu-lagu jadul. Asyik juga. Rika juga banyak menimbulkan kesan manis. Sedikitpun tidak ada kegetiran di wajahnya. Kasih sayang istrinya sudah membius sekumpulan gundah gulana.


Sepuluh menit berlalu dalam hening, sesekali om Hero lempar senyum kearah istrinya. Buncahan kerinduan akan menyelinap kala mereka saling berjauhan jarak. Karena sebentar lagi Fika akan pergi jauh, entah ada angin apa dokter Fika mengadakan party kecil-kecilan di halaman.

__ADS_1


"Nyanyi dong...?" pinta om Hero. "Kamu pasti punya memory, kan sayang kalo cuma dipendam saja."


"Ngak ada ah..." sahut Rika.


"Jangan malu-malu. Kan sayang punya bakat terpendam hanya di sia-siakan."


Berkat bujukan om Hero demikian gigih tanpa mengenal lelah. Pastinya mulai bisa menguasai segala kondisi, cerdiknya sembunyikan kegundahan, istrinya juga ikutan menilai atas keresahan. Di minggu terakhir dia harus menunaikan tugas kedinasan di pedusunan belantara Sumatra.


"Baiklah. Saya hanya bisa lagu jadul Om Hero."


"Nadanya segini..." Hero stem nada. "Nanti kalo sudah pas intro. Langsung masuk ya..."


Luar biasa om Hero mampu imbangi nada-nada tinggi Rika. Segar kembali suasana malam makin menggunting sikap kesendirian. Semula Rika ikut juga berlomba sembunyikan masalah pribadinya. Dokter Fika sambil menari-nari simple. Akhirnya Rika makin larut dengan suasana hati, mirip waktu sudah dijanjikan oleh Tuhan. Rohani mulai melolong belah dinginnya malam. Ada sisi jawaban harus didapatkan atas panggilan tantenya.


"Wah... ternyata ponakanku punya talenta terpendam. Kenapa tidak ikutan audisi nyanyi, bukan banyak dari temen-temenmu ikutan."


"Penyanyi kamar mandi, tan..."


"Kita dukung segenap hati, jangan khawatir saya siap antar ke lokasi audisi."


"Okey..."


Rika setuju atas usulan tantenya. Hanya sebatas iseng saja, atau motivasi dari diri sendiri. Satu misal Rika masuk ke sanggar simpony di kota ini. Tapi buat alihkan rasa gelisahnya. Singkirkan kecemasan yang makin mendorong masuk pada lembaran keliru.


"Nah gitu dong... kamu akan lebih hidup. Coba kau bisa lihat kami tidak ada perselihan ringan dan berat di biduk rumah tangga? Ya, itu tadi kita bisa saling dukung sama lain. Bukan begitu mas...?"


"Tentu dong. Kamu paling kusayangi, rasa ada kesulitan untuk mendapatkanmu..."


"Stop jangan ungkit masa lalu. Kau tentunya ingin meminangku secepat mungkin."

__ADS_1


"Ya, habis takutnya diambil orang."


"Ih, si om yang pengen. Pantesan tante pergi sebentar saja kayak cacing kepanasan."


Coba kalau siang pasti terlihat jelas muka om Hero merah merona. Macam matahari pagi lagi masih terang-terangnya. Fika juga terbantu sama ucapan Rika, sedikit sudutkan pandangan mengenai kesibukan di rumah sakit. Setiap kali diajak liburan ada saja alasannya. Buat apa punya istri, bila jalan ke kondangan sendirian. Apakah ini yang dinamakan sikap kesendirian, sering duduk melamun di belakang meja kerja?


"Tuh, kan ketahuan. Rika jangan suka cari kesalahan kamu. Dia kalau sudah punya impian besar atau kecil. Berbagai cara akan dilakukan...?!"


"Siapa bilang. Perhatikan secara seksama di diriku, apa ada perbedaannya."


Hero berikan pembelaan, bahwa dia juga punya deretan ambisi belum tercapai semua. Ia juga menaruh janji. Akan menjaga istri dari segala godaan, setiap waktu mengintai. Repotnya punya istri rupawan tentu setiap orang suka padanya. Hero paling malas buat berdebat sama Fika. Semuanya pasti memiliki alasan buat merubahnya kembali. Sejurus saja matanya tertuju ke Fika. Dia cantik. Lalu jarang terpikirkan oleh harus merantau ke tanah sebrang. Demikian keluhan Hero waktu mendapati istrinya pulang lambat atau cepat.


"Rika duduklah. Kami belum selesai bicara jangan dipotong dulu. Saya yakin kamu bisa menerima ini. Bagaimana pun alasannya, kamu harus bisa jadi kebanggaan orangtua. Sekali kamu melawan sama mereka tentu ada balasannya."


Rika beringsut dari posisi duduknya. Duit, ombak pantai laut selatan mau menerjang tubuhnya. Hempasan angin juga mencabik-cabik ekor rambut hitam ikal. Pantas saja tantenya bucin juga lihat kelakuan suami. Bisa jadi panutan setiap kaumnya.


"Maaf om, tante, saya harus belajar besok ada jadwal kuliah. Nekat begadang buntutnya ngantuk waktu kuliah."


"Oh, baiklah. Kamu boleh rehat.'


Dokter Fika tidak percaya sama ucapan Rika, bilang jujur saja sulitnya bukan main. Ada semacam dorongan permintaan kakaknya untuk mengawasi perilaku Rika. Menginjak usia dewasa tentu ada saja perbuatan di luar batas. Mudah saja dokter Fika berikan penjelasan pada suaminya, Rika butuh seorang pendamping dalam artinya dia punya sahabat karib.


Malam makin bawa butiran embun yang berebutan turun lewat udara. Dokter Fika masih sibuk dengan pikirannya, seolah ada kejadian aneh di mata Hero. Rasanya benar, mungkin sukar berkelit bahwa mereka juga memiliki cita-cita mulia.


"Sayang, kamu boleh istirahat dulu. Karena besok pasti pekerjaan di kantor sudah menanti. Saya masih ada pesan sama suster Any."


Sebagai suami Hero, merasa iri dan nalurinya menjerit. Seperti langkahnya kali ini, lunglai tak mempunyai daya pikat, biar pun tubuhnya masih terbilang tegap serta mantap.


'Baiklah..." jawaban tanpa penekanan. "Terima kasih sudah diingatkan. Besok pagi tentu banyak hal baru musti disingkap."

__ADS_1


Hati ini jadi hancur sehancurnya jika mau menilik rasa cinta dibuktikan oleh rentang waktu. Hero buka pintu kamar yang banyak menyimpan kenangan pahit dan manis bersama istri tercinta.


__ADS_2