
Empati jauh lebih mulia daripada mencoba mencintai. Ungkapan itu jauh lebih mudah dilakukan, ketika diwujudkan banyak proses detail bermunculan. Di antaranya terpaan keras dari kedua orangtuanya. Tentu saja mereka memiliki pandang berbeda sama keputusan putranya. Aldy sebenarnya belum ada keberanian buat keluarkan segala isi hatinya. Pandangan miring kadang buat hatinya tambah galau. Misalkan saja dia harus menilai. Gadis tambatan hatinya jauh lebih memuliakan segi kemanusiaan. Bukan semata-mata ingin disanjung di depan temen-temen di kampus, sebagai rival Riyan tentu saja tidak akan tinggal diam....
Sederet pertanyaan akan tertuju sama Aldy sehabis ajak jalan Ririn. Sejauh mana hubungan keduanya sudah sekian lama belum ada tanda-tanda untuk lebih insten. Baru juga Aldy menata kamar dan meja belajar. Pintu sudah diketuk pelan. Sebenarnya dia ingin rahasiakan mengenai gadis pilihannya. Orang tua mana tidak ingin menimang cucu. Tapi mengingat mereka lebih mendambakan study Aldy selesai tepat waktu. Pada dasarnya orangtua jauh lebih bijaksana dalam menentukan pilihan anaknya. Lain halnya jikalau mereka memaksakan. Kondisinya akan berkata lain, tidak mengherankan Aldy akan mencari jalan tengah. Dia tetap mencintai gadis pilihannya. Tapi kekuatan dalam batinnya tak mampu menembus benteng pertahanan suaminya. Dalam hal ini Hendro jauh lebih dominan atur biduk rumah tangganya. Sementara istri sifatnya sebagai pelengkap saat pengambilan tindakan.
"Mas Aldy perlu minum, biar saya ambilkan di dapur...?"
"Biar aku bisa ambil sendiri."
"Atau air hangat buat mandi."
"Iya terima kasih."
Ke kalutan benar-benar bayangi tiap langkahnya. Begitu masuk rumah ini ada serupa jurang siap menelannya hidup-hidup. Kesadaran inilah bikin separuh hati remuk redam. Dalam dukungan adik tercinta. Aldy masih bisa bernafas lega, untuk menentukan jalan hidup selanjutnya. Bukan sekadar janji palsu ia ucapkan. Gumpalan kekesalan terus bawa dirinya pada permintaan. Di bantingkan tubuh di pembaringan, keresahan selanjutnya terbawa kenangan manis. Seminggu sebelumnya Ririn ingin utarakan niat baiknya pada kedua orangtuanya. Aldy juga ingin segera dengar kabar baiknya. Lamunan itu terus berlambung ke sisi terindah, wujud penyatuan ketika memasuki hari perkawinan.
"Mas Al....?" suara renyah Lusi. "Mas .... boleh aku bicara?"
Lamunan Aldy langsung buyar seketika, waktu dengar suara adiknya. Dugaan pertama, serupa kebencian dan imbasnya akan lari ketempat yang di anggap papanya salah.
Lusi masih mematung tunggu jawaban, bukan salah orang lain. doski punya segudang harapan bisa merubah perilaku kakaknya. Bukan saja sibuk urusi pribadi kuliah dan jadi sorang kutu buku. Sering browsing book, nulis di tengah-tengah kesunyian hati. chat Aldy masih bejibun di dinding kamar kecilnya. Lusi bagaikan terngiang masa kecil keduanya. Saling berebut coklat tiap malam minggu. Becanda saling lemparkan banyolan ringan. Sayang itu hanya beberapa waktu bisa mereka rasakan, kini perubahan itu menggantikan kesunyian malam, sampai pada gilirannya Lusi kesel. Serius apa dia menjelaskan bagaimana sosok gadis sedang di taksir kakaknya.
"Ada apa sih...?" seloroh Aldy.
Mustinya, sebagai kakak tidak perlu menunjukkan ekspresi angkuh. Sodorkan muka asep, coba lempar sepucuk senyum iklas. Tentu Lusi sangat tersanjung dan dihargai sebagai adik semata wayang. Dia sebenar tidak punya keberanian buat melontarkan omelan pedas. Sebaliknya Lusi lepas senyum, agar kesan ingin kepo atas sikap kakaknya.
"Boleh atau tidak bicara, waktunya sebentar saja. Kali ini mas Aldy harus mengetahui serta melihat kenyataan sebenar-benar. Papa juga punya tujuan lain..."
"Kau ini sok tahu. Apalagi tentang perasaan orang lain. Sebaiknya harus punya pandangan kuat, jangan langsung berikan argumen cenderung memojokkan."
"Ya... tidaklah penting. Namun ada nilai plus, saat kita mengatasi."
"Sok jago...."
"Aku mulai memahaminya. Tidak sedikitpun akan menjerumuskan mas Aldy ke jurang yang sama."
"Makasih cantik...!?" puji Aldy.
"Mulai ngaco... trus mas Aldy putus asa. Kasih ulasan kosong. Yang penting, Mas Aldy mau berusaha keras. Ingat, gadis itu banyak yang kenal lho."
"Nah, itu kamu punya usulan. Atau mau bikin serumah ini jadi ribut."
Lusi paling pinter ngeles. Terutama mau pinta bantuan di sekolah. Hampir tiap minggunya Lusi minta anter ke Malioboro acara pesta nyanyi di cafe.
Sempat berutang jasa biarpun kakak sendiri, harus saling pengertian. Intinya Lusi bisa bantu tiap kali Aldy dapat kesulitan berdialog sama papa. Beliau tetap berharap papa tidak terlampau jauh mencampiri urusan putranya. Seribu satu orangtua bersikap bijaksana bila menentukan keputusan agar menuruti kehendak papa.
"Lusi bisa memakluminya. papa tentu saja punya alasan khusus. Bukan harus menerima tanpa menunjukkan sikap pasrah."
"Kamu harusnya mau...?"
"Ya, nanti Lusi usahakan. Tapi mas Aldi jangan banyak berharap macam-macam tentang jalinan asmara."
Kalau ada maunya, tiap insan pasti rela lakukan apa saja.
__ADS_1
***
Belum sampai di situ, keresahan itu juga menjalari perasaan tiap insan. Kegalauan muncul setiap harinya, Lusi juga rajin kirim surat sama rekan-rekan di sekolah SMA favorit. Kemajuan, usulan dari rekan saling berseliweran di mading.
Atau Lusi mau terima tiap ada usulan kecil menyelinap di ujung jarinya. Yaitu cetus tulisan kritik di sela-sela jalinan asmara. Buntutnya dia cukup menutup diri pada teman-teman, berurusan osis. Protes mas Aldy saja sering di denger, berseliweran di telinga. Apa akibat dari kedekatan kakak adik. Empati Aldy sebagai kakak tentu akan berikan perlindungan. Demikian juga Lusi, menaruh prihatin dengar jalinan tali asmara keduanya terhalang restu papa. Sedangkan bunda masih menerima Ririn sebagai pasangan. Layaknya dua sisi mata uang. Kegundahan itu mulai menusuk ulu hati, Ririn masih sibuk sama urusan di rumah. Dia saat ini jauh lebih tegar hadapi musibah, dua minggu sebelumnya bunda kurang enak badan. Sekembali dari rumah sakit Ririn masih pula direpotkan oleh rintihan bunda.
"Gimana kamu hari ini pulang lebih awal kan. Bunda ingin jalan-jalan, ke pasar. Buat meringankan pikiran. biar tidak suntuk di rumah melulu. Apa Ririn bisa antar...?"
Kali ini... Ririn tidak bisa menolaknya. Apalagi kasih bantahan dengan berbagai alasan supaya terhindar dari kata menurut. Logis atau tidak. Ini adalah sebagian dari sekelumit keputusan bunda. Aturan macam gini juga jatuh di bidang usaha keluarga, seolah-olah gerak langkah dicekal. Sadar atau tidak langkah perempuan kalah selangkah dari laki-laki. Dia hanya pantas kerjakan urusan rumah tangga. Ayahnya terkadang salah buat mendaulatkan mandatnya ke bidang usaha UMK di Malioboro. Sia-sia Ririn alihkan pembicaraannya, bunda pasti punya pendapat berbeda perihal tamu mereka di dua minggu lalu.
"Nanti Ririn akan usahakan. Karena untuk hari ini jadwal kuliah sedikit. Bunda tidak perlu merasa khawatir, Ririn ingkar janji. Lagi pula lokasinya dekat kampus. Atau bunda ikutan ke kampus."
Bunda senyum tipis. Dari sudut bibirnya seolah banyak menyimpan kenangan manis di masa kuliah. Kesan kenalan sama papa. Kerap curi-curi pandang, tiada heran Ririn goda bunda. Candaan itu tumbuhan kesedihan manakala suaminya kurang menaruh perhatian.
"Tuh.... Bun... Bunda pasti melamunkan yang tidak-tidak. Sebaiknya bunda harus fokus sama kesembuhan dan pemulihan."
'Kamu tidak perhatian...."
"Apa Ririn keliru berikan masukan. Sebab, bagaimana pun bunda harus berpikir lebih kritis pada kesehatan."
Di katakan demikian pedas dari putrinya. Sampai detik ini masih diselimuti misteri. Entah sampai kapan bunda simpan rapat-rapat di depan Ririn. Hal itulah Ririn sebagai putri bunda harus mampu menyikapinya dengan pikiran cermerlang di hari-hari selanjutnya.
"Sama sekali tidak keliru. Perlu kau ingat, bunda bisa atur apa yang perlu dapatkan perhatian khusus. Selain itu, kita butuh tenaga lebih. Bunda lihat belakangan papa kurang kasih perhatian..."
"Tidaklah benar," jawab Ririn datar.
Enyahlah kau pendusta. Lirih Ririn memaki dirinya tanpa alasan. Memang sebelumnya Ririn masih bisa terima terpaan seberat apa pun. Ini kesekian kalinya dia harus mencari tahu, kenapa selalu beri beban tugas demikian beratnya. Dia sebenernya ingin lakukan penolakan. Sikap pilih kasih bunda tidak cukup alasan, saat bulan terakhir Ririn musti tranfer sejumlah uang dengan nilai fantastis. Entah apa saja keperluan kakaknya study di luar negeri, tentu alasan bunda sudah terdengar klise dalam hari-harinya.
Penuh kesungguhan Tantri mau jelaskan seluruh permasalahan di rumah ini. Intinya semua keputusan tidak dapat dirubah kembali, biarpun di sana sini ada protes dari istrinya. Ririn berusaha tegar dan coba alihkan pembicaraan.
"Bunda tidak usah banyak pikiran. Toh akhirnya bunda terkena dampaknya." selidik Ririn.
"Tidak ada lagi kamu ragukan."
Ririn bisa percaya hari kemarin, sejauh ini bunda cukup menderita secara batin. Papa terlalu sibuk sama urusan pribadi, menelantarkan bunda dalam kondisi sakit.
"Mungkin saja..."
Suara bunda tidaklah sekeras dahulu, cenderung ingin menunjukkan peranan sebagai ibu tahan dengan segala cobaan.
Dia bukan saja harus duduk tercenung dalam kebimbangan, melainkan telusuri jejak kakinya di masa dahulu masa pacaran. 22 tahun bukan waktu yang sebentar, melewati masa pahit getirnya. Ketika semuanya jauh lebih baik secara financial. Hendro coba berulah di belakang istrinya. Salah dugaan sementara pada papanya. Ririn tidak mau semua kejadian kecil berubah besar.
"Bisa anternya? Bunda ingin lihat-lihat hasil tenunan dan kerajinan lainnya."
"Bun apa tidak sebaiknya di rumah saja. Kita cari waktu yang tepat. Sabtu malam minggu Ririn bisa antar, trus papa pastinya menaruh curiga..."
"Papa itu sabar. Jadi tidak ada alasan kamu menunda buat ajak bunda. Sebaiknya jangan malam minggu, siang hari saja. Karena waktunya jauh lebih panjang...."
"Ya, Ririn carikan pengawalan," kelakar Ririn. "Tahu sendiri bunda. Di jalan banyak orang suka berkelakuan aneh-aneh."
Lagi-lagi bunda lemparkan senyum. Bibir yang nampak sedikit pucat, karena kondisinya belum pulih sepenuhnya. Di ruang berbeda Handoko masih kedengaran nelpon koleganya. Pembicaraan itu sedikit menyimpang, berusaha menjauh dari penglihatan istrinya.
__ADS_1
"Kamu telpon nanti saja..." cegah Handoko
Wajar saja Handoko cemas, air mukanya serupa disiram air cukak. Kecut buanget. Salah tuduh? Tidak termaafkan bila kejadian hina harus terbongkar. Perempuan di ujung telpon juga tak mau kalah dalam sampaikan pendapat dan isi hatinya.
"Saya paham apa saja keinginanmu. Tapi, untuk saat ini ngak ada alasan..."
"Trus sampai kapan saya nunggu. Ketika segalanya bertambah berat lagi. Saya rasanya tidak kuat harus menanggung malu..."
"Sabarlah.?"
"Mas Han belum paham juga. Saya butuh kepastian, sampai kapan saya musti nunggu."
Handoko benar-benar seolah menemukan jalan buntu. Malam itu dia takkan mampu berikan jawaban pasti pada gadis idaman lain. Pastinya jawaban Handoko ngambang bagai awan-awan kelabu. Lama kelamaan menebal jelas menutupi separuh kepercayaan dari gadis idaman lainnya.
"Kamu masih mau dengar kata-kataku atau ingin semua berantakan. Tanpa kamu sadari permasalahan ini semakin meruncing, sekali lagi kutegaskan kamu tidak usah terlalu berpikiran terlampau jauh." ucap Handoko
"Saya harus menerima kondisi yang kurang menguntungkan. Walau pun kamu tidak mau ambil peduli. Saya akan menuntut hak saya..."
Brak! Gagang telpon terdengar di banting. Handoko seketika tersentak, dia jadi mudah naik darah. Spontan tinjunya mengenai kaca jendela. Kaca jendela berantakan di lantai, suara gaduh datang dari ruang kerja Handoko Sumber suara bikin Linda tubuhnya ikutan terpelanting ke sisi tembok.
"Bunda...." pelan Ririn gerakkan tubuh ibunya. "Ayolah bun..."
Kekhawatiran makin memuncakkan kecemas teramat sangat, dia boleh saja berbuat sesuka hatinya. Namun bukan demikian caranya menyakiti bunda.
Ririn macam dirasuki kemarahan. Ketika lihat kekilafan papanya, andai saja dia tadi mau memenuhi permintaan bunda, sudah pasti keadaannya tidak seperti sekarang. Papa sulit diajak dialog secara empat mata.
Ririn buru-buru minta tolong sama mang Uge, lelaki itu nyaris loncat ketika di colek bahunya. Matanya nyaris loncat keluar dari kelopak matanya.
"Kenapa ndoro.....? Saya sampai kaget," seloroh mang Uge.
"Cepet tolong bunda di kamar...."
Keduanya bergegas menuju kamar bunda Linda. Ririn makin cemas. Begitu sampai di depan kamar, kondisi bunda jatuh terduduk. Walaupun dengan tenaga seadanya langsung bawa ibunya ke rumah sakit. Dia sama sekali tidak ambil pusing sama urusan ayahnya.
Mobil sudah terparkir persis di depan pintu, memang secara tak sengaja ada saja pertolongan. Ririn cepat memapah bunda ke mobil. Mang Uge dengan cekatan berikan bantuan menopang tubuh bunda Linda ke dalam mobil. Dia tak sampai hati lihat kondisi serupa ini terus berlarut-larut.
"Non Ririn tidak perlu panik. Kita harus kuat menjalaninya. Tuh sopirnya sudah siap...?"
Ririn mengangguk pasrah. Terutama lihat wajah ibunya, dengan kondisi pucat pasi. Kendatipun ada ketegaran, tapi kali ini bunda roboh juga waktu dengar acara telponan di kamar pribadinya. Kepasrahan juga saling bersusulan, Ririn takkan kuasa apa saja sedang bergejolak di rumah ini. Seumpama waktu bisa diputar kembali, dia akan berusaha di titik awal.
"Semua sudah siap...?" tanya si sopir. "Kalau sudah, kita mau ke rumah sakit mana."
"Yaang terdekat saja, mengingat kondisi bunda tidak stabil.Beliau sebenarnya harus dapatkan perawatan khusus."
"Mbak Ririn tidak perlu cemas lagi. Kan saya siap antar ke rumah sakit mana saja..."
"Terima kasih sebelumnya."
Mobil avanza melaju menembus dinginnya malam. Penuh kasih sayang Ririn menopang bahu bunda untuk bersandar di tubuhnya. Kejadian ini kenapa sampai terulang lagi. Sikap kerasnya Handoko terhadap istrinya.
Bersambung
__ADS_1