
Ufz...
Percikan sinar matahari takkan pernah malas tersenyum hiasi kulit bumi. Butiran bening semalam sudah saling berebut jatuh dari kisi-kisi langit nun biru. Denyut nadi juga paling mudah saling bersinggungan.
Putih melati. Semerbak wanginya begitu halus menembus relung hati. Pedarannya terasa sebagai pembangkit potongan semangat, Ririn terbangun lebih dulu. Dari balutan pagi, dingin malam bikin Aldy terlelap dalam buaian mimpi, tidur di kerosi panjang. Ririn coba memastikan, justru sebaliknya dia banyak menikmati ketampanan sosok lelaki dambaan tiap gadis di kampusnya. Tanpa disuruh jemarinya tergerak sentuh ujung hidung bangir, ketika jari-jarinya ada sebuah keberanian. Maka butiran berikutnya kekaguman. Sontak tatapan matanya semakin menari-nari. Pergulatan pertama apakah ini yang dinamakan rasa kangen berpadu dengan sayang? Sebagai perempuan Ririn tidak mau dikatakan murahan di mata lelaki. Kekokohan itu patuh dipertegas, kiranya Ririn malu buat utarakan niatnya. Bukanlah gadis lebih mulia menunggu untuk di lamar saja.
Ceile...
Bilamana perasaan mulai bermain, reaksi selanjutnya pasangan kita akan menyamarkan pandangan. Biar tak tampak bergantung, pastinya gadis akan menunggu kepastian pinangan. Wuih, telpon berdering. Suaranya bangunkan Aldy yang masih dalam buaian mimpi indah. Baru juga tangan hendak meraih tas pinggang. Sebuah tangan sudah sodorkan telpon ke Aldy. Si dia lebih kaget lagi...
"Mana hp ku..." suara Aldy.
Aldy terperanjat lihat gadis cantik sudah berdiri sodorkan hp kepadanya.
"Ini hpnya... maaf saya bikin tidurmu kurang nyenyak..."
Sip. Jari Aldy cepat menjentik ke bibir kuncup berbentuk dua belahan. Biarpun si doski menaruh hati sama Ririn. Sikap ingin beri motivasi. Agar dirinya terbebaskan oleh derita di keluarga.
"Gimana bunda sudah siuman?" Aldy risau.
"Masih istirahat..."
"Ya, kamu sabar menerima kondisi. Nanti semua akan indah pada waktunya."
Ririn menarik nafas dalam-dalam, dihembuskan perlahan-lahan. Rasa lega ada si penguat hatinya. Imbasnya dia harus direpotkan oleh omelan bunda selalu menuduhnya berbuat kurang pantas. Kejadian ini telah menimpa keluarganya. Sekian lama terpendam harus digantikan kehampaan. Sementara Aldy siap kasih perlindungan lebih pribadi.
"Terima kasih atas dukungannya. Saya harap semua akan berjalan sesuai harapan."
"Amin."
Aldy baru sadar siapa yang dihadapinya. Sejurus matanya mirip terbagikan atas pandangan dari sudut lainnya. Atau saja orang lain juga mudah melontarkan terjangan klaim. Ririn hingga detik ini tiada persiteruan. Ia ingin lompat. Malu lah rasanya, harus menabur kepalsuan sama Aldy. Yang sekian lama ajak dirinya untuk menyelami ketika hatinya alami kekosongan.
__ADS_1
"Jangan pernah ciptakan singgahan asing..."
Entahlah, apalagi terbersit dibenaknya. Banyak keraguan bermunculan diantara orang yang dua kali sentuh nalurinya. Ririn punya cara buat buktikan, bahwa dia butuh kepatuhan.
"Kamu ada tinggatan...? Kau ragu buat ajak aku ke jalan lebih terang. Mas Aldy mustinya mampu mewujudkan jingga di ujung sana."
Aldy hapus keringat di keningnya. Nyatanya, angin pagi tidak sanggup menepukkan kedinginan pagi. Sebutir harap itu makin bawa dirinya kesini. Tempat di mana orang menjadikan sebuah favorit buat curahkan segala bentuk isi relung hatinya.
"Duduklah, pasti kamu akan lebih tenang! Saya akan ceritakan sesuatu lebih menarik dan memikat. Gimana masih ada keraguan? Sudahlah, selama kamu menilai berbagai macam sudut, maka kamu tidak akan banyak menemukan titik temu."
Fantastis! Mantan saja belum pernah curi perhatian. Tapi seperti cahaya Aldy bisa melenggang di atas awan. Dia memang akan menikmati udara malam terus menyapu rambut panjang kekasihnya. Pagi ini, Aldy akan meluangkan banyak waktu khusus. Agar restu dari bunda bisa diterima tanpa ada kesulitan buat menolaknya.
"Apa perkataan mas Aldy bisa dipertanggung jawabkan. Saya tidak rela ini hanya sebatas ungkapan kosong. Bagaikan angin. Sejuk jika menepuk pipi atau membelai rambut. Lalu sepi." Ririn protes.
"Percayalah, aku ke sini bukan untuk di salahkan. Melainkan butuh jawabanmu sendiri..."
"Kapan?"
"Kamu pasti belum sarapan. Kita ke kantin sebelum bunda terbangun. Tadi kulihat masih tidur."
"Nanti saja masih pagi..." Aldy menolak, "soal makan gampang, lagi pula aku belum lapar..."
"Ingat mas Aldy. Kamu semalam belum makan, terus sekarang masih menolak ajakan buat sarapan. Nanti kamu sakit..."
"Terima kasih atas perhatiannya," balas Aldy sambil melirik.
'Oya, aku salah? Lalu kau boleh saja duduk santai. Begitu sakit..."
"Uh, seneng dong dapet perhatian khusus. okey kita makan di mana?"
Pelayan kantin cepat menawarkan menu andalan di kantin pujasera. Dua es jus tersaji, anehnya Ririn masih tercenung bayangkan kedatangan papanya. Buncahan keprihatinan terlihat oleh kekasihnya. Aldy segan bertanya terlalu pribadi. Boleh jadi Ririn cepat tersinggung, dia mentah-mentah menolak tawaran kebaikan orang lain.
__ADS_1
"Ada yang masih kau pikirkan?" Aldy menyelidik. " Kapan saja kau cerita. Aku siap menerima dan kasih solusi terbaik."
"Nggak ada. Kenapa sih mas Aldy ingin tahu! Aku bisa mengatasinya."
"Tunggu dulu, saya belum selesai bicara. Kau langsung memotong saja pembicaraanku."
Ririn angkat dua tangan setinggi kepala, dan menutup dua telinganya. Seolah dia tak sanggup menerima jutaan kecemasan. Belum juga dirinya disadarkan oleh kekasihnya. Rusuh hatinya mulai berkecamuk manakala.bayangan papanya tidak kunjung datang ke rumah sakit.
'Silahkan di minum...!" pelayan kantin menawarkan. " Nanti kalau mau pesan makanan sekaligus boleh tinggal panggil saja."
"Terima kasih," balas Ririn datar.
Kesan ketus dihaadapan kekasih sebenarnya kurang pantas untuk diperlihatkan. Aldy sedikit menarik pembicaraan, takutnya Ririn jadi cepat tersinggung. Seharusnya Ririn menuntut balik atas tindakan Riyan sampai membuat ibunya tertimpa musibah berat. Seumur hidupnya Ririn bersumpah tidak akan berikan kata maaf buat si pelaku.
"Kali ini saya ngaku salah. Ya, setidaknya berikan dukungan. Bukan sebaiknya aku terus menuntutmu."
"Terima kasih. Atas dukungannya."
"Kamu belum tahu kapan bunda diizinkan pulang."
Ririn makin tertunduk lesu. Begitu mas Aldy berikan kesaksian. Dokter Firda belum berikan izin. Semestinya minggu kedua boleh di bawa pulang dengan catatan berobat jalan. Artinya Ririn akan banyak meluangkan waktu, sudah terbayang kerjaan di sanggar juga terbengkalai. Protes beberapa karyawan juga baru saja di terima lewat wa...
Biarpun sengaja disembunyikan dari mas Aldy, kesulitan itu makin bertumpuk di benaknya. Sewaktu-waktu bisa meledak berhamburan cipratannya.
"Baiklah. aku tidak mungkin memaksa. Karena itu berikan senyuman, biar nantinya keinginan kita bisa terwujud..."
"Papa...?" tangis lirih Ririn. "Bunda lama nunggu, sampai hari ini belum kelihatan kedatangannya. Apa ini bisa dimaafkan? Bunda butuh pendampingan, lagi pula dokter Firda mohon kesediaan suaminya."
"Coba hubungi via hp. Siapa tahu papaku bisa datang sekarang."
Gadis iri sama rekan-rekan di kampusnya. Mereka sedikit saja tidak ada cerita luka di rumah. Sikap iri Ririn menjadi lebih nyata waktu lihat kehidupan tantenya.
__ADS_1
.