
Kebahagiaan bagi Aldy bukan saja menjadikan dia harus berkorban banyak waktu. Sebagian dari hidupnya mungkin saja sulit digantikan sama orang lain. Hubungan keduanya belum sepenuhnya berjalan mulus. Masih banyak lika-liku kehidupan siap menghadang di depan mata. Yakni dia harus menunjukkan sama kedua orangtuanya bahwa masa depannya di mulai dari hari ini.
Rasa takut biar terlihat samar oleh kedua orangtuanya. Aldy berusaha tegar, dia sore itu bisa jalan bareng mengantar Ririn pulang. Tidak banyak yang mereka bicarakan. Aldy merasa kasih lihat kekasihnya kelelahan sehabis mengadakan bazar.
"Hati-hati di jalan ya...."
"Ya..."
Siapa pun pastinya akan banyak berharap lebih, misalnya mengucapkan terima kasih sambil melemparkan seuntai senyum manja. Tapi ini tidak sama sekali. Apakah itu sebuah kata yang tersembunyi. Yang nantinya siap dibongkar dengan keteguhan hatinya. Meskipun dia mencoba melangkah gonta ke salah satu warung kopi.
Ririn sebenarnya takkan sampai hati melepaskan Aldy tanpa alasan pasti. Dia sadar, mana pantas perempuan harus menyatakan isi hatinya. Seolah dia akan banyak melanggar batas kesopanan. Atau melawan kodratnya. Perempuan harusnya dipilih bukan untuk memilih calon pasangannya. Justru dia diwajibkan untuk menantinya.
Sampai di pintu gerbang, mang Uge lagi-lagi memperhatikan anak majikannya. Lelaki itu hanya bisa mengelus dada, merasa iba lihat Aldy jalan tanpa kata ke warung kopi. Ririn risih diperhatikan tudemikian detailnya.
"Ada yang aneh sama saya mang?" tuduh Ririn.
Gelagapan mang Uge. Salah tingkah waktu Ririn merasa kurang suka. Mustinya dia buka pintu saja jangan banyak cari-cari alasan. Dengan dalih ingin melindungi.
"Maaf ndoro ayu....?"
"Kau ini bicara apalagi..."
Ririn bergegas ke dalam rumah, sebelumnya ia lemparkan bungkusan kecil. Hadiah. Setiap kali ada acara Ririn menaruh perhatian sama dua orang pembantunya. Sebatas perhatian kecil untuk mereka yang membutuhkan atas jasanya di rumah ini. Ungkapan demikian sudah lama sekali dianjurkan oleh kedua orang tuanya. Seumpama di rumah ini masih ada Elyana tentu akan lebih sempurna.
Suka cita mang Uge buka bingkisan. Hati lelaki itu lebih gembira lagi, sebuah kain sarung. Benda inilah yang dihaparkan berada dihadapanya.
***
Mencoba untuk mengerti kata sempat ia lupakan, waktu terus berjalan terseok-seok Aldy untuk meraih. Wajahnya masih dilembari kesendirian. Belum ada yang menyisakan keindahan sebagaimana diharapkan di hari-hari selanjutnya.
Saksinya seisi kamar. Benda-benda itu merupakan diam membisu, terkecuali gitar merk Yamaha. Bibirnya sedikit tersungging ketika matanya melihat benda kesayangannya. Terbersitlah bawakan lagu sendu. Suaranya bolehlah, kasih nilai 8. Ujaran itu keluar dari bibir mungil Luzi. Tiap-tiap waktu keduanya saling adu akting di ruang tengah. Lagunya seakan mampu singkirkan rasa kesendirian. Biar pun sifatnya hanya sebatas sementara. Oh, alangkah indahnya ada ke kasih di sisinya.
__ADS_1
"Hu...... hore boleh dong ikutan?"
Siapa lagi kalo bukan adik cantik. Tiap kali Aldy sedang sendu-sendunya. Muncullah adiknya sukanya godain kakak semata wayang. Aldy sambut sepenuh hati, diam-diam dia sembunyikan kegundahannya. Sampai detik ini Aldy ragu untuk menentukan sikap, sayang atau mencintai. Hal amat menakutkan ialah bertepuk sebelah tangan.
"Boleh saja."
"Asyik dong,"
Yap.... selanjutnya Lusi ambil posisi cantik. Senyum tersungging yang lama cowok-cowok kangenin. Sebutlah wajar. Jikalau mau dibandingkan dengan gebetan kakaknya. Lusi memang cerdik menghidupkan suasana hati. Pembawaannya terkenal enjoy waktu temen-temennya datang ke rumah. So pasti riuh. Ada sebersit rasa iri hati, kenapa untuk merajutnya sulit melilit gunung merapi. Segitu galaunya Aldy rasakan menilai jalinan seumur jagung.
"Mau minta lagu apa..."
Lusi masih senyum-senyum. Doski tahu benar keresahan Aldy. Biar pun Aldy berupaya keras sembunyikan di depan Lusi. Kata penuh basa-basi tidaklah mengguratkan sayang sama adiknya. Buru-buru Aldy singkirkan tudingan miring, di rengkuh bahu Lusi dan dicium keningnya.
"Si cantik...."
"Pasti sudah dapat ya....?"
Gaya nyentrik. Baju selalu dominan kaos oblong putih, padahal baju merk branded terjajar rapi di lemari. Atau sifat males. Intinya bercampur bandel suka pertengkaran soal mode. Sambil geleng kepala, lalu menari mirip gadis belia lainnya. Keduanya penuh suka cita bawakan lagu-lagu favorit keluarga.
"Mas Aldy lagi nunggu WIL....ya."
"Jangan suka bicara aneh-aneh. Kamu ini sukanya ngelantur, siapa lagi mikirin."
Usaha keras Aldy justru terkesan sia-sia. Di sudut matanya bisa dilihat adiknya. Secerca harapan bisa jalani hidup sama doi. Lebih lagi dia mau lakukan apa saja asalkan usaha bisa berjalan lancar.
"Faktanya mas Aldy terus kepikiran. Tadi lagu yang kita bawakan, mas Aldy sampai mau menitikkan air mata."
"Jangan ge-er. Apalagi sampai sok tahu gitu. Akibatnya, urusannya jadi berantakan semua. Harus dibuktikan dulu baru bicara perihal orang lain."
"Akui saja."
__ADS_1
"Untuk satu ini, aku harus hati-hati menentukan langkah selanjutnya."
"Kan sayang..."
Merasa terpojok oleh tuduhan Lusi. Mas Aldy memburu dan mencubit kedua pipi adiknya. Saling kejar-kejaran di ruang tengah. Belum lagi saling lempar bantal di kursi ikutan jadi korban peperangan. Di lemparan ke tiga kalinya mengenai mbok Ijah. Prang.... dua gelas isi es sirup, terjungkal, pastinya berantakan. Di tambah teriakkan mbok Ijah, nyaris ikutan lompat sambangi langit-langit ruang tengah. Baru kemudian keduanya mematung lihat pembantunya tampak panik. Tentu paling utama kesalahan itu tertuju sama langkah mbok Ijah.
"Kenapa ngak lihat-lihat sih..." omel Lusi. "Kita kan pe...."
"Cantik! Kamu jangan begitu. Coba tadi kamu tidak mancing-mancing."
"Aku tidak mau terlibat lebih jauh lagi. Daripada kamu berkelakuan kurang menyenangkan orang lain..."
'Sudahlah, aku tidak banyak bicara. Nanti juga ketahuan, siapa musti disalahkan."
"Ada apa ini sebenarnya? Kau anggap kakakmu ini banyak merugikan orang lain...."
"Mudahnya menuduh aku bertindak semena-mena. Lalu kau punya dasar apa? Sampai berani memojokkan aku, tanpa lebih dulu dicrocek." Aldy melakukan pembelaan. "Kejadiannya seperti hari-hari lusa. Bahkan deretan rencana belajar di kampus berjalan baik-baik saja."
Lusi bisa berkata demikian atas laporan Dito, waktu di sekolah keduanya ada misi atau kegiatan buat menjatuhkan pamor Aldy. Lusi hanya senyum lihat kelakuan kakaknya terkesan gugup ketika ditanya soal pribadi. Cepat pula Aldy bersikap seolah kejadian di sekolah tidak memiliki efek buruk atas hubungan keduanya.
Tidak seperti biasanya Aldy akan marah bilamana hatinya sedikit saja disinggung. Intinya bisa mengatur jalan kelanjutan tali asmara. Apa jadinya kalau pihak ke tiga ikut campur tangan? Bukannya keadaan menjadi lebih baik, justru sebaliknya Aldi di pojokkan oleh ibunya.
"Okey... aku salah. ku akui..
Terus kau sendiri bisa bantu dong? Kau juga penyebabnya. Jadi rumit semuanya..."
"Jangan suka cari-cari alasan."
Lusi makin resah, lihat perilaku kakaknya atau serupa kasihan bilamana didiamkan. Sebenarnya hubungan mereka baik-baik saja. Aldy sosok pria tampan dan berwibawa dalam segi pergaulan. Buktinya pak Herdy menaruh kepercayaan penuh atas usaha keluarga, selepas kuliah rampung pasti Aldy segera menduduki jabatan penting.
"Kau pasti sudah berpikir macam-macam tentang keputusan papa. Apa masih mungkin,"
__ADS_1
Lusi sebenarnya tak sampai hati buat mengatakan kejadian yang sesungguhnya. Apalagi akan banyak melibatkan banyak orang, tentu problem makin rumit untuk diatasi.