SEBENING AIR MATAMU

SEBENING AIR MATAMU
Rindu


__ADS_3

Kabar gembira atas ke pulang Ririn dari poli klinik. Bagi keluarga Linda. Merupakan anugrah tak terhingga dari Tuhan. Nyanyi Linda seolah mendapatkan kekuatan baru. Begitu hatinya sangat terpukul atas kecelakaan yang telah menimpa putrinya. Dokter sudah berikan pernyataan bahwa kesehatan telah berangsur. Linda masih melirik kearah Ririn, mungkin saja ada deretan berbeda. Sejenis rasa kehilangan itu, ketika dua putrinya beranjak remaja. Perlahan mereka mulai menapaki dunia masing-masing Elyana telah menunjukan jati dirinya sebagai desainer. Sedangkan Ririn ingin bahagiakan kedua orangtuanya dengan cara melanjutkan bisnis keluarga.


Kini senyum itu benar-benar terlihat jelas. Sebagaimana nyonya Linda harapan selama ini, sekali pun hatinya belum bisa menerima perlakuan baik dari Ririn. Sikap ingin memisahkan keduanya masih bimbang. Belum juga Linda ingin melaksanakan niatnya. Aldy jauh lebih memahami sikap nyonya Linda. Baru juga beranjak ke sisi kiri, sebuah mobil merah hati masuk halaman. Linda sampai terheran-heran lihat siap yang akan muncul. Sorot matanya tidak pernah lepas-lepas ke arah pintu mobil. Dari jendela dia bisa lihat dengan leluasa buat dapatkan posisi lihat dengan jelas siapa pengemudinya dan penumpang.


"Mama dari tadi Ririn perhatikan lihat keluar terus."


Suara panggilan Ririn membuat mamanya jadi gugup campur malu ati. Sedianya ingin secara jelas siapa yang turun dari mobil merah?


"Ah, tidak...?"


"Mama kenapa selalu menutupinya, sebenarnya apa yang sedang mama pikirkan..." suara Ririn menodong.


Keresahan itu pasti bawa dirinya akan lebih lama lagi tenggelam oleh prasangka. Makanya Ririn akan berusaha keras hindari kejengkelan.


"Tidak ada sayang. Mama tidak mau lihat kamu banyak berpikiran buruk. Semuanya akan baik-baik saja."


"Ririn engan dikatakan anak tidak berbakti...."


"Sudahlah... Sebaiknya kamu pikirkan kesehatanmu jauh lebih penting. Tuh, di luar papa sudah menunggu."


Uh. Bukan maen riangnya Ririn. Baru ini kali pertama papa simpatik. Padahal sebelumnya Handoko lebih suka menyendiri, tak pelak abai sama kewajiban sebagai suami. Makanya tidaklah mengherankan kalau Ririn menaruh rasa segan.untuk.bercakap-cakap sama papanya. Bilang tinggal di rumah, ternyata ungkapan papa sebatas isapan jempol. Sekarang Ririn tidak punya sedikitpun buat menolak ajakan mama.


Tidak berapa lama Aldy muncul di ambang pintu. Dalam gegaman tangannya terselip setangkai bunga Tulip kuning. Seolah sedang menglukiskan perasaan jiwanya mulai bertaburkan permata. Berlari saja Ririn tak mampu angkat kakinya.


"Sebaiknya jangan di paksakan. Akibatnya cukup berat jikalau anda kurang perhatian," kata dokter Irma.


Tergesa-gesa Aldy meraih handel pintu dan buka pintu. Dia sampai tersentak lihat reaksi Nyonya Linda kenapa prilakunya mendadak berubah di depan Ririn? Salah pertanyaan besar kerap menyergapnya di ujung pembuluh darahnya. Dengan demikian Ririn harus bisa bersikap lebih sabar dan tenang. Sebenarnya bagi Aldy merupakan awal terbaik, waktu dia bersikap lembut atau kasar di depan calon mertuanya. Sekurang-kurangnya dia bisa seralaskan jalan pemikirannya.

__ADS_1


"Maaf, kalau kehadiran saya mengganggu."


Tadinya, Aldy hendak balik badan. Mana mungkin dia berdiri mirip patung gitu. Tidak tahu musti berbuat apa, ketika dua perempuan itu kasih perhatian.


"E... nak Aldy toh... Ririn sambutlah. Dia pasti lelah jalannya."


Nyonya Linda berusaha mencairkan keadaan, semula Ririn bersikap dingin. Seraut wajahnya menggambarkan kekecewaan waktu pandangan matanya jatuh ke sosok tampan. Padahal Ririn masih berharap papanya menyempatkan diri untuk menjenguk Ririn.


"Saya tahu....'


"Buat apa menjatuhkan jawaban sendiri atas perasaan pribadi. Kamu harus punya keyakinan. Bahwa kejadian ini menjadi tolok ukur."


"Makasih ma..."


Keduanya berpelukan erat-erat. Macam direkatkan oleh permen karet. Kali ini menjadikan nyonya Linda mampu menerjemahkan kehangatan itu selalu didapatnya dari putrinya. Ririn lebih bahagia waktu matanya hinggap pada sosok tampan. Apakah ini arti dari semuanya? Pria berstelan jas kekinian. Serasi benar. Bahkan di kampus saja Aldy penampilannya terkesan urakkan gitu.


Pelan-pelan Ririn merenggangkan pelukan. Ia tatap wajah mamanya sedikit sembab, butiran bening berebut turun. Cekatan Ririn berikan sepucuk sapu tangan. Di usapnya tirus Linda kasih sepenuh hati.


"Oh, ya. Sebentar mama tanya ke dokter. Apa sudah dilunasi pembayarannya."


"Saya tidak bermaksud lancang tante. Ini atas dasar inisiatif saya."


"Terima kasih."


"Sama-sama tante..."


Cepat Aldy ambil resep obat, selanjutnya pengobatan Ririn bisa dilakukan rawat jalan.

__ADS_1


"Saya harap anda bisa menjaga istri. Karena dia perlu orang penyayang akan kehidupan selanjutnya." kata dokter.


Uih, langsung kata-kata itu melambungkan Aldy pada posisi kurang tepat. Ia tertegun. Coba kalau ucapan itu di dengannya dari nyonya Linda?


"Apakah penjelasan saya ada yang kurang?"


"Cukup dokter..." jawab Aldy gugup.


"Baiklah. Sekarang Ririn boleh pulang, saya sudah berikan resep. Nanti kalau dirasa kurang. Silahkan hubungi saya, ini kartu nama saya."


"Baik. Terima kasih, dokter."


Aldy sudah bawa kerosi roda sekembali dari ruang dokter Firda. Di ruangan Ririn sudah lama menunggu, begitu riangnya lihat kedatangan Aldy. Begitu dia menepikan kerosi pembaringan. Hati-hati Aldy menopang tubuh Ririn. Beringsut ke kerosi roda. Nyanyo Linda lagi-lagi dibuat terkagum-kagum oleh sikap calon mantu. Namun dia melakukan dengan sepenuh hati, atau dia juga salah dalam menilai. Bergegas ke mobil sudah terparkir di halaman poli klinik. Pelan pula pintu mobil dibuka, Ririn di topang ke dalam mobil. Biarpun ada sedikit terdengar suara rintihan kecil.


Sepanjang perjalanan pulang Ririn bisa menikmati pemandangan, ia sampai lupa akan kejadian pilu telah menimpanya. Lihat Ririn masih juga tertegun, seakan banyak melambungkan namanya di kampus. Tetapi ada saja rintangan siap didepan mata. Hanya kekuatan cinta nantinya meruntuhkan aral melintang. Demikian sebutan itu sudah lama diperolehnya dari lingkungan para pengerajin mendong ( sejenis tumbuhan rumput ilalang ).


"Gimana..."


"Kamu ini kalo susah dikatakan."


Sekilas Aldy melirik ke sisinya. Yu... itulah sepenggalan kata lepas dari bibirnya. Buru-buru Aldy merubah posisi duduknya, biarpun jarinya hendak meremas jemari lentik gadis disampingnya.


Setengah jam kemudian mobil sudah sampai di halaman rumah Ririn. Aldy tidak mau menilai tentang suasananya. Saat ini tergambarkn dalam pandangan ialah keramahan nyonya Linda dengan suka rela sambut tamunya. Senengnya bukan alang-kepalang lagi, ketika Ririn menjejakan kaki ke tanah ada serupa ketenangan yang lama ditinggalkan. Seminggu di poli bukan waktu sebentar, ia rindu sama Koko. Suaranya saja sudah ribut banget. Begitu dari kejauhan lihat wajah majikannya. Burung kesayangan Ririn itu sebagai obat pusing dan penyemangat hidupnya.


"Ayo... cepat sedikit."


Aldy cepat kasih bantahan, agar langkah Ririn harus hati-hati. Ia takut jatuh ke rerumputan.

__ADS_1


"Kau lupa ya sama langkahmu belum kuat sepenuhnya."


"Makasih..."


__ADS_2