
Deretan bunga mawar tersusun rapi di taman kecil. Satu misal Ririn bisa merubahnya kembali agar terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Ah, rasanya mustahil. Bunda tidak punya pandangan lain, jika menilik dari deretan bunga di sana. Boleh jadi kekosongan hatinya akan digantikan oleh kenestapaan.
Ungkapan besar mengenai perselingkuhan ayahnya menjadikan Ririn prihatin. Luka lama bunda dimunculkan di biduk rumah ini. Semestinya mereka tidak menaburkan kedukaan atau kepergian Elyana imbas pertengkaran papanya. Ririn tidak asal menuduh salah satunya. Dia ingin mengetahui apa saja harus diterimanya dikemudian hari. Kadang dia juga sulit menerima kenyataan pahit. Sontak harinya macam dibangunkan oleh halilintar.
Jarang-jarang ada surat di atas meja. Warna tak asing lagi, Ririn pastinya warna yang lama sekali dikenalnya. Jikalau mau diruntut lagi, tentang penentuan warna bunda sampai turun tangan. Keputusan final milik Elyana. Sewaktu hatinya mulai tergerak, ada bongkahan kebencian. Tapi buat apa bagi Ririn sikap benci tidak akan menyelesaikan permasalahan.
Dear adikku.
Semuanya saat ini pasti baik-baik saja. Demikian saya disini sehat. Oya, Ririn apa kabarnya. Aku di sini juga rindu sama suasana di kampung, sepi, sunyi dan tentram. Aroma kedamaian ingin terbukti dengan nyata.
Ririn kiranya takkan mampu mengulang masa indah dahulu, berulang di ujung hari minggu. Papa penuh setia ajak dua putrinya. Bunda pasti memandangi kelucuan mereka tanpa mencegah Ririn kejar Elyana. Kali ini ia hanya bisa terpaku dalam kesendirian. Kakak tercinta berganti bayangan ilusi. Di taruhnya surat bersampul biru muda di atas meja. Berdampingan sama bunga melati, nyaris ritual itu masih dipertahankan. Bunda akan ngomel besar kalo mengetahui keharuman kamar Elyana tidak terawat dengan baik. Rasa rindu mama makin bopong perasaan. Apakah mungkin kejadian serupa terulang? Ia hanya bisa luruh. Seluruh kekuatan itu hampir digantikan oleh hal baru, yakni sosok lelaki yang selama ini ia idam-idamkan.
Bel bunyi tiga kali. Ririn sebenarnya malas buat turun sekadar buka pintu. Toh disana ada pembantunya. Mbok Ipah tergopoh-gopoh buka pintu depan. Di sana sudah berdiri sosok gagah bawa setangkai bunga.
"Mbok bisa ketemu sama Ririn?"
Nampak kebingungan mbok Ipah mau kasih jawaban. Dia takut melakukan kesalahan seperti beberapa hari yang lalu. Ndoro Ayu bila sudah menjatuhkan sabda pandito ratu tidak dapat dilawan lagi. Wajah perempuan paruh baya itu dilanda kecemasan. Pria itu tak sampai hati untuk membiarkannya. Terus larut dalam ketidak pastian.
"Mbok masih ingat saya? Coba sekarang perhatikan benar-benar, kedatangan saya hanya ingin ke temu sama Ririn. Atau sudah berangkat kuliah hari ini...?"
"Sebentar saya periksa lagi. Bener saya belum melihat sepagi ini."
Bergegaslah mbok Ipah ke kamar ndoro ayu. Pintu kamar masih terkunci rapat. Jarinya gemetaran buat ketuk pintu. Mungkin saja dia harus punya sikap yang kurang sopan. Sebaik mungkin di jaganya agar tidak ternoda oleh perilaku kurang pantas. Diantaranya dia sudah lancang bangunkan ndoro ayu. Biarpun begitu dia mulai ayunkan punggung kepalan tangan ketuk pintu sebanyak tiga kali.
Ririn terburu-buru cari sandal di bawah kolong ranjang, kakinya ke sana ke mari sampai akhirnya menemukan. Wajah penuh kecemasan pasti orang sangat di bencinya. Kenapa belakangan ini papanya banyak menunjukkan perubahan sikap.
"E... mbok Ipah....?"
__ADS_1
Lega saja rasanya, Ririn menarik nafas dalam-dalam seolah beban berat itu separuhnya akan hilang. Dari sisi lain ia punya kabar baik, yakni tidak berapa lama lagi kakaknya akan pulang.
"Itu ndoro... diluar ada tamu. Kata pingin ketemu, nanya sudah berangkat belum."
"Trus simbok jawab apa? Gayanya mencurigakan tidak..."
"Kalem, duh ndoro ayu pasti salah sangka. Ya, pokoknya dia itu mantep
susah cari tandingannya."
"Trus, sana suruh masuk!"
Mbok Ipah kelihatan bimbang mau ke ruang tengah. Ririn harap-harap cemas nungguin si tampan. Semula dia malas nemui sosok cowok. Mahluk harus di jauhi. Buat apa kali ini nemuin orang bisa dipercaya. Biar pun sedikit terpaksa Ririn harus melihat dan ajak dia bercengkrama. Kuranglah pantas bila perempuan menolak terlalu kasar. Bunda dari dahulu berikan pelajaran mengenai hidup harus saling menghargai. Alasan bunda sebenarnya tidak
memiliki dasar kuat, bahwa tunduk patuh sama orang lain musti dilihat statusnya.
"Ya, terima kasih..."
Mbok Ipah melirik gemas, sesekali dia menoleh buat memastikan. Langsung cemberut lihat reaksi pembantunya. Cekatan Ririn bereskan bunga berserakan di lantai, cepat melempar ke arah mbok Ipah.
"Sudah lama mas...?"
Suara Ririn memecahkan keheningan, semula Aldy masih menikmati seisi rumah ini, di antaranya lukisan seorang perempuan paruh baya. Seluruh isi jadi hidangan yang sulit diterjemahkan. Sampai ada orang lain sedang perhatikan segala gerak-gerik. Sebenarnya ada kekaguman dari cara dia menghormati pemilik rumah. Tapi bagi Ririn hal itu tidaklah cukup sebagai bahan pertimbangan.
"Oh.... maaf saya sudah terlalu lancang? Tapi kekaguman saya sulit dibendung. Pantas saja. Banyak teman-teman di kampus cerita." puji Aldy.
Pujian? Atau gerutuan buat gadis secantik Ririn, namun dia layak menerima imbalan atas jerih payahnya. Selain ada yang mendasari Aldy bukan memandang sebelah maya sama pacarnya. Sungguhpun demikian Aldy punya impian besar untuk keluarga kecilnya kelak.
__ADS_1
'Silahkan! Maaf terlalu lama menunggu. Oya, tidak seperti biasanya. Mas Aldy tentu punya tujuan lainnya. Mohon di sampaikan saja, jadi nantinya tidak ada beban lagi."
Sindiran halus Ririn mengenai dekorasi isi rumahnya, coraknya masih diisi oleh pajangan lawas. Di sudut sana ada sebuah radio 2 band. Selain warnanya sudah nampak kusam, mungkin saja ada keluhan kecil, sepintas ruang tamu mirip restorasi musium pribadi.
"Saya rasa biasa saja, tidak ada yang berlebihan. Kami tata acakan. Mungkin lebih mirip kapal pecah."
"Jangan suka merendahkan diri sendiri. Coba saja kamu perhatian cara menatanya variatif jika ditilik lebih detail..."
Ririn senyum getir. Buncahan kecil, sepintas tidak bernyawa bila di sentuh jari-jari, justru sebaliknya dia sadar. Seger naluri dihujani kerinduan.
"Simpan saja...?" tuding Ririn.
Walaupun dia berusaha menyimpan gejolak hatinya. Akan kah mudah menerima permintaan maaf? Ini kali kedua hela nafas dalam. Di hembus kuat-kuat sebagai simbol kemarahan.
"Ada baiknya mas Aldy jangan bicara serius..."
"Justru kesalahan..."
"Itu hanya sikapku semata-mata."
"Aku malas..."
Ririn terduduk dalam sepi hati. Ia kali ini harus bersikap manis. Semestinya dia akan menutup diri rapat-rapat tiap sudut hatinya. Asa siap sambut didepan mata, yakni harus menerimanya.
"Kamu tidak seperti biasanya?"
"Ah, tidak..."
__ADS_1
Betapa sulitnya menutupi perasaan galau. Ririn kali ini tidak merasa dirinya perempuan terbaik. Melainkan dia berupaya cari pendamping berjiwa besar.