SEBENING AIR MATAMU

SEBENING AIR MATAMU
Sapu Tangan


__ADS_3

Belum pernah terbayangkan, ketika Rika mencoba dunia baru. Yakin mau cari pasangan hidupnya. Ada serupa motivasi tinggi muncul tanpa mereka sadari.


Sementara itu Riyan masih menjalani kehidupan baru, dia musti melewati terapi secara berkesinambungan. Dugaan pertama adalah kecenderungan daya ingatnya terganggu. Tindakan medik perlu lanjutan demikian penegasan dr. Fika. Hasilnya belum merujuk pada fase penyembuhan. Ada kalanya Riyan tidak mengenai dirinya sendiri. Jikalau berangkat ke kampus harus dapatkan pengawasan khusus. Dua orang suruhannya pasti dengan ringan tangan.


Di ruang tengah dr. Fika tengah rehad. Lagi asyik baca buku dan buka file pasien. Dari suster rumah sakit sering menanyakan kondisi pasien di salah satu kamar. Ruangan terasa hening, Rika ingin cari tahu seberapa deket tantenya sama Riyan. Semula ragu-ragu mau tanyakan soal penyakitnya.


"Ada perlu apa...?"


Rika malu-malu buat menjawab secara langsung, seolah hatinya tergetar hebat waktu menatap wajah dokter Fika.


"Sedari tadi saya perhatikan engkau demam atau punya gejala lainnya. Rika jaga kondisi tubuh jauh lebih penting. Ketik kamu makin kelihatan bersalah, maka semuanya akan mudah menerkanya." kata dr. Fika.


"Ah, itu hanya dugaan tante."


Cerdiknya buat kasih ulasan, bila asmara sudah mulai bicara. Mudah sembunyikan isi hati, tapi tampak jelas lewat pancaran mata. Rika berusaha sembunyikan perasaan waktu naksir sama cowok bertubuh maco. Selain ada gadis berparas ayu juga terang-terangan menolak cinta. Kalo ingat itu Rika akan buang jauh-jauh sangkaan buruk atau penilaian pribadi salah menetapkan pilihan. Dr. Fika hanya senyum lihat reaksi keponakannya, tentu ada dukungan dari suaminya. Rika sebenarnya merasa isi waktu lihat keduanya selalu hidup rukun.


"Kami tidak ingin lihat keadaanmu seperti gadis kebingungan. Rika, akui saja. Buat apa terus-menerus bodohi diri sendiri. Lagi pula kamu di sini kuliah. Bukan untuk jalan-jalan menikmati kota ini.'


Rika terdiam. Wajahnya tertekuk sepuluh. Semula keceriaan itu ada. Mendadak gadis itu malas untuk bicara, terutama bila menyinggung masalah pribadi.


Jagonya dr. Fika buat kejutan sama keponakan paling cantik. Dari balik punggung dr. Fika sembunyikan sesuatu. Rika sepintas lihat benda apa ada di belakang punggung. Sehari sebelumnya Rika dikasih kejutan oleh rekannya.


"Kamu seharusnya bukan begini caranya. Mustinya kamu isi harimu dengan belajar..."


Rika belum juga menunjukkan sikap menerima keadaan. Justru sehari sebelumnya ada kado mungil. Rika tak suka diperlakukan secara diam-diam. Keisengan itu hari ini berlanjut, bahkan boleh dibilang berulangkali diterimanya.

__ADS_1


"Buat apa saya harus perduli? Toh, mereka sama sekali tidak ambil pusing. Sekarang tante menuduh saya melakukan kecurangan? Tidak. Sekali lagi saya tegaskan, kesalahan ini bukan akibat sikap saya pada mereka." Rika tetap pertahankan sikapnya. "Boleh saja mereka katakan saya bersalah. Tapi mereka tidak akan pernah sadar sudah merebut hak orang lain."


"Dengar dulu Rika."


"Ya, saya akan sadar. Bagaimana musti berprilaku baik dan jujur. Dan keputusan apalagi hendak tante capai walaupun kami merugi."


"Baiklah..."


"Tante pasti seratus persen untuk percaya atas ucapan orang-orang?"


"Kita lihat saja nanti. Tante hari ini ada jadwal di rumah sakit. Pesan tante, kamu tidak perlu banyak pikiran. Sekarang kamu fokus saja sama kuliahmu."


"Terima kasih," sahut Rika.


"Barang ini kamu simpan saja. Nanti kalau diperlukan silah disimpan saja.' demikianlah kesimpulannya.


Belum lama ini nilai akademik mengalami penurunan di bidang study terbilang ringan. Kesalahan pertama pasti tertuju sama dr. Fika. Sebagai tante tidak bisa kasih larangan. Hal itu bisa terbukti ketika Rika kedapatan di kampus kerjanya cuma kejar-kejar cowok.


"Kamu tentu sudah punya keyakinan penuh. Saya mau ke rumah sakit. Baru saja ada pasien di ruangan saya. Jadi, kamu tidak perlu ragu selama tindakanmu benar. Kenapa harus takut."


"Ya, terima kasih tante..."


"Kamu terima kado kecil..."


Hampir terloncat Rika dengar tantenya sodorkan sebuah kado kecil. Rika sebenarnya suka terima kado, timbullah rasa penasaran. Lihat gelagat tantenya sedikit menyimpan rahasia. Dia makin penasaran waktu lihat tantenya sodorkan kado. Belum Faisal melambaikan ke arah istri di mobil.

__ADS_1


Hampir setengah jam Faisal nunggu mirip sopir pribadi.


"Katanya mau berangkat cepat. Ayolah, telpon berisik bunyinya.."


"Sabarlah. Ini juga mau ke mobil. Saya berikan penjelasan sama Rika. Kamu kan tahu sendiri, Rika sering bolos kuliah..."


"Ngerti namanya juga anak kuliahan. Kamu sendiri dahulu paling pintar. Ya, terutama soal cari pasangan..."


"Apa yang pembicaraanmu hari ini, kurasa saya harus lebih cepat urusan di rumah sakit...."


Faisal sebenarnya ingin sekali ajukan protes sama istrinya. Fika akan banyak meluangkan waktu, lebih total pada kemanusiaan. Belum ada waktu khusus buat Faisal secara penuh. Dua pekan istrinya dinas di salah daerah pedalaman Sumatra.


"Kapan berangkatnya, apa sudah dapat surat perintah?" tanya Faisal.


Dr. Fika sembari tersenyum lirik suaminya. Dia sebenarnya tidak ingin menambah beban batin sang suami. Di rengkuhnya dengan sepenuh hati, walaupun pada punggung lengan kiri. Ada serupa pancaran kepercayaan kepada suami. Agar nantinya bisa diwujudkan dalam waktu dekat. Sekurang-kurangnya mereka bisa menikmati kebersamaan di kampung halaman. Atau itu sebatas mirip yang sukar dilaksanakan. Biar pun Faisal memohon agar segera di lakukan atas dasar ketulusan.


"Sayang, kamu tidak usah risau. Saya ke daerah bukan sekadar jalan-jalan, melainkan demi menunaikan tugas dinas."


Faisal mengangguk lemas, tapi buru-buru merubah mimik kecewa jadi ceria, dia tidak ingin perempuan di sisinya merasa disudutkan oleh masalah keluarga. Ia segera pegang kemudi. Sorot matanya masih terlihat datar, tidak ada hal yang sulit dikatakan.


"Kau hari ini jauh kelihatan lebih cantik. oya...." Faisal memohon ada balasan.


Sayang, dr. Fika malas lihat gelagat si ganteng kalau ada maunya. Segera dialihlan pandangannya, seiring mobil melaju deras.belah ke ramaian jalan raya. Pagi itu jalanan Menulis tidak serame hari biasanya. Sedikit terasa hari ini tepat hari pasar pon, jadi pengunjung jauh lebih berjejalan belanja kebutuhan sehari-hari.


"Jadi kamu langsung ke kantor, atau mampir ke Malioboro...?"

__ADS_1


"Belum tahu kepastiaannya. Lagi pula kita baru keluar jalan raya. Saya kebetulan mau beli jenang upih. Kamu mau juga, rasanya enak..."


Istrinya hanya mengangguk tanda setuju. Mobil menepi ke sisi jalan, Faisal sengaja beli makan kesukaannya. Semenjak kecil Faisal paling suka sama makan khas bukit Payaman. Terbungkus dari pelepah pinang berbentuk kerucur, putih berlapis dan disiram pakai air gula merah.


__ADS_2