
Di ruang tengah telpon terus berdering. Waduh, suaranya bikin telinga pecah. Maka terburu-buru Ririn cari sendal di bawah sofa. Kakinya kesana sini cari sandal, belum lagi hatinya tenang menunggu jani Aldy untuk mengajaknya ke rumah agenda ramah tamah.
"Hallo..." akhirnya Ririn angkat telpon.
"Kamu bisa kesini? Oya apa kabarnya? Masa kamu lupa coba ingat-ingat lagi. Ya, sudah beberapa hari ini aku terlalu sibuk kali ya!"
Ririn mengernyitkan dahinya. Ada serupa menerawang jauh, ia sulit.buat menerka suara siapa gerqngan? Kali ini Ririn makin tambah rumit pikirannya.
"Hey, kau tak perlu berkata-kata. Sekarang katakan saja, apa maksudmu?" Ririn geram.
Kalo saja orang itu persisnya bisa dikenali. Dia akan sambangi dan melabrak sama karyawannya atau teman kuliah. Tapi.penelpon di ujung sana kelihatan senang permainkan lawan bicaranya.
"Tapi bos..." Kijeko ikutan
Riyan angkat jarinya persis di ujung bibirnya. Dia tidak mau hari-harinya dilanda kebimbangan. Seumur hidupnya baru ini kali pertama di mabukkan oleh namanya Cinta.
"Sayang... Tentunya kau tidak akan pernah lupa ya. Nanti sore aku mau kirimkan sesuatu..."
Demikian janji gombal penelpon aneh. Akhirnya Ririn banting gagang telpon keras. Hatinya makin terguncang oleh ucapan lelaki di ujung telpon. Dari pendopo Linda dengar ada suara keributan kecil. Belum juga Linda memasuki ruang tamu. Lihat putrinya duduk sambil pejamkan mata.
"Ririn..."
Direngkuhnya tubuh ramping itu. Curahan kasih melambari keduanya. Sifat saling melindungi perlahan dirasakan Ririn. Ia bisa berharap kejadian mesra akan terus berlanjut.
"Kamu kenapa sayang? Mama dengar dari luar kedengaran emosi sekali. Coa mama ingin denger apa yang sedang terjadi?"
"Ndak apa-apa mama.Tadi ada orang iseng saja." Ririn tak sampai hati. "
"Sayang? Kamu tidak perlu risau. mama bisa rasakan apa yang kamu pikirkan? Jadi untuk saat ini kamu musti bisa menenangkan diri. Karena itu jalan terbaik."
Linda sangat prihatin lihat kondisi putrinya. Sebelumnya Ririn tidak pernah segalanya ini. Dia suka menyendiri atau melamun di teras.
"Oya, gimana kamu hari ini berangkat kuliah. Soal kemarin jangan dipikirkan terus. Akibatnya kamu malas kuliah dan hebatnya lagi sanggar kita kehilangan sugesti."
"Terima kasih ma," Ririn lepaskan pelukan
Mama merengkuh bahu Ririn. Seolah berikan ketegaran bahwasanya 😘 masa depan itu akan terlihat nyata. Jika dia mampu.mewujudkan dalam.bentuk lebih riil.
"Kamu harus bangkit singkirkan rasa malas. Hari esok akan kau tentu hari ini. Kamu upayakan masuk kuliah lagi..."
__ADS_1
"Tapi..."
"Mama tidak mau kamu menyesal. Kan sayang kuliahmu jadi ketinggalan. Sekarang lekas bersihkan badanmu."
Tumben Linda menaruh perhatian sama Ririn. Suaminya juga jarang sekali menaruhkan simpati. Ia mau banyak tanya mengenai hubungannya sama sorang cowok tampan.
Tidak berapa lama Handoko muncul sambil bawa bingkisan. Rangkaian bunga. Air mukanya merah padam, ada sebuah tulisan tangan. Linda menoleh waktu dengar suaminya langkah kaki. Sampai terkaget-kaget Linda saling bertatapan. Debaran jantungnya makin berdetak keras. Jangan sampai Handoko.menjatuhkan amarah sama istrinya.
"Kau tahu apa yang kau lakukan sekarang ialah kesalahan."
Linda gemetaran denger gaya bicara Handoko keras. Keduanya sering melontarkan argumen beda. Sikap tegas Handoko sebenarnya ingin menunjukkan sikapnya untuk kepentingan keluarga.
"Saya sebenarnya sangat kecewa. Mama apa artinya semua ini. Saya mau dengar sendiri dari Ririn..."
"Pa.... jangan terlalu memaksakan kehendak. Belum tentu bermain api? Kita tidak boleh menuduh tanpa alasan."
"Trus apa kau juga mau dukung, Ririn? Kita sebagai orangtua berkewajiban untuk melindungi. Bukan sebaliknya berikan ancaman baru. Atau saya sendiri cari tahu?'
Sekilas Linda baca tulisan di rangkaian bunga masih dalam genggaman tangan Handoko. Keraguan pertama setega itu suaminya sangat disayangi mendua hati. Semula Linda berusaha tenang dalam hadapi keangkuhan Handoko.
"Semua kebetulan saja, memang tanpa kesadaran kau tidak pernah akui hal ini. Berulang kali kau berkata jujur. Ternyata semuanya sebagai kedok semata."
"Ya siapa saja boleh percaya. Mas Handoko tidak perlu menjelaskan bunga itu dari siapa?Terpenting benda munafik itu jatuh di tanganmu...!" Linda sulit emosi.
"Tunggu dulu. Engkau sering menuduhku tanpa alasan. Baiklah. Boleh saya jelaskan?" Handoko memohon.
Linda jelas sekali ingin menumpahkan isi hatinya. Sekian lama dia bertahan tanpa arah kepastian. Andai saja Linda mau memutuskan ikatan perkawinan. Karena dirasakan tak elok, perempuan terlalu banyak ajukan tuntutan pada suami. Linda duduk pula di sofa sambil bermuka tertekuk sepuluh. Perempuan mana rela lihat suaminya bermain gila sama perempuan tidak tahua asal-usulnya.
"Ya tentu... Engkau mau berkelit lagi sama bunga itu," tuduh Linda ta kalah jengkelnya."Terus dari mana bunga di tanganmu? Turun dari langit. Alangkah hebatnya engkau dapet anugrah?"
"Sayang, kamu selalu berpikiran buruk. Saya sibuk hanya untuk kalian semua. Sekarang kamu menuduhku berbuat salah. Sekali lagi saya tegaskan, bunga ini dari mang Uge."
"Cepat panggil mang Uge. Supaya kita bisa mendengar kejadian sebenarnya. Siapa tahu ini sebuah alibimu."
"Baiklah. Saya cari mang Uge. Dia sepenuhnya harus bertanggung-jawab atas kejadian di rumah."
Handoko bergegas ke halaman, matanya coba mengitari sekeliling halaman. Mustinya mang Uge ada di sana. penuh keluh kesal lihat dua pembantu tidak muncul, sampai akhirnya Handoko ke dapur. Sedangkan Linda masih simpan rasa kesal. Dia diperlakukan macam perempuan kurang tanggung-jawab, ketika dia mau dicampakkan.
Mang Uge bukan kepalang kagetnya dengar panggilan dan langkah majikannya. Keringat dingin basahi kening, begitu lihat muka majikannya kelihatan tegang. Buru-buru mang Uge ambil sikap sempurna. Berikan hormat begitu Handoko menarik prah baju. Ada sebuah kecemasan atas kejadian di hari sebelumnya.
__ADS_1
"Saya cari mang Uge ke mana saja? Pasti kau sudah tahu tujuan saya?" geram Handoko.
"Bener saya tidak tahu ndoro Mas..."
Mang Uge sujud sungkem, itulah tanda pengabdian sebagai pembantu. Lelaki itu tetap taat dan bakti apa saja perintah sang majikan. Ketulusan hati mang Uge patut ditiru. Karena itulah Ririn selalu menaruh rasa simpati sama mang Uge.
"Saya paham kau tidak salah. Sebagai penerima bingkisan, tolong jelaskan pada istri saya."
"Saya cuma menerima saja. Lain tidak," sahut mang Uge.
Secara patuh mang Uge menuruti permohonan Handoko. Langkah keduanya sedikit tergesa. Linda sudah.menunggu lama di ruang tamu.
"Ayo cerita saja, mengenai pengirimnya? Sebutkan ciri fisik selengkapnya tanpa menutupi kejadian sebenarnya."
Linda tentu geram lihat kedatangan pembantunya. Gara-gara mang Uge keadaan di rumah ini selalu riibut oleh masalah sepele.
"Tunggu apalagi, lihat saja dia tidak mau jelaskan? Kau tahu dan seperti apa kami sering diributkan. "
Sekali tempo mang Uge melirik kearah Linda. Sosok tegasnya bikin nyalinya menciut. Jarinya sampai gemetaran di hadapan majikan sudah menuduh berbuat salah.
"Maaf saya akui kesalahan buat menerima bunga. Tapi itu karena ada paksaan dari pengirimnya. Mereka akan kembali lagi kalo saya menolaknya."
Penjelasan mang Uge sangat tidak masuk akal. Kurir bunga melakukan penekanan setiap ke rumah Ririn. Bahkan menanyakan telah diterima dengan baik belum. Pastinya mang Uge menjawab sudah diterima ada balasannya. Sikap kekonyolannya justru berbalik sebagai bumerang. Bagaimana tidak kurir terus memaksa. Sekalipun mang Uge berupaya menjelaskan sedetail mungkin tentang ciri-ciri fisik kurir. Linda tidak mau berandai-andai atas keterangan mang Uge ditelan mentah-mentah.
"Kata kurir bunga itu buat non Ririn."
"Apa mungkin? Mang Uge tidak perlu takut atau sungkan. Saya lebih suka kau bisa jelaskan. Tanpa ada desakan apa pun."
Linda berdiri. Matanya begitu nanar. Layaknya ingin menelan mang Uge hidup-hidup. Seluruh emosi macam sudah tinggal meledak diubun-ubun.
"Saya sepenuhnya tidak percaya. Pasti ada kerja sama mang Uge!" suara linda meninggi.
"Tunggu dulu, berikan mang Uge waktu," kilah Handoko. "Bagaimana pun dia berhak melakukan pembelaan. Lagi pula dia sebatas menjalankan tugas. Terus kamu mau menuduh macam-macam. Ada baiknya kita tanyakan sama Ririn..."
"Jangan pernah bicarakan ini sama Ririn. Asal kamu tahu saja, Ririn sudah tahu semuanya. Saya tidak menyalahkan semua ini atas dasar ingin cari pembenar. Tapi..."
"Sayang, sebaiknya kita jangan berburuk sangka."
"Mana ada istri harus ikuti kemauan suami. Kalo kamu benar jalannya, saya sampai maut menjemput ikut serta...."
__ADS_1
Menjelang petang Linda tidak akan pernah tentram. Sebelum suaminya mau berterus terang adanya perselingkuhan.