SEBENING AIR MATAMU

SEBENING AIR MATAMU
Grojokan seribu


__ADS_3

Duduk bersandar di kerosi malas, singgasana bundanya masih tetap posisinya. Sedikit pun tidak ada yang ganjil. Bahkan Ririn belum memiliki nyali untuk menegur bundanya. Wajar saja kalau Ririn belum ada keberanian untuk mengajukan permohonan buat rencana pribadinya.


Mungkin saja Ririn harus berpikir berulang-ulang tentang berkunjung ke salah satu tempat. Di antara orang pertama mengkhawatirkan dirinya papanya. Bila melihat gelagat bundanya, masih timpang sebelah dalam berikan izin. Lagi pula urusan kantor, sanggar dan kuliah tentu banyak tertinggal. Sangat sulit mengatur waktu luang, acap kali papanya kasih masukan...


Sayang Ririn punya alasan lebih tepat buat angkat satu asisten di sanggar Gamplong. Belum lagi di meja telpon meronta-ronta minta diangkat. Duh, kalo rasa males itu lekas bersemayam di harinya. Gadis itu jauh lebih suka ditraktir makan di angkringan. Kan mulai terlintas sosok tampan itu lagi. Maksud hati ingin memeluk gunung, apalah daya tangan tak sampai.


Ya, benar adanya. Singgasana bunda selalu menghadap ketimur dengan latar belakang persawahan. Beliau sering memanjakan mata ke sana, terutama di musim tanam dan panen raya. Gadis dan pemuda senang bersenda gurau. Pemuda lain memainkan dramenan ( terbuat dari batang padi ) suaranya riuh, bercampur seruling anak gembala. Pemandangan inilah kadang sulit dilewatkan sama bunda. Ririn menyesal mau lewat taman. Pastinya bunda melihat dirinya melintas.


"Rin, apa hari ini kamu libur belajar?" benar saja suara bunda. "Kamu nanti kecapean, trus jaga kesehatan itu penting..."


Benar saja dugaannya, bunda sudah pasti tahu segala gerak-geriknya. Intinya saat ini Ririn mendapatkan peringatan agar jangan memberati kerja. Sementara urusan pribadinya banyak tertinggal, sibuk sama kepentingan orang banyak. Ia juga menaruh perhatian sama bundanya, masih mengingat kakaknya di luar negri. Semestinya mereka akan melewati hari-hari menyenangkan salah satu makan bareng di telaga Sarangan. Usaha itu sulit sekali diwujudkan dalam waktu dekat. Karena tiap kali Elyana dihubungi via telpon, jawaban sedang dicarikan waktu yang tepat. Ada rasa kecewa itu seolah banyak jurang-jurang siap menelannya hidup-hidup. Ketika bunda selalu memikirkan keberadaan putri kesayangannya. Agar kebutuhan finansial Elyana segalanya akan diinvestasikan. Dari sanalah Ririn akan menelaah lebih dalam lagi, nantinya bunda mudah naik darah. Akibatnya, kesehatan bunda gampang terganggu.


Ririn layak baru dibangunkan dari tidur panjangnya. Dia dihadapan bunda selalu tidak punya kemampuan secara akademik jauh di bawah Elyana. Mau protes. Di rasakan sulit diterima oleh kenyataan sebenarnya.


"Bunda. Tidak perlu memikirkan saya, lagi pula Ririn sudah bisa mengatur pekerjaan dan lainnya."


'Tapi kenyataannya. Kamu selalu sibuk urus usaha papamu. Kan bisa dilihat sehari-harinya."


"Ya, nanti Ririn usahakan."


Kalau urusan janji, Ririn bisa atur semua permintaan bunda. Kendatipun ia harus berjuang meraih impian. Setiap hari ia bisa rasakan kerasnya bimbingan di rumah ini. Sebenarnya kejadian di masa kecil cukup sebagai landasan masa depannya kelak. Ririn takut helaan nafasnya diperhatikan sama bundanya.


"Kenapa Ri? Kamu bersikap diam. Apa itu artinya kamu juga menyetujuinya? Bunda harap kamu bisa memahami semua ini."


Sejak kapan bunda selalu menaruh perhatian kepada Ririn? Hal inilah pertanyaan mendasar makin berkembang, ia harus merelakan banyak waktu menunggu. Ririn tak kuasa menahan linangan air mata di tirus pipinya. Secercah harapan itu silih berganti bayangi dari kelopak matanya.


"Bun, saya siap-siap dulu."


Bunda sebenernya tidak kasih ijin Ririn harus sibuk dan pergi jauh dari rumah. Beliau bukan tipe langsung buka rahasia pribadi, sekalipun ada ribuan pertanyaan dapat Ririn terka. Nantinya dianggap lancang telah menuduh orangtua berbuat kurang pantas. Parahnya lagi dituding anak durhaka. Tentu siapa pun akan menghindari hal serupa. Sekurang-kurang dia mampu dikatakan anak berbakti.


Kali ini, Ririn sudah terlihat rapi, wangi. Si koko yang terkenal rajin menyapa pemiliknya. Sangkar ini sudah setahun dihuninya, nampak bahagia saja, tapi waktu Ririn keluar dari rumah. Sama sekali tidak kedengeran keriuhan ketika matahari tersenyum pamerkan kebahagiaan.


"Ndoro ayu...."


Suara mbok Ipah memotong langkah. Raut muka perempuan itu kelihatan aneh di mata Ririn. Sikapnya belum pernah menunjukkan gelagat kurang suka. Kegiatan di dapur bisa ditinggalkan, pastinya ada kabar kurang diterima sama Ririn.


"Kamu ini kenapa toh, mbok. Bikin saya jantungan. Trus kalo saya terjadi apa-apa gimana?"


"Kanjeng mami...." mbok Ipah tergopoh-gopoh. Gugup. 'saya lihat kanjeng mami nangis. Suaranya pelan menyayat hati. Saya ndak tahan melihatnya, terus ke sini."


"Pasti simbok salah lihat. Kanjeng mami mana mungkin sampai sedih. Biar nanti Ririn ke taman."


Ririn bergegas ke taman, ia urungkan niat langkahnya. Berdiri tertegak. Layu. Sendu-sendu kelabu, hati-hati dekap bundanya dari arah belakang.


"Bunda.... Ada apa sih, bun...?"


"Lho, kamu belum berangkat juga. Kamu lihat sekarang sudah jam berapa? Nanti kuliahnya ketinggalan jauh."


Ririn masih tertegun, tak sanggup untuk menusuk hati bunda. Berulangkali dia tak mau disebut gadis beraklak minus. Tertepis oleh pribadi lembut Ririn waktu bertutur kata.


"Bunda ini...? Percaya sama putri cantik. Tuh kan, jadi kelewatan Ririn bicaranya," pancingnya bernada sayang.


Suatu saat nanti bunda akan tanggap tujuan Ririn bersikap lembut, supaya bundanya hidup tanpa tekanan macam-macam. Akhirnya pembicaraan keduanya mulai mencair. Semula banyak muncul letupan di sana sini. Ririn kali ini tidak ingin menumbuhkan apa yang bergejolak dalam benaknya.


Persis setengah jam Ririn mematung cantik di taman. Beruntung ada burung kesayangannya kejenuhan bisa di usir oleh kicauan si koko. Kasihan pula Ririn lihat burung peliharaan murung macam kurang makan. Sebenarnya ada kerinduan yang lain juga dirasakan. Ririn sekarang merasa bersalah guna menjalankan bidang usaha barunya. Atas falsafah itulah bunda akan acungkan jempol bagimu.


"Uh. kalo sudah waktunya. Pantas juga dipisahkan," selorohnya.

__ADS_1


Ririn mengernyitkam sebelah matanya. "Mbak ini harus bisa mengatur waktunya."


Sejak kapan ndoro ayu terus marah-marah, mbok Ipah cepet pergi ke dapur. Wajahnya mendadak murung karena dia dituduh kasih laporan salah. Ya, kalo ditanya pasti kanjeng mami selalu terlihat murung. Ririn punya keyakinan bahwa Bunda akan tersenyum. Ketika lihat dua putri cantiknya akan hidup berdampingan.


Kring. kring. Wihh, membuncah rasa di hati Ririn. Inilah dia bisa punya alasan untuk segera berangkat dan mohon diri sama bunda. Kanjeng mami mengulas senyum bangga.


"Kamu tuh, pinter, luwes dan bersahaja. Bunda pastinya berharap kamu bisa menjaga nama baik keluarga."


Demikian klimaksnya nasehat bunda pada putrinya.


"Saya di jemput, bun...!?"


"Iya, hati-hati di jalan. Nanti pulangnya jangan malam-malam. Bunda mau pesan sego gudeg...."


"Berapa pincuk?"


"Dua saja."


Sehabis bawa barang dan tas, penjemput sudah lama menunggu. Sementara Dito asyik perhatikan gerak-gerik kakaknya. Dia kali ini senang bikin Ririn geregetan. Beruntung Ririn sudah melihatnya, jangan sampai kejadian buruk menimpanya lagi. Dito hanya nyengir kuda gitu. Ririn acungkan tangan ke arah Dito.


Tanpa disadari sosok tampan kasih perhatian khusus. Ririn jadi malu-malu diperhatikan gitu. Ia sebenarnya ingin bersikap bersahaja. Sekadar membalas senyum, nanti dianggap gadis murahan. Karena itu bukan pribadinya yang selama ini dipertahankan. Harus runtuh sama ajakan buat jalan. Seminggu lalu Aldy berkirim surat, bahwa dia ingin mengajak Ririn ke suatu tempat. Aldy turun dari mobil, Ririn lihat postur tegap sudah berdiri dihadapannya. Semula ia mau alihkan pandangan mata, seolah mata tajam hunjam ke jantungnya. Perlahan-lahan citra kegarangan luntur oleh seulas senyum tipis. Pras... busur panah senyum Aldy tepat mengenai sasaran di jantung Ririn. Imbasnya gadis mana pun pasti bertekuk lutut dihadapannya, maka banyak bermunculan sikap kurang terpuji sama gadis.


"Gimana sudah siap kelihatannya."


"Tentu. Tapi ada baiknya kita pamitan dulu. Ayo, ke bunda dulu.!"


"Sebentar..."


"Lho masih ada urusan apalagi. Kita pamitan ke orangtuamu dulu. Saya tidak mau bawa anak gadis orang tanpa permisi."


"Ngerti..."


Aldy buka pintu mobil untuk Ririn layaknya mempersilakan seorang putri raja. Tubuhnya setengah bungkuk seraya tangan kanan melambai. Tentunya diikuti senyuman manis. Di tutup kembali pintu.mobil, Aldy berlari kecil mengitari mobil dan duduk disamping gadisnya. Jiwa besarnya sangat menarik simpatik Ririn. Sebenarnya dia tidak bermimpi, inginkan akan jadi kenyataan di hari-hari selanjutnya.


"Rin...."


"Ya, aku bisa denger?"


Jujur Aldy mau ungkapkan seluruh isi hatinya. Ia kembali lirik wajah Ririn semu memerah jambu. Tuduhan pertama: Ririn sudah mulai menjatuhkan pilihan. Di hari lainnya gadis itu mudah saja menolak ajakan Aldi.buat berkunjung ke suatu tempat. Ternyata hari inilah keduanya dapat menyatukan langkah pada hubungan yang memiliki komitmen.


"Boleh dong aku ucapkan terima kasih, kan waktumu terlalu rapat. Jadi sulitlah cari jalan ketemuan."


"Engkau ini bicara apa sih? Kuharap pujianmu jangan berlebihan. Penglihatan seseorang kadang tertipu diawal atau diakhir. Apa kamu tidak ada rasa ketakutan...?"


"Okey...?"


Mobil meluncur ke jalan Samigaluh yang nampak lengang. Petani mendong masih merapikan pematang dan sebagian lagi memanen mendong ( bahan ayaman tikar ). Ririn sangat menikmati perjalanan ini, di dalam hati ia sempat tanya hendak ke mana Aldy mau pergi tamasya.


"Jangan banyak melamun..."


Ririn melirik ke sisi kanan, tertegun, senyap, tiupan angin gerakkan ujung rambutnya seolah-olah sembunyikan rahasia pribadi. Sebatas kagum. Mana mungkin Ririn akan bohongi dirinya. Apakah dia tidak boleh jatuh hati pada seorang pria. Padahal pria itu sudah memenuhi kriterianya, cerdas, cerdik pandai, tampan, kaya raya. Mana lagi engkau dustakan.


"Engkau setiap hari ngajar juga..." selidik Aldy. "Ya. Saya dengar dari temen.Trus bundamu mengatakan Ririn pekerja keras."


"Biasa saja. Jangan terlalu dibesar-besarkan. Bahkan tidak ada dikhawatirkan."


Aldy memang asyik mengemudikan mobil, biar pun sesekali sorot matanya sedikit menyelidik. Betapa cantiknya gadis di sampingnya, terselip pertanyaan apakah mungkin Ririn bisa menerima segala kekurangannya.

__ADS_1


'Kau tentu punya alasan buat ajak aku ke salah satu tujuan wisata ya. Ayolah, ceritakan lokasinya. Ayolah!


Jangan bikin hatiku tambah sakit lagi. "


"Sabar dulu..."


"Buat apa aku dusta padamu. Terus dimana aku bisa memetik hasilnya.


Mobil kesayangan Aldy melaju lebih kencang di jalan pasar Godean. Ririn minta menepi ingin beli makanan ringan. Doski langsung memilih makan krimpring, rempeyek, bakpia, jenang gulo. Terheran Aldy lihat keranjang dalam genggaman tangan Ririn penuh barang belanjaan.


"Heran....?"


Bukan malas Aldy mau jawab, melainkan dia ingin jebak Aldy buat nraktir gadisnya. Sekiranya ujian ini bisa dilewatkan, dia benar-benar pantas sosok lelaki bertanggung jawab yang nantinya jadi calon suami.


"Aku tidak mau terjebak lagi.'


"Ge-er. Siapa lagi..."


"Ya sudah. Tuh kasir nungguin!"


Dengan tersipu malu Aldy ke kasir melunasi belanjaan Ririn. Ya. Habiskan isi kantongnya... di sisi lain Ririn menahan tawa.


Berselang satu jam Ririn kecapean, habis makan cemilan, rasa kantuk itu terus menyerang. Tubuhnya sesekali limbung roboh kebahu Aldy. Huuh... wanginya rambut panjang gadis ini, sebelumnya ia takkan mampu melupakan kemesraan. Memasuki jalan Langensari Ririn bangun dan perlahan buka mata. Buru-buru merubah gaya duduknya. Aldy melirik dan menikmati pemandangan hangat.


"E..... maaf saya ketiduran."


"Saya kira kamu terlalu capek. Maka harus banyak istirahat."


"Terima kasih."


"Kenapa bilang ke saya?"


Ririn jadi sewot dibilang sok cari perhatian. Sifat perempuan demikian adanya. Mudah emosi, tersinggung belum lagi gede ambeknya. Aldy akan berusaha merajuknya agar kekasihnya tidak lekas marah. Untuk memasuki kawasan wisata Tawang Mangu extra hati-hati, melihat sisi jalan jurang. Aldy jadi tidak bisa menanggapi omelan Ririn, karena keselamatan jauh lebih penting. Lagi pula dia memiliki rasa sayang. Hawa dingin mulai menyergap, ada ketentraman tersirat dari wajah penduduknya. Ririn menurunkan kaca jendela mobil, matanya tidak lepas menikmati pemandangan. Pohon-pohon pinus saling berlarian, sekilas ia melirik kearah Aldy.


"Gimana menurutmu? Apakah tempat bikin hatimu lebih baik lagi."


"Ya, saya berharap demikian bisa liburan baik..."


"Jadi aku tidak mengecewakan dong."


Ririn masih menikmati pemandangan dan monyet liar juga turun kearah parkiran mobil. Keduanya turun dari mobil, Aldy menggandeng tangan kekasihnya seolah tak ingin lepaskan genggamannya. Ada serupa ketenangan menjalari pori-pori kulit dan mengikatnya pada ujung hati terdalam.


"Ririn mau langsung ke gerojokan...?"


"Takut..."


"Kamu tidak perlu takut, coba pengunjung lainnya. Lihat saja mereka jauh lebih menikmati. Apa mungkin kamu masih berdiri disini tanpa kepastian."


Ririn berusaha bela diri, enak saja dikatakan penakut. Dia selalu terlihat berani untuk menghadapi segala kejadian kecil di persawahan. Suka rela bantu petani mendong waktu ketemu ular sawah. Perempuan paruh baya itu lari tunggang langgang, santai Ririn halau ular sawah biar menjauh. Aldy tertawa lepas waktu kekasihnya menceritakan kembali kejadian di persawahan.


"Kamu boleh saja tidak percaya..."


"Iya saya percaya. Lagi pula dilihat kamu cekatan dalam mengatasi masalah di sanggar."


"Jangan suka memuji," potong Ririn.


"Bukankah kenyataannya begitu..."

__ADS_1


Aldy ingin meraih tangan Ririn untuk menuruni anak tangga. Angin bertiup basah oleh percikan air terjun. Butirannya halus menimbulkan hawa dingin sampai menggigit tulang.


__ADS_2