
Tembang asmarandono masih dilantunkan lewat radio kecil. Suara memang tidak sejernih radio modern. Tempat biasanya bunda banyak habiskan waktunya di sana. Suasana sendu tercipta oleh alunan tetembangan bikin dia hanyut.
Pagi ini Ririn akan seperti biasanya, berangkat kuliah bawa setumpuk buku. Mobil honda brio jadi perpus berjalan, ini terbukti deretan buku di bagasi mobil. Layaknya orang mau lakukan kunjungan tempat anak-anak kumpul di ruang terbuka. Dukungan juga terus mengalir dari berbagai pihak, di antaranya teman kampus. Rika turut andil dalam pelbagai event kecil.
Peluang bisnis juga sedang mengalami kemajuan secara finansial. Makanya kabar ini akan disampaikan sama bunda yang masih dalam perawatan. Meskipun hatinya belum bisa sepenuhnya leluasa buat bergerak. Hal ini terbukti papa sedikit pun tidak menaruh rasa demikian mendalam. Alasan Handoko sederhana ingin cari kebebasan semata. Setiap ruang geraknya dihalangi oleh permohonan istri. Bahwa dia tidak perlu larut dalam pencapaian segi finansial.
Tampak heran Ririn waktu lihat ayahnya masih duduk di ujung taman. Sepi. Hening tidak juga menjadikan rumah menjelma kata persinggahan' saja. Duduk sendiri di temani secangkir teh, tentu bunda cepat sajikan cemilan kesukaan ayahnya. Dalam akhir pekan kedua rasa kehilangan itu juga menerpa. Malas Ririn ingin minta izin berangkat kuliah. Sepintas ayahnya melirik kearahnya posisi berdiri.
"Kamu hari jadwal kuliahnya padat..."
Bosan!
Ini bukan alasan yang dibuat-buat, ketika Ririn lihat ayahnya masih duduk dengan lihat bunga bermekaran. Kiranya tempat favorit mereka waktu melewati masa indah. Bunda selalu teliti dalam menata pot bunga. Tidak satu pun terlewatkan pot dalam pengawasannya. Kondisi sakit saja bunda sering menitip pesan sama pembantunya. Agar penyiraman lebih teratur. Sebagai anak tentu ambil bagian buat urus bunga. Ayahnya masih belum bisa percaya bahwa kondisi istri mulai membaik. Dua pekan saja Linda tak ada di rumah serasa seisi rumah kehilangan.
"Pagi pa..." sapa Ririn manis.
Ia kecewa. Kenapa ayahnya belakangan ini sulit diajak bicara? Sampai buat sarapan Ririn lebih suka makan di angkring pasar Godean. Jawaban mohon pamit musti dilewati oleh menit. 10 menit nunggu jawaban pastinya kesel dong. Sabarlah dia.
"Ya, hari ini kamu tentu sibuk untuk mengatur semuanya. Duduklah dulu, papa ingin bicara. Apa kamu bisa melayang waktu?"
Tentu ada kegembiraan di wajah gadis itu. Bahasa cinta mereka bagaikan di kubur dalam peti. Sehingga sulitlah untuk buka sisinya. Wajar gadis itu melakukan menutup diri di kamar. Hari ini adalah lembaran baru, siap ditorehkan tinta emas. Kadang terlupakan oleh batasan waktu. Nyaris menitikkan air mata biru, awal mereka tinggal di sini tidak ada perselisihan paham.
__ADS_1
"Tidak sepadat kemarin, pa."
Lugas dan simple jawaban Ririn, kali ini tidak memohon balasan apa pun dari ayahnya. Sebagaimana Elyana menurut agar dia bisa menempuh ilmu di luar negri. Pilihan tersulit bagi keluarga Handoko, awalan kejadian di rumah ini masih bisa dibilang hidup rukun, tentram. Kenapa mendadak ayahnya mulai berulah kenal sama seorang gadis. Ririn sebenarnya tidak intervensi sama ayahnya, kekuatan pertama di rumah ini ialah figur seorang ayah.
Jarang sekali ditemukan perselisihan terus berlanjut. Bunda musti menanggung beban moral dan fisik. Ririn ambil posisi duduk agar samping kanan ayahnya. Ia lebih memilih ini karena posisi itu tempat Elyana duduk. Tentu ada pandang berbeda waktu Handoko bicara lugas tapi tegas.
"Papa belum bisa menerima keadaan ini. Bunda kamu masih dirawat, kita harus hadapi di hari-hari mendatang. Apakah kakakmu sudah dikabari? Rin. Sudah dapat kabarnya?"
Handoko lihat putrinya ada perasaan mengganjal di relung hatinya. Ternyata kesadarannya tidaklah merubah keadaan jadi lebih baik. Kejujuran jauh dibutuhkan, ketika seseorang kehilangan pegangan hidup. Bilamana hanyut di sungai rumput akan ditarik atau diraihnya. Demikian pula Handoko serupa kehilangan pedoman hidup. Orang yang dicintai akan banyak kealpaan atas kehidupan sehari-harinya.
"Kenapa Rin...?" Handoko guncang tubuh putrinya. " Kamu mustinya bisa menilai secara gamblang."
"Papa...! Ririn sekarang tidak tinggal diam. Mustinya papa bisa menilai sendiri, bunda sudah cukup menderita tekanan batin. Apa tidak bisa papa cari jalan sendiri? Bunda terlalu banyak yang harus dipikirkan"
"Saya tidak tahu harus berkata apa. Bunda terlalu sering disakiti, tiba-tiba ingin meminta maaf. Apakah ini bisa dikatakan logis. Setelah bertahun-tahun lamanya kami menunggu, papa tidak ada sikap ingin meminta maaf."
"Papa belum selesai bicara. Kamu boleh berikan pandangan tentang keputusan bunda. Seharusnya kita bisa..."
Ririn berdiri. Suara kerosi didorong paksa. grak. Handoko kaget pula lihat putri berlaku tak sopan. Apa rasa sopan santun telah tiada? Wajah keheranan, tidak disangka Ririn berani berlaku kasar sama papanya. Dia sulit bendung segala bentuk emosinya. Dari waktu ke waktu papa perlakukan bunda tanpa mengenal jadi dirinya.
"Siapa pun tidak bisa membenarkan sikap papa. Apakah pantas papa perlakukan bunda didiamkan, sementara papa lagi..."
__ADS_1
"Cukup! Papa tidak akan melakukan diluar logika. Kamu musti bisa mengerti, kenapa papa selalu bersikap kasar atau menelantarkan bunda. Sama sekali papa tidak mau permasalah ini harus di peruncing.'
"Tapi pa? Ini diluar batas kesabaran bunda. Terus papa masih mau bertahan dengan sembunyikan permasalah atau lari daripada kenyataan." sanggah Ririn dan berusaha bela diri. "Seharusnya bunda dapat perhatian lebih dari seorang suami. Apa yang diperoleh bunda? Kegetiran..."
"Maafkan papa. Kamu bisa memaafkan papa?" suara Handoko macam terbata-bata. "Pagi ini kita sama-sama ke rumah sakit."
"Bunda belum siap, pa...!"
Kali ini Ririn tak kuasa menahan butiran bening itu. Sekian lama ingin tumpah, kenapa saat indah dulu masa kecil sulit digantikan. Ia sedikitpun tidak perdulikan panggilan papanya. Telinganya macam tertutup oleh bongkahan tanah liat.
Brak. Suara pintu kamar di banting, Ririn bantingkan tubuhnya dipembaringan. Raungan tangisnya pecah juga, siapa lagi orang di rumah ini bisa dipercaya. Deretan pikiran sama bunda terus bayangi tiap panggilan jiwanya. Pencarian Ririn belum menemukan titik temu, papanya masih menyimpan rapat-rapat permasalah pribadi.
Mbok Ipah coba ketuk pintu anter sarapan pagi. Tiga kali dia ketuk pintu, belum juga ada sahutan suara dari kamar. Tiga kali pula mbok Ijah ke dapur. Lihat kelakuan lucunya, mang Uge sedikit bayolan.
"Ya harus sabar. Jangan terlalu semangat buat anter makanan ke kamar ndoro ayu. Siapa tahu..."
"Wah, kalo nuduh orang lain pinternya."
"Buktinya."
"Sok tahu, ndoro ayu lagi marah!"
__ADS_1
Keduanya saling adu argumen. Suaranya riuh. Sampai Handoko cari tahu sumber suaranya. Hati-hati menuruni anak tangga, ternyata di ruang tamu.