SEBENING AIR MATAMU

SEBENING AIR MATAMU
Hari pertama


__ADS_3

Bunga di taman tetaplah sama. Dia akan bermekaan saat musimnya.


Sepenggalan kata itu, masih pula diingatnya. Nyaris Sepuluh tahun lamanya Elyana menempuh study, menamatkan S2. Kini sudah menjadi seorang konsultan ternama.Kerinduan akan kampung halaman juga sempat dirasakan. Hatinya macam tergetarkan. Semula dia punya janji itu, ada sebuah tulisan kecil di buku deary pink.


"Ada baiknya kamu mikirin dia. Ya, ini sebatas saran. Saya saja rasakan itu, mana ada sih kita kan jauh dari keluarga."


"Ah, aku sering denger kata-kata murahan."


"Jangan punya prasangka macam-macam. Karena kita tidak bisa menerka tanpa bertatapan langsung."


Sonya paling suka kasih gambaran hidup, bahwa tidak selamanya manusia itu suka melakukan kesalahan. Secara detail Sonya paham akan keinginan lelaki. Sebatas teman dan melakukan rayuan gombal, lalu berjanji akan hidup berdampingan. Elyana perlahan sadar pilihannya akan mengena, artinya kedua orangtuanya menerima. Baru pertama kalinya Elyana terduduk dan terpaku atas ucapan sahabatnya.


"Engkau ini terlampau selektif jika memandang kepribadian cowok. Usahakan penampilanmu di jaga..."


"Kita masih mau duduk terus di sini."


"Ya apa bedanya," sanggah Elyana.


Sonya baru pesan shof drink. Sekedar lepaskan dahaga, Elyana pilih minuman segar jus lemon. Trik diet. Alasan kurang masuk akal.sebagai cara mengalihkan pandangan. Belum cukup sampai.di situ Sonya tawarkan kehidupan glamour. Atas ajakannya Elyana berikan kesepakatan untuk bertandang ke rumah Sonya di daerah Ubud.


"Untuk apa terus mengurusi lelaki tua itu..."


"Hus, kau ini kalo.bicara jangan sembarangan. Saya kerja profesional. Apa gunanya buang-buang waktu percuma. Terus hasilnya nihil, apa kau tidak merasa rugi?"


Kali ini Elyana benar-benar terpojok. Sehingga waktu pribadinya hampa. Dia bahkan sulit berikan kesaksian atas kerja kerasnya. Sejatinya keputusan diambil untuk buktikan pada kedua orangtuanya. Terutama sekali ayahnya punya andil besar atas keberhasilan putrinya.


Elyana lihat buka dan bolak-balik lembarannya. Sekelumit puisi kecil pernah dibaca, itu potongan kata mamanya. Janganlah bergantung sama nagari orang. Uh, rindu itu benar-benar nyata adanya. Tinggal di apartemen tanpa satu orang pun untuk diajak kompromi soal pribadi.


Entah kenapa Elyana lebih suka duduk di sisi balkon pavilium? Atau ada yang cukup menyita arah pikirannya. Andai saja si Sonya tidak bikin ulah lagi. Mungkin kejadian di caffe akan baik-baik saja. Cukup disayangkan sikap Sonya sok ingin jadi orang paling beruntung.


Malesnya angkat panggilan di hp. Begitu dia melirik.ke arah hp. Cepat sekali Tuhan menuntut si Sonya hubungi Elyana. Gadis itu sedikit gusar buat berikan jawaban. Ada serupa dorongan keinginan tahuan.


"Ada apa sih...!" sanggah Elyana ketus.

__ADS_1


Sonya sampai tersentak kaget dengar gaya bicara Elyana. Seolah dia akan menyalahkan semua ini atas rekayasanya. Pelan-pelan Sonya tarik nafas dalam, baru kemudian jawab sambungan telpon.


"Saya paham bener, kamu kesal atas tudinganku. Iya... kamu harus bisa menilainya. jauhkan pikiran picik, sudahlah kita juga sama-sama jadi....?"


Tidak kalah sewotnya, "saya tidak pernah melakukan itu. Apalagi ingin menyakiti orang, diluar kamus kehidupanku."


Selepas pergi dari caffe Elyana nampak cemas, di garis bola matanya menggelantung kehampaan. Dia sekuat tenaga berpenampilan setegar batu karang. Ssulitlah untuk menerka kerapuhan hati. Sebagaimana Sonya prasangka buruk terhadap sahabatnya.


"Kau ini mudah sekali.cari ribuan alasan. Ya, mana ada cowok mau akui kekurangannya. Dia pasti minta diakui semua keunggulannya."


Elyana sebatas tersenyum simpul. Susah untuk berikan tanggapan atas ucapan Sonya. Biar pun dua sosok perempuan tegar dan tegas dalam ambil keputusan. Sonya cenderung lebih menguasai bidang kerja dan sisi hidupnya terlihat happy.


"Aku belum siap kelihatannya, apalagi mau menerima semua usulan konyolmu."


Sonya tertawa lebar, sambil konsentrasi bawa mobil. Sesekali dia berikan komentar pendek tapi pedas terhadap sahabatnya.


"Buat apa?"


"Saya jauh lebih menikmatinya."


Mobil masih melaju dengan derasnya, jalanan Giri anyar terkenal dengan pemandangan. penduduknya suka jalan-jalan, pelancong domistik dan manca negara berbaur dalam satu kesukaan.


Pantaslah Elyana sorot matanya masih sapu jalan. Selama tinggal di Bali dia lebih suka di apartemen dan dunia kantor. Sehingga tidak menutup kemungkinan Elyana kiper sama orang sekitar. Buat meniti jalan setapak dirasakan berat.


Bukan main riangnya Elyana begitu kakinya menjejakkan tanah lahir Sonya. Kecintaan pada dunia seni cukup tinggi. Maka tidak mengherankan jika Sonya bisa menerangkan bagaimana penduduk sini pertahankan ciri khasnya. Kekaguman Elyana bukan tidak punya alasan, melainkan dia bisa hidup berdamping jauh lebih menyenangkan.


"Dari tadi kau melamun melulu..."


"Bukan? Waktu tidak lama, besok aku mau ke Jogja. Lama sudah saya sibuk urusi kerjaan. Apakah cara ini cukup adil.?"


"Setidaknya kau punya jawaban sendiri..."


"Wah, pasti ada acara keluarga ya. Oya kalau tidak keberatan kamu harus kasih jawaban."

__ADS_1


"Sepenting itu?"


Entah kenapa Elyana mau merubah jadwal kepergian ke Jogja. Dia lebih suka sikap keterbukaan, mengingat ibunya acapkali menanyakan soal tunangan.


"Berapa kali aku kasih saran, akibatnya kau ini sering lupa sama janji."


"Bawa mobilnya suka ugal-ugalan."


Elyana sampai merinding lihat Sonya mengemudi suka saling salip mobil pengendara lain. Sepanjang perjalanan Elyana berpegangan sama sabuk pengaman. Belum lagi matanya terpejam dan cengkram bahu Sonya kuat-kuat. Barulah tingkat kesadaran rekannya pulih kembali. Pedal rem diinjak, ban belakang menjerit. Mendadak mobil melintir ke sisi jalan, ada benturan di bagian lambung. Hampir terlempar tubuh Elyana beruntung dia masih kenakan sabuk pengaman.


"Awas!" jerit Elyana.


Nyaris jantung dibikin copot atas kelakuan Sonya suka ugal-ugalan. Maklum saja dia suka really di berbagai kota. Begitu lihat kondisi rekannya tidak kurang suatu apa, dia sampai tertawa tak tertahankan.


"Tega bener kau lakukan ini... Lihat mukaku..." nafas Elyana masih naik-turun.


"Ya, kapan lagi. Saya sedianya maju ajak kamu ke Kalimantan. Rutenya di sana sangat menantang..."


"Enggak lucu...!"


Aku mana mungkin ikuti tiap langkahmu, batin Elyana. Dia takkan punya pilihan lain untuk menolak ajakan Sonya. Sekarang saja melintas jalan beraspal, gayanya bikin bulu kuduk merinding. Artinya di depan mata maut mengintai keduanya.


"Tapi kau baik-baik saja. Gimana jadi melanjutkan perjalanan ke rumahku. Di sana kau bisa menikmati pemandangan area persawahan." deretan gombalan Sonya.


"Siapa lagi tertarik..."


"Kau pasti..."


"Jangan suka cari masalah. Aku sengaja ikut cuma ingin lihat-lihat saja. Ya, selebihnya ingin tahu gaya hidupmu. Tidak lebih..."


"Baiklah, bisa di terima."


Selepas Sonya lihat kondisi temannya normal. Dia melanjutkan perjalanan menuju Ubud dan menepati janjinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2