
Runtuh daun-daun kering di halaman rumah sakit. Ririn masih berselonjoran di kerosi panjang, semula ia lihat ke sisi jendela. Alangkah sejuk pagi. Warna-warni bunga di taman itu saling memadu padankan. Coraknya menawan hati, enggan rasanya Ririn harus senda gurau lagi sama bunda. Kali ini hatinya bagaikan tersayat sembilu. Mungkin orang di sekitarnya hanya bisa menertawai, cemooh, mana ketangguhan sebagai gadis tangguh? Banyak teman-teman merasa iri, semestinya kebahagiaan harus disampaikan sama temen.
Belum ada jawaban, Ririn masih lihat ke sisi jendela, harapan pertama ke temu dokter jaga. Waktu sudah terlampau siang buat kunjungan dokter. Tiga kali dia mendengus berat, ketika ekor matanya tertuju sama Bunda. Entahlah, ini sebuah kebetulan, ada sepucuk surat. Dia rasakan itu perlombaan hatinya buat menerka-nerka. Tulisan tangan latin, serta tarikan tanda tangan. Demikian bunyi surat
Bunda. Elyana belum sempat berikan kabar. El... sebenar ingin tinggal sama bunda. Tapi karena keadaan yang misalkan kita semua. Surat terputus sampai di sana, sayang surat masih dalam genggaman bunda. Kendati pun Ririn ingin baca sampai tuntas. Setidaknya dia bisa melonggarkan rasa simpatik kepada kakaknya. Kini Ririn baru menyadari daripada perbedaan keduanya. Setiap kali ada perselisihan paham bunda tentu dengan mudah mematahkan perdebatan keduanya. Di luar ruangan dokter dan suster melayani pasien. Tidak berapa lama bunda terjaga dari tidur selama satu minggu. Bayangan pertama urusan rumah tangga banyak pula kesalahan yang disengaja atau tidak pasti dilakukan oleh orang tak bertanggung jawab atas hak mengurus ibu.
Pintu sisi laboratorium terbuka. Ririn tinggal menunggu panggilan dari penjaga. Kali ini hatinya benar-benar hancur jika harus menerima deretan penderitaan. Elyana belum bisa dihubungi, alasan di statusnya harus bersabar jika hadapi setiap persoalan. Kejengkelan Ririn kali ini nyaris mendekati puncaknya. Tubuhnya seakan ingin di hempaskan ke bawah sana. Akhir hidup bukan sebatas senyum dan kepasrahan. Melainkan dia harus tegar setiap kali dihempaskan oleh sindiran ringan. Ririn yakin. Bahwa bunda kelak akan terbangun dari mimpi buruknya mengenai perangai Ririn di tengah-tengah keluarga. Dia mampu angkat nama baik keluarga terpenting buat bunda.
'Dokter... ! Bagaimana kondisi ibu saya..." seloroh Ririn tegas.
Dokter Firda lempar senyuman. Kewibawaan jelas terpancar, agar berikan kepastian supaya pihak keluarga tidak mengalami ketegangan berlanjut pada perselisihan paham.
"Anda sebagai...?"
Dokter Firda senyum penuh arti. Ia berupaya menjelaskan secara detail mengenai kondisi pasien.
"Saya keluarganya, saya putri bunda. Lalu bagaimana kondisi bunda. Apakah ada hal yang memberatkan..."
"Ya, tentu bunda kamu merasa senang jika lihat putrinya dapat berbakti sama orang tuanya."
"Jadi kondisi bunda...?"
"Kita bicara di ruangan saya. Karena saya bisa menjelaskan secara rinci. Bisa...dipahami."
Selain sebatas anggukkan kepala. Ririn makin berdebar jantungnya kian berdekup kencang. Ia tetap memanjatkan doa, agar bunda terhindar dari segala penyakit. Sepucuk kata sederhana yakni sehat wal afiat. Nantinya bisa berkumpul kembali.
__ADS_1
Dokter Firda memasuki ruang kerja duduk penuh serius. Maka Ririn duduk macam orang ditekan pundaknya. Seberat inikah harus dilewatkan seorang diri.
"Terima kasih. Kamu bersedia menerima keadaan ini. Begini, bunda kamu sebenarnya ada sedikit guncangan batin. Jika hal ini terus bertambah, akibatnya bisa lebih fatal." dokter Firda menjelaskan.
"Apakah ada penyakit..."
Kali ini dokter Firda ingin jelaskan secara detail, sayang Ririn takkan kuasa menahan lanangan air matanya turun tanpa di suruh. Hati-hati dokter Firda jelaskan.
"Sebenarnya beliau ada guncangan batin, itulah penyebab utama. Tindakan selanjut tentu dalam pengawasan pihak dokter. Ya, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Agar bisa di kondisikan secara medik. Artinya beliau bisa dipulihkan bertahap. Hanya itulah saran saya, mohon diperhatikan di hari-hari selanjutnya."
"Terima kasih dokter. Semoga nantinya sesuai dengan harapan. Satu hal saya ingin tanyakan. Apakah bunda bisa hidup dengan pendamping minum obat selama beberapa waktu." Ririn makin cemas.
Dokter Firda tersenyum lepas, tidak terlalu renyah. Tapi ini membuat gadis itu jadi salah fokus.
"Saya berharap setelah ini kamu tidak usah berpikiran macam-macam. Justru begitu dengan tenang kamu bisa melewati hidup ini penuh bahagia."
Uh, alangkah beratnya hidup diterpa oleh guncangan hebat. Ingin sekali waktu butuh seseorang sebagai labuhan hatinya. Ririn kembali ke ruang perawatan. Bunda masih tertidur pulas. Tangan kirinya masih ada selang infus. Ririn berusaha ringankan tubuhnya duduk di sisi bunda agar tidak mengeluarkan suara dari kerosi. Gerakan tangan lemasnya. Yuap, Ririn terkesiap.
Masih adakah sisa cinta disudut hati kecil papanya? Ribuan mata boleh benarkan dugaan dan tuduhan buat ayahnya. Sejak kapan papa punya ribuan alasan menolah ibunya di rawat. Pertama sikap keputusan asa itu terpancarnya. Seumpama waktu dapat dengan mudah diputar, semudah membalikkan telapak tangan. Ririn mau katakan sama orang paling spesial dalam hidupnya. Biar satu jam saja, tentu dirasakan cukup.
Rasa itu diam-diam ia sembunyikan lebih dalam di sudut hatinya. Bila dia beranikan buka lembaran berikutnya.
Jemari lentik yang kini sudah banyak menorehkan cerita baru. Ririn rentangkan kedua tangannya, ia beranjak ingin meraih jemari lusuh yang masih dibalutkan perban putih.
"Bunda harus kuat..." suara lirih Ririn.
__ADS_1
Ruangan hanya sebatas kekosongan hatinya. Ia coba alihkan ke sisi kamar pada setangkai bunga. Di hari sebelumnya meja kecil itu kosong, kini sudah nampak cantik beralaskan kain renda-renda. Bukankah itu hasil tangan Ririn. Anehnya kenapa benda itu ada di sana, di atasnya ada bunga kesukaan bunda. Seakan memaksa Ririn harus lebih teliti lagi menyimak tulisan kecil yang sengaja diselipkan di tangkai bunga melati.
"Ri..."
Suara itu? Ririn belum punya keberanian untuk menjatuhkan dugaan tepat. Setahunya, bukan mau campuri segala bentukan lainnya. Maka tidaklah heran hatinya makin terjerus ke sudut biru. Perlahan tepiannya juga ikutan tergantikan oleh kepolosannya.
"Maafkan saya kalau bikin harimu tidak nyaman..." suara Aldy pasti.
"Mas Aldy...?" Ririn kaget.
Spontan Ririn dapat keteduhan dalam dekapannya. Dirinya serupa diterbangkan ke awang-awang. Dia mulai merasakan kedamaian dalam dekapan hangat.
"Apa arti semua ini mas...?"
"Kamu tidak perlu mencemaskan semuanya," kali ini Aldy tatap wajah Ririn. "Sekarang lihat jelas-jelas di bola mataku. Apa kau bisa mengatakan tentang kesalahan. Cobalah untuk bangkit singkirkan tudingan miring."
"Jadi..," suara Ririn parau.
"Percayalah. Karena dengan ini keindahan bisa kita rasakan. Jangan pernah berpaling dariku. Saya siap bisa bantu semampuku. Bunda sudah bisa di besuk..."
Trap. Trap. Trap. Suara langkah itu makin mendekat, seterusnya handel pintu di tarik.
"Maaf, mohon jangan terlalu gaduh. Untuk saat ini, berikan pasien istirahat yang cukup."
Selepas periksa pasien suster Ani lekas berikan resep baru dari dokter Firda. Ririn menerima secarik resep buat ibunya.
__ADS_1
"Terima kasih suster..." ucap Ririn berusaha tegar.