
Gelisah. Demikian Ririn larut dengan jutaan emosi, separuhnya hendak lari daripada kenyataan. Membawa diri agar kelak bisa hidup berdampingan nestapa. Pergantian hidup memang sulit diindahkan, terutama waktu si dia tidak memberikan alasan menolak rencananya. Meskipun, Ririn memiliki argumen tentang siapa saja yang naik ke panggung ialah pak Tyas Mustajab.
Deretan acara tersusun rapi, Ririn masih sibuk telpon Asty untuk memastikan acara bazar esok hari.
"Asty maaf ganggu istirahatnya. Gimana menurutmu besok ada jadwal yang berubah tidak...?"
Duh, ini telpon bikin bete. Asty belum kasih jawaban, matanya masih rapat.
"Iya aku denger," jawab Asty.
"Kau yakin..."
"Kamu tidak perlu khawatir semuanya akan berjalan lancar, ih, aku ngantuk nih..." sanggah Asty.
"Ok. Sampai besok."
Ririn menutup telpon dengan perasaan lega. Ia masih melipat dua tangannya kebelakang kepala. Pandangan matanya menerawang jauh. Ah, kenapa bayangan itu terus mengusiknya. Sulit rasanya untuk memejamkan mata walaupun ia berusaha lebih tenang. Koko pasti memanggil, terdengar suara ribut kalau lihat majikannya sedih. Atau mang Uge males kasih jagung.
Warna kuning gading di ufuk timur menggantikan kisah malam. Keperakan saling berpedaran menembus celah-celah daun. Tetes embun memantulkan cahaya bagaikan mutiara bertaburan di taman.
Krak. krak.... Suara koko burung kesayangan Ririn riang sambut datangnya pagi. Mungkin mahkluk itu bikin hati kecil ceria. Dia bisa olah raga pagi dan melintasi ke arah taman memutar beberapa kali. Kedua orangtuanya takkan lupa lakukan setiap pagi. Selepas jogging. Yep, tentunya pak Handoko akan memastikan kondisi kesehatan putrinya. Tumpuan harapan itu benar-benar digantikan benda apapun, ada rasa kehilangan waktu itu. Segaduh apapun pastinya diluangkan untuk keluarga, mereka selalu memiliki tips memupuk rasa sayang. Di antara Ririn tetap menaruh perhatian sama keduanya. Lonceng jam baru berdentam lima kali. Kabut putih malu-malu merayap ke sisi perkebunan. Nampak di kejauhan pedagang jalan kaki bawa obor. Kerlip apinya saling bergoyang-goyang. Beriringan pedagang itu dari arah Kampung Semampir menuju ke pasar Godean. Bertandu-tandu perempuan paruh baya pertaruhkan sebagian hidupnya demi keluarga. Ada pula yang menggunakan sepeda onthel terus melajukan sepeda. Ekonomi di kota ini mulai menggeliat. Jikalau Ririn melihat deretan perempuan menggendong barang dagangan dia merasakan keprihatinan. Sebagai generasi muda semestinya bisa mencari suri tauladannya. Bukan malahan harus berpangku tangan, lihat dari sisi balkon. Lukisan pagi. Ya. Kerinduan ini sering bawa dirinya pada dilema panjang. Ia sekuat tenaga akan merajutnya, semasa kecil, dua gadis imut duduk berdampingan. Kursi itu masih kosong, sekilas Ririn melirik ada kepiluan menelusupi relung hati. Sesadar apa pun Ririn menjadi keluarga yang seutuhnya.
"Non Ririn..." mbok Ipah sapa.
Sejenak Ririn tersentak dalam lamunannya, kiranya tidaklah pantas berlama-lama menuruti kegelisahan.
Sebatas anggukan Ririn berikan reaksi. Bahwa dia mulai tersadarkan oleh bayangan Elyana. Sosok pribadi sangat di kaguminya. Kendati berbeda pandangan sama ayahnya, Elyana suka menentang keputusan orangtuanya. Mungkin inilah batasan yang jarang diperlihatkan sama adiknya.
"Ya, nanti saya turun...." hela Ririn.
Mbok Ipah belum yakin benar, nunggu jawaban pasti. Nantinya pak Handoko ngomel di suruh panggil malahan sibuk masak di dapur.
"Lho mana si cantik...."
"Tadi sudah saya ajak. Non Ririn bilang nanti dulu, suruh tunggu."
"Sudah sana kerjakan tugasmu!"
Mbok Ijah bergegas ke dapur, sampai di dapur mang Uge lagi asyikan makan jagung rebus. Kalo saja kelakuannya ketahuan sama Non Ririn kasihanlah nasibnya. Langsung saja dikejutkan, Mang Uge keselek makan jagungnya. Sambil terbatuk-batuk pegangi lehernya.
"Masuk tuh ketok pintu dulu," suara mang Uge serak, batuk pula. "Gimana kalo saya mati mendadak!? Trus...?"
"Ngak usah repot-repot buang saja ke kali tuh. Kan gampang ngurusnya."
Cemberut mang Uge dikatakan sama perempuan bawel sedunia, tidak mau dikatakan lelaki bodoh, kurang pengertian bila lihat kelucuan. Baru juga menikmati jagung rebus dikejutkan mbok Ipah.
Hubungan manis juga terlihat ketika kedua saling ejekan ringan. Seolah ada ikatan batin dalam menjalankan tugas sehari-hari. Bahkan ada sikap berpaduan buat melanjutkan perintah untuk mengawasi peliharaan majikannya.
Di ruang makan mbok Ipah cekatan mengatur sajian. khas benar hidangan pagi ini, sayur bung ( tunas pohon bambu). Sampai terheran-heran Ririn lihat bentuk potongan panjang. Begitu lihat papanya juga menyendok dan melahapnya dengan lahap, terdengar decak kenikmatan. Guyuran santan kental menimbulkan aroma goda selera makan. Ririn narik kerosi duduk berdampingan Linda. Ada secerca kehangatan terpancar dari bola matanya. Dia juga merasakan getar-getar.
"Pagi ini ada jadwal kuliah..."
"Kan pelaksanaan bazar."
"Sekitar jam 10 pagi, makanya saya harus cepat berangkat. Takut ketinggalan kasihan temen-temen mengatur barang dan property."
__ADS_1
"Makannya harus nambah dong, biar badan selalu fit sepanjang hari."
"Duh, mama ini terlalu banyak pikiran. Saya bisa jaga kondisi, di kampus nggak kekurangan soal makan."
Sekali comot sepotong roti tawar di kemas cup plastik. Siap meluncur ke kampus. Mobilnya sudah siap, terburu-buru ke balkon sambar tas kecil. Di suruhnya mang Uge ambil tas kecil, kemudian diberikan Ririn. Dari balik rerimbunan di taman Dito mengintip mang Uge melintas di depannya.
"Mang...."
Celingukan mang Uge cari sumber suara barusan memanggil dari arah bunga melati, selain pohonnya rindang, angin juga bikin riuh acak-acak gerak dedaunan. Apa mungkin di sini ada syetan!
"Lihat arah sini...." suara Dito pelan.
"Maaf saya buru-buru ke depan, di tunggu non Ririn. Nanti saya kena omelan lagi kan berabe...."
"Boleh pinjam tasnya. Atau gini saja, saya antar tasnya. Mang Uge bisa langsung selesaikan tugas selanjutnya."
"Baik," jawabnya polos.
Kelakuan si Dito belum menunjukkan ihkat baik, buktinya dia masih suka cari-cari masalah gitu. Udaha isengnya bujuk mang Uge agar menuruti semua keinginannya. Trik varian baru, suka kecohkan pendapat orang lain. Padahal kemaren Ririn sudah kasih warning. Dianggap angin lalu saja perintah Ririn untuk kembalikan boneka kecil di gantungan spion di dalam mobil. Bila diminta pertanggungan jawab, Dito hanya senyum tanpa merasa bersalah.
"Cakep banget kelakuanmu. Mana boneka kesayanganku, kamu ngaku aja." tuduh Ririn.
"Sekarang..."
"Jangan malu untuk mengakui. Hampir semalem aku tungguin, apa kau tidak punya pikiran sama sekali. Cepat ambil sebelum kemarahanku memuncak. Gini aja, kau selesaikan sore nanti sudah selesai."
Kak Ririn..."
'Aku sekarang tidak mau tahu, gimana caranya."
Pagi ini jalanan dari Menulis sampai pasar Godean selalu lancar. Keramaiannya hanya anak SMP, SMA masih suka menggunakan sepeda onthel, jengki. Sesekali Ririn melirik kearah mereka, dan dapatkan tegur sapa pemandangan serupa itu adalah hal biasa. Entah kenapa mendadak pikirannya mudah hanyut oleh bayangan Aldy. Ya, ia lama pula mencarinya diantara pesepeda. Apa mungkin matanya benar-benar sulit membedakan mana saja cowok tajir di kampus? Soal pandangan pertama kadang mengganjal isi hatinya. Untuk mengatakan jujur, berharap bisa duduk bareng atau sebatas tukar argumen akademis. Itu sempat sulit dalam pencapaiannya sekalipun Ririn bekerja keras untuk perjuangkan cintanya. Di jalan pun nggak gampang lihat tampang Aldy. Apakah dia seorang banyak menyimpan segudang misteri. Kalau pun bisa diajak bicara tidak mendetail. Sewaktu mobil putih memasuki halaman kampus sepi, Ririn bertambah heran. Dugaan pertama Ririn melakukan tindak di satuan unit perusahaan.
Hanya sepi. Sambutan itu jarang terjadi di kampus jikalau ada acara besar. Trus, mana letak tanggung jawabnya. Sepagi ini belum ada satu orangpun panitia. Sudah seharian kerja di sini. Setidaknya bisa hargai waktu dia datang, bukan sebaliknya bikin kerjaan jadi berantakan. Memang di pintu gerbang tadi ada beberapa mahasiswa sibuk mengatur perhelatan akbar.
"Ririn...."
Lihat ke sisi datangnya suara. Coba ingat kembali suara siapa gerangan, orang yang dikenalnya. Uh, balasnya kenapa pikirannya selalu ke sosok.... Ririn kelihatan kesulitan buat alihkan ke satu nama. Sewaktu akan ke kelas langkahnya dihentikan setangkai bunga di atas meja di samping pintu. Di bacanya tulis kecil itu nama ' dear Ririn' . Tudingan pertama, Aldy sangat pandai gunakan moment baik. Hati-hati diraihnya bunga dan itu pilihan khusus.
"Selamat hari jadi..."
"Siapa ya..."
Sip. Secepat kilat lelaki itu menutup ke dua mata Ririn. Tentu saja gadis itu makin gelagapan. Jari-jarinya coba buka tarikan, kuat saja cengkramannya. Dirasakannya ada sebongkah kehangatan, namun dia sama sekali takut dikecewakan.
"Kau masih ingat kan?" suara halus.
Suaranya tak asing lagi, setahun silam berbisik lewat surat. "Tebak hayo... Kau pasti mengingatnya."
"Aldy..."
"Bukan, kau pasti salah."
"Kali ini aku benar. Kau pasti Aldy. Orang yang pernah dikenal di....?"
"Di mana ya"
__ADS_1
"Di stand anjungan pameran. Kiranya kita dipertemukan dengan suasana berbeda."
"Aldy..." suka cita Ririn.
Hatinya berbunga-bunga lihat pria tampan sudah berdiri dihadapannya. keduanya langsung ke stand, di sana Asty, Rere dan Rika menanti tanpa kepastian. Belum lagi pengunjung mulai berdatangan. Jam 9 tepat pembukaan dilaksanakan oleh pak Tyas mustajab. Pengguntingan pita setelah memanjatkan doa, supaya prosesi berjalan sesuai rencana. Hebatnya lagi, Aldy antusias sekali dengan kondisi kayak sekarang. Maka tidak mengherankan Ririn diam-diam menaruh hati. Apa jadinya kalo perempuan harus berani menyatakan perasaan sama cowok. Dunia serba memungkinkan penghuni berganti perangai, hal inilah sering orang akan lupa kodrat alam. Bahwa perempuan sepantasnya bisa menahan emosi batinnya. Salah jikalau menurutkkan naluri semata.
"Kulihat dari tadi melamun terus. Tuh... kan?"
"Artinya kamu....?" Ririn alihkan bicara. "Kalo aku sibuk nanti capek. Akibatnya urusan jadi terbengkalai."
"Aku siap bantu kapan saja kamu butuhkan."
"Takut merepotkan saja." balas Ririn malu-malu.
"Ngak juga, dengan senang hati aku terima asalkan kau suka."
Rasanya tersanjung dengar pengakuan Aldy penuh ketulusan. Secara perlahan benih-benih cinta keduanya saling berpadu. Kendatipun baru sebatas sentuhan kecil tetapi mengusik relung hatinya teramat dalam. Selepas acara bazar Aldy cari peluang agar bisa berdekatan sama gadis itu. Sekian lama hatinya sulit sekali untuk dibohongi oleh waktu pertemuan. Seperti di bulan pertama Aldy posisinya masih diatas angin, tanpa seorangpun bisa mengganggu jalan hidupnya.
Terkesan dibuat-buat waktu minta pertolongan. Sebenarnya Ririn menolak semua gombalan lelaki, intinya doski masih punya keraguan untuk menerima ukuran tangan orang lain. Seberapa teguhnya dia bertahan jadi gadis jomblo. Ya boleh dikata dia nyaman hidup sendiri, di antara gadis lainnya Ririn nampak mandiri. Jikalau demikian seganlah cowok buat menghidupkan elegi rindunya.
"Lho kok belum dijawab...?"
'Apakah setiap pertanyaan perlu jawaban?" jawab Ririn agak ketus."Nih, aku sudah bilang. Kali ini aku benar-benar sibuk. Apa penjelasan ku kurang jelas."
Aldy mundur selangkah, tapi pikirnya sekali dalam melangkah, maka sepuluh langkah untuk meraihnya. Segala daya upaya dilakukan Aldy, rela menunggu berjam-jam acara bazar selesai. Bolak-balik dia ke kantin sekedar memastikan Ririn akan istirahat sambil minum. Rika dari kejauhan juga mengawasi gerak-geriknya. Walau sedikit meragukan kesetiaan Aldy bila nantinya mereka jadian. Terus apa untungnya dia juga ikut campur urusan orang lain. Belum lagi Rika memutar tubuhnya ke halaman kampus, tempat di mana orang sibuk belanja. Langkahnya terhenti oleh teriakan Aldy dari kantin.
"Hey...." panggil Aldy parau. "Kemarilah....!"
Kelihatan bimbang gitu Rika buat menyahut panggilan Aldy. Kalo dia menurutkan langkah ke arah Aldy, ya mungkin saja jutaan mata tertuju ke sini. Seumpama waktu bisa diputar balikkan. Tentu kejadiannya tidak akan seperti kambing berbulu. Nunggu tenang dan bercampur gaduh juga kalo jadi cowok dicuekin.
Sedikit pun tidak dihargai sama orang lain.
"Mau kemana sih?"
"Ada deh..."
Aldy garuk-garuk kepala biar tidak gatal, ketombe berjatuhan di punggungnya. Wajahnya semu merah. Apa enaknya menahan malu, ketika orang lain melihatnya duduk sendirian.
"Boleh tanya sesuatu...?"
"Ngak biasanya."
"Acaranya sampai jam brapa?"
" Jam 3. Kelihatannya ngak sabaran ya. Makanya, kalau punya tujuan jangan sampai di rebut orang."
"Makasih infonya. Tunggu dulu....?"
"Kau ini banyak nanya, trus hanya berdiam diri. Ya akibatnya di serobot orang mau...!" kata Rika lebih tandas. "Aku tanya kau suka kan sama Ririn? Kejar dia sampai dapatkan cintanya. Bukan sebaliknya..."
Sulit rasa Aldy harus memulainya, hari ini saja dia disudutkan sama masalah pribadinya. Salah satunya dia harus menjelaskan pada kedua orang tuanya. Karena itulah Aldy mencoba dengarkan perkataan dari Rika. Meskipun dia harus melangkah ke sisi yang terbilang salah. Yakni tanpa restu kedua orang tuanya.
"Tuh, kan bengong lagi!" tuding Rika.
"Kau ini... bikin aku kalang kabut. Jelasnya aku ucapkan terima kasih atas bantuan dan kabarnya."
__ADS_1
Sore itu Aldy benar-benar suka cita. Rika sambil lalu melemparkan senyum penuh arti, maka sulitlah Aldy menterjemahkan . Apakah mungkin dia hanya bertepuk sebelah tangan? Tidak! Keyakinan itu sudah tergambar nyata. Tinggal bagaimana seseorang akan menjalani. Di ujung sana Ririn sudah kasih perintah sama beberapa temannya. Aldy melangkah seperginya Rika. Ia kali ini tidak ingin moment bahagia terlewatkan begitu saja