SEBENING AIR MATAMU

SEBENING AIR MATAMU
Penantian


__ADS_3

Jemari lentik itu pelan mengetuk sisi meja. Suaranya memantulkan ke ujung hati. Sayatan suara hati Ririn bagaikan ingin mengulang masa terindah dalam keluarganya.


Tempat di mana dia bisa rasakan dekapan seorang ayah, setiap.waktu bisa mendamaikan rasa dan asa. Kini harapan itu harus berganti nestapa. Ternyata kerinduan itu benar adanya. Seujung kuku dia punya mimpi kecil. Bisa duduk sama-sama lagi menikmati hari libur. Ini kali pertama dia merengkuh asa tanpa kehadiran sosok ayah. Ruangan ini hanya sebatas geraknya terbatas oleh kaca tebal. Sangat menyebalkan. Seumpama dia boleh memilih kuliah dan menikah. Pastinya Ririn akan memilih kuliah jauh lebih nyata menyongsong hari esok.


Alasan kedua ini sangat mutlak dilaksanakan bagi setiap perempuan. Bentuk ketaatan kodrat perempuan musti memilih pasangan hidupnya. Sikap menyendiri itu sangat tidak disukai oleh siapa pun. Tuhan menciptakan manusia selalu.berpasang-pasangan. Jikalau salah satunya menutup diri, rejeki akan sulit disatukan salam satu ikatan suci. Ririn masih termangu di sisi meja kecil. Hidangan dari suster.belum juga disentuhnya. Lidahnya masih pahit buat mengunyah makanan.


Angin tipis.berhembusan lewat celah jendela. Tiupannya seolah menyibak tabir kelabu. Dia kembali teringat akan kedatangan Elyana. Ada secerca rasa bahagia berpadu oleh kerinduan mendalam. Dua kali seminggu Ririn berkirim kabar. Elyana hanya membalas dengan renungan hati. Mulai detik itu Ririn terlihat melo banget. Kehadiran cowok tampan di sisinya belum menunjukkan ekspetasi. Satu misal apa perempuan hanya makan ketampanan semata? ungkapan itu acapkali dilontarkan ibunya. Dan selalu terngiang dalam tiap jengkal langkah. Dia berharap cowok itu mau menuntunnya ke jalan lebih baik lagi.


Tok. Tok. Tok. Pintu kamar rawat diketok dari luar. Derit pintu menyisirkan gejolak batinnya. Bilamana ada sisi hatinya memiliki ruang, dia akan cepat bersembunyi di sana. Rupanya Ririn tiada daya berbuat lain, untuk menolak kedatangan pujaan hati.


Sapaan halus tentu harapan waktu saling bertatapan. Sekecil apa pun dia susah alihkan initi dari pemikiran dari lubuk hatinya. Entah kenapa debaran jantung makin bertalu-talunya.


"Wit, melamun lagi... Sekali lagi kamu harus punya kekuatan. Dan pagi ini kamu harus senyum sambut harimu."

__ADS_1


"Siapa lagi..." sanggah Ririn. "Saya cuma memikirkan mama saja."


"Tuh kan kelihatan banget di wajahmu. Ya, sudah sekarang kamu sarapan dulu. Biar kesehatan cepat pulih. Aku juga tidak tinggal diam menerima keadaan ini.'


Ririn menerima satu bungkus bubur campur gudeg. Dia sambil senyum-simpul melirik kearah Aldy. Ada guratan halus di garis wajahnya. Seminggu sebelumnya Aldy sering berkirim bingkisan kecil.


"Makasih atas perhatian kamu."


Ya, itulah sifat perempuan... Selalu ingin mendapatkan perhatian lebih dari pasangan. Bukan itu saja Ririn bisa hidup berdampingan.


"Masa iya...."


"Tuh kan makin ngelantur bicaranya. "

__ADS_1


Ih, rutuk Ririn minta disuapi bubur. Mana sendoknya serupa melayang mirip kapal terbang. Belum lagi suara Aldy mendengung. Adanya geregetan Ririn di buatnya. Dia cubit keras-keras pahanya.


"Aduh! Sabar dong."


"Ya habisnya nunggu kelamaan."


"Sayang...? Kalo lagi marah cantiknya nambah."


"Mulai merayu. Aku itu butuh kepastian mas."


Aldy tertegun menatap mata Ririn. Ada.serupa hantaran halus menelusup ke hatinya. Maka inilah gadis pilihannya. Dia siap mengajak Ririn dipertemukan sama orangtuanya.


Di satu waktu, Ririn ingin menjemput kakak tercinta. Namun ia segan.buat kabarkan sama Aldy.

__ADS_1


__ADS_2