SEBENING AIR MATAMU

SEBENING AIR MATAMU
kembali ke kampus


__ADS_3

Gelembung keluar lewat celah-celah kisi jendela. Aromanya makin menusuk hidung. Biarpun orang akan tidak menaruh ke pedulian. Kondisi tubuh Riyan makin kurus. Dia jarang keluar kamar, sikapnya tertutup, malas bertemu sama orang lain.


Berkali-kali mamanya ajak bicara soal ringan-ringan, masalah study sempat tertinggal beberapa minggu. Enjoy Riyan mengalihkan pembicaraan perihal usaha papanya di kantor. Karena terakhir kalinya lihat papanya jalan sama seorang perempuan cantik. Pikiran pertama, bagaimana mungkin papanya selingkuh sama asisten pribadi. Alasan pertama sering melakukan clubbing di salah satu tempat karaoke. Buru-buru Riyan alihkan pemikiran buruk tentang papanya.


"Dari tadi mama perhatikan sedang dilanda kegalauan. Susahnya kamu ini kalo punya pengamatan keliru. Bukti seperti saat ini, malas kuliah, buat apa berpikiran sempit."


"Mama ini bicara apa sih?"


"Ini demi masa depanmu. Ketahuilah, hari ini adalah awal dari kehidupan selanjutnya."


"Sudahlah...."


"Kamu adalah harapan keluarga inti. Gimana nanti kelangsungan bisnis papa, sementara kamu masih memikirkan gadis itu."


Sampai kapan pun Riyan berharap cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Penantian panjang untuk mewujudkan impiannya, dia punya rencana agar mampu menaklukkan pujaan hati. Shanry nampak gusar lihat kondisinya. Perhatian musti tercurahkan sepenuhnya. Doa dan harapan selalu mereka panjatkan, kelak cita-cita putranya tercapai.


Mang Dul sambil tetembangan di taman sirami bunga-bunga. Kebiasaan kecil ini cukup sebagai hiburan gratis anak majikannya. Ini hari lelaki paruh baya mengeluhkan atas permohonan anak istrinya.


"Cepet kerjanya. Jangan banyak nembang terus."


Waktu menoleh datang suara, mang Dul loncat kaget. Tadi di sini tidak ada orang perhatikan cara dia kerja.


"Kau ini selalu bikin keributan."


"Apa nggak punya pikiran ya...."


Makin sewot, "kaya omongan. Bahan apa saja jadi obrolan. Dasar perempuan punya banyak bahan. Apa kerjaannya sudah selesai semua. Kerjaan dapur pasti numpuk."


"Tunggu dulu! Siapa yang banyak ngomong? Lelaki selalu menang sendiri."


"Ngak juga."


"Apa buktinya?" tegas mbok ijah. Kita ini kan pembantu, ya punya perhatian sama den Riyan. Kan kasihan setiap hari di kamar, ya paling banter hiburannya main gitar."


"Jangan sok tau lah."


"Ya, sudah."


Bentuk pengabdian dua pembantu patut diacungi jempol. Tidak heran lagi nyonya Shanry penuh perhatian bila ada yang sakit. Lekas-lekas di bawa ke dokter. Ada kalanya disalah artikan , mereka bisa berbuat apa saja. Di antaranya Riyan sering curhat sama mang Dul, dari masalah ringan-ringan di gasebo. Year...tempat paling favorit buat cerita.


Malas buat buka pintu waktu dilihat ada tamu, sedari tadi berdiri tanpa kepastian kayak kambing congek aja. Mbok Ijah bukan saja ribet sendiri waktu minta tolong sama mang Dul, buka pintu utama.


Saking malesnya lelaki paruh baya itu bergulingan merangkul tiang gasebo. Sore ini Riyan belum sepenuhnya menerima apa yang kadang mengganggu alam pikiran bawah sadar.


"Hey.... Ada apa sih! Ribut... terus."


Malu-malu kesayangan mundur teratur, mbok Ijah langsung lepaskan rangkulannya.


"Coba... rumah ini selalu bikin gaduh oleh suara kalian. Apa sebenarnya sudah terjadi. Mbok berterus teranglah. Jangan bikin saya tambah bingung hadapi permasalahan baru. Yang pertama saja belum selesai."


"Tau nyonya... Ijah cari keributan. Dia selalu ingin cari perhatian kali."


"Mulai sekarang jangan gaduh lagi. Kasihan Riyan, seharusnya kalian bisa menyadarinya. Bagaimana kondisi mentalnya. Ingat, kalau diulangi lagi artinya kalian tahu akibatnya."


"Baik nyonya..." jawab keduanya.


"Nah, itu jauh lebih baik."


Keduanya saling menyalahkan, jika mengingat kondisi majikannya. Kesibukan lainnya, anak buah Riyan mulai cari dukungan lain. So pasti kehidupan mereka sehari-hari terganggu. Maklumlah, anak rantau tinggal di rumah kost. Bantuan dana Riyan sangat diharapkan, ketiga anak buahnya pandai cari-cari alasan.


"Jiko....?" tegur Kijeko.


Joko lagi males bicara. Tertunda harinya waktu tangan Kijeko cengkram bahunya. Jiko berupaya lepaskan cengkraman makin keras, Joko malas diajak bicara serius untuk jelaskan semua.


"Ngak biasanya kau berkata lebih lembut. Terpenting kita bisa cari jalan supaya Riyan ada diantara kita."


"Bagaimana kau bisa pastikan?"


"Masuk halamannya saja sudah di larang. Trus, dengan daya apa kita lakukan?"


"Yep, aku punya usulan. kita dekati dulu ibunya."


"Ya, emang idemu baik. Apa mungkin akan berjalan mulus?" Kijeko sedikit rendahkan.


"Berusaha jauh lebih mulia, daripada berpangku tangan. Bisanya hanya merutuki nasib."

__ADS_1


"Nekad itu namanya."


"Terus terang aku....?


Tanpa basa-basi lagi Joko gelandang temennya. Tujuan pertama, menemui ibu Shanry. Demi rasa ingin tahu, karena selama ini keluarga itu sangat tertutup.


Persis jam lima, keduanya sudah sampai di depan pintu gerbang, belum lagi motor masih meraung-raung. Kegaduhan itu makin menjadi, dasar anak berandalan. Kerjanya selalu bikin keributan.


Mang Dul penasaran denger suara motor mondar-mandir. Belum lagi suaranya memekan telinga. Tanpa di suruh majikannya dia halau seharusnya buat bikin ketenangan di lingkungan rumah.


"Heh! Matikan motornya. Atau bambu ini melayang...?!" ancam mang Dul geram.


Ciut juga tuh dua pemuda hadapi lelaki paruh baya. Sopan. Sikap urakan mendadak berubah santai perangainya. Barulah dapat sambutan hangat.


"Kau ada apa ke sini lagi...?"


"Mang bantu kami. Kali ini hanya mau ketemuan sama Riyan..." pinta Joko.


Mang Dul mendengus geram lihat sifat dua anak muda ini. Sebelumnya dia sudah kena damprat, sore ini mau ajak anak majikannya. Dari balik jendela Riyan dengar suara ribut-ribut di halaman.


Riyan turun ranjang sambil kakinya meraba-raba cari sandal jepit. Ia buka handel pintu perlahan takut suaranya kedengaran oleh mamanya. So pasti urusannya jadi runyam. Dia kali ini harus punya motivasi kuat buat kalah kekosongan hatinya. Disingkap tirai. Dia lihat Mang Dul lagi mencak-mencak. Sempat tertawa geli. Ada-ada saja dua temennya sampai nekat sambagi dirinya.


Derit pintu terbuka perlahan. Riyan memastikan mamanya tidak duduk di kursi goyang. Singgasana itu tempat mamanya terus memantau kondisi putra tercinta. Karena setiap saat butuh keseimbangan dalam berpikir. Anjuran daripada dokter Lita kelabilan Riyan mudah saja disembuhkan. Asalkan memberikan ruang gerak baginya untuk berinteraksi sama dunia luar.


"Beruntung gak ada..." lirih suara Riyan.


Langkahnya hati-hati sekali waktu meniti anak tangga. Sebelum turun lewat tangga tengah, ia memastikan keluar ke balkon. Benar adanya dua rekannya masih berdebat sengit. Tanpa pikir panjang Riyan segera menemui keduanya. Ternyata orang pendiam dan berganti garang juga mengalami fase-fase tersulit. Belum lagi hatinya masih ditumbuhi apa cemburu berat. Sampai kapanpun cintanya akan diperjuangkan demikian semangat masih tersisa.


Joko dan Kijeko melongo. Dua bibir keduanya serupa begitu. Seakan keduanya hidup dalam mimpi, satuan dari matanya juga mencari-cari induk ketegaran di wajah Riyan. Ih, mana mungkin kekaguman mereka berganti dengan kelusuhan. Joko injak kaki Kijeko agar memandang Riyan jangan sampai serupa orang detektif kampungan. Apa saja yang di depan mata tidak luput dari pengawasan.


"Tuh Ri.....yan," seloroh Joko.


Kijeko belum yakin benar sama penglihatannya. Air mukanya saja terlihat aneh. Entahlah kemana lagi itu sifat garang. Gadis mana takkan mudah ditaklukkan. Semuanya akan bertekuk lutut. Atau akan berikan motivasi khusus, kelak dapatkan perhatian lebih.


"Aneh..."


"Kau ini jangan banyak kasih penilaian."


"Ini kenyataan," bisik Joko.


"Ingat! Kalian jangan berbuat macam-macam."


"Tenang."


Mang Dul sambil acung-acungkan bambu ke arah mereka. Sebelum pergi. Riyan melambaikan tangan agar lekas menyingkir dan dengarkan pembicaraan. Selanjutnya kabar ini sampai di telinga ibunya. Maka tamatlah harapan untuk merajut benang-benang kasihnya.


"Tunggu dulu mang. Jalannya buru-buru gitu. Saya pesan. Mau denger. Kejadian ini jangan sampai kedengeran sama mama. Kalau mama tahu, saya tidak akan memaafkannya. Coba ingat-ingat. Ya, sudah sana mang Dul boleh pergi."


"Baik..."


"Itu harapan saya."


Joko bisa menarik nafas lega. Perkiraannya Riyan akan segera mengusir karena sudah mengacaukan keadaan di rumahnya. Kijeko diam-diam mengamati segala gerak-gerik Riyan. Setiap waktu watak seseorang akan mengalami fase-fase panca roba. Dia mudah marah bila diajak bicara. Kijeko tidak akan mengukit masalah lebih rumit lagi soal di kampus. Belum juga tuntas lihat wajah Riyan terlihat tirus.


"Riyan..."


"Katakan saja. Aku sudah siap. Atau kali ini aku akan merasa lebih gugup ya..."


"Lebih tenang. Bukan begitu Jeko?" Joko minta penguatan.


"Ya, artinya ada sambutan hangat. Minimal kamu mau dengarkan keluhan orang lain. Oh, aku hampir lupa gimana kabarmu."


"Seperti yang kau lihat sekarang. Aku baik-baik saja."


"Trus kapan masuk...?"


Joko kalau soal ngomong, dia orangnya jago sedunia. Sampai urusan cewek saja dia ketinggalan sama temennya. Alasan mereka klise banget, terus siapa yang mau deket-deket cowok bisanya janji-janji tanpa kepastian. Riyan mengusap dada. Siapa lagi yang mengharapkan dia ke kampus. Semut saja males lihat perangainya. bisanya bikin ribet.


"Kau ingin menertawakanku...!"


"Singkirkan prasangkamu, sejauh itu belum terbukti. Berusaha beritikas baik apa di larang? Kan tidak. Ayolah... buat apa kamu sia-siakan masa muda kita kawan."


"Kau punya keyakinan?'


"Ya harus memiliki tujuan. Apa jadinya kalo kita berdiam diri. Jangan banyak komentar lagi. Besok adalah hari paling menyenangkan, ya itu pun kamu..."

__ADS_1


"Bicaramu muter-muter. Apa yang terjadi dan hubungan dikehidupan pribadiku. Setidaknya punya nilai tambah." Riyan mencecar.


"Sabarlah kawan...!"


"Bosen denger ocehamu."


Kesepakatan sukar dicari titik temunya. Riyan ingin menuruti kehendak dua rekannya, agar masuk kuliah. Acara bazar di kampus segera dibuka oleh pihak kampus.


"Ini sekedar isu. Ray... apa kamu nggak ada perasaan penuh kesetiaan. Karena kedatangan kamu mempunyai arti khusus. Setidaknya kedua orangtuamu ingin lihat anak lelakinya punya tujuan."


Riyan saat ini benar disudutkan oleh pilihan sulit, rasa hatinya serupa digantikan pukulan bodem. Apa mungkin kisah kasih terbungkus oleh kesabaran. Minimal emosi stabil tidak mudah tercemari oleh gejolak jiwanya. Batasan iri kadang lebih mendorong lelaki cenderung gampang terbawa larut dalam pencarian jati diri.


Kabar baik segera menyebar ke segala penjuru. Layak sekumpulan lebah, siap terbang bersama ratunya


Cerahnya dua remaja itu waktu memohon diri. Gimana ngak suka-suka dapet duit. Serta sepucuk


surat sampul biru.


"Aku tahu apa yang harus dilakukan. Tenang. Semua akan jalan lancar mirip air bah."


"Percaya sama kamu."


"Tambah lagi dong...?"


"Cepat pergi! Atau bambu ini melayang dan menusuk perut kalian. Mau...." ancam Riyan.


Hap... seribu langkah kedua ke motor. Tancap gas sejadi-jadinya. Macam serdadu kalah perang bertekuk lutut sebagai tawanan. Riyan masuk ke rumah dengan mengulum senyum. Sepintas dia melirik ke sisi halaman. Dua hari mendatang tinggal tunggu kabar baiknya. Di sisi lain ada dua pasang mata mengamati penuh seksama. Linda merajuk ke suaminya agar berikan kelonggaran Riyan benahi gaya pergaulannya. Jarang nongkrong di angkringan. Kesukaannya jarang dimiliki oleh teman sebayanya, penikmat udara malam.


"Saya senang mendengarnya. Kita sebagai orangtua berbuat bijaksana. Kealpaan dia selama ini, anggaplah sebagai penjernihan."


'Ya kita lihat saja perkembangan mentalnya."


"Papa kurang yakin dan peduli..."


Sardy memerah air mukanya, waktu dapat tanggapan bahwa dirinya terlalu mementingkan dunia usaha. Kewibawaan di kantor masih dibawa pulang, segala tindakan berlandaskan perhitungan matang. Linda suka saja dapat pasangan dengan tingkat pemikiran cemerlang. Di sisi kelemahannya ada suami sebagai pendukung ketika banyak mengalami kesulitan keuangan. Sayang impian itu hanya terbaca di atas.


"Okey.... aku setuju."


"Papa ingat!" Linda malas.


"Lho... kenapa mama secepat itu. Riyan.... ya saya ingat benar atas nasehat Dr. Fransiska. Cobalah kamu hubungi dan tanyakan sesuatu. Kesehatan Riyan di minggu ini apa ada kemajuan secara medis."


"Baik..." jawab Linda datar.


Bidikan Linda bukan saja menyasar soal urusan pribadi. Sebagai seorang ibu sudah sepantasnya menjatuhkan pilihan pada anak semata wayangnya. Ulasan pertama, Riyan pewaris tunggal.


Gugurlah harapan untuk mengusut apa saja yang Sardy lakukan di luar jam kantor. Linda tidak mau berlarut-larut dalam keterpurukan. Perlahan namun pasti Riyan bangkit. Di minggu pertama bulan juli dia menata buku-buku di lemari di rak buku. Senyumnya mulai terkembang siap menatap hari esok.


"Cepat bersihkan ...!"


"Di..."


"Ngomong yang jelas dong."


"Ah, gak jadi. Takut di marah


Puih, seru mang Dul sambil terus kerja dengan giat mengangkut buku-buku tebal di jejeran buku diary biru. Mungkin sebulanan pena pilot masih terselip di pembatasan penulisan.


"Du... aku harus bicara apa...?"


"Beres."


"Mana buktinya? Itu bukunya masih banyak di almari. Aku mau kerapiannya bisa dinikmati."


Mang Dul sigap angkut tumpukan buku ke sisi rak di bantu mbok Ijah. Linda tersenyum bangga serta kagum atas kegigihannya. Mobil berdebu juga jadi korban cuci-mencuci. Esok hari majikannya akan kembali ke kampus.


"Ya, Nya..." sahut mbok Ijah.


Linda cepat menarik baju mbok Ijah. Di takutkan Riyan melihat kelakuan mamanya ikut campur. Penuh tegas Linda introgasi pembantunya.


"Lagi kerja di kamar Riyan."


"Cuma..."


"Kamu tidak perlu takut. Justru kita melihatnya sebagai kabar gembira. Ya sudah sana kalian bantu."

__ADS_1


Persiapan akomodasi buat keuangannya dikembalikan seperti sediakala. Sardy terheran-heran lihat mobil VW keluar dari garasi. Memang modelnya tidaklah ketinggalan jaman. Sejarah telah menyematkan sosok kokoh, yakni Riyan sebagai pewaris tunggal.


__ADS_2