SEBENING AIR MATAMU

SEBENING AIR MATAMU
Janji


__ADS_3

Bab 3


Seminggu lalu, gerimis belum juga tergantikan senyum mentari. Cuaca hari ini masih tersenyum malu-malu. Wajah bumi serupa dikuliti dengan sinar matahari. Riangnya anak-anak gembala, senyum mereka tanpa beban di hari esok, ada sifat iri seseorang lihat semuanya. Sedikitpun Ririn takkan tega melihat semuanya jadi berantakan, gara-gara dia harus pertahankan ambisinya.


Sebaik apapun orang pasti punya kesalahan, lalu segampang ini dia berikan kata maaf. Tidak! Sesungguhnya kegaduhan hatinya mulai sedikit terbaca oleh kawan terdekatnya. Sampai hari ini dia malam untuk mengawali sebuah kata "janji" harus ditempatkan selayaknya bunga-bunga di taman.


Kring.... kring... kring. Suara telpon di ruang tamu bikin riuh saja. Asty dengan malas-malas raih gagang telpon. Wajahnya males.


"Selamat pagi..."


Asty belum sepenuhnya hafal suara diseberang sana. Dahinya sedikit mengerenyit coba menerka-nerka. Lagi pula apa urusannya sama penelpon misterius.


Brak. Gagang telpon diletakkan dengan kasar. Dia takkan sudi dengar suara parau ditelinganya. Sebenarnya ada kejengkelan ketika mengingat ancaman itu. Sulit rasanya buat menceritakan sama orang lain. Sedangkan hidupnya sendiri masih dibayangi oleh ayahnya.


Lekas-lekas Asty nelpon sahabat terdekat, masalah sekecil apapun akan ia ceritakan.


"Rin... halo..." telpon Asty.


Asty terdiam. Bibirnya terasa lebih keluh. Belum lagi ckup jantungnya semakin berdekup kencang.


"Iya... kamu ada kabar apa?"


"Bisa bantu sekarang. Rasanya tidak mungkin kejadian...."


"Aku nggak ngerti apa yang ceritakan."


Lagi-lagi Asty hela nafas dalam. Meskipun dia berusaha tenang dan menceritakan sama Ririn atau Rika. Tentu saja kondisinya tidak banyak mengalami perubahan jalan hidupnya.


"Cowok itu lagi coba ganggu hidupku. Kau pasti ingatkan."


"Sabar dulu..."


"Siapa bisa terima, Rin. Dia sudah bikin nyokap tak keruan hidupnya."


"As.... bisa denger suaraku?"


"Tapi ini sudah keterlaluan...."


Sayup-sayup terdengar bentakan keras di kamar orangtuanya. Pastinya Asty bisa menduga lelaki itu menyakiti ibunya. Sekuat apapun Asty menutup telinganya dengan tua tangannya. Suara itu makin menusuk ke ulu hatinya.


"Rin... bisa terima aku kan?"


"Kan kubilang sabar dulu. Kamu bisa ceritakan apa persoalannya. Jangan mengambil keputusan sepihak gitu."


"Kau dengarkan..."


"Iya.. aku bisa memahaminya. Siapa tahu mereka sedang bicara tentang hal serius. Sudahlah... kau jangan punya pikiran macam-macam. Tentu akibatnya kurang relevan."


"Tapi..."


"Sekarang kamu tenangkan hatimu dulu...."


"Segenting ini! Kau bilang harus dengan tenang menghadapinya. Mereka sedikitpun tidak punya hati nurani."


"Kau jangan punya pikiran buruk. Kalau tetap memaksa. ya, apa boleh buat. Kau ke sini atau ke rumah Rika, okey..."


Asty sedikit menarik nafas lega. Ada dua rekannya siap menerima dia sebagai tamu. Diam-diam Asty keluar kamar walaupun suara dari kamar utama sudah tidak terdengar suara ribut-ribut.


****


Ringan udara terhembuskan sewaktu telpon terputus. Kegusaran itu kembali menyeruak. Terpenting dia bisa selesaikan permasalahan satu demi satu. Di antaranya papa selalu menekankan bahwa pagi ini ia harus nerima penawaran Handoko. Kendatipun Linda sudah berikan arahan sama putrinya agar bersikap lebih hati-hati sama keluarga Aldy.


Pengalihan wewenang di perusahaan keluarga akan segera dilakukan. Mengingat kondisinya sudah tidak relevan pada eranya.


"Papa sudah siapkan semuanya. Nantinya papa perkenalkan pada kolega kita. Mereka tentu punya pandangan baik, ketika mengetahui visi dan misi bisa diterima."


"Apa tidak bisa ditunda?" sanggah Ririn


"Papa tidak punya alasan lain."


"Harapan pertama saya bisa terima tanggung jawab sepenuh hati. Terus dapatkan dukungan positif, mama harus mendukung."

__ADS_1


Linda kelihatan gugup waktu terima keputusan dari putrinya. Agar kakaknya bisa ambil study di Jogjakarta kembali. Permohonan itu sepertinya banyak mengalami kesulitan untuk merajuk Elyana. Apalagi sikapnya terlampau keras, mama saja harus menerima dengan lapang dada. Linda sungkan, berdebat, bersinggungan pribadi.


"Mama bisa kan kak Elyana kuliah di sini...?" pinta Ririn. "Karena saya sulit buat menerima tugas papa. Lagi pula urusan kantor sukar saya ambil tugas papa."


"Iya... itu hanya perasaanmu saja. El... mau selesaikan study disana. Sekarang kamu temui papa dan katakan kamu siap menjalankan bisnis keluarga."


Estapet bisnis harus beralih ketangannya. Dia mulai melakukan lobi-lobi sama kolega ayahnya. Boleh jadi Ririn harus meninjau ulang ke pusat kerajinan tenun di Gamplong. Ada beberapa hasil buah tangan itu juga masuk ke pasar dunia. Demikian harapan Ririn harus dirintisnya, keringat dan air mata.


Dalam balutan gaun kebiruan Ririn hendak bepergian, dia ingin memenuhi janjinya pada ayahnya. Dari lubuk hatinya paling dalam ialah berbakti pada kedua orangtua. Belum bisa terbayangkan kunjungannya kali pertama, lingkungan baru segera menjadikan dirinya orang asing.


Betapa bangganya mama lihat sang putri waktu menuruni anak tangga. Seindah bunga di taman, apakah tidak ada cowok mencoba naksir putriku. Demikianlah permohonan Linda pada sang Kuasa. Ketentuan itu adalah mutlak siapapun takkan mampu untuk merubahnya kembali. Mahkluk hanya dapat menerima dan menjalankan sebaik-baiknya. Agar nantinya termasuk dalam lindungannya.


"Duh, kau nampak lebih anggun hari ini...'


Ririn tersipu. Ada segulung senyuman bukin hatinya sulit digantikan oleh apapun. Memang di hari sebelumnya Ririn berpakaian tomboy. Stelan jean dan kaos kausal cukup menjadikan dia jadi gadis berpikiran matang dan mandiri. Sedikit pun tidak membutuhkan bantuan orang lain. Biarpun mamanya mengajarkan agar Ririn tetap bersahaja dalam kesehariannya.


"Kamu ini..."


"Saya sudah..."


"Yap, mama harap pagi ini merupakan awal dari perubahan. Pesan mama, kamu tidak boleh merasa lebih pintar daripada orang lain."


Manja Ririn merangkul mamanya penuh kebahagiaan. Mungkin dengan cara ini dia mampu mendongkrak usaha papanya. Berkas dipersiapkan oleh Handoko, dia juga suruh asisten kawal sampai di ruang meeting. Kali ini Ririn tidak ingin menaruh kekecewaan mengenai permasalah pribadinya.


"Ya, mama bukan tidak percaya dengan kemampuan Ririn. Melainkan mama susah hilangkan banyangan tentang kakakmu. Elyana mungkin saja tidak kuasa harus lihat adiknya mendapatkan kesulitan."


"Itu hanya anggapan mama."


"Kamu tidak boleh berpikiran terlalu jauh. Ini semua keputusan papa, kamu tidak perlu risau karenanya.'


Duh, mama kalau sudah keluar petuahnya. Siapa pun pasti juga luluh buat menuruti perintah secara halus. Sekeras batu kalau ditetesi air lambat laun akan berlubang jua.


"Apa saya pantas bergaya seperti perempuan...."


"Menurut mama, kamu jauh lebih anggun daripada gadis di ujung sana."


"Mana mungkin..."


"Lihat kearah cermin..."


"Gimana mang apakah sudah siap?"


"Non ini selalu bikin kaget," mang Uge spontan lepaskan lap. "


"Makanya jangan banyak melamun. Tuh, lihat ayam tetangga melamun mati."


"Duh amit-amit, ah."


"Ya sudah sana. Bereskan kerjanya."


Lelaki paruh baya itu masih menunggu, dengan harapan penuh iba. Wajah hampir tertekuk sepuluh, kebiasaan lama rupanya. Seganlah majikannya lihat wajah melas. Ririn berikan uang tips seratus ribuan. Uh, tentunya wajah lelaki itu menjadi lebih cerah. Sambil kipas-kipas uang ke udara. Berjingkrak mang Uge lepas majikan dan menuju ke pintu gerbang.


"Hati-hati di jalan Non.....!"


"Makasih ya."


Ririn hanya senyum dan mobil putih melaju perlahan menembus dingin berisik embun.


Setiap embun jatuh menutupi ujung rerumputan di sepanjang tepian jalan. Pantulan sinarnya mirip mutiara bertaburan di permadani. Belum lagi keharumannya menyadarkan bawah alam sadar seseorang untuk banyak memetiknya. Ririn sadar benar posisinya saat ini harus mampu meraup butiran mutiara itu. Selama papanya punya ambisi kuat tentang putrinya. Atas dasar landasan inilah Ririn akan menunaikan semua permohonan mereka.


"Kenapa aneh mobil ini..." batin Ririn.


Sepanjang jalan Ririn hanya melirik sekilas, pemandangan indah sulit untuk dilupakan. Ia cuma sekali waktu diajak kakaknya melintas ke bukit Mberjo. Pohonnya rindang-rindang, sejuk. Mungki disatu waktu akan ke tempat ini. Kali ini Ririn harus lebih fokus sama tugas awalnya sebagai pimpinan langsung di perusahaan keluarga.


Satu jam lebih mobil melaju dengan kecepatan sedang, melintasi para pesepeda. Anak sekolah siap perjuangkan masa depan mereka kelak. Angin dingin menerobas tanpa di suruh masuk. Ririn melambatkan laju mobilnya. Ada hal yang memikat hatinya, yakni hamparan area persawahan demikian menguning terhampar layaknya permadani berwarna keemasan.


Secara tak sengaja melihat Ririn lihat ke kiri. Rasanya dia takkan pernah percaya sama penglihatannya, atau pandangan matanya salah. Tapi, dia mau hentikan laju mobilnya, seorang pejalan kaki tiba-tiba melintas. Beruntung Ririn dapat kendalikan kemudinya. Lelaki itu tersungkur ke sisi jalan berumput.


"Astaga...!" pekik Ririn.


Wajahnya sontak semu kepucatan. Dia tidak bisa lihat apa saja di depan matanya. Benturan keras di dadanya, lelaki itu masih menahan rasa sakit, dia tekan kuat-kuat agar hilangkan rasa sakit.

__ADS_1


Gugup Ririn buka kaca mobil. Gerak jarinya menekan handel pintu. Serupa terbang ujung jari-jarinya sentuh tuas. Sipit matanya melihat keluar, benar saja lelaki sedang menahan sakit. Spontan ia turun hendak berikan pertolongan atau bantu lelaki itu supaya bisa berdiri tegak. Bukan kepalang gadis terperanjat wajah yang selalu membayangi hidupnya.


"Kau lagi..."


Bibir mungil Ririn membulat, tapi tidaklah kurangi rasa kecantikannya. Maka tiada jemu cowok itu terus memandangi keindahan alami dihadapannya.


"Aku...?!" rintihnya lirih.


"Aku bisa menduga kau, sengaja mengikutiku. Terus terang saja buat menutupinya. Kenyataannya kau punya seribu alasan." tuduh Ririn tidak mau kalah.


"Dengar dulu..."


"Buat apa? Harus dengarkan keluh kesahmu. Pasti hasilnya ingatkan sesuatu dariku. Apa hal serupa itu bisa dibilang benar."


"Iya... ya. Kau boleh apa saja menuduhku. Hak kamu buat kasih penilaian, aku mohon berikan aku..."


Belum sempat lelaki itu hendak meraih tangannya. Ririn lekas-lekas mengibaskan tangannya. Nyaris tersungkur ke sisi persawahan. Kedua tangan masuk ke lumpur akibat menahan keseimbangan badan. Dibasuhnya tangan pada celah air. Berlarian dikejarnya gadis itu dengan harapan bisa bicara banyak.


"Jangan ikuti aku..."


"Kau tega, Rin."


"Aku masih banyak urusan."


"Tunggu..."


"Awas! Kau jangan di depan mobilku. Mau celaka ya!"


Riyan tetap merentangkan kedua tangannya, sekalipun penuh dengan lumpur.


"Sebaiknya kau menyingkir sebelum aku..." ancam Ririn.


"Silahkan. Asalkan kau bisa tersenyum bahagia. Apapun kan kulakukan demi kamu..."


"Ada baik engkau simpan saja. Buat apa buat bualan di depan orang. Apa kau pikir mereka akan menaruh peduli. Cepat sebelum aku berubah pikiran."


Keduanya saling bersikeras pertahankan prinsip masing-masing. Bahwa keputusan Ririn telah mencapai titik nol. Sulitlah digantikan. Sinar kebencian Ririn menyala kembali waktu Riyan kepergok sama gadis adik kelasnya. Walaupun sulit rasanya menerima kenyataan pahit, Riyan akhirnya lepaskan Ririn pergi. Mobil itu makin menjauh dan mengecil di ujung persimpanga desa Sumber Agung.


Sepanjang perjalanan menuju kantor, Ririn geleng kepala. Otaknya bagai dijungkir balik. Aneh, kenapa dunia demikian sempit. Hindari mahkluk itu sulitnya minta ampun. Seolah-olah mau lumatkan isi kepalanya, dan segera dibuang jauh-jauh. Kekal dikubur dalam batu padas.


Begitu sampai di depan gapura warna hijau pupus, bercorak memikat mata untuk menikmati. Aroma di sekitar sini sangat bangkit aura positif. Insiden kecil baru saja menimpaknya terhapuskan oleh suasana sendu, tetapi ada hal lebih memikatnya, perempuan bercaping dibalut kain kebaya. Sungguh kesalahan mulai membaurkan gadis itu pada pedesaan yang kental. Sekejap mata sukar berpaling ke sisi kosong lainnya. Dua orang gadis remaja juga menyambut Ririn, serta gandeng tangannya dengan hormat ke pendopo. Para pengrajin di tempat kerja, mereka tersenyum ramah.


"Silahkan non. Kami semua siap menerima arahan."


"Dari mana kalian tahu...?"


Satu demi satu Ririn sapa, ia ingin mengetahui lebih banyak pengetahuan mereka tentang pangsa pasar ke depannya. Pada dasarnya Ririn lebih sikap keterbukaan setiap mengambil keputusan. Terlihat oleh Ririn di sini ada pribadi sifatnya tertutup.


"Kamu bisa jelaskan, sedikit saja perihal promo di market...?"


Semua tertegun, tidak ada mata berani ke sisi lain. Wajah mereka tersapu layu. Impian pertama Ririn akan terwujud, menata kembali dari awal produksi sampai ke pemasaran.


"Kenapa kalian hanya berdiam diri. Kali ini saya ingin dengar langsung seberapa jauh pengetahuan kalian."


"Sedikit saja..."


"Yang lain, ayo... saya punya impian. Jikalau saudara-saudari memiliki keluhan."


"Ada, kita semua mengalami pendapatan menurun, jam kerja terlalu ketat."


"Baik. Saya akan terima semua usulan. Dan saya sampaikan, tinggal eksekusi."


Apapun orang pikirkan belum tentu idenya akan bisa menembus pasar dunia. Wit, Ririn harus banyak pelajari leteratur di beberapa buku di ruang kerja papanya. Dia hati-hati cari tahu asal-usul daftar dari karya yang terpajang di dinding ruang pamer.


Lukisan.


Arsitek ruangan pamer bernuansa pedesaan, rumah pendopo, joglo. Pemandu pandai ceritakan komoditi apa saja yang tersaji. Maka kekagumannya cukup mendasar. Handphone di sakunya berdering berkali-kali. Di abaikan begitu saja suara cukup mengusik.


"Silahkan untuk dijawab. Siapa tahu penting..." seloroh si pembantu.


Ririn menyisih ke tepian. Sewaktu diangkat dia terkejut bukan main, ia kenal bener suara. Ada rintihan kesakitan, apa mungkin itu suara Asty? Cepat Ririn alihkan pandangannya. Si pembantunya mempersilakan untuk berkomunikasi.

__ADS_1


"Aku tidak salah dengarkan...'


"Ini aku, Asty... masak kamu bisa lupa sama janjimu. Aku hampir seharian nunggu jawabanmu. Kau terlalu sibuk."


__ADS_2