SEBENING AIR MATAMU

SEBENING AIR MATAMU
Rumah Idamanku


__ADS_3

Kabar bahagia itu lama ingin diperdengarkan sama keluarga. Mereka sudah sekian lama menunggu keputusan Aldy. Di antaranya Lusi selalu kepo tentang jalinan kasih kakaknya.


Buktinya!


Lusi berkacak pinggang. Nyaris setinggi di atas pinggang dua lengannya melipat di sana. Kegarangan berikutnya mulai menyelimuti, keluhan pertama dia selalu jalan kaki pulang sekolah. Mas Aldy nyatanya ingkar janji semenjak antar jemput mbak Ririn.


Mudah saja Aldy alihkan pokok pembicaraan ketika adiknya meminta jawaban pasti. Cepat dialihkan dia bisa nebeng sama teman sebangku.


Hey, nah Tuhkan mau pergi cepat. Bergegas Lusi kejar kakaknya ke garasi. Yep. Kunci mobil ditangkap. seraya memutar-mutar kunci diatas kepala. Sebal dibuatnya Aldy juga ikut merebut. Cerdik Lusi hindari sergapan kakaknya. Saling kejar-kejar sampai ke halaman.


"Dik kemarikan...!" pinta Aldy mengiba. "Kamu bener-bener acara saya berantakan lagi. Cepatlah...?"


Tambah menjadi-jadi Lusi bawa kunci mobil siap di lemparkan ke kolam. Aksi Lusi bikin kakaknya kalang kabut. Sepagi ini Lusi cari keributan. Mbok Wereh ikutan latah. Kejar-kejaran di taman, mana keringat bercucuran basahi pelipis. Terbalik dari kekacauan itu suaranya kedengaran sampai ke kamar mamanya. Melihat hal itu Tanti terkesima, ada saja kelucuan dua putra-putrinya berbuat gurauan. Beliau mudahnya diingatkan tentang masa kecil Lusi kerap bikin keributan di rumah.


'Sudah besar dia itu kan pa...?"


Herdy sebenarnya malas buat menimpali gerutu istrinya. Paling di ujung pembicaraan itu maksud dan tujuan. Benar saja dugaan di awal. Sikap Tanti hangat siang berganti malam. Dulu mereka sering berbeda pendapat tiap kali hadapi kedua anaknya.


Dalam sepuluh tahun terakhir Tanti mulai menyadari kesalahannya. Bahwa Aldy harus melanjutkan semua cita-cita papanya sebagai pengganti pemangku jabatan direktur di salah satu anak perusahaan di Jogja. Gampang saja permintaan itu disampaikan sama Aldy. Selepas kuliah jurusan ekonomi selesai, jabatan sederet fasilitas lainnya siap disandang di bahunya.


'Engkau menyesalinya. Lalu akan mencarikan jalan keluarnya. Menurutku putaran waktu sukar dihindarkan." sesal Tanti.


Jemari Herdy terkepal rapat. Cengkraman itu mulai melunak. Ketika mata menangkap keceriaan Aldy yang masih kejar-kejar adiknya. Dia berhenti tepat di bibir kolam. Takut si Lusi siap melompat ke kolam. Dia tahu persis adiknya belum mahir berenang.


ye..


up

__ADS_1


Siaplah Lusi lemparkan kunci mobil ke tengah kolam. Sekali hempas. Duh, kunci sudah melambung setinggi dahan. Melayang sesaat di udara. Cepat gerak kaki Aldy lompat ke kolam.


Byur....?


Sudah pasti basah kuyup. Bukan main dingin air pagi, menyusupi tulang. Ia hanya bisa menahan gigil, sedang kunci di lempar melambung saja. Lusi sudah siap menangkap sigap gerakannya. Pintar Lusi mengelabuhi kakaknya. Sambil tertawa lebar lihat mbok Wereh ikutan kecemplung. Tawanya sampai terpingkal-pingkal, ia pegangin perut nahan tawa.


"Kelakumu dari dulu selalu...." Aldy masih menahan dingin. " Sekarang saya nyerah. Sini kembalikan kuncinya. Coba kalau kuncinya jatuh ke kolam. Artinya kamu kena omelan."


"Ye... siapa yang mau ambil pusing. Habis Lusi minta tolong tidak dapat perhatian?" Lusi bernada ketus. "Sekali lagi saya minta bantuan, mas Aldy justru sibuk sama diri sendiri. Biar tahu rasa...!"


Nyonya Tanti buru-buru melerai keduanya. Setiap ketemu pasti ada saja yang diributkan. Persoalan kecil sering dibesar-besarkan. Dugaan pertama Aldy suka ambil barang pribadi adiknya. Belum cukup sampai disitu, Lusi kerap dikecewakan. Salah satunya Aldy lambat jemput sekolah, sering diprotes Lusi.


Intinya Lusi cemburu sosial sama calon kakak ipar kali ya. Habis jadwal anter sekolah berantakan gitu, Lusi musti nebeng papa atau temen di ujung gang. Lalu apa enaknya musti nunggu tanpa kepastian. Jauh lebih mirip kambing congek, berdiri, sepi, mainin hp.


"Sini kan kuncinya...!"


"Kalian ini sedang perebutkan apa? Aldy ada apa ini sebenarnya? Jawab jangan hanya diam saja..." Tanti makin penasaran. "Mama tidak mau kalian dapatkan celaka."


"Itu mama, si Lusi minta perhatian. Jadinya dia ikutan kalap, kalau dia kurang mendapatkan perhatian...?"


Lusi maju selangkah handang posisi kakaknya, dia jauh lebih takut sama kemarahan mama, belum lagi dirinya harus menelaah tentang sikap caper sama kakaknya. Aldy sadar bener melihat gelagat dari adiknya. Kadang-kadang cepat sekali waktu mengalami renkarnasi, dia sulit diatur dan jarang melakukan curhat sama istrinya.


"Kalian sepertinya bisa menempatkan diri, bukan justru sebaliknya. Setiap hari pasti ada saja yang direbutkan. Apakah ini dikatakan kurang menguntungkan orang lain." omelan Tanti.


Tentunya Lusi sedikitpun mau kalah, saling adu argumen, terkukung dalam rumah serta omelan. Aldy sebenarnya ingin lari saja, tapi dia kasihan lihat mamanya terbebani oleh sikap Lusi ingin dapat perhatian. Walaupun Aldy berusaha menjelaskan mengenai jalinan kasihnya. Pilihan pertama dia harus bisa mendekatkan keduanya.


"Kamu bisa denger apa yang diucapkan mama? Mulailah, dari sekarang bisa menerima arti perbedaan antar sesama."

__ADS_1


"Masa bodo..." ucap Lusi sambil lalu. Sekali lagi Lusi ngak mau masuk sekolah harus naik becak. Gengsi dong..."


Aldy hanya bisa mendengus lihat kelakuan adiknya seolah tidak peduli lagi sama melakukan penilaian yang kurang jelas.


Kang Wagino.Kalau dapet perintah cekatan buat melaksanakan layaknya titah baginda. Langkahnya terbungkuk sodorkan handuk sama majikannya. Semula Lusi ingin halangi langkah Wagino. Begitu kakinya terantuk kaki Lusi terhuyung beberapa tindak, akhirnya jatuh nyaris masuk kolam.


"Makanya, kalau jalan pakai mata. Jadinya seperti sekarang jatuh tersungkur. Aku juga ....?"


"Ndoro..."


"Si penolong? Mas Aldy harus mau tanggung resikonya."


"Saya.... saya cuma?" suara wagino parau.


Kejadian pagi ini bikin Aldy harus berpikir serius. Ketika dia punya pandangan sama seorang gadis, tiba-tiba adiknya tidak merespon. Lusi dorong tubuh kakaknya. Ia hanya mau ingatkan keputusan final di tangan mamanya.


"Okey....?"


"Jadi hari ini kita berangkat. Lusi nggak mau lambat lagi sampai sekolah. Lekas mas ini sudah siang...!" kali ini Lusi tidak main-main. "Tuh, lihat saja sendiri jam berapa. Waktunya tinggal 30 menit."


"Iya. Itu soal gampang. Mana sini kunci mobilnya. Lusi cepat sedikit ini jauh lebih genting." kata Aldy keras.


"Tidak mau!"


Akhirnya Aldy harus keluarkan rayuan. Punya adik tengil dan cantik tentu punya trik khusus. Dia usaha ajukan permohonan dengan kasih bingkisan berupa coklat.


"Kapan lagi dong, ada peluang buat kenal sama kakak ipar."

__ADS_1


Lusi bersorak kegirangan dapat uang tutup mulut berupa dua batang coklat.


__ADS_2