SEBENING AIR MATAMU

SEBENING AIR MATAMU
Doa Mama


__ADS_3

Setumpuk pekerjaan masih diatas meja, lembaran berkas belum satupun disentuh. Artinya Elyana akan lebih lama untuk liburan di rumah karibnya. Dia segan untuk mengulang hal kurang menyenangkan hatinya. Awalnya dia akan menepati janji daripada mamanya.


"Kau ini masih saja memikirkan hal yang tak perlu diperhatikan. Buat apa terlalu punya penafsiran berbeda. Jelasnya tempatku bukan buat melawan nasib."


"Siapa bilang Sonya? " tuding Elyana.


"Saya sama sekali tidak mengatakan demikian, buat apa terus sibuk? Sementara kau tidak pernah ambil peduli sama kehidupan pribadimu. Apakah ucapanku keliru?"


"Terima kasih."


Berlalu saja Elyana ketika dengarkan semua nasehat Sonya. Telinganya macam ingin pecah Saja, baru juga menjejakan kaki dia dihadapkan oleh persoalan pribadi. Dia duduk di taman dengan tatapan kosong. Wajahnya serupa layu, bunga di taman karena malas disiram tiap sore. Sonya masih juga menaruh rasa segan buat menarik diri. Ada satu hal belum pernah tergantikan. Dia sebenarnya punya niatan untuk meluruskan jalan jalinan asmara temannya.


"El... kamu tidak mau menata hidupmu lebih baik lagi. Bukan berarti saat kurang baik, ya alangkah indahnya kamu membuka diri... "


Pribadi Elyana jauh berbeda dengan perempuan sebayanya hidup selalu menurut apa kata orangtuanya. Atas alasan apa pun Elyana menempati predikat top women. Sosok perempuan mandiri jika menghadapi masalah disekitarnya. Doski juga pandai menyimpan rahasia pribadi. Selain dia bermuka hamble pada siapa pun salah satunya tetangga Sonya.


"Kamu masih sangsi untuk tinggal sementara di sini? Sudahlah kamu bisa sambil mengawasi bisnis juga bisa dari jarak jauh. ya, aku cuma kasih usulan saja tidak lain."


"Makasih atas perhatianmu, entah bagaimana aku bisa balas kebaikanmu."


Sonya merasa dimenangkan oleh sikapnya, tentu semua orang banyak berikan pernyataan khusus. untuk berikan sambutan hangat sama seorang kawan tentu ada baiknya. Elyana lemparkan senyum simpul. Dia balasan senyuman Elyana punya anggapan keliru. Buat apa perkenalkan sama perempuan kurang berpendirian dalam urusan asmara. Terutama berurusan sama cowok bertampang keren, miliki inisal Ken.


Siang! Bukan saja harapan semua manusia di muka bumi. Harapan mereka tentu sama yakni mampu mengisi dan menjalani sisi kehidupan secara seimbang. Pada dasarnya Elyana masih merasakan kebimbangan buat melewatkan masa perkenalan. Mungkin saja selama tinggal di rumah Sonya dia banyak mendapatkan ucapan salam kenal. Terbukti ketika Elyana masuk pintu kamarnya, di sudut lain ada tergeletak untaian bunya. Dalam seminggu terakhir bingkisan bunga terjungkal di sisi kamar. Anehnya Sonya terus mendesak agar Elyana bisa menerima Keny sebagai pasangan serasi.


"Hai... "


Suara Sonya selalu bikin gempar seisi rumah. Cerewetnya bukan kepalang, semisalnya dia punya keinginan juga harus tersampaikan. Ini bisa dirasakan ketika Elyana mendapati Sonya duduk santai sama mamanya. Ia bergegas ke sisi lainnya takut diaalah artikan telah dengar pembicaraan orang lain.


"Pagi ini kau tidak punya acara ke mana-mana? " Fenty meminta tolong. "Mama bisa saja jalan sendiri ke toserba, ada sedikit keperluan sedikit. Jadi apa salahnya kau bisa antar naik motor... "


Sejenak Sonya berpikir panjang, dia kali ini sudah merencanakan tujuan, ingin perkenalkan sama seorang kawan. Walaupun usahanya ini belum tentu menunjukkan hasil secara maksimal. Paling tidak dia bisa berikan solusi buat Elyana. Konyolnya lagi, apa sih enaknya jadi perawan kelamaan. Mamanya lihat Sonya tidak berikan jawaban mau atau tidak mengantar ke toserba! Di todongkan gagang sapu. Sampai terheran-heran Elyana lihat Sonya mudah meyakinkan ibunya. Bahwa calon dari temannya itu juga memiliki kelebihan sebagaimana lelaki pada umumnya. Diantaranya dia juga bisa menyenangkan lahir dan batin.


"Mama sudah berkali-kali katakan. Jangan suka berikan janji apapun sama orang lain. Kan sampai detik ini belum menunjukkan pembuktian. "


"Tenang saja, sudah tentu ada buktinya."

__ADS_1


"Atas dasar penilaian semu. Semestinya kamu bisa kasih masukan, bukan sebaliknya hanya mencari keuntungan pribadi."


"Saya sebatas bantu, tidak lebih. Mama boleh menilai dari sudut pandang sebagai seorang ibu. Tentu memiliki empati berbeda, sedangkan saya berharap semuanya akan berjalan baik-baik saja. "


"Trus sampai kapan kamu perhatian nasib orang lain? Berkaca sama pribadi kawan memang ada baiknya. Mama juga punya harapan. "


Keduanya sering berdebat sengit tentang masa depan. Mengingat usia Sonya tidak muda lagi, sikap terus menyendiri. Banyak merenungi akibatnya sulit punya kekasih. Selain perangai Sonya cenderung tomboy cukup menjadikan cowok-cowok segan mendekatinya. Semua nasehat sebenarnya mengandung nilai pembenaran.


"Ayo buka pintu hatimu. karena halitu jauh lebih baik.


Dari umur belasan Sonya bisa hidup mandiri. Sedikitpun enggan menggantungkan hidupnya sama orang lain. Mamanya, sebenarnya menaruh rasa kasihan begitu melihat kondisinya kurang logis. Di beranda Elyana masih sibuk buka file. Satu demi satu dia periksa hasil dari riset karyawan. Memang ada hasil belum juga memenuhi standar, sesekali ia memandang sekelilingnya sebatas buang kejenuhan. Memang lingkungan rumah Sonya sedikit Saja tidak membosankan buat dinikmati oleh mata. Terutama bunga anggrek putih masih bertengger di pohon nangka. Aroma semerbak hinggap di ujung hidung Elyana. Alangkah cantiknya. Keelokannya begitu menentramkan alam pikiran, sejurus saja ekor mata Elyana menikmati keindahan taman. Seminggu tinggal disini, tentu banyak menemukan kesan manis. Duh, malesnya lihat kegiatan Sonya sering ajukan godaan jalan menyusuri sisi rumah. Di jalan menurut letak rumah cowok yang kerap mengusik pikiran. Apa sih enaknya menerima usulan kurang masuk akal?


Bener adanya, Sonya melenggok sambil bawa baki berisi dua gelas teh hangat. Lemparkan seulas senyum begitu lihat Elyana duduk di bangku taman. Ada semburat keheranan waktu mau lepas tanya. Hatinya tidaklah sampai hati buat orang lain bertanya-tanya. Atau sebuah doa, pernah satu kali mamanya berucap; "kamu tumbuh dewasa, mustinya bisa menata hidup lebih baik lagi." Sepenggalan kata itu masih membayang di pelupuk mata. Sonya kalau sudah lihat Elyana terpuruk dalam kesendirian, apakah mungkin dia juga harus berdiam diri?


"Rajin... "


"Terima kasih. Saya jarang dapat pujian. Memang kurang pantas, buat sajikan minuman ringan? Jangan suka merendah, sekecil apapun pekerjaan kamu lakukan."


"Saya jadi merepotkan di rumah ini. Kamu ini selalu punya perhatian khusus. Oya, memang ke mana pembantunya? "


"Tidak perlu berlebihan soal kegiatan di rumah kami. Kau bisa lihat sendiri? Semuanya akan baik-baik saja." kata Sonya.


Hal itu, sengaja dilakukan agar mamanya tidak mendesaknya supaya mencari pendamping hidup. Karena tiap orang tentu memiliki prinsip setiap kali memandang kejadian sekecil apapun. Ini artinya Elyana akan banyak menemukan orang-orang yang sering terasing di lingkungannya. Dia tidak bisa bayangkan gimana jadinya, ketika mamanya sudah banyak berharap! Bahwa Elyana dapat memenuhi harapan mereka di kemudian hari, sedangkan dia masih menyimpan rapat-rapat.


Di hari pertama, Sonya berharap Elyana bisa terima karibnya. Dia juga mudah dalam menceritakan kegiatan sehari-hari cowok tampan. Males, buat denger nama cowok itu. Atau Elyana segan menatap tajam, sejujurnya ada setumpuk kerinduan. Kangen akan dekapan hangat sebagai pelindung hatinya saat terlelap oleh buian mimpi.


"Hey.... cantik! Sedari tadi kuperhatikan kamu melamun terus. "


"Sebatas cari peluang saja."


"Boleh juga."


"Asalkan tidak kelewatan, maksudku tidak baik duduk sendirian gini. Kan ada baiknya, kamu bicara sama siapa saja. Karena menurutku jauh lebih menantang dalam kehidupan."


"Makasih. Atas pandangannya. Tapi saya sempat terheran-heran kau sendiri asyik jomblo ria, " sindir Elyana.

__ADS_1


Ungkapan ketus Elyana sangat menyinggung perasaan rekannya. Namun itulah kenyataan harus diperjuangkan agar nantinya tidak dianggap orang keduanya punya hubungan khusus. Demikian anggapan miring sering terlintas di benak ibunya. Seumpama dia biasa dituding merebut suami orang. Uh, kesal adanya Sonya di tuduh macam-macam sama orang terdekat. Kendati pun postur tubuhnya mirip cowok, sisi baiknya ada sikap lemah lembut ketika Dony menyambangi pondok Sonya. Maka tidak mengherankan Elyana jauh ingin belajar untuk tidak bersikap egois. Terutama waktu ia berhasil dapatkan surat kawat. Isinya singkat: kamu harus segera pulang, kami di sini menunggu.


"Hey, asyiknya kalau melamun. Berbagilah... lagi pula apa enaknya? Punya masalah besar kecil dipendam sendiri. Setidaknya kamu ceritakan biar ada solusi dan jalan pemecahannya. "


"Tidak ada... '


" Jangan bohongi diri sendiri, akibatnya kurang baik dibelakang hari. "


"Aku dapet surat, intinya harus pulang ke Jogja. Rasanya berat saja, habis sudah terbiasa hidup mandiri. "


"Uhuy, itu ada baiknya."


"Lho kok bertambah seneng. "


"Kau bisa lihat sendiri. Contohnya saya, hidup kurang beruntung tidak punya perhatian dari nyokap. Gini maksudku, kau harusnya bisa berterima kasih sama mereka. Sekalipun kau di seberang lautan, mereka masih menaruhkan perhatian khusus. Apa itu bukan satu nilai plus? "


Elyana hanya bisa. menghela nafas panjang. Mana mungkin dia mampu menanding ucapan Sonya terus nyerocos serupa kereta api. Beruntung Dony datang dengan bawa coklat di tangan. Kelihatan kewalahan melayani gaya bicara Sonya cenderung ceplas-ceplos. Ibaratnya ayakan tepung lubangnya jarang gitu. Sejurua saja melontarkan kata, pasti didapatkan ratusan kata balasan.


"Hey.... ganteng boleh minta es krim nya? " Elyana sambil sodorkan tangannya. "Nanti tante bisa ganti dengan mainan yang menarik.... "


Dony merunduk. Wajah anak itu seolah banyak menyimpan delima. Elyana enggan berburuk sangka ketika lihat wajah polosnya. Keluguan bocah itu juga menarik simpatik orang terdekat kasih perhatian. Dia lucu perangainya, jika Elyana juga suka sama anak kecil wajar. Dalam penglihatannya anak kecil tidak ada menyimpan rahasia. keluguan itu sergap rasa suka. Di cubit gemas pipi gemuk bulat. Dony diperlakukan manis oleh tante Elyana merasa dekat, serupa anak merindukan ibunya.


"Kamu main segini jauhnya. Sendirian lagi, apa tidak ada yang berbuat nakal? "


Dony geleng-geleng sambil melirik ke wajah tante Elyana. Tangan mungilnya bergelayut di pinggang Elyana. Anak kecil itu seolah sedang merasakan ketentraman. Sekian lama hatinya tidak pernah disirami oleh kasih sayang seorang ibu atau perempuan dewasa.


"Main sendiri saja. Kan tidak jauh dari rumah. "


"Jadi rumahnya dekat sini!? " Elyana sedikit penasaran.


Semenjak itu hubungan keduanya makin dekat, terlihat sering bersama main di halaman. Dony juga berharap kedekatan itu menjadikan dia lebih tenang dari hari-hari sebelumnya. Satu jam duduk bersama bagi anak itu terasa lebih singkat waktunya. Apa mungkin kerinduan dia memiliki alasan khusus. Bukan itu saja, melainkan Dony mulai mengajukan keinginan sulit diterima sama Elyana. Biasa saya kedengarannya kalau dia kabarkan keinginan Dony. Aneh saja bila Elyana mau menurutinya.


Dibuat pusing sendiri itulah alasan Sonya mau tegur sohibnya. Boleh saja? Orang lain komplain mengenai kehidupan pribadinya. Lagi pula mana ada perempuan hidup di dunia sendirian. Seumpama ada saja ejekan dari temen lama, pantaslah Sonya cuek akan gosip murahan. Terheran-heran Alyana lihat keseharian Sonya di rumah. Dia berdandan seadanya, tanpa colekan make up. Ya, dasarnya sudahlah berparas ayu nan rupawan. Pendapatnya kalau pria suka memang dari kecantikan. Prinsip itu satu waktu pasti luntur di makan remuknya umur.


"Hei.... Kapan berangkat ..?" tanya Sonya.

__ADS_1


Sedang nyaman melamun bayangkan si pujaan hati. Dari lubuk hatinya akankah Elyana bisa menerima uluran tangan si tampan. Sepagi gunung saja langsung berikan hantaran. Lugas cara penyampaiannya. Lebih herannya apa mungkin lelaki itu punya keahlian dalam memasak.


__ADS_2