
Kala berjumpa...
Mutiara, permata.
Ruang rindu terus menyergap, jadi mengajak pada pertemuan. Mata terpejam siap buka deretan lembaran anyar. Hampir seisi kamar terisi oleh bingkisan, boneka mungil, motif batik, deretan lukisan hiasi tiap sisi rumah. Ririn masih punya kesan manis lihat buah tangan dari pecinta lukisan. Ah, malu rasanya buat mengingatnya soal itu.
Ririn tidak ingin dirinya jadi limpahan kemarahan semua orang, termasuk salah satunya Riyan. Pria sedikitpun kurang menaruh simpati. Apalagi mau korban waktunya, lekas-lekas Ririn campakkan seonggok sesal. Kini dia siap arungi bahtera bertahtakan kejujuran. Mana mungkin perempuan harus mengalah bilamana dia selalu disudutkan tanpa alasan. Ada berbagai cara buat menerima tambatan hati, dari sanalah Ririn menapaki detik-detik kenal sama Aldy.
"Kamu seperti hal lainnya, walaupun berusaha tenang hadapi kenyataan,"
"Jangan berprasangka buruk sebelum kita benar-benar menemukan titik terang. Karena aku masih belum ada keyakinan mama restui hubungan kita."
Aldy hanya bisa sandarkan tubuhnya ke kerosi. Wajahnya sedikit tegang waktu dengar langsung ucapan Ririn. Biar pun Aldy masih harus bersabar menerima ketulusan kekasihnya. Sebagai landasan dia harus secepatnya berkunjung ke rumah Ririn. Bahwa dia benar-benar ingin mewujudkan impian keduanya. Seberat apapun batu karang yang menghadang dihancurkan, setinggi apa pun dinding penghalang akan segera diruntuhkan dengan keiklasan.
"Baiklah..."
"Jangan menyerah gitu dong. Kamu mustinya bisa saling menguatkan. Bukan sebaliknya, kita tidak bisa menunjukkan ikhtiar baiknya."
Demikian penjelasan Ririn saling menguatkan tiap-tiap kepribadian. Tampak sangat rumit, Aldy sendiri salah menafsirkan jalan pemikiran Ririn mengenai jalinan kecil.
"Bangkitlah. Aku ingin melihatnya secara nyata, bukan untuk menimbulkan kegaduhan di sana sini. Kau boleh saja mengatakan tanpa menutupi satu rahasia pun."
"Jangan bicara itu..."
"Tapi kita hadapi sekarang kejadiannya didepan mata. Sepulang kita tentu mereka berhak tahu."
"Kamu bisa jawab apa adanya..."
Matahari sebentar lagi akan tenggelam dalam pusaranya. Bukan saja ketenangan dalam jiwa manusia akan saling bersentuhan satu sama lainnya. Aldy mesra gandeng lengan Ririn ke parkiran mobil. Angin masih berhembus tipis. Kibarkan jurai-jurai rambut Ririn sesekali kibas pipi Aldy. Saat itulah harum parfum yang disemprotkan di tubuhnya. Maka ada juga bermunculan elegi rindu.
Siapa pun takkan rela lepaskan genggaman tangan kekar dan sifatnya ingin melindunginya. Karena jarang pria berpenampilan cool di matanya. Mampu merayu hati kecilnya, sekaligus sebagai sandaran hidup.
"Kau bersedia menerima aku apa adanya, tanpa memikirkan embel-embel lainnya."
"Tentu..."
__ADS_1
"Sekali lagi aku mau tanyakan, apakah kau mencintaiku?" sela Ririn.
Aldy sedikit menarik nafas, hembuskan perlahan hingga paru-parunya terasa lega. Ia berani bertaruh mereka akan mendapatkan restu dari orangtua Ririn.
Dalam perjalanan pulang dari Tawangmangu Ririn terlihat lebih tenang. Semula dia ragu. Tapi ini kali pertama Aldy bersedia mengantar ke rumah Ririn sebagai wujud pertanggungan jawaban. Tegaklah pendirian Aldy untuk persunting pujaan hati, serta siap sedia naik kepelaminan. Impian itu semakin nyata segera dirayakan di bulan mendatang. Bila ingat masa kini Aldy senyum bangga tatap raut air muka Ririn damaikan ujung harapnya.
Tidaklah terasa perjalanan rekreasi bersama ke kasih lebih nikmat dan singkat. Mobil putih itu melaju lewat jalan solo dan 30 menit sudah memasuki jalan Condong catur. Sesampai jalan Klajuran - pasar Gedean hati lelaki itu makin berdekup keras pacu lagunya. Semburat sinar matahari redup tenggelam dalam peraduannya. Aldy sudah bayangkan apa jadinya ibu Ririn pastinya lama-lama menunggu.
"Mas Aldy ragu...?" selidik Ririn.
"Kurasa ada saja cemas..." balasnya. "Siapa akan merasa tenang lihat anak gadis sudah petang hari, belum terlihat batang hidungnya..."
"Jahat kau ini."
"Bukan...?"
Berlagak marah sambil menyorongkan ujung hidungnya. Biar Aldy lihat bahwa hidungnya tidak pesek, melainkan manja dia jentik lembut ujung hidup Ririn.
"Gimana. Apa masih kurang yakin sama penglihatanmu sendiri?'
Kali ini Ririn tak mau dikatakan macam-macam lagi sama kekasihnya. Tanpa disadari Aldy nyaris mobilnya oleng hendak masuk ke selokan sawah. Ririn memekik keras, suaranya benar-benar hinggap di kondangan telinganya.
"Hati-hati bawa mobilnya..."
"Okey..." sahut Aldy bergurau. "Habis dari bikin bulu kuduk merinding."
'Habis dari tadi ngodain terus."
"Tuh, kan... serius sedikit dong bawa mobilnya. Coba tadi kalo salah sedikit saja, kejadiannya jauh lebih buruk."
'Kamu sih."
"Jadi masih nuduh aku lagi."
"Ya maaf atas kesalahanku."
__ADS_1
Setibanya di rumah Ririn, sepi atau sunyi. Hanya lampu-lampu kecil sinar temaram dalam lipatan daun dan bunga-bunga. Rumah idaman. Jarang Aldy sampai selarut ini menyimak seisi halaman rumah. Sebelum berangkat tadi dia masih ingat benar bunda Linda duduk bersandar diatas singgasananya. Tempat itu kosong, hanya berbataskan sepi. Ririn coba gandeng lengan kekar ke pintu utama. Tampak si koko, peliharaan Ririn malas meliriknya atau enggan lihat kebisuan malam.
'Apa aku pulang saja..."
"Sikap kamu salah di hadapan bunda. Beliau pasti sudah menunggu..."
"Ayolah masuk saja..."
Dari arah berlawanan mang Uge masih berjaga di pintu gerbang. Matanya masih rapat, menahan kantuk setelah seharian layani permintaan majikannya. Tanaman sudah dirapikan bagian samping dan belakang jadi sasaran suruhan selanjutnya. Hati-hati Ririn goyangkan tubuh lelaki sedang ter lelap tidurnya. Begitu berhasil di bangunkan, mang Uge mencak-mencak. Mirip orang kejar maling.
"Jangan halangi langkahku!"
Lelaki itu lari ke sana sini cari sebatang besi sebagai alat pelindung diri.
Tangannya meraba-raba ke bawah bale. Tangannya seperti pegang sesuatu lembek-lembek. Begitu tercapai di dapat batang besi. Lalu jari tangannya melayang hinggap di ujung hidupnya. Sambil lemparkan alat kerjanya. Pas dicium ujung jarinya emang kena kotoran si koko. Barulah mang Uge sadar sama lagaknya.
'Gawat. Habislah saya non..." suara lelaki makin gaduh.
"Iya..."
"Saya salah...." ucap mang Uge.
'Hal itu tidak perlu.''
Bungkuk mang Uge bawa ndoro ayu buka pintu utama. Lelaki itu tidak bicara sedikit, waktu memasuki ruang tamu. Lampunya semula temaram juga, tanpa di suruh lagi mang Uge tekan saklar. So pasti suasana terang benderang, seisi ruangan seolah menohok wajah Aldy yang di sorot lampu. Itu artinya Aldy harinya akan dikupas tuntas.
"Selamat malam sayang...." suara bunda ada sarat marah. "Tadi sebelum berangkat janji pulang lebih sore..."
"Bunda..."
'Kamu tidak usah kasih penjelasan lagi. Terus siapa pria yang bersamamu. Ayo kamu bisa jelaskan sama bunda."
"Mas Aldy, teman kuliah bunda.'
"Semudah itu kamu jelaskan. Lalu apa bentuk pertanggungan jawabannya."
__ADS_1
Walau pun terbata-bata Aldy maksud dan tujuannya sangatlah mulia. Ibaratnya ingin satu dua keluarga dalam satu ikatan suci. Sebagai sejarah baru dalam hidupnya kelak.