SEBENING AIR MATAMU

SEBENING AIR MATAMU
-


__ADS_3

Bab 2 Ada Rindu


Duduk santai! Rin... demikian panggilan kecil kerap didengarnya. Ah, mana mungkin kamar sebesar ini bisa dengar panggilan kecil dari seberang tembok. Untuk mencapai ujung temboknya sulit, 2 meter tingginya. Sesadar apapun cowok juga pandai buat melompat atau pasang tangga bambu. Aneh saja bila itu ada, gadis kecil itu makin terheran-heran lihat ke sisi pohon. Dahannya mulai bergerak bukan ditiup angin. Melainkan seorang anak lelaki menyibak daun-daun rindang.


Seminggu lalu pak Handoko ada keinginan untuk menebang pohon rambutan, duren montong. Alasan pertama nyonya Linda tidak mau lihat suaminya sakit kambuhan terulang kembali. Imbalan untuk menebang pohonnya sampai diadakan sayembara. Kendatipun kedengarannya aneh di mata istrinya. Agar mang Uge cari orang sekitar sebagai penebang pohon. Ritual kecil dilakukan sekadar meminta izin kepada sang empunya.


Rumah itu tetap kelihatan lebih tenang daripada biasanya, belum lagi dia melemparkan sorot mata menyelidik. Perihal pergantian singgasanya, ayahnya pasti marah-marah lihat dua putrinya sering bertengkar. Persoalan kecil saja bisa meningkat, jadwal pakai mobil saja Ririn harus mengalah demi kepentingan kakaknya. Elyana sudah jauh, terus harus menerima sebagai pokok ujian Ririn....


Kepandaian Elyana dalam bintang bisnis prediksi 9 besar. Artinya Elyana jauh lebih berhak menjalankan perusahaan milik keluarga. Sikap empati Elyana sebenarnya masih kurang, banyak rekan kerja di kantor melontarkan keluhan mengenai kesejahteraan. Terjadinya tumpang tindih kewenangan sempat Ririn gusar buat menegur ayahnya.


"Kita seharusnya bisa merubah..."


"Papa..."


Sepintas Handoko melirik ke arah istrinya, terlihat ada rasa kasihan waktunya tersinggung oleh perilaku kedua putrinya. Di usap punggung lengan Linda penuh kasih sayang. Hanya Linda mampu membawa dirinya pada posisi saat ini. Hidup di rumah ini penuh dengan ketegaran, meski prahara bertubi-tubi menerjang.


"Saya sadar sepenuhnya tentang keduanya, apa mungkin kita harus jelaskan duduk permasalahannya. Tapi kita harus ambil tindakan cepat."


"Tidak semudah itu..."


"Ada hal jauh lebih genting dibanding pewaris tunggal. Lagi pula mereka siap terima beban seberat ini. Papa berpikir lebih detail siapa saja penerimanya."


"Sampai kapan kau simpan semua ini...?"


"Kiranya nanti warisan itu jauh ke tangan Elyana. Trus... giman Ririn menerima kenyataan pahit. Dia akan terlunta-punya menerima perlakuan dari teman-temannya."


"Sebaiknya jangan bicara itu lagi."


"Apa tidak bisa ditunda lain hari?"


"Kuulangi lagi, kamu tak usah banyak bicara dalam hal ini."


"Papa...?" rajuk Linda penuh harap. "Kita boleh saja mengajukan harapan di pundak Elyana dan Ririn. Berpikirlah lebih bijaksana untuk menentukan langkah selanjutnya."


"Baiklah!"


"Papa kenapa sembunyikan sesuatu di pernikahan kita..."


Tambah panik Handoko melihat reaksi istrinya tidak mau menaruh kepercayaan. Pulang kantor Handoko tidak mampir ke cafe. Walaupun sekadar bergurau sama kolega. Dia suka memanjakan istri, ajak diskusi hal-hal ringan.


Linda berusaha menyimpan kekesalan hatinya. Sekuat baja agar takkan tergoyahkan oleh terpaan angin topan. Atau desingan suara sumbang itu cepatlah berlalu. Kerapuhan itu justru membuat dirinya jauh sekuat batu karang. Ombak besar terus menerjang membelah karang di laut Karang Bolong.


Kebiasaan lama, Linda dengarkan lagu-lagu intrumentalia. Sayup-sayup terdengar ke kamar Ririn. Tidak berapa lam terdengar dering telpon. Awalnya, Ririn menjuntaikan ujung kakinya cari sandal jepit. Susah payah kakinya mengais ke sana ke mari barulah didapatkan sandal


Perlahan-lahan Ririn bukan handel pintu kamarnya. Derit sekecil apapun dia usahakan.


Di sisi lain mang Uge sibuk meramal kejadian besar kecil di rumah majikannya. Lembut diusapnya pohon rambutan agar nantinya tidak dipermasalahkan oleh pak Handoko. Ia ingat dua anak gadis majikannya senang mendapatkan perlakuan khusus dari mang Uge. Biarpun kerinduan sama kampung halaman, sebisa mungkin disingkirkan.


Pukul 6 pagi, susunan hidangan di meja makan sebentar lagi tersusun rapi. Pak Handoko tidak pernah absensi


Mang Uge canggung lewati singgasana dua majikannya. Dalam sepekan terakhir Handoko sering terlewat kumpul bareng di meja makan. Tempat favorit mereka saling menumpakan isi hati masing-masing, kejadian ini jarang digunakan oleh Handoko. Terutama ketika kedua anak gadis di usia remaja. Kedekatan itu hanya bertumpu sama bundanya.


"Sudah siap semuanya, non." seloroh mang Uge. "Ini masakan bik Ihad, dia pinter masaknya. Jadi, tidak perlu diragukan lagi...."


Ririn tersipu. Ia mengerti dari ucapan mang Uge kepadanya, bukan berarti sindiran untuk kedua orangtuanya. Hubungan mereka jauh lebih mesra, protesnya tak mau kalah. Akibatnya mang Uge ikutan kiki dan merasa bersalah. Seharus dia tak pantas mengutarakan isi hatinya sama anak majikannya, beruntung Ririn tidak ambil sikap, paling tidak mengusirnya dari rumah ini. Perselisihan kecil bisa dihindarkan, ya harapan tinggallah penyesalan.


"Pohonnya ditebang."


"Oh... belum tahu non."


"Kenapa mang Uge kelihatan ketakutan."


"Itu hanya penglihatan non Ririn.'


"Seberat apapun masalahnya, pasti ada jalan keluar, demikian prinsipku. Saya berharap bisa menjelaskan semuanya. Aku ndak mau lihat rumah ini harus ada perselihan lagi..."


"Saya mohon jangan libat dalam masalah ini."


"Saya butuh kejujuran mang Uge..."


"Mana berani saya...?"

__ADS_1


"Kenapa? Papa pasti punya pilihan lain, trus mang Uge sembunyikan sesuatu dari aku. Ya, mungkin satu waktu terbuka."


"Duh..." lelaki setengah baya itu hela nafas panjang. "Saya boleh janji, sebaiknya non Ririn tanyakan sama nyonya Linda."


Acara makan malam ini jauh tanpa keakraban, semenjak kepergian Elyana menuntut ilmu di luar negri. Nyonya Linda bersikap tertutup, Ririn sebenarnya ingin protes. Semuanya berjalan tidak seindah waktu itu, gerutu Ririn.


Kesederhaan bukan saja terlintas dalam benaknya, ya dia belum lama mengagumi salah seorang cowok bertubuh atletis. Pribadinya sangat menyenangkan, diajak diskusi selalu berikan solusi.


Ada serupa ketakutan terpancar raut mukanya sendu kelabu. Ketika bunga-bunga asmara keduanya bersemi. Bentuk pengorbanan Aldy makin terlukis nyata di depan mata. Ririn sedikit khawatir waktu mau menarik laci meja belajarnya. Seperginya mang Uge ke taman mengurus bunga dan tanaman lainnya.


Kenapa aku sering memikirkan wajah dia? batin Ririn dalam hati. Kalau mau berkata jujur Ririn lebih suka menekuni profesinya sebagai asisten dosen. Selain bisa menambah wawasan, juga mengenal daripada karakter teman-temannya. Sekalipun ayah mendesak untuk mengelola usaha dalam keluarga. Ririn tentunya punya alasan tidak menerima tawaran sebagai pengganti ayahnya kelah. Ada sedikit kecanggung berinteraksi langsung sama warga dusun Gamplong. Panorama pedesaan cukup memanjakan mata. Seolah enggan memalingkan muka ke sisi lain, sebuah tatanan edipeni, keramahan mereka sewaktu Ririn dan Handoko melakukan kunjungan.


"Rin....?"


Handoko coba cari putrinya ke kamar. Langkahnya sedikit berat waktu hendak ketuk pintu. Kegusaran pertama ialah Ririn akan menolak.


"Papa...?" seloroh Linda, "kita boleh saja menyuruh Ririn. Tapi, perlu kita ketahui Ririn dapat menentukan pilihannya sendiri."


"Mama ini tahu apa!?"


"Saya mengerti.... apakah kita merasa berhak sepenuhnya."


"Kamu boleh saja berikan dukungan penuh sama putrimu. Tapi ini demi...."


Suara Handoko sontak terhenti sewaktu pintu kamar terbuka. Terlihat jelas wajah Ririn seribu tanya tertuju sama ayahnya.


"Wah, ada apa nih..." suara Ririn mencairkan suasana.


Sebenarnya Ririn takkan rela sakiti kedua orangtuanya, semenjak kecil mereka telah mengasuh dan merawat sampai usia remaja. Tentu tidaklah elok merasakan pedih di mata mereka, semestinya sinar kebahagiaan benar-benar nyata mereka dapatkan.


"Rin... papa sudah nunggu lama lho....?" rajuk Linda.


Penuh kasih sayang Linda merangkul putrinya. Ririn belum pernah sebahagia ini, mungkin semuanya sudah terbawa oleh kakaknya. Sosok Elyana penuh dedikasi tinggi bawa nama keluarga di tengah kolega ayahnya. Keputusan strategis di perusahaan dilaksanak tanpa ada pekerjaan tumpang tindih.


"Sepagi ini...?"


"Mama harap kamu jangan salah menduga. Sungguh sifat itu tidaklah baik."


"Baiklah..."


"Siap pap."


"Hari ini ada kuliah, Rin?"


"Ada. Siang masuknya," Ririn senyum senang.


Kali ini dia tidak memiliki buat menolak ajakan papa makan pagi. Biarpun mereka sering melakukan makan bareng, tentu suasananya jauh lebih menarik daripada biasanya.


"Mama, sudah dipersiapkan...?"


"Tentunya," Linda melambaikan tangan. "Papa, sebentar disajikan..."


Jantung gadis itu berdebar-debar lihat perilaku mamanya, belum pernah sampai Linda menaruh perhatian pada putrinya. Kejadian ini mungkin terulang tiap pagi buat Elyana. Sabtu pagi khusus untuk Ririn, demikian ungkapan halus bisa di terimanya.


"Rin... mama sengaja membuat semuanya jadi cair kembali...?" tandas Linda serius. "Kamu harus punya rasa empati. Agar tidak dikatakan sombong. Begini, maksud mama kamu harus punya pendamping. Itu artinya kamu dapat menempatkan diri...."


Ririn terkejut dengar penjelasan mamanya, apalagi sampai menyinggung tentang masa depan sama siapa. Duh, nanti dulu pikir Ririn. Urusan kuliah saja belum sepenuhnya rampung. Ia musti terima beban dipundaknya. Sedangkan kakaknya masih menempuh study, alasan mamanya sulit dimengerti ingin perkenalan sama seseorang.


"Apa saya tidak salah dengar?"


"Sayang.... ini demi kebaikanmu," sanggah Linda.


"Dari mana mama bisa mengatakan itu adalah sikap dari kesalahan orang lain."


"Mama pastinya tidak mau larut dengan kondisi...?"


"Rahasia apalagi ini, Ma?"


"Itu hanya perasaanmu saja."


"Trus..."

__ADS_1


Sepenggal kata itu sering merubah jalan hidup mamanya. Ririn sebenarnya ingin sampaikan keluhannya, sayang harapan itu pupus dengan sendirinya. Acara makan pagi kali ini terasa hambar, sikap acuh Handoko membuat istri mengelus dada. Batinnya serasa disayat sembilu ketika Ririn ingin mengungkap kejahatan lelaki di mata mamanya. Mungkin saja Ririn ada sikap trauma sama kejadian yang menimpa mamanya.


Depan jendela terlihat ada bunga sedap malam hiasi dua sisi jendela. Sepintas bayangan putih, ya pasti gaun Elyana. wajahnya tertegun takkan mengerti perihal kejadian di meja makan.


Belum juga hatinya terobati oleh guyonan mang Uge, Ririn sangatlah terpana pada sosok tante Erni. Selain cantik dia pandai bergaul sama semua kalangan, tidak luput dari pengawasannya. Ririn berucap,"aku tidak mau tanpa ada kejujuran dalam rumah tangga."


Ada serupa keberatan Linda lepaskan suami. Tiada guna dia harus pertahankan. Justru banyak menimbulkan gejolak bagi buah hatinya. Saat keduanya memasuki usia remaja, sikap temperament cenderung labil. Lelaki paruh baya itu benar-benar masih terlihat gagah, serta ke tampanannya banyak memikat perempuan cantik. Ada nilai kecemburuan itu semakin meningkat, belum lagi tiap jam makan siang Linda pastikan telponnya aktif. Tepat di ujung jendela Linda akan duduk di sana. Penuh kesetiaan beliau menanti, buang kecemasan lebih dalam lagi Ririn berpamitan.


"Mama harap hari-harimu akan baik-baik saja."


"Ya, semua pasti berjalan sesuai harapan kita semua. Tanpa kecuali, harus abai sama keputusan mama. Ririn terima penuh suka cita."


"Kamu memang Kebanggaan tiap orangtua."


"Semoga demikian adanya...."


Bunyi klakson nyaring teriak-teriak depan pintu gerbang. Ada sebuah minim bus warna hitam bertuliskan nama cowok masing-masing.Diantara mereka pasti bangga memamerkan kelebihan pasangan. Sebutlah sebagai arena ngumpul atau ngerumpi. Malas-malas Ririn dekati mobil itu, cepat wajah cantiknya berubah asam. Ketiga rekannya terus riuh rendahnya sambut kedatangan tamu agung.


"Cepatlah dikit...!" seru Siska


"kau ini harusnya memahami aturan Orang lain, lenyap pula impianku."


"Sis, buat apa marah-marah?" Asti menimpali. "Tu... perhatikan dengan seksama. Dia kalau sudah kenal pastinya...."


"Kau takut juga kiranya..."


"Tidak juga..."


"Ada kemungkinan besar takut kehilangan WIL, dong," tuduh Anggi.


"Jangan asal bicara dong."


"Ya... semuanya bisa kita buktikan."


Keributan di mobil makin seru. Asti selalu punya pandangan positif tentang Ririn, apalagi jalinan asmara keduanya. Kendatipun Ririn banyak sembunyikan sisi buruk ke kasihnya. Apa mungkin kesalahan dalam menilai cowok harus sesuai kriteria teman? Dia duduk tanpa mengacuhkan gurauan temannya. Walaupun dihatinya sedikit mengganjal untuk menerima predikat jomblo. Aku, masih punya harga diri, gerutu Ririn.


"Sorry..."


"Ah, nggak apa."


"Artinya... kau punya misi khusus."


"Berangkat..."


"Ya, sabarlah."


Ririn tersungging lirik wajah Asti. Ia sebenarnya ingin melawan tudingan rekannya. Atas dasar apa Asti punya andil urusan pacar.


"Kamu ada kelas hari ini...?"


"Ada."


"Maklumlah orang sibuk. Buat kumpul sebentar saja, sukarnya bukan main. Rin... jangan bengong gitu dong."


Sepanjang perjalanan ke kampus mereka saling ada argumen. Mudah saja Ririn mematahkan tudingan miring mengenai pasangan masing-masing. Hal itu bisa terbukti mobil ini merupakan ajang kreasi bersama. Ririn masih bisa lihat boneka atau lukisan di kaca belakang.


Sepi. Halaman kampus terlihat hening, daun-daun kering berebut jatuh. Sayup-sayup terdengar suara mahasiswi di depan mading. Mereka saling berebut lihat hasil pengumuman lomba lukis dan acara sastra. Setahun sekali pihak kampus mengadakan perayaan. Antusias mahasiswa sangat dirasakan oleh panitia. Dalam pekan kedepannya akan diadakan bazar di halaman kampus sebagai wadah penyaluran aspirasi.


Asti semangat buat narik ke tiga rekannya ke salah satu anjungannya. Ide brilian Asti tentunya ada dukungan keluarga, maklumlah anak rantau. Dalam kondisi apapun pastinya menyempatkan diri ambil bagian di tiap kesempatan.


"Ayolah...." rajuk Asti.


"Tunggu sebentar. Parkir dulu dong, lihat saja tempat ini sepi."


"Itulah sebabnya kita harus lebih dulu. Aku takut kehabisan tempat."


Selepas parkir mobil mereka ke ruang panitia bazar. Di sana hanya anggota saja, Asti sedikit kecewa.


"Gimana jadi daftar, Asti?" sambung Hesty. "Tadi kan kamu niat bener. Trus apalagi kamu ragukan?"


"Artinya kita harus cari sponsor."

__ADS_1


"Itu soal mudah, terpenting kamu siapkan konsep dasarnya."


Sehabis mendaftarkan diri dan memenuhi persyaratan administrasi. Mereka mulai cari bahan untuk di arena bazar.


__ADS_2