SEBENING AIR MATAMU

SEBENING AIR MATAMU
Kado Istomewa


__ADS_3

Kegiatan di kampus sebenarnya banyak menyita waktu, sekuat tenaga Ririn atur jadwal kuliah.


Seluruh rutinitas di kampus banyak menimbulkan rasa sensasi tersendiri. Bisa kenal banyak teman, selain itu dia menimba pengalaman mengenai kehidupan sehari-hari. Sisi kurang menyenangkan Ririn ialah mata kuliahnya ketinggalan. Ada 6 sks tertinggal. Dia harus mampu selesaikan sesuai skedul berjalan, jikalau ada ketertinggalan. Di minggu terakhirnya, Ririn rela pengorbankan waktu pribadinya.


Orang paling suka usil, pastinya kakaknya. Suka bikin dahinya keriput, berkernyit sewaktu terima omelan. Guyonan kadang menyinggung perasaan Ririn, dia ikutan menirukan gaya nyeleneh. Yet, Ririn buru-buru menanggalkan nama besar Elyana di kampus. Mereka tentu punya penilaian soal kepribadian Ririn. Orangnya hamble. Semua lapisan masyarakat dapat mengenalnya dengan baik. Maka tiada heran waktu ia lewat di perpus. Ini juga tempat favorit buat nongkrong bareng di luarnya. Satu dua mahasiswa cari buku di rak. Sunyi, hening. Sesekali suara burung perkutut di pos jaga. Syahdunya. Maka pikiran mudah tenang, siapa saja nyaman baca buku di tepian kolam.


"Ada yang bisa saya bantu..." pak Mus menawarkan jasa. "Cari buku apa? Coba cari


katalog saja. Biar lekas didapatkan."


"Oh, pak Mus." jawab Ririn kaget.


Pak Mus, terkenal orangnya sangat penyabar bilamana berhadapan sama anak gadis. Sikap bersahajanya. Banyak juga menyambungkan rasa empati terhadap sesama.


"Ah, tidak?!" seloroh Ririn kalem. "Lihat-lihat sekitar sini. Ya siapa tahu ada yang menarik."


Cerdiknya ia sembunyikan masalah. Sebenarnya keinginan itu juga masih jelas-jelas ada. Mudahnya diurungkan hingga waktu tertentu.


Cekatan pak Mus acungkan jarinya ke arah tembok. Jaraknya lumayan jauh untuk mata melihat dengan jelas. Ada sebuah tas rajutan, kecoklatan, motifnya khas. Perlahan didekati, seraya menoleh ke arah pak Mus.


"Kau boleh lihat dulu... ya, siapa tahu berminat. Harga bolehlah kau..."


Bagi Ririn bukan masalah harganya. Jauh daripada itu dia punya penilaian khusus atas dasar motifnya. Bagaikan tumbuh ikatan batin sama pengrajin. Justru menumbuhkan sugesti kuat tersembul di lubuk hatinya. Atau serupa kepasrahan hilang begitu pak Mus berusaha meyakinkan.


'Ada yang aneh sama milik saya. Ambillah...!


Saya tahu kamu pasti menyukainya. Simpan atau di pakai buat sehari-hari."


"Terima kasih sebelumnya."


"Jangan sungkan. Maaf, saya harus ke perpus. Nanti kalo butuh buku bagus kabari saja. Dengan senang hati saya carikan."


Ririn tersenyum dikulum. Duh, cantiknya. Bukan alang-kepalang lagi tentu penilaian orang serupa itu. Berbunga-bunga menerima.bingkisan, ia keluarkan uang pengganti. Walaupun sedikit rikuh pak Mus terima pula uang pembelian tas. Langsung di selempangkan ke punggung.


Di ruang dosen nampak.ada pembicaraan khusus. Pak tyas sebagai penggagas acara bazar dan bansos. Metode pengenalan sama masyarakat sangat dianjurkan . Rekan mahasiswa juga saling berjibaku untuk kumpulkan bahan-bahan materinya.


Usulan kecil mulai bermunculan. Argumen Riko kedengaran aneh bagi rekan-rekannya. Malahan mereka memperolok kelakuannya cukup mengundang tawa.


"Pak apa tidak ada jalan lain. Semisal kita harus banya terima masukan dari pihak mana pun. Kita tidak perlu promosi."


"Ah, itu sih cuma keinginanmu saja. Dasar pemalas." tandas Wilda


"Carilah usulan baik juga banyak."


"Kita tampung dulu setiap ada ide."


"Tidak ada relevansinya pak. Trus, kita hanya berpaku tangan. Menerima dari pihak luar...?"


"Saya setuju bila...?"


"Mana mungkin kita terus berdebat terus. Tanpa ada titik temu, akhirnya kita hanya buang waktu percuma. Sebaiknya kita tunggu..."


"Belum tentu doski dateng, pak..." gurau Rika.


Pak Tyas senyum malu-malu. Rupanya ada orang yang menaruh hati. Rika penasaran. Seberapa dekat hubungan keduanya? Tiap kali ada pertemuan lelucon kecil muncul.


"Dimengerti..." pak Tyas coba alihkan. "Pada dasarnya kita butuh sponsor. Karena itulah kalian dilibatkan dalam event tahunan. Mengenai perinciannya boleh dilihat di brosur atau..."


"Modul Ririn," celutuk Rika.


Duh, makin merah jambu tuh muka. Menjelaskan di sini sangatlah sulit, matanya masih juga dihadapan sama pilihan. Berharap boleh saja untuk dicintai. Bahkan menetapkan perasaan selama ini menggantung di ujung langit-langit.


"Bisa dilanjutkan kembali."


Pak Tyas alihkan pembicaraan. Serempak mereka kembali serius. Pokok bahasan tentang misi dan visi penyelenggaraan bazar. Titik temu dalam poin acara sudah dapat di iplementasikan. Jadi sedikitpun tidak ada lagi bantahan. Rubah satu poin saja dirasakan sukar digoyahkan. Peserta rapat sulit mengalihkan pendapat secara individu.

__ADS_1


Hati-hati Ririn ketuk pintu, kurang nyaman waktu mau masuk ke ruang. Begitu melihat jam di punggung tangan kirinya. Jam 09. Uh, apa mau dikata, terlambat buat menetapkan pilihan. Derit pintu layaknya sentakkan orang di dalam ruangan. Langkah Ririn buyarkan pembicaraan mereka. Tingkah yang muncul saling pandang karena tiga temennya merasa bersalah.


"Maaf saya terlambat. Tadi saya harus menyelesaikan kerjaan."


"Ya, kami sabar nunggu, tapi kan acara mulai mendesak. Trus kamu enak-enakan di.jalan atau...?"


"Rika... kau ini bicara apa?" Ririn memotong pembicaraan. "Tahu tidak! Aku kesini demi terlaksananya acara yang kita sepakati. Buat apa aku sia-siakan waktu dengan percuma."


"Sekarang saja sudah telat. Kamu mudahnya minta maaf."


'Cukup. Kalian kurang sepantasnya bicara demikian. Sikap menghargai orang lain jauh lebih terpuji. Benar ada Ririn terlambat. Walaupun begitu Ririn masih mau meluangkan waktu senggangnya. Sudah kita tidak perlu perdebatkan. Kalian laksanakan sesuai skedul saja."


Kalau sudah kena nasehat, pak Tyas pasti nasehatnya panjang lebar. Pembicaraan berubah serius ketika Ririn sampaikan ide cemerlang. Perincian biaya dan jumlah donatur mulai berdatangan untuk sukseskan penyelenggaraan bazar di lingkungan kampus.


"Aku berharap waktu hari h. Kita sudah punya


anggaran memadai, tinggal bagaimana implementasi berjalan sesuai jadwal."


"Tenang. Semuanya pasti berjalan mantap. Kau ini kalau punya perkiraan salah."


"Tenang..."


"Ya, udah kerjakan."


Jum at pagi beberapa mahasiswa mulai sibuk mendirikan tenda-tenda. Properti sederhana ditata sedemikian rupa. Meja kursi dijajar di halaman. Ririn cek kondisi lingkungan halaman kampus. Banyak juga daun kering berserakkan, angin bertiup rendah. Sekarang situasinya mulai membaik.


Ia berusaha sembunyi di balik meja. Takutnya pohon tumbang tertiup angin.


Selepas kontrol bazar. Ririn pulang bawa kebanggaan, untuk diceritakan sama kepada papanya. Namun hari ini rasa lelah membayangi di mukanya. Begitu masuk ke mobil matanya sampai melotot bukan kepalang. Kekesalan tertumpah sama keponakannya. Dengan kegetiran menggelayuti hari-harinya. Sekiranya mau melawan sikap sepupunya. Belakangan sok ambil bagian. Pastinya dapat dukungan dari ayahnya, supaya awasi semua gerak-geriknya. Atas tindakan kurang menyenangkan, keisengan Dito bikin seisi mobil berubah.


"Ini pasti kerjaan si Dito. Biarin sepulang kuliah dia harus menanggung akibatnya. Satu barangpun jangan ada yang tergantikan."


Ririn sepanjang perjalanan menggerutu. Setidaknya Dito bisa menjaga dan merawat. Bukan sebaliknya dia menodai kepercayaan keluarga Ririn. Ancaman pertama dia harus mencarikan sampai ketemu, dengan alasan apapun. Keterlaluan sekali benda itu bentuk imut, kecil hiasi dekat kaca spion tengah mobil.


Persis depan pintu gerbang mang Uge berdiri tegak. Wajahnya nampak tegang bercampur ketakutan. Sebagai pembantu tentunya banyak menerima kesalahan, biarpun dia melakukan sikap benar. Maklumlah. Orang rendahan tentu tempatnya di bawah.


"Mang Uge ngak perlu khawatir. Semuanya sudah saya atur..."


"Lho kenapa benda itu harus diambil. Saya ndak mau...!"


"Terserah..."


"Saya berapa kali harus ulangi. Nanti kalo kak Ririn pulang buka saja pintunya. Beres kan!"


"Pastinya tanya ini itu..." bantah mang Uge.


Bagaikan tutur katanya semula halus, secepat kilat dirubah oleh ketamakan Dito. Belum tuntas sampai disitu Dito pamerkan uang pada mang Uge. Terjadilah.gelap mata bila lihat uang dikipas-kipas.


'Mang Uge bisa pilih uang atau hukuman? Bergantung kepatuhan. Jangan kelamaan mikirnya. Aku mau masuk ke rumah."


Lelaki paruh baya itu garuk-garuk kepala. Mikir apa jadinya dia tetap tutup mulut atas tekanan Dito. Sepertinya Dito tidak main-main buat Ririn kewalahan menghadapinya.


"Ayo, terima saja!" Dito sodorkan segepok uang. "Anggap saja ini sebagai hadiah. Terima saja kan beres. Supaya kebutuhan mang Uge bisa lancar. Di kampung juga perlu dana, tempo hari saya dengar mang Uge.Cari pinjaman sana sini."


"Siapa bilang?"


"Kemarin saya denger. Mau terserah, tidak juga menanggung malu."


'Baiklah. Saya ambil...!"


Dito kelihatan kegirangan misi tentu akan berjalan mulus. Kejadian kebelakang masih banyak tantangan. Di antara dia taati anjuran tante Linda. Sekolahnya tanpa aften. Keluyuran malam musti di jaga.


"Hebat, jam segini sudah pulang. Apa tante salah lihat? Tapi beneran kamu telah pulang sekolah. Kasihanlah orangtua kau berikan biaya tinggi. Akhirnya tante juga kesempatan sama mamamu. Mereka...."


"Dito paham benar permasalahannya."

__ADS_1


"Kamu yakin?"


"Ya, yakin saja. "


"Sekarang kamu beresin halaman samping."


Demikianlah cara mendidik Dito, biar jam belajarnya dapat terarah lagi. Dikarenakan hari sebelumnya Dito muncul dengan penampilan kurang enak di pandang mata. Belum lagi baju kotor penuh coretan. Wal, hasil orang rumah harus menurut, permintaan pertama Dito baju musti kinclong kayak baru. mpok Ipah sampai kewalahan mencuci. Tangannya sampai lecet belum tentu baju bersih.


Wuih, ini harusnya sudah diganti baru. Mpok Ipah terus gedumel sambil ngucek. Wajahnya jadi sedikit kusam. Belum lagi dia musti bawa ke sungai, di sinilah orang kampung mandi dan cuci di sungai. Desa Kedunggalih ialah hunian menyenangkan, di mana Dito ditempa untuk bisa hidup mandiri.


'Kayaknya mbok nyerah... bajunya terlalu kotor..."


Dito makin kesal saja. Belum ada tudingan miring tentang dirinya suka malas belajar. Terutama sekali lebih suka keluyur ngak jelas gitu. Dia lebih suka nongkrong di angkringan pasar Menulis. Memang lokasinya sangat strategis buat saling ketemuan. Keseharian ini sering tante Linda perdebatkan.


Mbok ipah hampir saja luapkan kemarahannya. Coba saja di pulang dari sungai ingin tumpahkan semua kekesalnnya. Apa mungkin harus terima kekonyolan yang semestinya tidak boleh dilakukan sama Dito. Karena orang yang harus punya andil besar dal hidup Dito. Dia takkan rela orang lain sampai menyakitkan hatinya. Atau ada serupa kejanggal di mata tante Linda. Dia sebenar mulai mencium hal kurang menenangkan ujung hatinya. Meskipun demikian orang-orang di rumah ini selalu menaburkan ketenangan.


Dari kejauhan mbok ipah jalan terseok-seok. Di punggung sedang gendong baku pakaian. Sesekali seka keringat selepas nanjak undakan jalan setapak.


Begitu sampai di rumah. Dia taruh gendongan bakulnya, sambil tetembangan pakaian itu di jemur satu persatu. Pastinya Dito sudah bisa dikata bebas dari nasehat panjang tante Linda. Apa mungkin beliau dengan suka hati buat terima perlakuan kurang menyenangkan atas mbok ipah.


Linda merasa iba lihat mbok Ipah harus banyak waktunya urus Dito. Semula dia mau ambil alih pengasuhan itu. Namun mbok Ipah bersedia buat menjalankan rutinitasnya.


"Mbok Ipah sini...!" Linda berseru. "Bisa di tinggal saja kerjaannya. Saya ada perlu sedikit kamu bisa kan."


Huhh, bukan main Mbok Ipah harus gugup. Air mukanya begitu sulit di mengerti ekspresinya. Sikap sentimentilnya sukar dibandung bila hatinya sedikit tersentuh oleh kejadian kecil sekalipun. Makanya Linda secara personal buat ajukan beberapa pertanyaan.


"Kamu tidak perlu takut. Saya cuma ingin menanyakan saja. Itupun kamu harus bisa menjawabnya..."


"Maaf, masalah apa?"


"Kamu ini."


"Sungguh saya tidak pernah melakukannya. Buat apa. Tidak ada untungnya..."


"Mbok...!" sorot mata Linda menusuk. "Dito mana mbok?"


"Sekolah..."


"Kamu kira saya tidak tahu. Si Dito sering bolos."


"Masak iya bu...?"


Malu ati mbok Ipah berlalu bergegas ke dapur. Dito berani benar menipu tantenya sendiri dan kedua orangtuanya di kampung. Mereka sepenuh menaruhkan kepercayaan agar bisa membina Dito.


krak...krak. koko nama burung milik Ririn. Keriuhan makin nyaring di kendangan telinga. Begitu majikannya pulang, mobil itu melintas di depan kandang koko. Begitu lihat Ririn tidak berikan respon. Suaranya jadi terdiam.


Hey.... suara Ririn teriak keras banget. Dia lekas-lekas dapat wajah dekil Dito. Seluruh kemarahan akan di tumpahkan pada sepupunya. Mungkin saja dia kan banyak menaruh jasa. Ririn akan membelanya ketika Dito melakukan kesalahan di depan mamanya. Atas permohonannya selamatlah dari omelan dan hukuman.


Demi apapun, aku tidak bisa disambungkan. Telpon juga males diajak bicara, anak tengil itu juga banyak bikin masalah. Baru juga mau dorong handel pintu, Ririn punya keyakinan pintu kamarnya terkunci rapat. Aneh, kenapa ini daun pintu bercelah.


Yap, untuk kedua kali pertama dia lupa kunci pintu kamar. Bagaimana ia lupa. Padahal dia tidak mau mencelakai hidupnya. Minimal isi kamarnya terselamatkan oleh tangan-tangan jahil. Tudingan pertama pelakunya Dito. Sikap iseng itu juga terjadi sama sodara sendiri.


"Dito...!"


Melengking suara Ririn layaknya pecahkan kaca-kaca jendela kamar. Alang-kepalang dia mencah-mencak.


"Cepetan. Jalannya jangan pelan-pelan. Buruan..."


"Iya, sabar dong." suara Dito rendah.


"Duduk sini! Kau harus jawab tanpa bantahan."


Dito angkat dua tangannya. Bahwa dia tidak melakukan kesalahan, apalagi berbuat curang.


"Seisi mobilku kau berantakin. Sekarang kau taruh mana boneka kesayanganku. Cepat ambil!"

__ADS_1


"Ada apa ini sebenarnya? Dito baru juga masuk rumah. dituduh macem-macem."


"Kau tak perlu berkelit. Lekas bawa sini, kado istimewa ku."


__ADS_2