
Janji hari minggu ada pertemuan disalah satu angkringan. Wuih, kalo namanya nongkrong memang kerjanya seniman. Bila mana kejutan itu terjadi. Pastinya Elyana segera menyanggupi segala saran karibnya. Buat penuhi panggilan hati. Sonya sebagai teman tentunya punya kepentingan lain untuk dapatkan perhatian dari lelaki lain. Bukan saja ibunya dibuat resah dan bingung atas kelakuan putri semata wayangnya. Dasar sifatnya keras kepala bilamana diberi penjelasan mengenai hubungannya sama pria. Dia cenderung menutup diri.
Segan saja buat keluarkan mobil kesayangannya, dia tentu punya segudang alasan untuk menolak ajakan Elyana. Terus apa enaknya mengisi liburan cukup di rumah. Padahal Elyana acap kali ajukan main kesalahan satu pihak agency di Jakarta. Akan tetapi belum ada jawaban pasti mengenai kerja bareng.
"Hey....." goda Sonya.
Dasar raja bawel, dia paling tidak suka sama orang suka melamun. Sonya sebenarnya ada sedikit hasrat dekati lelaki tampan itu. Sayang masa silam menjadikan diri selalu menutup diri. Rasa suka itu semula dia bina dengan kesabaran hati. Agaknya hari ini menjadikan jawaban atas pikirannya. Satu misal dia berhasil kalahkan sifat iri dengkinya. Mungkin kejadiannya tidak kayak sekarang. Dia berteman sama cowok sebatas kawan, tidak ada yang bisa dilebih-lebihkan. Mungkin saja khayalannya sering menerbangkan angan-angan, ketika Donny rela melukis Sonya sebagai model.
"Ya, sedang apa kiranya...." balas Elyana.
wajahnya sedikit saja tidaklah menunjukkan reaksi buat melawan. Dalam artian dia harus lebih tenang dalam menerima moment bahagia atau sebaliknya. Sifat mengalah jauh lebih menonjol dibandingkan ketika dia berbagi kasih. Hal itu jauh menuduh orang lain berbuat kurang pantas.
"Apa hari ini kau tidak punya waktu luang?"
"Kok kedengarannya aneh saja. Baru juga beberapa hari di Bali sudah kecantol. Hebat dan seru kedengarannya, saya ikutan senang pada akhirnya kamu bisa melepaskan kepenatan hati.'
Benar adanya Elyana coba lupakan kejadian yang selama ini mengusiknya. Dia kelihatan mulai menikmati dunia baru. Punya tambatan hati bisa diajak berdiskusi. Kenyamanan dalam.hubungan itu mulai terlihat. Kedatangan Doni setiap minggu tentu punya arti khusus buat keduanya.
Ada sifat iri waktu Elyana punya hubungan khusus, secara naluri Sonya sebenernya ada kedekatan sama Putra.
"Tante.... "
Suara melengking Putra panggil Elyana. Dia kelihatan terkejut dan sulit berikan jawaban. Sekalipun sapaan datar anak kecil itu. Spontan Elyana menoleh seraya berikan sambutan hangat. Seperti ini ada kedekatan sama Putra bikin orang serumah kagum.
"Hey.... kamu sama siapa ke sini? Apa nggak takut dari Putra kan jauh....?" sapa Elyana kagum.
__ADS_1
Putra benar dekatan seolah dia mulai menemukan jati diri seorang ibu. Lima tahun bukan waktu sebentar untuk melupakan kenangan manis bersama sang ibu. Cekatan ia membopong bocah penuh kemenangan. Seolah dia mulai ada kecocokan. Suka cita Putra diperlakukan layak anaknya sendiri.
"Habis tante El jarang banget ke rumah kami. Takut di minta duit ya....?"
Terperangah Elyana dapat teguran oleh Putra ketika seminggu lalu sengaja bertandang ke rumah, selain itu Elyana masih ingin bincang-bincang lebih lama lagi. Kangen itu sebenarnya makan sehari-hari baginya. seminggu tidak lihat bocah mungil ada saja rasa kehilangan. Apa ini pertanda dirinya mulai menaruhkan harapan.
"Wit.... siapa bilang. Maaf ya kalo tante suka tidak tepati janji..."
"Sesibuk itu kerjanya."
"Bener sayang.... Tante janji nanti lain kali tepati. Sekarang kamu bisa minta apa saja. Pokoknya jangan punya anggapan macam-macam. Putra boleh minta mainan atau kita makan di angkringan." Elyana coba menjelaskan.
Siapa akan terima atas penjelasan Elyana. Kelihatan jelas dalam pandangannya Putra sama sekali tidak mau dikatakan tidak mau memahami keadaan orang lain. Pikiran pertama dia musti ditururi.
Bocah itu termangu-mangu lihat gelagat tante Elyana tidak langsung berikan sambutan hangat waktu dia sengaja datang. Bukanlah sebatas ingin cari perhatian, belum di ujung pintu gerbang Sonya melihatnya dari kejauhan. Seakan dia juga menaruhkan curiga. Siapa yang akan terima sahabatnya sendiri nikung. Cepat-cepat Elyana rubah posisi tubuh dan mimik wajahnya jadi lebih lembut. Bukan serupa ingin kuasai emosi Putra. Meluluhkan hati anak kecil sebenarnya Elyana paling jago untuk dapatkan nilai plus. Sedang Sonya kurang menaruh perhatian waktu Putra antar masuk sekolah.
"Males."
Putra mulai merajuk. Dia lari ke sisi rumah, wajah masam sekali. Wajar saja Elyana takkan sampai hati sakiti kawannya. Dia bukan saja mencoba menjelaskan pada Putra, selama ini niatnya cenderung ingin menyayanginya. Untuk sepenuh hati rasanya belum cukup waktu, sebulan tidak cukup jadi jaminan. Tuntutan Putra kiranya makin kuat. Dia selalu meminta perhatian Elyana, ada baiknya sebagai obat kangen. Satu misal dia dalam waktu dekat punya pilihan hidup.
"Tuh kan melamun," imbuhnya kalem.
"Tante tidak melamun. Hanya kepikiran pengen pulang. Putra boleh mau.ikut."
"Ya, nanti minta izin dulu sama ayah."
__ADS_1
Waduh, batin Elyana. Kejujuran bocah itu bikin Elyana tambah gemes. Di cubitnya pipi kiri kanan Putra dengan sayang. Keduanya tertawa lepas seolah dalam waktu lama tak berjumpa. Kelembutan itu bikin Sonya jadi iri dibuatnya. Untuk menghindari rasa malu dan sungkan dia segera menghilang di balik rerimbunan bunga taman.
"Ya, sudah nanti ayahmu mencari-cari ke mana-mana."
"Tante nggak perlu khawatir. Kan ada yang jaga. Lalu apa dicemaskan?" seloroh Putra.
Perhatiannya kali ini dapatkan disimak khusus oleh Dony. Sosok pria bertanggung jawab terhadap keluarganya. Sejauh ini Elyana tidak memiliki hak untuk lebih tahu keadaan Putra anak semata wayang Dony. Sikap kemandirian Putra membuat orang disekitatnya tenang. Sedikit pun tidak punya sangkaan macam-macam. Sedangkan dia lebih tenang.
"Duh, pinternya. Tante bukan nggak paham sama Putra. Tapi kan ayahmu tidak tahu kalau Putra di rumah."
"Jadi tante mau nemeni Putra..."
"Mau dong..."
Suka cita sambut uluran tangan Elyana. Lagi pula siapa akan berani menolak uluran tangan dari gadis berparas ayu. Tengok gaya jalannya sungguh menggugah perasaan lelaki mana pun. Ternyata ungkapan di ujung hati makin meruncing. Dia kelepek-kelepek dapat sambutan hangat dari Putra. Pribadinya ikutan larut, dalam pemikiran pertamanya kenapa setega itu perlakukan anak kecil yang belum tahu artinya dosa. Harus menanggung beban hidup demikian berat. Sekali lagi dirangkulnya anak kecil itu segenap perasaan haru biru.
Putra balas pelukan hangat Elyana, layaknya dia telah menemukan seorang ibu pengganti. Sekian tahun lamanya penantian itu mendapatkan jawaban atas doa-doanya. Sebuah jalinan halus makin meluas lagi, bagai
mana Putra bertutur buat dapatkan kebahagiaan kembali yang selama ini menutup diri. Pelan-pelan bocah itu melepaskan dari pelukan Elyana. Dan bergegas pulang seraya melambaikan tangan. Tidak berapa lama bocah itu sudah menghilang dari.balik rerimbunan pohon rindang. Elyana geleng-geleng lihat kelakuan bocah lucu. Ada sebuah guratan kebahagian terpancar lewat dua bola matanya.
***
Uh, alangkah senangnya Elyana lihat kondisi kamarnya. Tempat itu tidak menumbuhkan kemewahan. Dindingnya hanya berlapiskan kain-kain halus dengan warna.tidak mencolok. Dekorasinya sangatlah terkesan sederhana. Namun cukup menjadikan dia merasa lebih nyaman dan tenang. Demikian juga segenap naluri keibuan itu mendadak muncul dalam bentangan waktu. Seumpama waktu bisa diputar balikkan. Dia akan lebih suka lagi bilamana rasa cinta itu juga singgah di hatinya.
Matahari baru setinggi penggala, sinarnya masih pula hangatkan tubuh. Sesaput mega ke putihan masih pula berarak-arak. Sengaja ekor matanya ikuti langkah kaki mungil. Ayunan kecil mirip langkah kaki Ririn, adiknya terkenal lucu. Tentu dia sudah dewasa sekarang. Sampai dikuburnya rasa kangen untuk saling berebut makanan kecil. Hingga detik ini masih diingat dalam lamunannya, Ririn minta gendong sekedar nonton tv di rumah tetangganya.
__ADS_1
Malu-malu Elyana menutup jendela sepenuhnya. Takutnya lelaki itu bisa melihat ke arah rumah Sonya. Kayak dia sulit sembunyikan segenap perasaan. Sekali pun sulitnya Elyana sebisa mungkin bersikap tegas. Jangankan buat akui bahwa keduanya punya ikatan. Maka tegas ditepiskan dengan cara tertutup bersahaja tidak ada yang berlebihan. terpenting dia mampu bangkutkan semangat Putra.