SEBENING AIR MATAMU

SEBENING AIR MATAMU
Taburan Bintang


__ADS_3

Aldy menatap kekasihnya dengan rasa pilu, kenapa kegetiran ini harus menimpa Ririn. Seandainya dia mau sedikit bersabar, tentu kejadiaannya tidak akan seperti ini. Ia sudah mendapat mobil terperosok ke saluran air, sementara dua lelaki berusaha menarik pintu dan mengeluarkan korban. Pas pintu sudah terbuka, pelaku tinggal membopong, tepat waktu kurang beruntung bagi kedua pelaku.


Sepanjang jalan Aldy sudah pacu motornya, meliuk-liuk untuk mendapatkan posisi ke kasihnya. Debaran jantung makin kencang, ketika mendekati sebuah mobil nyerong ke sisi jalan. Tanpa pikir panjang Aldy penuh ketrampilan menerjang dua pemuda ke sisi jalan. Motor meraung dan memutar kedua pemuda berandalan.


Setelah Aldy lepaskan tendangan, mendarat di tubuh dua pelaku. Cekatan lelaki itu lompat dan berdiri. Tegak lurus menghadapi keduanya dengan sigap. Dua tendangan tepat mengenai rahang. Sekali pun kedua pelaku berusaha berikan balasan. Terjadilah perkelahian hebat tak seimbang, di sudut sana ada sepasang mata lihat pertarungan makin menurun. Akibatnya kedua pelaku tumbang tak berdaya terkulai di rerumputan.


"Kau harus jelaskan semua."


"Sudah, jangan teruskan. Sebaiknya bawa korban dan urus saja dia pak!"


Aldy ingat benar, betapa hatinya serasa tercabik-cabik oleh kelakuan orang tak bertanggung jawab. Ia masih ingat benar permohonan Ririn buat dapat perlindungan. Agar terhindar dari sikap tidak menyenangkan.


"Kak..." gema panggilan dari ujung sana. "Kak Aldy..."


Kembali Aldy tergugah lamunan, sebetulnya doski ingin kuburkan kejengkelan di hatinya. Agar tidak berlarut-larut oleh amukan dendam. Suara anak kecil, tentu dia mau mengingat lagi. Siapa kah gerangan kenali sosok wajahnya.


"Kak....!"


Suara itu kembali terdengar, kiranya Aldy harus berusaha mencarinya. Bunga di karidor rumah sakit sedikit bergerak. Dia hati-hati melangkah dekati sebatang bunga nan rimbun. Ada sejuntai ikat pita. Dia jauh lebih hati-hati, supaya tidak berikan reaksi mengejutkan. Di tariknya perlahan ujung pita merah dadu.


"Hei, si cantik! Lagi apa sih...?"


Biarpun suara Aldy tetap saja mengejutkan si gadis lugu, tak lain si Lusi. Suaranya demikian renyah, selalu bikin suasana kembali mencair. Semula Aldy ingin marah lihat kelakuan si gadis sudah bikin tensi darah ikutan naik. Pupuslah benih kemarahannya begitu menyadari gadis di depannya ialah adiknya sendiri.


"Kamu tahu dari mana mas Aldy ada di rumah sakit ini? Trus, sama siapa kau ke sininya."


Tak sabaran Aldy ingin cubit pipi kemerahan adiknya. Sambil di rangkul ke sisi kerosi panjang. Ada rasa bersalah tentunya, bahkan Lusi tidak menjawab pertanyaan Aldy, dia datang sama siapa ke rumah sakit.

__ADS_1


Makin dibuat resah sama kelakuan Lusi, tiap kali ada masalah di rumah dia akan adukan sama kakaknya. Keluhan pertama hubungan Lusi sama seorang cowok, statusnya masih juga ngambang gitu. Belum juga dia merasa lebih tenang, sudah dibebani oleh gerutuan si cantik. Apa tidak ada waktu lebih tepat mencurahkan seisi hatinya. Tidak berapa lama terdengar isak tangis Lusi. Dia tumpahkan di punggung lengan Aldy. Sejurus matanya sembab. Sudah tentu hatinya penuh sayatan sembilu, ada benarnya orangtua mencegah. Supaya dibelakang hari tidak ada penyesalan, ketika menemukan keduanya menjalin hubungan lebih dekat.


"Kamu ini selalu bikin kegaduhan saja."


"Mas Al harusnya sadar diri...!"


"Maksudmu?" todong Aldy. "Terus kau tahu mas Aldy di sini. Kamu tahu dari mana, tolong jelaskan maksud dan tujuanmu."


"Mama sebenarnya tidak akan rela lihat kejadian ini. Apalagi sampai mengetahui mas Aldy berkorban demi mbak Ririn..."


"Kamu ini tahu apa sama masalah orang dewasa..."


Lusi tertawa lirih. Dia sebenarnya tidak akan pernah terima sama kondisi sekarang ini, lihat Ririn masih terbaring lemas, kondisi tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Bahkan takut suara tawa terdengar sama kakaknya.


"Hei, kau ini ada apa? Sejak tadi diperhatikan senyum sendiri. Tentu ada hal yang engkau sembunyikan. Mulai hari ini jangan ada lagi perselisihan paham."


"Pada intinya mama tidak akan kasih restu sama kalian. Mas Al harganya lebih peka sama kondisi. Jikalau hal ini dibiarkan berlarut-larut."


"Mas Al selalu ngeyel."


Kiranya Lusi jadi putus asa buat kasih peringatan. Padahal dia punya tujuan mulia, biar hubungan dua keluarga akan berjalan dengan baik. Kini harapan tinggal bagaimana menjalaninya.


"Boleh lihat mbak Ririn?"


"Silahkan."


Suaranya serasa tersekat oleh kepedihan sewaktu dengarkan penjelasan adiknya. Semestinya Aldy memohon restu pada kedua orangtuanya. Dia sudah memiliki calon pendamping hidupnya.

__ADS_1


Keduanya terhenti di depan pintu kamar. Lusi menatap kakaknya seolah meminta pertimbangan, bahwa dirinya tidak ingin terlibat terlalu jauh masalah jalinan kasih keduanya. Aldy mengusap punggung Lusi pertanda menguatkan sikap adiknya. Lusi baru merasakan kekuatan cinta mereka memang sulit dipatahkan oleh rentang waktu.


"Permisi..." suara suster. "Saya ingin memeriksa kondisi pasien."


"Oh, maaf..."


Keduanya berikan jalan buat suster masuk, sekaligus mengamati pemeriksaan. Ririn terbaring di tempat tidur. Selepas suster melakukan observasi pasien. Berikan penjelasan pada Aldy.


"Anda suami dari pasien...?" tanya suster. "Sebaiknya mas jangan terlalu memaksakan diri. Karena untuk saat ini pasien masih mengalami trauma."


Ya, Tuhan. Apakah ini hanya sebatas lamunan kosong? Suara hati Aldy seolah tertantang buat membuktikan sama anggota keluarganya. Hari ini cintanya harus diuji dengan kekuatan batin. Dengan tegas Aldy menganggukkan kepala. Lusi di sudut ruangan ikutan tersenyum simpul.


"Terima kasih suster..."


Selepas periksaan suster keduanya mulai mendekat menatapi wajah pucat pasi yang terbaring. Aldy menghela nafas panjang, kenapa kejadian itu sedikitpun tidak bisa dihindari. Seharusnya dia lebih layak disebut sebagai pecundang, tidak mampu menjaga keselamatan kekasihnya dari orang tak bertanggung jawab. Demikian rutukan dan jeritan hatinya. Lusi menepuk punggung lengan kakaknya.


"Tuh kan melamun lagi. Kita tidak perlu terlalu larut sama kejadian yang sudah berlalu."


"Siapa lagi yang melamun..." bantah Aldy. " Nih buktinya masih duduk di sini..."


Lusi jelas-jelas lihat sorot mata Aldy ada air menggenang hendak jatuh. Dia sodorkan selembar tizzu. Malu-malu Aldy menerimanya, sebuah kegetiran terselip di ujung tirus matanya. Kekuatan pertama akan ia dapatkan waktu jarinya mengusap lembut punggung lengan kekasihnya.


"Mas Aldy harus kuat dan bisa menyingkap tabir semua ini."


"Tentu. Aku akan pertaruhkan jiwa dan ragaku untuk dia..." suara Aldy begitu terdengar berapi-api. "Sampai di mana pun aku akan kejar pelakunya. Agar dia bisa merasakan, gimana jadinya dia


Pagi cerah.

__ADS_1


Ririn mulai sadar, semula matanya masih terasa berat. Akibat benturan keras tepat bagian kepala. Beruntung dia masih kenakan sabuk pengaman. Ia sama sekali tidak teringat apa pun tentang kejadian di jalan pasar Godean, tinggal jarak rumah 6 km lagi. Dasar keberuntungan tidak berpihak padanya, kejadian itu menjadikan Ririn harus mawas diri, bukannya menolak tawaran baik orang lain.


Berkali-kali Aldy periksa hpnya. Ada lima panggilan tak terjawab, ia sempat menaruh keheranan


__ADS_2