SEBENING AIR MATAMU

SEBENING AIR MATAMU
bertabur bintang


__ADS_3

Selama semingguan lebih Ririn menikmati perawatan poli medik. Hasil cukup memuaskan atas penjelasan dari dokter yang menangani. Demikian pula Aldy tiap hari tidak pernah absen buat menjenguk ketika pulang kuliah langsung meluncur ke rumah sakit.


Di kampus kabar miring mengenai hubungan keduanya cukup kencang di terpa badai. Orang suruhan masih berkeliaran bebas, ancaman itu masih dicium oleh temen-temennya. Di halaman kampus beberapa orang menggunjingkan, sewaktu Aldy melintas di kelas Ririn, kelihatan sepi Mieke duduk sendirian. Sibuk baca buku sampai tidak lihat kedatangan Aldy sedang celingukan.


"Kok sendirian saja."


Sapa Aldy waktu lihat Mieke yang tahu persis mengetahui kejadian Ririn pulang kuliah. Aksi pencegatan di jalan Godean.


"Lagi males ngobrol, ya habis mereka sok cari perhatian."


"Jadi, kamu tahu siapa pelakunya. Aku cari tahu, dan aku ingin bikin perhitungan sama orang itu. Mereka harus bertanggung jawab atas perbuatannya."


"Belum tahu..."


"Sekedar mengingatkan saja, kamu harus lebih hati-hati sama tuh cowok. Aku sih ada sedikit sangkaan, buntut kejadian ini pasti ada keterkaitan sama sepak terjang mereka..."


Mieke coba kasih isyarat bahwa dia mencium kejanggalan. Aldy cepat menuruti perintah Mieke buat meneliti semua gerak-geriknya. Aldy menguntit sampai ke kantin, belok ke perpus. Tempat biasa mereka ngumpul sambil menikmati kopi hangat. Setelah mengamati situasi telah dirasa aman.


"Gimana kabarnya si korban?"


Jejo juga melirik ke sisi perpus, keadaan sudah aman. Keduanya melanjutkan pembicaraan pembagian jatah hasil kerja. Jeki coba cari pembanding keduanya iri sama pendapatan masing-masing. Usulan pertama protes atas keputusan bos muda.


"Aku nggak terima, bagianku terlalu kecil. Mustinya kita dibagi sama, mana sini bagianku...!"


"Urusan jatah saja dalam pikiranmu. Sebenernya kau sudah melakukan kesalahan besar, dan itu benar-benar diluar dugaan."


"Enak saja salahkan aku!"


"Jangan berisik. Kita di sini di suruh. Buat apa banyak protes, semua dijalankan sesuai permintaan."


Jejo bela diri, agar nantinya tidak ada perselisihan, tanpa disadari ada sepasang mata sedang mengawasi gerak mencurigakan. Perlahan-lahan Aldy lebih mendekat lagi. Sekali sergap keduanya berhasil dibekuk tanpa melakukan perlawanan berarti. Pukulan keras tepat mendarat empuk di kedua pipi pemuda itu. Sekali cengkram Aldy berhasil meraih prah sampai tercekik.


"Kau bisa saja sembunyi di kolong langit, tanpa ampun lagi aku kerja juga sampai ke ujung dunia sekalipun."


Keduanya gemetaran takkan sanggup berkata-kata. Pukulan keras di ulu hati sampai tersungkur di tanah. Darah menetes di sudut bibirnya. Dia lihat jelas keduanya mengerang tahan rasa sakit.


"Sekarang sebutkan siapa yang suruh kalian berbuat jahat." desak Aldy.


"Kami sebatas disuruh."


"Aku ngak mau tahu. Sebutkan saja, sebelum kemarahan akan memuncak lagi. Dan jangan bikin aku tambah naik darah."


"Tidak tahu..."


"Apa kau bilang tidak tahu?"


Buk. Buk dua kali pukulan lagi-lagi mendarat empuk. Aldy benar-benar ingin balas dendam, setelah cari informasi siapa pelaku utamanya. Dia tidak akan pernah rela kekasihnya orang kesakitan. Derita tiap kali menimpa keluarganya, kejahatan itu kini sudah berada di depan mata.


"Aku tidak akan pernah memaafkan kalian. Cepat katakan siapa orang yang nyuruh kau. Ayo, tunggu apalagi! Sebelum kemarahan meledak..."


Aldy sulit meredam kemarahan sewaktu mengetahui orang yang tega menikamnya dari belakang. Luapan emosi terpancar dari air mukanya. Untuk kesekian kalinya pukulan keras mendarat bertubi-tubi, terjungkal ke tanah keduanya. Dengus nafas tak beraturan.


Keduanya lari tunggang-langgang hindari pukulan hendak dilancarkan Aldy pada dua pemuda bajunya sudah compang-camping.


"Cepat katakan sama majikanmu! Aku siap adu jotos..."


perkelahian tidak seimbang itu bikin merinding bagi penonton di luaran sana. Keributan itu sampai ke sisi kantin. Teman-temannya ikutan panik lihat perkelahian baru saja usai. Aldy melangkah ke kantin dengan gagahnya sembari mengibaskan kedua tangannya, layaknya menyingkirkan debu di tangan. Di kejauhan sepasang mata terus perhatikan sepak terjang cowok macho itu. Siapa pula takkan kenal bila Aldy sudah keluarkan karatenya, lawan siap terjungkal tanpa perlawanan berarti.


"Hebat!"

__ADS_1


Suara itu tidak asing lagi, tapi apakah mungkin dia mau melarikan jutaan perasaannya yang kadang cepat sekali menghadangnya. Atau ini hanya sebatas mimpi, ah tidaklah begitu saja dia menerima uluran tangan lembut. Sulitlah dia berani bayangkan wajah gadis cantik. Lima atau enam tahun telah menaburkan benih-benih cinta. Saat sayang-sayangnya dia jauh melenggang nun di batas-batas awan. Wajahnya menggoda selalu.


"Apakah aku tidak salah dengar, kau... Orang yang pernah melamunkan mimpi indah kita. Tiada beraninya aku memalingkan wajahku ke sisi lainnya. Ingin berlama-lama memandang wajahmu biar demikian damai hidupku..."


Tampaklah canggung gadis itu sambut uluran tangannya. Apa ada alasan khusus Aldy bersikap begitu romantis.


"Kau salah..."


"Aku rela disebut orang amat bersalah pada dirimu. Setiap waktu menyia-siakan kesempatan untuk bersama menikmati arti kehidupan ini seutuhnya."


Mieka tidak mau dihanyutkan oleh gelombang asmaranya, hal amat ditakutkan pasti terjadi dikemudian harinya. Kesadaran pemuda itu kira mulai labil. Kesedihan terpancar lewat tatapannya, dia sampai detik ini belum berhasil ungkap siapa pelaku sebenarnya.


Beruntung Meike datang coba melerai perkelahian tidak seimbang. Tingkat emosi Aldy nyaris keubun-ubun. Siap meledak berhampuran, demikian kehebohan mulai memancing mahasiswa beedatangan. Wajar saja tampang mereka penuh tanda tanya. Sigap pula Meike beri penjelasan bahwa di sini tidak ada keributan apa-apa.


"Hey, kalian ini bubar. Jangan menambah kekacauan lagi. Ayo lekas pergi, sudahlah kalian tidak usah sok perhatian...!" Meike kali ini bena-benar meluapkan kemarahannya. "Kalian ini patung atau robot! Saya berani bertanggung jawab, gimana apakah kalian masih ragu sama ucapan saya? Siapa yang berani maju!"


Bukan main galaknya kalo sudah kena emosi,Meike sambil bertolak pinggang, maka satu demi satu mereka pergi. Biar pun sambil terus menggerutu tak tentu arah.


"Hebat! Kau ternyata ada bakat juga. Aku heran kenapa tadi kau biarkan kerocoan itu pergi."


"Nanti kau tahu sendiri..." Meike berkilah. "Aku malas saja lihat tampang mereka. Coba saja kau perhatikan. Dia semata-mata ingin jatuhkan reputasimu. Benar kan tidak nilai positifnya."


"Aku ingin tahu otak utamanya. Keduanya merupakan orang suruhan jadi ngak ada gunanya."


"Pemikiranmu salah, cari tahu dan tagkap salah satunya. Setahu saya mereka ada kedekatan sama Riyan. Itu hanya sebatas dugaan dia pelaku utama. Sudah. Jangan terlalu berpikiran jauh, karena itu banyak menimbulkan prasangka saling simpang siur."


Aldy bukannya dapat pencerahan dari Meike. Seumpama hari ini bisa diungkap, dia akan jatuhkan sikap iri Riyan. Sebagaimana yang dituduhkan oleh Meike. Ia terus berlalu tanpa melihat reaksi gadis itu. Meike sendiri berusaha memendam rasa bergejolak dari lubuk hati paling dalam


Mana ada perasaan cepat diungkapkan oleh perempuan. Kelihatannya jadi janggal jikalau mau di simak secara marang. Belum juga langkah mundur Rika sudah menodongkan tangan merentang lebar.


"Wah, lagi mandangi apa tuh? Kelihatannya serius bener, apa tidak ada jalan lain. Ya, misalnya menghibur diri jalan ke Malioboro."


Rika ingin lakukan pembelaan, bahwa dia memiliki satu kepentingan agar usahanya juga bisa berjalan mulus. Diantaranya dia ingin dapatkan peluang naif? Apa saja bisa memungkinkan dia juga ikutan berlomba buat dapatkan cinta dari cowok tampan.


"Mana buku saya , ada rencana buat tugas. Habis cari di toko buku males."


"Ada tapi di rumah. Maaf banget hari ini tidak terbawa..."


Rika coba alihkan pembicaraan, sebenarnya dia sedang cari tahu perihal Riyan. Maunya dia bisa terjalin kembali sama kekasih bayangan. Apa salahnya Rika berupaya keras?"


"Kalau ada kesempatan mainlah ke rumah. Apa enggak sepi di rumah terus. Trus gimana rencana KKN."


"Kenapa ada kendala sama surat izin? Coba cari tahu sama temen-temen, apa mereka juga mengalami masalah diperizinan. Kalo kita saling terbuka bisa dicarikan jalan keluarnya."


"Percuma non..." bantah Rika.


'Usulan segitu panjang lebar tetep dicuekin. Boro-boro mau diajak satu kelompok, ditanya saja begitu! Meike gusar lihat kelakuan Rika mendadak banyak perubahan. Anjuran pertamanya, dia harus bisa mendapatkan tambatan hati. Rika cepat menghilang ke arah parkiran, tidak berapa lama muncul sambil memamerkan motor barunya.


"Lain kali akan kuusahakan ke rumah. Ya, tapi aku tidak janji bisa datang tepat waktu."


"Terserah. Atur saja..." jawab Meike kesal. "Cepat tuh pergi ke buru motornya panas..."


***


Aldy kiranya bisa tersenyum bahagia lihat kekasih mengalami pemulihan. Di ruang admin juga terlihat sepi, sepintas ia lihat seorang ibu paruh baya. Dia sebenarnya tidak berani mengatakan perihal kejujuran hati. Artinya Aldy harus berani menegur calon ibu mertuanya.


Bertahan melangkah kearah ibu berkebaya itu. Biar pun dapatkan penolakan nantinya, Aldy pastinya akan coba tenang. Jikalau sudah berhadapan sama perempuan nantinya disebut ibu mertua.


Maksud hati memeluk gunung, apalah daya tangan tak sampai. Aldy diam-diam mengikuti semua gerak langkah ibu Linda. Serupa ketakutan waktu dia mendapatkan penolakkan. Kali ini Aldy harus menggunakan peluang sebaik-baiknya, minimal dia bisa melakukan pendekatan. Pribadi Linda.kadang banyak mengalami perubahan mental. Dia akan menolak akan kehadiran pacar Ririn.

__ADS_1


Persis di depan kasir Aldy melunasi pembayaran. Baru juga dia membalikkan badan, ia lihat perempuan itu. Sosok keibuan nantinya akan dimintai restu. Ketika kondisi Ririn pulih seperti sedia kala.


"Pembayarannya akan di lunasi pak?" tanya kasir.


Sedikitpun Aldy tidak memberikan reaksi waktu lihat kertas kwitansi. Terpenting dalam hidupnya bisa berikan nilai kebahagiaan untuk Ririn. Asalkan dia bisa merasakan ketenangan dalam membina keluarga kecilnya kelak. Bayangan indah tentunya siap bawa Ririn ke pelaminan. Ikrar suci keduanya pasti dirayakan dengan suka cita. Mendapat lamunan Aldy buyar sewaktu perempuan itu sudah di hadapannya. Wajah sendunya sama persis, intonasi suara sulit Aldy untuk bedakan air muka Ririn.


"Maaf boleh tanya, kamar anak saya sebelah mana ya?"


Ya. Tuhan. Aldy sungguh takkan pernah menyangka kalo hari ini pertemuan pertama. Semenjak dia dapatkan pengusiran waktu ngedate pertama. Separuh tubuhnya nyaris lemas, berikan jawaban susah. Apalagi mau buka dua bibirnya. Sedangkan matanya sulit bedakan antara Ririn dan ibunya.


"Hei anak muda apa yang kau lamunkan? Saya tahu kamu pasti risau menjaga ke kasihmu?"


"Ya. Oh ya ibu nama anak siapa ya?"


Suara Aldy sedikit terdesak oleh tatapannya. Nyonya Linda semula ingin menjabat tangan pemuda itu. Ia segera urungkan niatnya.


"Ririn... apa kau tahu? Tolong antarkan ibu..."


Memang beberapa waktu lalu Linda tanyakan sama dua pembantunya. Biar ada keheranan Linda lihat keseriusan dalam menyikapinya. Aldy bercampur kagum lihat sosok perempuan di hadapannya.


"Ada di sebelah sana bu. Karena saat ini bisa menjenguk."


"Terus gimana kondisinya."


Linda menuju kesalahan satu kamar. Dia berdiri di depan pintu, terlihat mimik mukanya duka.mendalam. Aldy tak sampai hati membiarkan perempuan berdiri pandangi wajah putrinya dengan ribuan tanya.


"Anakku, maafkan mama telah bikin hidupmu jadi seperti ini..." Linda tidak kuasa menahan air mata.


Mungkin.saja dunia selalu berikan contoh pada manusia. Terasa benar usapan jari-jari Linda bangunkan tidur lelap Ririn. Perlahan mata gadis terbuka, remang-remang matanya mulai mengenali dunia luar. Rupanya benturan keras itu banyak menimbulkan perubahan dalam Ririn mengenali dunia luar. Salah satunya untuk menamatkan wajah mamanya dirasakan sulit bukan kepalang lagi. Aldy hanya bisa mengusap butiran bening tiba-tiba mulai berdesakan ingin keluar biarpun tidak disuruh.


Masak iya, lelaki harus cengeng? batiin Aldy. Seumpama tidak ada orang di sini. Ia akan meraung-raung, tapi semua itu ia urungkan dan menghadapinya dengan ketegaran.


"Kami sekeluarga tentu akan ucapkan banyak terima kasih. Bagaimana jadinya kalau tidak ada..."


"Ibu jangan terlalu memuji... Saya hanya kebetulan saja melintas. Lagi pula kita punya kewajiban untuk saling menolong dalam kondisi apa pun."


Ririn perlahan buka kelopak mata. Hampir dalam beberapa hari ini kepalanya terasa berat. Dia sama sekali tidak mengetahui Aldy dengan setia mendampingi.


"Mama..." suara Ririn parau.


"Kamu baik-baik saja anakku."


Linda balas senyuman putrinya. Keduanya saling berpelukan. Sinar kemesraan itu benar-benar nyata adanya. Aldy sampai merasa iri lihat kejadian langka dihadapannya. Mungkin saja selama hidupnya belum pernah merasakan pelukan dari seorang ibu.


"Kamu beruntung ada pemuda mau menolongmu. Oya kenapa kamu tidak perkenalkan sama mama?"


Ririn melepaskan pelukannya, ia tatap mata mamanya lebih dalam lagi. Sehingga ia memiliki satu keyakinan untuk mengakui bahwa hari-hari bersama Aldy. Namun belum ada ungkapan khusus diucapkan keduanya. Di sisi lain Aldy masih sibuk sama urusan keluarga.


"Syukurlah. Mama ikut senang mendengarnya, kamu hari sudah di izinkan pulang?"


"Nanti belum ada kabar dari poli klinik."


"Sudah bu. Tadi saya tanyakan ke dokternya. Katanya sore ini boleh pulang. Selanjutnya dianjurkan untuk cek up secara berkala."


"Mama sudah duga. Mama sampai lupa hubungi papamu. Agar jemput kamu di sini.."


"Papa sibuk."


Linda terduduk lemas. Seolah ucapan Ririn meluluhkan niatnya buat merajuk suaminya. Aldy berusaha mencairkan keadaan seperti semula.

__ADS_1


Angin berhembus dingin. Aldy telah menerima resep obat untuk Ririn. Langsung bergegas menebus ke apotik.


__ADS_2