
Dua puluh menit berlalu, mobil kami berhenti di tempat parker desa pelajar. Gedung-gedung tinggi berwarna abu-abu setinggi enam lantai menjulang di sekitar kami.
“Ini adalah desa pelajar terbesar di Kota Brussels.” Kata Tuan Thorgan setelah kami keluar dari mobil dengan membawa barang-barang kami.
“Biasanya tempat ini disediakan untuk mahasiswa internasional di Universitas Negeri Anderlecht.” Katanya lagi.
“Namun kami telah setuju dengan kantor hubungan internasional universitas. Sehingga mereka mengizinkan kami untuk menampung siswa internasional kami di sini juga. Kamu akan berbagi apartemen empat kamar dengan dua pemain akademi kami yang lain yang mana mereka berasal dari Norwegia.”
“Ayo, akan kutunjukkan apartemenmu.” Kata Tuan Thorgan sambil tersenyum Ketika dia memimpin jalan keluar dari tempat parker dan masuk ke salah satu bangunan. Aku dan Ryandi mengikutinya sementara, Sage tetap berada di dalam mobil.
Beberapa saat kemudian, kami berdiri di sebuah apartemen berperabotan lengkap di lantai lima Gedung itu. Di ruang tamu ada dua kulkas besar, kompor,wastafel serta perabotan dan peralatan rumah tangga lainnya yang tidak ku kenali. Ruangan itu di terangi dengan baik oleh sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela besar yang menghadap ke tempat parker.
‘Ini sangat bagus.’ Pikirku dengan senang.
“Pilih salah satu kamar di sebelah kanan.” Kata Tuan Thorgan
“Kamar no. 3 dan no.1 sudah ditempati oleh teman serumah kalian yang masih pergi berlibur.” Katanya sambil tersenyum.
Aku memilih kamar Nomor empat sedangkan Ryandi memilih kamar nomor 2.
“Baiklah kalau begitu. Ini kunci kamar kalian. Kalian bisa membongkar barang kalian dan beristirahat hari ini. Aku akan berada di sini untuk membawamu menemui pelatihmu besok pagi.” Katanya sambil menyerahkan masing-masing sebuah amplop yang terdapat nama kami.
“Ada bahan makanan di kulkas jika kamu ingin memasak. Cobalah untuk tidak keluar kecuali jika harus. Namun jika kamu perlu membeli sesuatu yang mendesak, pergilah ke supermarket tepat di seberang tempat parker tempat kita berada. Uang mingguan kalian juga ada di dalam amplop.” Katanya.
“Ada pertanyaan sebelum aku pergi.?” Katanya sambil menapa aku dan Ryandi dengan rasa ingin tahu.
“Apakah kita mulai berlatih besok.?” Tanya Ryandi
__ADS_1
“Pelatih akan memutuskan setelah tes medis kalian besok.” Katanya
“Nero, apakah kamu tidak punya pertanyaan.?” Tanyanya kepadaku.
“Tidak untuk hari ini.” Kataku sambil tersenyum.
“Kita bisa bicara besok tentang yang lainnya.”
Perjalanan Panjang ini membuatku sangat Lelah. Aku perlu istirahat dan bersiap untuk pertemuan dengan para pelatih. Tidak perlu bagiku untuk khawatir tentang apa pun selama aku punya bahan-bahan makanan di apartemen. Aku hanya senang bahwa aku telah tiba di Eropa dengan selamat dan aku harap dapat memulai pelatihan dengan segera.
“Oke, bagus kalau begitu bersiaplah besok pagi jam Sembilan, kita akan berangkat ke akademi jam segitu. Tapi jangan lakukan apa pun yang tidak akan kamu lakukan jika orang tuamu ada di sekitar.” Katanya memperingatkan.
Dan dengan begitu dia Kembali pergi ke mobil. Sementara aku dan Ryandi ke kamar masing-masing untuk membongkar barang-barang kami. Setelah itu aku ke kamar Ryandi untuk meminjam telepon kepadanya agar aku dapat menghubungi orang tuaku.
Setelah mengabarkan kepada orang tuaku kabar bahwa aku sudah sampai dengan selamat di Belgia dan berbincang-bincang sedikit dengan Ayahku, aku mengembalikan telepon tersebut ke Ryandi. Kami berbincang sedikit di kamarnya sebelum aku memutuskan untuk Kembali ke kamarku dan pergi tidur.
Pada pagi hari matahari sudah bersinar terang dan cerah, kami sudah bersiap-siap menunggu Tuan Thorgan menjemput kami. Dan pada pukul delapan lewat lima puluh lima Tuan Thorgan tiba di tempat parker yang dimana kami sudah menunggunya di sana. Kami mengenakan pakaian tebal untuk melindungi diri dari dinginnya cuaca di Belgia ini. Kami sangat bersemangat untuk memulai hari pertama sebagai pemain akademi di Belgia.
“Halo bagaimana malammu, anak – anak.?” Tanya Tuan Thorgan saat Toyota Carib yang kami naiki keluar dari tempat parkir menuju jalan utama. Tuan Thorgan berada di kursi pengemudi sementara kamu duduk di belakang mengagumi pemandangan kota Brussels.
“Cukup bagus.” Kata Ryandi
“Aku tidur seperti bayi sepanjang malam.” Katanya sambil tertawa kecil.
__ADS_1
“Aku juga tidur dengan baik. Mungkin itu adalah tidur terbaikku.” Kataku sedikit bercanda.
Walau ada benarnya sedikit. Tempat tidur di apartemenku sekarang sangat nyaman dengan selimut sutra dan seprai katun, seperti surga dunia bagiku. Aku tidur dengan nyenya setelah aku memutuskan untuk memasak sedikit malam sebelunya. Dan juga pemanas di kamarku mencegah dinginnya udara dari luar untuk mempengaruhi tidurku. Aku cukup menyukai kehidupan baruku ini.
“Aku sneang mendengarnya.” Kata tuan Thorgan sambil tersenyum sambil fokus menyetir.
“Baik pertama-tama kita akan pergi ke Departemen Olahraga yang di mana kalian akan menjalani tes medis kesana. Kepindahan kalian ke RSC Anderlecht tidak akan selesai kecuali kamu lulus tes medis di sana.” Katanya dengan bersungguh-sungguh
“Tapi kan kami pemain akademi.? Dan kita sudah menjalani pemeriksaan wajib di Jakarta, kamu ingat?” Tanya Ryandi sambil mengerutkan kening.
“Para pelatih di akademi perlu tahu bahwa kamu adalah investasi yang bagus dan berharga. Tentu saja, aku percaya bahwa kamu berdua cocok seja aku bersama kamu di Jakarta.” Katanya. Dia berhenti saat dia memutari jalan memutar sebelum memasuki jalan lain yang lebih lebar, dengan lalu lintas yang lebih pada, aku memperhatikan bahwa tidak ada kemacetan lalu lintas di jalan-jalan Brussels. Banyak orang yang bersepeda di jalur samping, mungkin bersepeda menuju ke tempat kerja.
Tuan Thorgan melanjutkan penjelasannya setelah memasuki bagian jalan yang lurus.
“Kami akan berusaha memberikan informasi sebanyak mungkin kepada akademi karena pada akhirnya, merekalah yang memutuskan apakah mereka ingin melatih kamu atau tidak. Hasil medis juga akan membantu mereka merancang rencana pelatihan yang lebih baik untuk kalian begitu kalian memasuki akademi.” Katanya
“Tapi apa yang akan terjadi jika kita gagal tes medis.” Tanya Ryandi khawatir, aku juga mengangguk setuju kepadanya.
“Jangan khawatir. Kamu masih akan diizinkan menghabiskan waktu enam bulan di akademi sebelum dikirim Kembali ke Indonesia. Tapi aku percaya kalian bahwa kalian tidak akan gagal.” Katanya sambil tersenyum
Kami menghabiskan sisa waktu perjalanan mobil kami dalam keheningan. Kami berdua tampak khawatir tentang tes medis, sementara Tuan Thorgan sibuk mengendarai mobil. Beberapa menit kemudian, kami berhenti di tempat parkir Gedung besar yang menanmpung departemen olahraga. Tingginya kira-kira tujuh sampai delapan lantai menurut perkiraanku.
“Ini kompleks rumah sakit Universitas Brussels.” Kata tuan THorgan saat kami keluar dari mobil
“Kantor Dinas Olahraga berada di dalam Gedung. Kamu akan menjalani tes medis di sana.” Katanya sambil mulai berjalan memasuki Gedung dengan kami mengikuti di belakangnya.
__ADS_1