Second Chances : Indonesian Football Player

Second Chances : Indonesian Football Player
Chapter 28 : Pertandingan Pertama di Eropa (4)


__ADS_3

* Kembali di Tribun *


Saat permainan berlangsung, telah menjadi jelas bagi Sage bahwa pemain bernomor 14 dari Zulte Waregem telah kehilangan pengaruhnya dalam permainan. Setiap kali dia menggiring bola ke bagian pertahanan Anderlecht telah diinterupsi oleh Nero. Bocah dari Indonesia itu melakukan pekerjaan dengan baik bahkan dalam peran bertahan di lini tengah.


Nero tidak hanya mengawal sang winger dengan ketat dan membayangi setiap gerakannya seperti yang dilakukan gelandang no.6 kepada Dendoncker. Dia juga akan bergerak cepat ke posisinya saat Anderlecht kehilangan bola dan menempatkan dirinya di antara pemain no.14 dan gawang timnya. Ketika pemain sayap itu berlari ke depan dan menggiring bola, dia akan menggunakan sliding tacklenya untuk menyapu bola.


Dengan role Free roam di lini tengah telah memungkinkan Nero untuk membantu kedua sayap saat tim Zulte Waregem menyerang. Pertandingan Kembali menemui jalan buntu di lini tengah setelah Nero berhasil menghentikan laju pemain sayap yang lincah dari Zulte Waregem U-19 itu.


Anderlecht bermain bagus dengan pemain sayap mereka bergerak maju dan mengapit Romelu Lukaku. Kedua pemain sayap menggunakan kecepatan mereka sebelum melakukan crossing atau cut inside ke arah gawang lawan. Mereka berhasil mengancam gawang Zulte beberapa kali namun belum mampu menyamai skor dan mencetak gol.


Formasi dan Pola permainan 4 3 3 sekarang bekerja dengan baik untuk tim muda Anderlecht.


Tapi yang paling membuat Sage khawatir adalah skornya. Tim U-19 Anderlecht masih tertinggal satu gol, namun jarum jam sudah mendekati menit ke 80.


Jika mereka tidak mencetak gol dengan cepat, mereka akan kalah. Itu tidak akan terlihat bagus di CV Nero dan mungkin mempengaruhi kepercayaan dirinya.


“Anakmu sepertinya pandai bertahan.” Dia mendengar pelatih Jacobs berkata


“Dia memiliki insting yang sangat tajam dan membaca permainan pemain sayap itu dengan mudah. Dia akan menjadi bek tengah yang bagus.”


Pak Thorgan menghela nafas sebelum berkata.


“Bukan itu alasan saya membawanya ke Anderlecht. Dia punya sesuatu yang lain, yang bahkan jauh lebih baik.” Katanya


“Betulkah?” kata pelatih Jacobs yang tampak terkejut.


“Ya” Pak Thorgan mengangguk.


“Dia bahkan belum menunjukkan seperempat dari kemampuannya. Pelatih Marcel hanya menggunakan dia di posisi yang tidak cocok untuknya.

__ADS_1


“Apa posisi alaminya.?”


“Gelandang Tengah.” Jawab Pak Thorgan.


“Tapi dia seharusnya berada dalam peran menyerang daripada bertahan. Kemampuan passingnya sangat fenomenal, bahkan mungkin lebih baik daripada Dendoncker.” Katanya lagi.


“Sudah lama sejak saya mendengar anda menilai pemain setinggi itu.” Kata Pelatih Jacobs sambil tersenyum


“Sekarang minat saya terusik.” Tambahnya sebelum Kembali fokus ke pertandingan.


---- ----


Saat pertandingan berlangsung, nyanyian berkembang dari tribun di belakang tiang gawang Anderlecht hingga menjadi lagu penuh semangat yang dimaksudkan untuk memicu kinerja para pemain tuan rumah.


“Ohh. Shalalalala…., Oh Anderlecht….” Para penggemar bernyayi sambil melompat dan menari mengikuti irama yang ditentukan oleh tepukan tangan mereka.


Aku melihat sekeliling dan mulai mengamati seluruh lebar lapangan. Kiper Zulte hendak melakukan tendangan gawang. Bola baru saja keluar setelah upaya lain yang gagal dari para striker Anderlecht. Para penyerang kami telah melewatkan lebih dari selusin peluang untuk mencetak gol.


Kiper Zulte Waregem tersebut menendang bola tinggi-tinggi dan mengirimnya jauh ke dalam setengah lapangan kami. Salah satu bek tengah kami menyundulnya Kembali tinggi ke lini tengah menuju posisi aku.


Aku satu-satunya yang memiliki ruang menerima bola sejak tim lawan menjaga semua gelandang lainnya dengan ketat. Sepertinya mereka menganggapnya sebagai bek belaka tanpa kemampuan untuk menyerang dan membiarkannya tak terjaga satupun pemain lawan.


Aku dengan cepat memanfaatkan situasi tersebut. Aku menerima dan mengontrol bola dengan dada sebelum berlari menggiring bola menuju ke pertahanan lawan.


Aku baru saja melihat garis putih jernih yang berjalan dari posisiku melalui lapangan menuju kotak pinalti lawan. Atribut kecerdasanku yang tinggi (Kesadaran Spasial dan Penilaian Resiko) baru saja membuatku sadar akan rute aman untuk berlari menggiring bola.


Keringat mengalir di wajahku saat jantungku berdebar kencang di dadaku saat aku terus menggiring bola menuju kotak pinalti tim Zulte Waregem.


Dua pemain lawan muncul di depanku. Aku memperlambat langkahku sedikit sebelum melakukan fake ke kiri tetapi kemudian malah mempercepat langkahku dan bergerak ke kanan dengan bola tetap dekat dengan kakiku. Dribblingku bukanlah sesuatu yang mewah, hanya perubahan kecepatan sesekali dalam Langkah panjangku yang memungkinkan aku melewati para pemain Zulte.

__ADS_1


Aku berhasil melewati dua pemain lawan dan melanjutkan ke arah gawang. Aku mengabaikan satu pemain yang mengejar sebelum melewati dua sliding tackle yang masuk.


Aku dengan cepat melihat bahwa aku sudah dalam kotak pinalti dengan hanya satu bek antara aku dan kipper. Bek tersebut bersiap untuk menghentikanku, namun dengan satu fake shot aku berhasil menipu bek tersebut dan melakukan tendangan keras ke arah gawang. Namun, aku melihat ujung jari kiper menyapu bola dan mendorongnya sedikit lebih tinggi dari jalur yang dituju. Jantungku melompat ke tenggoranku saat melihat hal tersebut.


‘Silakan masuk.’ Pikirku berdoa dalam hati.


Namun ternyata bola membentur mistar gawang dan memantul Kembali ke lapangan.


Dengan reflek aku berbalik mencoba mengerjarnya, namun aku melihat Lukaku menerkam bola lepas di dekat titik pinalti dan melepaskan tembakan mendatar ketengah gawang yang kosong, menjadikan skor menjadi 1-1.


Akhirnya kami berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke 83. Sorak-sorai Meletus seperti gunung berapi di Stadion Lotto Park. Semua fans merayakan gol yang dicetak oleh Romelu Lukaku.


Lukaku tidak merayakannya sendirian, dia berlari ke arah aku dan menarikku ke dalam pelukan beruang dan berkata.


“Itu Sprint yang luar biasa bagus. Terima kasih.”


Sebelum aku sempat membalas, para pemain Anderlecht lainnya datang melompat kea rah kami dan memeluk kami untuk merayakan gol tersebut.


Bibi raku melengkung membentuk senyuman saat aku mencoba menekan emosiku yang masih meluap-luap. Semuanya Kembali padauk saat itu. Sprintku yang gila melalui lini tengah telah menghasilkan gol penyeimbang. Dia bahkan tidak yakin bagaimana dia bisa menggiring bola melewati empat pemain Zulte.


Kami dengan segera berjalan Kembali ke setengah lapangan kami. Namun saat itu pelatih Marcel memanggilku dan Dendoncker sebentar.


“Nero, Leander, kemarilah.” Aku mendengar pelatih Marcel memanggilku dari pinggir lapangan.


Aku tidak khawatir pelatih akan menanyakanku karena sebelumnya meninggalkan posisiku. Mencetak gol dan memenangkan pertandingan adalah hal yang paling penting bagi pelatih. Mereka mendukung pemain yang bisa melihat celah di antara formasi lawan dan memanfaatkannya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2