
Sandy Walsh melakukan tendangan penjuru mengirim bola ke tengah kotak pinalti. Disana terlihat Nathan Kabasele pemain yang cukup tinggi dari Tim Anderlecht II bersiap menerima bola, namun bek tengah kami yaitu Miguel Alaron berhasil menanduk bola keluar. Namun serangan Tim kedua Anderlecht belum berakhir, bola jatuh ke kaki Dendoncker, dia bersiap melakukan tendangan dari luar kotak pinalti, namun aku dengan cepat menutup ruang di depannya. Melihat ruangnya sudah kututup Dendoncker, dengan cepat membatalkan niatnya dan mengumpan ke kiri kepada Jordan,
Jordan menerima bola dengan baik, dia dengan cepat melewati Kierst Donovan, sebelum melakukan crossing ke dalam kotak pinalti. Kali ini Nathan berhasil menanduk bola dan mengarahkannya kearah gawang. Untung saja Damon dengan sigap membaca arah bola dan menangkapnya dengan kedua tangannya mengakhiri serangan tanpa henti dari tim kedua Anderlecht.
Setelah itu kami benar-benar di gempur habis-habisan oleh tim kedua Anderlecht. Aku memutuskan untuk ikut fokus untuk bertahan, beberapa kali aku dapat memotong,mengintersep dan merebut bola dari lawan. Namun tim kedua Anderlecht dipimpin oleh tiga gelandang berbakat, Dendoncker,De Bruyn dan Samy. Mereka terus menguasai lini tengah menghadapi aku dan Ishak.
Pada menit ke 29, Dendoncker Kembali membawa bola, aku menghadang dan berusaha menghentikannya, namun dia memberi umpan pendek ke Sandy di kanan. Sandy dengan cepat berakselerasi ke depan. Antonio berusaha menghentikannya, namun Sandy dengan cepat mengumpan ke Nathan sebelum berlari dan menerima umpan balik dari Nathan. Kini dengan umpan satu duanya dengan Nathan, dia berhasil menerobos sisi kiri jantung pertahanan kami, Rochefort, berusaha menghadangnya, namun dia berhasil dilewati oleh Sandy yang langsung melakukan tendangan mendatar dengan kaki kirinya ke pojok kiri gawang Damon. Damon berusaha menggapainya, namun bola terlalu cepat dan masuk ke jaring gawang.
Skor kini menjadi 1-0 untuk keunggulan tim kedua Anderlecht. Gol dicetak oleh Sandy Walsh.
Permainan dilanjutkan, dengan keunggulan 1-0 permainan tim kedua Anderlecht semakin percaya diri. Aku melihat hal ini sangat tidak baik, jika terus tertekan seperti ini, kami akan kalah. Jadi aku berinisiatif untuk menyerang saat ada kesempatan. Dan kesempatan itu muncul di menit ke 42, dimana setelah tendangan penjuru yang gagal dari Jordan, kami berhasil melakukan counter attack.
Ishak yang berhasil mendapatkan bola muntahan memberikan umpan kepadaku, aku dengan cepat menggiring bola menuju tengah lapangan. Di kanan dan kiriku aku melihat Andres dan Ryandi berlari dengan cepat. Aku memutuskan untuk memberikan umpan lambung ke kanan, Ryandi yang melihat itu mempercepat larinya dan berhasil menguasai bola dengan baik, dia dengan cepat berlari kedepan. Kini situasi 3 lawan 2 dimana, Ryandi, Kim dan Bjorn berhadapan dengan dua pemain bertahan dari tim kedua Anderlecht.
Ryandi dengan cepat sampai di sisi kanan jantung pertahanan Anderlecht II, di tengah sudah terlihat Bjorn dan Kim yang siap menyambut umpan yang akan diberikan oleh Ryandi, kedua bek tersebut juga bersiap memotong dan mengintersep bola tersebut. Namun Ryandi berpikir lain, dia melakukan umpan cutback ke belakang ke arah….Nero yang dengan cepat berlari dan menyambut bola, Dendoncker yang mengejarnya berusaha menekel dan menghentikan tendangan yang akan dilepaskan olehku, namun sayang baginya, aku lebih cepat melepaskan tendangan dengan kaki kiriku ke pojok kiri atas gawang yang tidak dapat digapai oleh Davy Roef kiper dari tim kedua Anderlecht.
Kini skor menjadi 1-1 pada menit kedua berkat gol penyama kedudukan dariku, aku merayakan gol tersebut dengan berlari ke Ryandi dan melakukan selebrasi bersama dengan rekan setimku. Setelah beberapa saat kami bersiap melanjutkan pertandingan.
__ADS_1
Dengan gol penyama kedudukan tersebut, permainan menjadi berbalik, kini kami yang menguasai bola. Aku dan Ishak selalu memenangkan possession di tengah melawan tiga gelandang mereka, dengan kepercayaan diri yang meningkat kami berhasil menguasai lini tengah. Namun gol kedua tidak kunjung datang hingga di menit injury time ke 2 atau menit 47. Setelah tendangan penjuru yang gagal Mehdi Tarfi melepaskan tendangan jarak jauh yang berhasil ditangkap oleh Damon. Damon dengan cepat melepaskan operan ke Ishak, aku yang melihat sisi kiri pertahanan mereka segera berlari ke sayap dan switch posisi dengan Kim. Ishak yang melihat hal tersebut langsung melakukan umpan lambung ke kiri.
Aku mengontrol bola dengan kakiku dan langsung berlari ke sisi kiri jantung pertahanan tim kedua Anderlecht. Kini aku berhadapan satu lawan satu dengan satu bek lawan yaitu Vervoort, namun aku berhasil melewatinya dan memasuki kotak pinalti. Kini aku berhadapan satu lawan satu dengan kiper lawan. Namun sebelum aku melepaskan tendangan, tiba-tiba Vervoort melakukan tekel keras dari belakang yang mengakibatkan aku terjatuh.
*PRIIIIIITTTTT*
Wasit meniup peluit dan menunjuk ke titik putih, yang artinya kami mendapatkan pinalti. Bukan hanya itu saja, Vervoort juga dihadiahi kartu merah karena melakukan professional foul terhadapku. Karena jika dia tidak menghentikanku dengan tekel tersebut, peluang tadi akan menjadi 90% kemungkinan untuk gol.
Vervoort menghampiriku dan membantuku berdiri dan meminta maaf. Aku hanya mengangguk, karena aku tau itu adalah hal yang harus dilakukan untuk mencegah gol terjadi. Kini kami mendapat pinalti, aku memberikan bola kepada Bjorn bermaksud untuk membiarkannya mengambil tendangan pinalti ini namun, dia tidak mau dan malah berkata.
“Tidak apa-apa, ambillah.” Kataku sekali lagi.
“Tidak kau saja.” Katanya sambil meletakkan bola ke kedua tanganku dan keluar dari kotak pinalti.
Aku hanya menghela nafas dan mengangguk, aku meletakkan bola di titik putih. Setelah itu aku mundur beberapa Langkah kebelakang, sambil melihat gawang dan kiper. Aku menghela nafas dua kali dan fokus untuk mengambil tendangan ini dan mencetak gol. Wasit meniupkan peluitnya. Aku mengambil ancang-ancang, mengambil dua step kecil sebelum melakukan satu step besar sebelum melepaskan tendangan keras ke pojok kanan atas dengan kaki kiriku. Kiper Davy Roef berusaha menepis bola, namun bola terlalu cepat dan keras sehingga dia gagal menghentikan tendanganku dan membuat bola masuk ke dalam gawang.
Kini skor menjadi 1-2 untuk keunggulan RSCA Youth Academy pada menit ke 47. Setelah gol tersebut wasit juga meniup peluit tanda berakhirnya babak pertama. Aku masih merayakan golku di tiang sudut kanan bersama rekan-rekanku. Kami sangat gembira karena, berhasil mengakhiri babak pertama dengan skor 2-1 dan mengungguli tim kedua Anderlecht. Setelah itu kami masuk ke ruang ganti tim.
__ADS_1
Sementara itu dengan pelatih Marcel dan Asistennya.
Ini adalah hasil yang menggembirakan untuk pelatih Marcel. Setelah tertekan di 30 menit awal permainan, yang mana membuat dia sangat cemas dan frustasi saat gol pertama dicetak oleh tim Anderlecht II. Namun kini dia bisa bernafas sedikit lega, melihat permainan timnya khususnya permainan Nero, membuat dia optimis untuk bisa memenangkan pertandingan ini.
“Nero semakin membaik dari hari ke hari.” Kata Asisten pelatihnya.
Pelatih Marcel terdiam sejenak
“Dia memang sangat berbakat. Namun kebiasaannya untuk menyimpang dari strategi permainan akan membuatnya mendapat masalah di kemudian hari.” Kata Marcel dengan teliti.
“Ya, tapi dia mencetak gol dengan pinalti yang dihasilkannya kan. Tidak ada orang yang bisa memanfaatkan celah di sayap seperti tadi dengan sebaik dia. Kecepatan dan keterampilan dribblingnya meningkat pesat” Kata Asisten pelatih tersebut.
“Ya, memang. Itu membuatku membiarkannya dengan sedikit penyimpangan tersebut. Aku merasa walau dia sangat baik di sayap, namun potensi terbaiknya tetaplah menjadi seorang gelandang.” Kata Pelatih Marcel.
“Aku tidak bisa membantah hal tersebut.” Kata asistennya sambil tersenyum.
Dengan itu mereka memasuki ruang ganti dan bertemu dengan para pemain. Setelah menyampaikan beberapa hal dan taktik, Pelatih Marcel membiarkan mereka untuk istirahat sejenak sebelum babak kedua dimulai Kembali.
__ADS_1