
Babak kedua akan segera dimulai, kini tim kami melakukan pergantian pemain. Stefan masuk menggantikan Bjorn Smirkson, sementara itu seorang gelandang bertahan bernama Emi Lautaro masuk menggantikan Andres Kim. Kini pelatih Marcel merubah formasi menjadi 3-4-1-2 dengan Duo Stefan dan Ryandi sebagai Ujung tombak dan dengan posisiku yang sedikit di geser ke depan dibelakang duo tersebut. Sementara itu dari Tim Anderlecht II, seorang penyerang Sebastian Locigno masuk menggantikan Jordan Lukaku, sementara itu Mehdi Tarfi digeser ke posisi wing back kanan. Sepertinya mereka berniat bermain lebih menyerang dengan memasukkan tambahan striker.
*PRIIIIITTTTTT*
Wasit meniup peluit dimulainya babak kedua, bola kickoff diambil oleh tim Anderlecht II, mereka berniat menguasai possession dari awal-awal babak kedua. Dengan masuknya Locigno memberikan dampak langsung kepada tim Anderlecht II. Itu terbukti pada menit ke 49 dimana Dendoncker Kembali memainkan passing-passing pendek dengan Samy, aku berusaha menghentikan mereka, namun Samy dengan cerdik mengirimkan umpan ke Mehdi di kiri. Mehdi dengan cepat melewati beberapa pemain kami. Kierst membayanginya dan berusaha menutup ruang crossing yang akan dikirimkan oleh Mehdi. Namun Mehdi punya rencana lain, dia melakukan umpan satu dua dengan Locigno yang menghampirinya dan berhasil melakukan Cut inside ke dalam kotak pinalti kami. Larsen berusaha menghentikannya, namun dia memberikan umpan mendatar ke tengah yang sudah disambut oleh Dendoncker yang melakukan tendangan keras ke arah gawang dengan kaki kanannya. Aku berusaha memblok bola tersebut namun, bola terlalu cepat dan menghujam gawang kami.
Kini Tim Anderlecht II berhasil menyamakan kedudukan, skor menjadi imbang 2-2. Benar-benar pertarungan yang sengit, kedua tim menampilkan kualitasnya dalam pertandingan ini. Kedua tim sama-sama tidak mau mengalah dalam pertandingan ini. Setelah gol penyama kedudukan tersebut, kedua tim saling balas menyerang.
Tim Anderlecht II dimotori oleh Leander Dendoncker sebagai pengatur serangannya, sementara di tim kami ada aku yang menjadi playmaker timku. Beberapa kali aku melakukan umpan terobosan ke arah Ryandi dan Stefan, namun kiper mereka sangat On Fire pada babak kedua ini. Sementara itu Damon juga tidak kalah On Fire di bawah mistar gawang kami. Beberapa kali peluang yang hampir pasti menjadi gol dapat di selamatkan olehnya.
Pada menit ke 68, kami mendapatkan peluang melalui free kick setelah Ryandi berhasil memenangkan free kick setelah, Matthys melanggarnya. Kini aku dipercayakan untuk mengambil tendangan bebas ini. Aku memegang bola dan meletakannya di titik yang ditunjuk oleh wasit. Setelah itu aku mundur beberapa Langkah ke belakang. Aku mencoba untuk fokus, aku mengambil nafas perlahan dan memfokuskan seluruh perhatianku ke tendangan ini.
Setelah wasit meniup peluit tanda untukku menendang, aku mengambil dua step kecil dan satu step besar sebelum menendang bola dengan kaki kiriku. Bola melayang menuju pojok kanan atas, Davy Roef mencoba menggapai bola namun, tendanganku terlalu jauh untuk digapai. Kini skor menjadi 3-2. Dan kini aku mencetak Hattrick.
Sementara itu dengan Pelatih Marcel dan Asistennya.
Mereka melihat tendangan free kick yang dilakukan oleh Nero. Mereka cukup terpukau dengan tendangan yang dilakukannya.
"Tidakkah menurutmu sia-sia meninggalkan Nero dari Riga Cup?" Asisten pelatih bertanya, nada suaranya meragukan. "Dengan dia, kami memiliki peluang nyata untuk menang untuk pertama kalinya. Itu bisa menarik lebih banyak siswa berbakat ke akademi."
"Saya tahu itu." Pelatih Marcel mengangguk. "Saya telah melihat tendangan bebasnya selama latihan. Jika dia menyempurnakan bola matinya, kami bisa mengancam akademi raksasa selama Piala Riga. Namun, saya perlu meyakinkan orang tua itu sebelum ofisial Anderlecht mengizinkan kami untuk memanfaatkan dia di sebuah kompetisi." Pelatih Marcel menghela napas, menarik janggutnya.
"Mengapa demikian?"
"Direktur olahraga Anderlecht tidak ingin Nero bermain di luar negeri untuk sementara waktu," jawab Pelatih Marcel. "Mereka takut klub lain di Eropa akan memburunya bahkan sebelum dia bermain untuk Anderlecht. Hanya Tuan Thorgan yang bisa mengizinkannya bermain di piala karena dia mengawasi semua urusan Nero di sini di Belgia."
Asisten Pelatihnya mengerutkan kening. "Itu tantangan. Anda tampaknya tidak akur dengan Tuan Thorgan. Apakah dia akan mengizinkannya?"
__ADS_1
Pelatih Marcel tetap diam. Dia fokus pada pertandingan pada saat itu. Nero baru saja mengirim umpan terobosan ke kotak pinalti Anderlecht II, menangkap bek tengah mereka tanpa sadar. Stefan menguasai bola di tepi kotak penalti—dan melepaskan tembakan luar biasa ke arah pojok kanan bawah gawang. Bola tersebut tidak bisa dijangkau oleh kiper Anderlecht yang mengakibatkan gol penambah keunggulan untuk RSCA Youth Academy menjadi 4-2. Dia melihat Stefan merayakan dengan berlari ke arah Nero dan memeluknya.
"Jangan khawatir," ujar Pelatih Marcel usai merayakan gol tersebut. "Aku akan menemukan cara baginya untuk bergabung dengan kita. Daftarkan saja dia sebagai bagian dari tim yang ambil bagian dalam Riga Cup. Serahkan sisanya padaku."
Kembali ke Pertandingan.
Setelah Stefan berhasil mencetak gol di menit ke 75, pertandingan berubah total. Para pemain tim akademi menjadi lebih bersemangat dan menguasai possession. Pemain tim kedua Anderlecht benar-benar dibuat kewalahan oleh tim RSCA Youth Academy. Namun tentu saja mereka tidak mau menyerah, sesekali Leander memberikan umpan-umpan yang bagus kepada para Strikernya, namun sayang Damon benar-benar Onfire hari ini. Dia sudah menyelamatkan gawang tim akademi beberapa kali dari kebobolan. Tim Anderlecht II melakukan beberapa pergantian Jordy Peffer masuk menggantikan Samy Bourard. Sementara itu Anil Koc masuk menggantikan Mehdi Tarfi.
Dengan masuknya mereka tim Anderlecht II sekarang lebih banyak menyerang, sementara tim akademi juga walau sudah unggul 4-2 tidak mau mengendurkan serangan mereka. Terbukti pada menit 87, kami mendapatkan peluang, aku dengan cepat melakukan umpan crossing ke tengah yang mengarah langsung ke Stefan, dia berhasil mendapatkan bola dan mengontrol bola tersebut dengan dada sebelum melakukan tendangan voli ke arah gawang. Bahkan kiper Davy Roef tidak dapat bereaksi karena tendangan yang dilakukan oleh Stefan menghujam jaring gawang dengan keras, menambah keunggulan RSCA Youth Academy menjadi 5-2.
Kami berselebrasi kecil merayakan gol ini, sementara itu Stefan berbisik kepadaku.
“Terima kasih bro, karena sudah memberikanku dua assist yang bagus.” Katanya sambil tersenyum.
“Heh tidak masalah.” Kataku sambil balas tersenyum.
Akhirnya kami melanjutkan pertandingan. Pada menit ke-90, Leander Dendoncker menghasilkan umpan panjang yang luar biasa dari dalam setengah lapangannya. Sebuah kesalahan—sebuah miskick, dari salah satu pemain bertahan, memberikan kesempatan kepada Locigno yang mengintai. Striker Anderlecht II itu tetap tenang dan melepaskan tembakan kaki kanan—yang diselamatkan oleh ujung jari Damon. Wasit meniup peluitnya dan menunjuk ke sudut.
Para pemain RSCA Youth Academy sukses mempertahankan sepak pojok. Miguel Alaron mengalahkan semua pemain dan menyundul bola menjauh dari kotak setelah mengalahkan sasarannya.
Dendoncker melepaskan tembakan rebound dari tepi kotak. Namun, Larsen Maguek, salah satu bek tengah akademi, memblokir tembakan rebound yang dihasilkan, mengirim bola kembali ke lini tengah.
Tiga pemain tim Anderlecht II melesat secepat kilat, mengejarnya. Aku ada di depan mereka. Mengayunkan tinju, lengan, dan kaki, aku berlari ke arah bola yang belum mendarat di sayap kanan.
Visi terowongan muncul saat aku hanya fokus pada bola yang baru saja memantul di tanah. Cleat sepatu botnya menancap di rerumputan halus tempat latihan tim saat aku meningkatkan kecepatanku dan mengalahkan semua orang—termasuk pemain bertahan lawan untuk merebut bola. Kelincahan A+-ku bukanlah lelucon di tingkat akademi sepak bola. Meskipun aku bukan yang tercepat, aku bisa dengan mudah mengalahkan sebagian besar rekan-rekanku untuk kecepatan.
Bola sedang memantul ketika aku mencapainya. Aku tidak berhenti untuk mengontrol bola. Aku membungkuk sedikit dan menuju ke depan tanpa melambat sedikit pun.
__ADS_1
Sentuhan pertama yang cekatan dengan kepalaku membawaku melewati satu bek. Tak lama, Aku berlari menjauh dari satu detik, dan tiba-tiba—sepertinya memiliki bermil-mil ruang kosong di depannya di sayap kanan.
De Bruyn, seorang gelandang yang tidak mengambil bagian dalam tendangan sudut, bergegas masuk untuk menutup bola, tetapi dengan melakukan itu, berhadapan dengan ku. Dia merentangkan tangannya lebar-lebar seperti pemain basket bertahan. Matanya terbakar dengan intensitas dan postur tubuhnya memperingatkan ku bahwa dia akan menggunakan cara apa pun untuk membawaku keluar tidak peduli konsekuensinya.
Aku mengerutkan kening tetapi tidak mengurangi kecepatan. Aku mengumpan bola melewati pemain Anderlecht II dan kemudian berlari mengambil jalur luar ke arah sayap. Namun seperti kebanyakan gelandang bertahan,dia menghindar ke arah ku, berharap untuk menghalangiku atau bahkan mungkin menjatuhkanku.
Namun, usahanya sia-sia.
Aku terus berlari lebih lebar, menavigasi di sekitar sayap, melaju lebih cepat dan lebih cepat menuju bola. Aku meninggalkan gelandang tersebut dalam debu dan melangkah kembali ke lapangan tanpa memperlambat langkahku.
Paru-paruku berteriak untuk bernafas saat aku memotong secara diagonal ke dalam lapangan dan berlari ke arah kotak pinalty, tanpa ada bek yang menghalangi kemajuanku. Aku terus berlari, setiap langkah penting. Kemudian, sebelum aku menyadarinya, aku hampir masuk ke dalam kotak pinalti.
Kiper Davy Roef keluar untuk menyambutnya. Aku dengan cepat melirik ke sekelilingku untuk pertama kalinya sejak mulai berlari. Aku memperhatikan bahwa Ryandi hampir menyamai langkahnya dengan larinya yang cepat. Dia baru saja melangkah ke busur kotak 18 yard.
Dia memimpin sekelompok pemain, semuanya mengejar ku.
Aku tidak berpikir dua kali dan hanya mendorong bola ke jalannya. Ryandi dengan tenang memasukkan bola ke bagian belakang gawang yang kosong, menambah keunggulan RSCA Youth Acadmey menjadi 6-2.
Ryandi ke arahku dan mencoba mengangkatku dalam pelukan perayaan setelah mencetak gol. Namun, aku menggeliat keluar dari pelukannya sebelum pemain lainnya bisa bergabung dengan perayaan dan mencekikku.
**** ****
"Tidakkah menurutmu dia lebih seperti pemain sayap daripada gelandang?" Asisten pelatih itu bertanya sambil melirik para pemain akademi yang merayakan.
Pelatih Marcel berdeham. "Dia memainkan kedua posisi dengan baik. Kami perlu menasihati dia di mana untuk memfokuskan sebagian besar usahanya. Saya tidak ingin dia membuang-buang waktu berlatih untuk lebih dari satu posisi. Saya pikir lini tengah paling cocok untuknya karena dia suka mengoper bola. saat berhadapan dengan kiper satu lawan satu." Sang pelatih memiliki senyum langka yang terpampang di wajahnya.
"Kita bisa mencobanya di sayap dan melihat bagaimana dia bermain melawan pemain senior Anderlecht Jumat depan," saran Asisten pelatihnya. “Kami perlu memastikan dia bermain di posisi yang tepat pada tahap kritis dalam karirnya ini.” Dia menambahkan.
__ADS_1
"Saya akan berpikir tentang hal ini,"
Pertandingan berakhir dengan skor 6-2 untuk kemenangan RSCA Youth Academy.