Second Chances : Indonesian Football Player

Second Chances : Indonesian Football Player
Chapter 26 : Pertandingan Pertama di Eropa (2)


__ADS_3

Beberapa menit pertama terjadi perebutan bola di lini tengah. Tidak ada tim yang berhasil menahan bola cukup lama untuk membuat dampak penting pada pertandingan selama sepuluh menit babak pertama.


Anak-anak Anderlecht yang mengenakan baju biru biru berjuang untuk mendominasi penguasaan bola di lini tengah, namun mereka selalu dengan cepat ditutup ruangnya oleh para pemain Zulte yang mengenakan baju putih merah.


Zulte Waregem U-19 terbukti sulit untuk dikalahkan


Mereka memainkan formasi 4 4 2 Konvensional yang memberi mereka struktur dasar yang kokoh dengan kedalaman pertahanan dan jumlah serangan. Semua pemain mereka memiliki peran yang ditandai dengan jelas.


Ketika tim Zulte kehilangan bola, empat bek dan empat gelandang mereka akan menempatkan diri di depan pemain Anderlecht sehingga dapat mengcover semua sisi lebar lapangan sehingga pemain depan Anderlecht cukup kesulitan untuk memasuki jantung pertahanan dari Zulte Waregem


Permainan mereka seperti tipikal permainan Mourinho Ketika dia menghadapi Barcelona bersama Inter Milan.


Namun pada 16 menit permainan, Leander Dendoncker menunjukkan permainan seperti superstarnya. Dia menarik perhatian dan dukungan dari kerumunan supporter tuan rumah. Permainannya sangat fenomenal, dia membuat permainan tim kami sangat hidup dengan sentuhan-sentuhan bolanya. Gelandang lainnya akan mencoba membuka ruang atau mencoba menusuk dan penetrasi ke dalam area Zulte untuk menunggu umpannya.


Long passnya cukup akurat, dia selalu mensupplai bola ke Lukaku yang mana adalah penyerang tengah Anderlecht U-19. Mereka berdua menciptakan peluang bagus pertama di 20 menit pertandingan.


Kiper dengan cepat memberikan bola kepada Dendoncker yang mana langsung melepaskan umpan jauh kepada Lukaku. Lukaku memiliki waktu dan ruang di dalam kotak pinalti setelah menerima umpan dengan baik dan segera melepaskan tendangan. Namun tendangannya dapat diselamatkan dengan baik oleh penjaga gawang Zulte.


Tim Anderlecht memenangkan sepak pojok pertama mereka.


Sandy Walsh, bek kanan kami melangkah untuk mengambil tendangan sudut. Dia mengambil ancang-ancang dan melepaskan bola ke dalam kotak pinalti, namun salah satu bek Zulte memenangkan duel udara melawan Kabasele dan membuang bola menjauh dari kotak pinalti mereka.


Walau gagal mencetak goal namun jelas bagi semua penonton bahwa Anderlecht mulai membangun dominasi mereka dalam permainan.


Aku menyaksikan pertandingan dari sela-sela bangku cadangan. Aku duduk di ujung terjauh dari ofisial tim dengan fokusku tersebar. Pikiranku dipenuhi dengan antisipasi gugup. Jari-jari kakiku terasa gatal untuk menendang bola setelah menyaksikan menit-menit awal pertandingan hari ini.


“Sial.” Aku mendengar pelatih Marcel mengutuk untuk kesekian kalinya selama babak pertama.

__ADS_1


Aku melirik ke arahnya dan melihat dia menggosok kepalanya dengan frustasi.


Aku berempati dengannya.


Kembali ke Pertandingan.


Nathan Kabasele sayap kanan kami baru saja melepaskan umpan silang ke arah kotak pinalti lawan, namun salah satu pemain bertahan Zulte dengan sigap melompat dan menyundul bola keluar kotak pinalti mereka.


Kebuntuan permainan adalah mimpi buruk yang terburuk bagi seorang pelatih. Meski Anderlecht tampak memegang kendali permainan dengan penguasaan bola yang lebih tinggi, situasi pertandingan dapat berubah kapan saja. Hanya perlu satu gol bagi Zulte untuk membalikkan keadaan di atas Anderlecht. Aku telah menyaksikan Yunani memenangkan Euro 2004 dengan cara seperti itu.


Dan prediksiku menjadi kenyataan Ketika pelatih Zulte Waregem melakukan dua pergantian pemain di awal babak kedua. Dia memasukkan dua pemain segar ke dalam pertandingan.


Salah satunya adalah sayap kanan yang mempunyai kecepatan dan kemampuan yang luar biasa untuk melewati lawannnya. Yang lainnya adalah seorang gelandang tengah yang mempunyai fisik kuat dalam berduel dan kemampuan bertahan yang mumpuni.


Saat keduanya masuk mereka langsung memberikan dampak signifikan pada menit ke 47 pertandingan.


Dengan jenderal lapangan tengah Anderlecht yang terkunci, permainan Zulte Waregem menjadi lebih hidup. Umpan-umpan crossing mulai berdatangan dari dua sisi sayap mereka menuju striker mereka. Di sisi kanan, pemain sayap kanan yang baru masuk melepaskan umpan silang dengan bagus memotong dan mengancam gawang Anderlecht. Sepertinya dia memiliki kebebasan penuh untuk berotasi ke mana saja sesuai rolenya yaitu Free Roam. Dia bisa muncul sebagai pemain sayap di kanan dan kiri lapangan dan bisa juga sebagai striker ketiga mereka secara bersamaan.


Dia menyiksa bek kanan dan kiri Anderlecht segera setelah memasuki pertandingan.


Dia memperkuat pengaruhnya pada menit ke 54 pertandingan. Gelandang Anderlecht saling mengumpan dengan rapi dan menunggu kesempatan untuk memulai serangan, namun mereka melakukan kesalahan dan kehilangan bola. Gelandang bertahan Zulte mengambil operan yang salah dan langsung melakukan umpan jauh ke arah sayap kanan.


Dengan cepat, pemain sayap kanan mereka yang baru masuk berlari dan menerima umpan dengan bagus, lalu dengan segera menggiring bola melewati bek kiri Anderlecht Jordan Lukaku. Dia dengan cepat melaju menuju kotak pinalti. Jonathan Vervoort berusaha menghentikannya, namun dia melewati Vervoort dan melepaskan tendangan kaki kanan ke arah sudut gawang.


Davy Roef berusaha menggapai bola, namun usahanya sia-sia, dengan cepat dan kuat bola tersebut merobek jaring gawang Anderlecht mengubah skor menjadi 0-1 dengan Zulte memimpin.


“Sial,sial.” Aku mendengar pelatih Marcel mengutuk saat melihat pemain Zulte merayakan goal pertama mereka di pertandingan ini. Anderlecht lebih dominan menguasai permainan, namun kini mereka malah lebih dulu tertinggal satu gol dengan tiga puluh menit tersisa.

__ADS_1


Pelatih Marcel tampak begitu frustasi. Dia melihat ke arah bangku cadangan melihat Arnaud de Greef dan kemudian Nero Juniar. Matanya menggambarkan keraguannya. Dia sepertinya mempertimbangkan yang mana yang harus dia masukkan dalam situasi genting saat ini.


Aku menunggu dengan cemas keputusan pelatih. Aku mengerti bahwa aku akan memiliki lebih banyak peluang untuk tampil hanya Ketika aku memasuki permainan lebih awal.


Pelatih Marcel menghela nafas dan berkata.


“Nero, pergi lakukan pemanasan dulu. Waktumu hanya lima menit. Datang ke sini untuk intruksi setelah kamu selesai.”


‘Akhirnya’ batinku sambil berdiri dan berkata kepada pelatih.


“Ya, coach.” Kataku.


Sebut saja dia sadis, tapi aku malah sedikit senang timnya sedang ketinggalan angka. Kalau tidak, aku mungkin bermain kurang dari sepuluh menit. Aku membutuhkan waktu bermain di mana aku bisa membuat dampak signifikan. Dan saat timnya ketinggalan skor dimana itu adalah panggung terbaikku untuk mengesankan para pelatih.


Aku dengan cepat melakukan pemanasan dengan perasaan menggebu-gebu.


Sementara itu di bangku penonton Ryandi yang melihat temannya Nero sedang pemanasan, berteriak senang. Itu artinya Nero akan segera memasuki pertandingan. Sama halnya dengan Sage dan Tuan Thorgan.


“Akhirnya dia akan memasuki permainan.” Kata Tuan Thorgan sambil tersenyum.


“Ya, akhirnya kita bisa melihat Jun pada pertandingan pertamanya di sini.” Ucap Sage sambil tersenyum senang saat dia memandang Nero yang sedang melakukan pemanasan.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2