
“Tugasmu dalam pertandingan ini sederhana, aku ingin kau mematikan pergerakan pemain sayap nomor 14 itu.” Kata pelatih Marcel sambil menunjuk pemain yang baru masuk tadi.
Aku melihat pemain no 14 itu baru saja menerima umpan lain dan mulai menggiring bola ke setengah lapangan Anderlecht. Dia dengan cepat memberikan crossing ke dalam kotak pinalti kami,cukup dekat dengan touchline. Untungnya Alexandre De Bruyn salah satu gelandang bertahan Anderlecht dengan sigap melompat dan menyundul bola ke luar lapangan.
Wasit meniup peluitnya dan menunjuk ke bendera sudut.
“Katakan kepada Dendoncker untuk beradaptasi dengan pola baru. Seperti yang kami lakukan dalam Latihan, Dendoncker akan tetap menjadi gelandang bertahan, sementara De Bruyn akan bergerak sedikit maju dan melayani para striker. Sementara kamu akan memiliki role free roam di lini tengah untuk mendapatkan pegangan yang lebih baik kepada pemain no.14 itu.” Lanjut pelatih memberi instruksi kepadaku.
Dia menatap aku sejenak dengan mata penuh keraguan.
“Apakah kamu sudah mengerti dengan jelas? Atau apakah anda membutuhkan saya untuk mendapatkan papannya.?” Dia bertanya. Sang pelatih sepertinya meragukan kemampuan aku untuk memahami instruksinya.
Aku menatap pelatih Marcel dan menjawab dengan tegas
“Ya pelatih, saya mengerti.” Kataku dengan jelas dan tegas.
“Semoga begitu..” katanya pelan
“Anda telah menangani dan mencegat umpan dengan bagus selama sesi Latihan kami. Lakukan hal yang sama di lapangan dan matikan pergerakan anak sialan itu.” Kata pelatih Marcel sambil menampar pelan punggungku.
“Oke, kalau begitu pergi ke lapangan dan buat perubahan.” Tambahnya.
“DING”
Tidak lama setelah pelatih menampar punggungku, Interface system muncul di hadapanku.
Aku sedikit terkejut dan memperlambat langkahku saat aku berjalan di samping ofisial keempat. Aku melirik layar tembus pandang dan memperhatikan bahwa ada misi baru dari system.
****
Mastery Quest
-New Mission : Pelatih kamu telah memberikan kamu tugas yang penting.
Tugas 1 : Mematikan pergerakan pemain Nomor Punggung 14 dalam permainan
Tugas 2 : Tampil mengesankan dan mendapatkan penggemar pertama anda.
----
‘Terima’ ‘Tolak’
__ADS_1
----
Reward :
30 EXP Point
----
“Pinalty jika misi masih belum selesai di akhir pertandingan (Tidak ada jika anda menolak misi sekarang )
-Minus 40 EXP Poin.
----
*Keterangan : Peluang tidak terjadi, jika anda tidak membuat mereka.
----
Aku dengan cepat dan tidak ragu-ragu mengklik tombol terima setelah aku selesai membaca dengan teliti isi misi tersebut. Itu adalah misi pertama dengan hadiah EXP Poin yang cukup besar. Aku punya perasaan aku akan membutuhkan mereka segera.
Aku telah memutuskan untuk mengumpulkan lebih banyak poin exp untuk meningkatkan system. Dari pengalamanku membaca novel-novel, aku tahu bahwa system akan menjadi lebih membantu tuan rumah setelah upgrade.
Sementara itu di Tribun
Sage sedang menonton pertandingan di bagian Stadion yang lebih kosong. Pertandingan itu mulai membuatnya bosan setelah tim U-19 Anderlecht mengalami situasi yang sulit.
Dia membenci kekalahan dan selalu harus meninggalkan tempat pertandingan setiap kali timnya tertinggal. Tapi kemudian, dia memperhatikan bahwa Nero sudah mulai melakukan pemanasan di pinggir lapangan.
Senyuman indah langsung menyinari wajahnya. Dia menganggapnya sebagai proyek pertamanya, pemain pertama yang dia temukan di awal kariernya sebagai scout. Sage menantikan untuk melihat bagaimana dia akan tampil melawan tim U-19 di Belgia. Hanya dengan begitu dia akan membuang semua keraguan tentang bakatnya.
“Jadi itu anak yang kau temukan.” Dia mendengar pelatih Ariel Jacobs bertanya kepada kakeknya
Dia adalah manajer di Anderlecht. Dia manajer yang terbilang cukup sukses di Anderlecht. Dia memenangkan liga di musim pertamanya, memenangkan liga 5 kali dari 7 musim dia memimpin. Dia baru saja memenangkan kejuaraan liga lain tahun sebelumnya.
Meski akan pension, Ariel Jacobs masih memiliki banyak pengaruh pada manajemen Anderlecht. Sage pernah mendengar beberapa rumor bahwa kedudukannya sebanding dengan ketua klub.
“Ya itu dia.” Kata Pak Thorgan menjawab pertanyaan Ariel Jacobs.
“Oh oke.” Kata Pak Jacobs sebelum Kembali memusatkan perhatiannya pada pertandingan.
----
__ADS_1
Aku memasuki lapangan setelah bola keluar dan menghasilkan lemparan ke dalam untuk tim kami.
Aku masuk sebagai gelandang dan menggantikan gelandang lain yaitu, Samy Bourard.
Aku berlari menahan tekanan yang meningkat di dadaku. Kakiku terasa berat seperti sedang mengarungi air lautan. Aku merasa sangat cemas karena baru pertama kali bermain di pentas sepak bola Eropa.
Aku segera berlari ke Dendoncker dan memberikan instruksi pelatih sebelum pindah ke lini tengah kiri agar lebih dekat ke posisi No. 14 pemain sayap tim Zulte.
Aku telah memutuskan untuk mengikuti instruksi pelatih dengan semua usahaku. Itulah satu-satunya pikiran yang terlintas di benakku saat ini.
Dalam kehidupan sebelumnya, aku melakukan kesalahan Ketika aku masuk sebagai pemain pengganti pada pertandingan professional pertamaku di Jakarta Sports City. Aku tidak mengikuti instruksi pelatih dan diganti dengan cepat setelahnya.
Permainan dilanjutkan dengan lemparan ke dalam. Jordan melakukan lemparan ke Dendoncker, namun gelandang no.6 Zulte berhasil merebut bola dan dengan cepat mengumpan ke sayap kanan kepada No.14.
Pemain No.14 itu menerima bola dengan baik dan bermain satu-dua dengan gelandang Zulte. Mereka maju menuju gawang Anderlecht setelah berhasil melewati Mehdi Tarfi dan segera masuk ke dalam area pertahanan kami. Umpan pendek mereka rapi dan akuran sehingga memungkinkan mereka untuk maju menuju gawang kami tanpa hambatan. Jika dibiarkan terus seperti ini, kami akan berada dalam masalah.
Aku tidak mau membiarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Aku melihat beberapa bayangan bola dan siluet manusia keluar dari tubuh mereka ke arah yang berbeda. Visi Andres Iniestaku beraksi sekali lagi.
Aku dengan cepat berlari ke arah sayap sambil berkonsentrasi kepada sosok berlari no.14. Pemain sayap itu baru saja menerima bola dan berlari melewati Sandy Walsh dengan menggunakan side steps.
Aku kemudian melihat dua bayangan berbentuk manusia muncul dari sosok profilic Winger itu. Yang satu menuju ke bendera sudut setelah melewati Sandy. Yang lain melakukan crossing secara diagonal menuju ke arah gawang kami.
Aku tidak perlu lama-lama memikirkan rute mana yang harus kuambil. Aku telah menyaksikan permainan pemain sayap itu saat aku berada di bangku cadangan dan yakin bahwa dia akan melakukan crossing ke dalam kotak pinalti. Apalagi jika dia salah, dia masih bisa mendorong pemain sayap itu menjauh dari gawang.
Namun, bahkan satu detik pertimbangan dipihakku telah memungkinkan pemain sayap yang gesit itu bergerak melewatiku. Aku dengan cepat memutuskan untuk melakukan tackle.
Dengan kecerdasan game aku yang ditingkatkan oleh kesadaran spasial ku yang tinggi, aku dengan cepat mengukur waktu tekelku sehingga tidak akan menimbulkan pelanggaran.
Aku dengan cepat mengejar pemain itu sebelum meluncur masuk dan mendorong kaki kananku untuk menyambut bola yang berada di depan kaki pemain tersebut.
Dengan bersih aku dapat menekel dan merebut bola dari pemain tersebut. Sementara itu pemain no.14 itu terjatuh ke tanah.
Bola hasil tekelku berhasil di ambil oleh Sandy. Dia dengan cepat menggiring bola ke depan. Sementara itu pemain no.14 itu berteriak ke wasit.
“Ref….Ref.” aku mendengar dia berteriak sambil berguling-guling di rerumputan, tampak terluka. Namun wasit mengabaikannya dan melambai agar pertandingan dilanjutkan. Tentu saja tekel itu bukan pelanggaran karena aku dengan bersih dan adil dapat merebut bola sebelum menyapu pemain tersebut. Jika tidak, hakim garis terdekat akan mengibarkan benderanya.
Aku menyeringai pada pemain sayap muda itu sebelum Kembali ke lini tengah. Aku bermaksud menggunakan segala cara yang mungkin untuk menjaga pemain profilic winger itu keluar dari permainan. Tersenyum pada lawan yang kalah setelah duel singkat mereka adalah cara terbaik untuk membuat mereka kesal tanpa menarik perhatian dan kemarahan wasit.
__ADS_1